Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
64


__ADS_3

Perempuan cantik yang masih dalam balutan piyama tidur itu mengerjapkan mata. Tangannya meraba tempat tidur di samping. Tapi tidak menemukan sosok lelaki tampan yang beberapa bulan ini menemaninya tidur. Perlahan Khalisa membuka matanya, hanya sendirian.


Kembali Khalisa meringkuk di bawah selimut, suasana hatinya sedang tidak baik. Ketakutannya akan kehilangan seseorang yang sangat disayang menghantuinya. Perlahan tapi pasti setetes cairan bening terjatuh. Dia menjadi sangat cengeng akhir-akhir ini, Khalisa benci itu. Benci dirinya yang lemah seperti ini.


Ceklek


Ghani muncul di balik pintu, istrinya terbungkus selimut tidak seperti saat dia tinggal. Tunggu, ada suara sesenggukan. Oh Tuhan, gadisnya menangis lagi. Dibelainya tubuh rapuh itu dari atas selimut.


"Morning honey." Khalisa menyibak selimut lalu memeluk tubuh kekar itu dengan kuat. "Hei Sayang, ada apa?" Ghani merapikan helaian rambut yang menutupi wajah cantik yang sekarang memucat.


"Abang kemana? Aku takut sendirian." Ucapnya dengan napas tersendat dan suara serak. Sejak semalam dia sudah terlalu banyak menangis.


"Maaf, Abang tinggal sholat ke mesjid tadi." Khalisa baru menyadari suaminya masih menggunakan baju koko dan sarung. Aroma tubuh suaminya sangat menenangkan. Dia tak bisa jauh dari lelaki itu sekarang.


Ghani membaringkan tubuhnya agar mudah mendekap tubuh gadisnya yang rapuh. Walau sudah bukan gadis, tapi dia selalu menyebut istrinya dengan gadis. Tak ada bedanya bukan.


"Takut kenapa, hm?" Tangannya tak berhenti membelai lembut rambut Khalisa.


"Takut Abang pergi dan gak pulang lagi." Suara manja itu membuat Ghani sangat gemas. Ingin sekali memangsa istri kecilnya itu sekarang kalau tidak sedang nifas. Heemm, otak mesumnya tak mau berhenti traveling. Apalagi suana subuh begini.


Tangan Khalisa masuk ke dalam kokonya. Katanya sangat suka meraba dada bidang itu karena bikin hangat dan ketagihan. Tentu saja, tak taukah gadisnya itu kalau Ghani sedang bersusah payah menahan hasratnya. Walau sedang menyedihkan seperti sekarang, Khalisa masih berani menggodanya.


"Abang gak kemana-mana, masih di sinikan. Masih bisa Kha belai." Goda Ghani, wajah gadisnya itu bersemu merah lalu terbenam di dada bidangnya. Ghani tersenyum, walau dengan kekuatan penuh menahan hasratnya. Pasalnya tangan lembut itu sekarang sedang membelai punggungnya, membuat si kecil bangun dari tidur.


"Sayang, tangannya kenapa nakal?" Bisik Ghani sensual, membuat Khalisa bergidik ngeri. "Kalau tangannya masih nakal harus tanggung jawab ya." Ghani tertawa saat tangan itu berganti memukul dada bidangnya.


"Kenapa gak dilanjutkan sesi membelainya, hm?"

__ADS_1


"Abang ihh mesum. Aku cuma belai doang gak ngapa-ngapain."


"Dedeknya bangun Sayang kalau belainya pagi begini."


"Abang mesum, mesum." Ghani tersenyum, mendekap erat tubuh Khalisa. Hatinya lega bisa mengalihkan pikiran Khalisa agar tidak terfokus pada kesedihannya.


Pagi ini Ghani mengajak Khalisa berkeliling di taman. Menggenggam erat tangan Khalisa. Tak ingin sedetikpun melepaskannya. Wajah cantik itu bisa tersenyum lagi saat menyapa anak-anak yang juga bermain di taman.


Mungkin Allah memberikan ujian seperti ini agar mereka bisa lebih dekat lagi. Menggantikan waktu yang dulu terbuang sebelum kehamilan Khalisa. Perempuan yang dulu tidak diinginkannya menjadi istri, kini menjadi satu-satunya orang yang sangat ingin Ghani bahagiakan.


Ghani menyuap bubur ayam sesekali melirik istrinya yang sedang makan dengan semangat. Sekarang mereka sedang mampir di tenda yang jualan bubur ayam atas permintaan pujaan hatinya. Semangat yang beberapa hari ini hilang akhirnya terbit kembali di wajah cantik dan menggemaskan itu.


Dengan santai Khalisa menyuap buburnya, sesekali mengunyah kacang yang menyelinap di tengah-tengah bubur. Ghani memperhatikan wajah itu dengan seksama, saat mengunyah pun bibir Khalisa terlihat seksi.


Dibersihkannya sudut bibir Khalisa dengan jarinya. Ah kenapa sangat menggemaskan, bibir mungil itu menggoda seperti ingin dilahap habis.


"Makannya pelan-pelan Sayang." Tak tahan untuk tidak memberikan hadiah, Ghani mengecup singkat bibir manis itu. Tangan Khalisa otomatis mencubit keras perut Ghani. "Abang ya main nyosor aja."


Wisata kuliner dilanjutkan setelah mereka selesai makan bubur. Berbagai jajanan Khalisa beli, Ghani hanya menuruti. Syukur-syukur dimakan, baguslah kalau selera makan istrinya sudah kembali. Bertepatan weekend jadi taman sangat ramai, banyak jajanan tradisional yang dijual. Senyum Khalisa mengembang, matanya berbinar saat melihat jajanan-jajanan itu.


Ya Allah, berikan Kha senyuman manis seperti itu setiap hari. Kebahagiaan Khalisa sangat berarti untuk Ghani, melihatnya bisa tersenyum seperti itupun sudah cukup. Tak ingin meminta lebih lagi.


"Abang!" Panggilnya dengan semangat.


"Iya Sayang."


"Ayo pulang, aku tidak sabar ingin memakan semua ini bersama Airil." Khalisa mengangkat kantong kresek yang dipegangnya dengan berbinar. Ghani hanya berdehem mengikuti kemauan istrinya.

__ADS_1


Mana bisa Airil makan makanan seperti itu. Bisa dihabisi kembarannya kalau sampai Airil memakannya. Bayangin aja kalau bayi belum genap satu tahun dikasih makan ceker setan, cilok, pentol bakar dan sejenisnya. Ghani bergidik ngeri.


"Abang kenapa?" Oh Tuhan ekspresinya tertangkap basah bidadari. Ghani menggeleng singkat lalu tersenyum manis. "Abang senang lihat kamu bahagia seperti ini." Ghani mengusap kepala Khalisa, tangan kanannya masih memegang kemudi.


"Makasih Abang." Khalisa menangkap tangan kiri Ghani kemudian mengecup telapak tangan itu berkali-kali. Semanis itu istri kecilnya, Ghani bahagia. Sangat bahagia sekarang.


"Wooww, banyak makanan enak. Bagi dong!" Pekik Guntur girang saat Khalisa membuka jajanan yang dibelinya lalu meletakkannya dalam piring.


"Guntuuurr, jangan dimakan itu buat Airil." Teriak Khalisa saat Guntur mengambil setusuk pentol bakar. Guntur mematung meletakkan kembali pentol yang dipegangnya dengan wajah kecewa.


Ghina yang sibuk menata sarapan bersama Anindi ikut diam. Mana mungkin Airil makan makanan seperti itu pikirnya.


"Sayang duduk dulu ya kita makan sama-sama. Airilnya masih tidur nanti biar Ghina belikan lagi aja. Biar ini kasih Guntur juga ya." Bujuk Ghani menarik kursi lalu mendudukkan istrinya. Wajah cantik itu sekarang memerah karena marah.


"Iya, boleh deh Guntur yang makan." Alhamdulillah tidak perlu debat capres dulu untuk membujuk Khalisa. Ghani duduk di sampingnya, saat mama dan papa ikut bergabung di meja makan.


"Waah ada ceker setan nih." Ujar Emran dengan wajah berbinar, mana pernah di rumah ada makanan enak seperti itu. Walau harga murah tapi mampu memanjakan lidah.


"Itu buat Airil Pah." Kata Khalisa sendu, Emran dan Mira menatap Ghani, si empunya hanya menggendikkan bahu.


"Papa makan dulu yang ini nanti kita beli lagi ya." Bujuk Emran, Khalisa mengangguk lemah. Semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Tomi yang baru bergabung keheranan melihat wajah-wajah yang syok. Bagaimana tidak syok, bayi mau dikasih makan ceker yang pedas.


"Mau makan lagi Sayang?" Khalisa menggeleng-geleng, seperti pajangan yang menempel di dashboard mobil.


"Mau makan yang mana Abang ambilkan." Ghani menunjuk jajanan yang memenuhi meja. Lagi, Khalisa menggeleng.


Tak sanggup lagi Ghani menarik istrinya dalam pelukan, begitu cepat berubah moodnya. Pagi tadi sangat bahagia. Sesak kembali mengisi rongga dadanya, cukup. Semua ini menyiksanya, sangat menyiksa.

__ADS_1


"Abang, mau ke kamar."


"Ayo Sayang." Ghani menuntun istrinya ke kamar. Hatinya sakit melihat wajah itu sendu kembali. Sekarang mereka duduk di balkon kamar menikmati keindahan pagi bersama.


__ADS_2