Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
122


__ADS_3

Ghani diantar Tomi dan Guntur ke rumah sakit. Selama dia menemani Khalisa check up, dua orang sepupunya mendapat tugas mencari makanan yang diinginkan sang istri.


"Please deh, itu Kha ngerepotin aja. Ngapain pake minta beliin banyak makanan. Gak sekalian aja minta beliin rujak sama gerobaknya, bakso sama abang yang jualnya. Ice cream sama perusahaannya." Guntur berdecak sebal, sepanjang jalan dia mengomel. Tomi fokus menyetir mencari penjual pempek, tidak menanggapi ocehan Guntur.


"Gak usah nikah sekalian kalo punya istri bakal ngerepotin aja." Lanjutnya, walau bicara sendirian, tidak menghentikan Guntur untuk mengoceh.


"Lo kalo menilai seorang istri begitu, ya bakal ngerasa direpotin terus. Emang yang ngandung lo dulu siapa, kalau bukan perempuan. Seorang istri yang rela muntah-muntah setiap pagi sampai gak bisa makan. Yang dengan senang hati membawa anak dalam kandungannya kemanapun pergi. Sampai susah tidur karena perut yang semakin besar dan berat. Seorang istri yang lo bilang nyusahin itu, bakal rela ngelakuin apa aja buat anak yang nanti lo titip ke dia."


Kalimat panjang yang Tomi ucapkan dengan tenang itu mampu membuat Guntur bungkam. Setelah berputar-putar selama dua jam untuk mendapatkan list makan yang diinginkan si bumil. Mereka kembali ke rumah sakit menjemput Ghani dan Khalisa.


"Abang beneran minta mereka beli semua makanan itu," bisik Khalisa. Takut di dengar dua orang lelaki yang duduk di kursi depan mobil. Ghani mengangguk, "aku kan cuma bercanda Bang." Lanjutnya, tidak enak hati. Kasihan juga sudah menyiksa dua orang itu.


"Gak papa, nanti mereka juga yang makan." Jawab Ghani dengan bisikan.


Sampai di kediaman Emran, Tomi dan Guntur meletakkan makanan-makanan yang di belinya ke atas meja makan.


Khalisa memperhatikan dengan semangat saat Ghani membuka bungkusan-bungkusan itu lalu meletakkan ke dalam piring dan mangkok.


"Abang, tolong fotoin." Pekik Khalisa senang melihat semua makanan tersusun rapi di meja makan.


Ghani menurut mengambil beberapa foto. "Sudah," ujarnya menunjukkan foto pada sang istri.


"Sekarang kalian makan, aku mau fotoin." Perintah Khalisa pada tiga orang lelaki itu.


"Kamu gak ikut makan?" Tanya Guntur.


"Enggak," jawab Khalisa dengan gelengan, "aku mau cokelat sama ice cream aja."


Ya Tuhan, Guntur ingin sekali membalik meja makan sekarang juga. Dia dan Tomi capek-capek keliling demi makanan ini sampai meninggalkan kerjaan di kantor. Setelah di depan mata, cuma diambil fotonya doang.


Sedang Tomi hanya bisa mengelus dada dan menghela napas panjang. Kelakuan ibu hamil itu sangat menyebalkan.


"Kha makan rujaknya ya, pasti enak." Ghani menyuapkan potongan mangga muda ke mulut Khalisa. "Duduk sini, Sayang." Katanya menarik kursi di sampingnya.

__ADS_1


"Seblaknya enak nggak?" Khalisa ngiler juga melihat seblak yang cuma satu mangkok di hadapan Guntur.


"Enak, mau coba?" Tawar Guntur, Khalisa mengangguk antusias. Guntur menyuapkan sesendok seblak. Khalisa mengunyahnya dengan susah payah. "Mau lagi?"


Cepat Khalisa menggeleng, menutup mulutnya dengan tangan. Ghani dengan sigap mengeluarkan kantong muntah yang sudah disiapkannya di saku, melihat ekspresi istrinya itu.


"Muntahin di sini, Sayang." Katanya sambil memijat punggung Khalisa.


"Gak suka," kata Khalisa setelah menetralkan mulutnya dengan minum air putih.


Ralat deh, Guntur tidak jadi mengumpat setelah melihat wajah Khalisa. Dia kasihan juga, mata perempuan itu sampai memerah karena menahan sakit saat muntah tadi.


"Mau coba kuah baksonya, masih hangat." Tawar Tomi, Khalisa memandang Ghani. Dia takut kalau muntah lagi.


"Dicoba aja dulu Kha, kalau gak suka dimuntahin lagi." Saran Ghani, tangannya mengusap sudut mata sang istri yang berair.


"Gimana Kha?" Tanya Tomi setelah menyuapkan kuah bakso.


"Emm, enak!"


"Enggak, udah cukup. Mau makan rujak aja." Ujar Khalisa, "Abang mau jambu airnya itu." Tunjuknya menggunakan bibir, semakin menggemaskan saja tingkahnya.


Dengan kesabaran penuh Ghani menyuapi istrinya yang sangat suka memerintah. Dia membawa Khalisa ke kamar setelah selesai.


"Abang, bantu lepas baju." Katanya, walaupun lengan baju itu lebar tetap susah kalau melepas sendiri.


Ghani membantu melepaskan baju dan menggantikannya dengan piyama lengan pendek.


"Masih ingat kata dokterkan, jangan banyak bergerak. Kha harus banyak istirahat, jangan sampai lukanya infeksi."


Khalisa mengangguk dengan cemberut. "Iya, Abang." Jawabnya malas, Ghani terkekeh geli membawa istrinya duduk di tepi tempat tidur.


"Suka banget cemberut sih, nanti dedek juga suka ngambekan loh."

__ADS_1


"Ih gak mau, dedek gak boleh ngambekan."


"Kalau gak mau dedek ngambekan, Bunda harus suka senyum." Ujar Ghani sembari memasangkan jilbab kaos.


"Itu sih alasan Abang aja biar Kha senyum terus." Sungut Khalisa kesal dengan memajukan bibir.


Ghani tidak menyia-nyiakan kesempatan, menyambar bibir itu dengan lembut. Sudah beberapa hari dia puasa, tidak mendapatkan dosis obat yang bisa membuatnya mabuk dan kecanduan. Dipegangnya pelan tengkuk Khalisa agar semakin mendekat.


Penyatuan napas mereka semakin menggairahkan. Ghani memberikan kesempatan istrinya untuk mengambil napas, lalu melanjutkan lagi. Bibir itu semakin manis dan memabukkan. Nalurinya menginginkan lebih.


"Astaghfirullah," pekik Guntur. Matanya ternoda lagi oleh pasangan suami istri itu. Ghani melepaskan tautan bibirnya dengan tidak rela, dia masih belum puas mencicipinya. Jemarinya mengusap lembut bibir Khalisa yang basah dan membengkak. Lalu mengecupnya singkat sebelum mengamuk pada sepupu kurang ajarnya itu.


"Ganggu aja, kalo gak mau lihat ya pergi bukan teriak." Kesal Ghani, Khalisa mengusap tangan suaminya agar tenang.


"Ya maaf, cuma mau ngembaliin hp lo yang ketinggalan di mobil." Ujar Guntur, lalu kabur sebelum mendapat serangan susulan.


"Abang belum selesai, Sayang." Rengek Ghani manja. Khalisa sudah membaringkan tubuhnya, dia susah minta jatah kalau istrinya berbaring begini. Takut kesenggol tangan yang masih diperban itu.


"Masa sih, udah lama masa masih belum selesai." Khalisa tersenyum menggoda.


"Sekali lagi ya, Sayang. Janji gak minta nambah lagi." Ujar Ghani dengan wajah memelas, ikut berbaring di samping Khalisa.


"Kha capek, Abang. Nanti ya." Ucap Khalisa lembut.


"Iya," Ghani tidak tega memaksa Khalisa memuaskan keinginannya saat sednag sakit begini. "Kha tidur aja kalo capek ya. Abang mau ke ruang kerja. Kha mau ikut tidur di sana juga?"


"Ikut," ujar Khalisa antusias, "bosan di kamar ini, siang malam gak kemana-mana."


"Ya udah, ayo," Ghani mengulurkan tangan, membantu Khalisa bangun. Mereka bergandengan tangan menuju ruang kerja.


"Itu perut Abang beneran gak sakit lagi?" Tanya Khalisa saat sudah berada di ruang kerja.


"Masih nyeri sedikit Kha, banyak sehatnya kok. Abang mau meeting dulu, Kha tidur siang ya."

__ADS_1


Khalisa mengangguk, berbaring di sofa bed. Ghani mengusap puncak kepala istrinya lalu mengarah ke meja kerja.


Ghani menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai selama tiga hari ini setelah selesai meeting dengan managernya di Singapura dan Malaysia. Calon ayah itu tersenyum melihat istrinya terlelap dengan nyaman. Dia senang bisa bekerja sambil mengawasi kesayangannya.


__ADS_2