
"Boleh ke tempat Nindi gak hari ini?" Tanya Khalisa sambil membuatkan kopi, lalu membawa ke hadapan suaminya yang duduk di meja bar.
"Mau ngapain?" Ghani balik bertanya sambil menyesap kopi. "Kalau mau makan cake boleh, tapi kalau mau ngerecokin Nindi mending gak usah Kha."
"Dua-duanya Abang," jawab Khalisa dengan cengiran. Menarik kursi di samping Ghani lalu duduk di sana sambil memakan salad buah.
"Kita udah buat kesepakatan untuk gak ikut campur masalah mereka kan, Sayang." Ghani ikut menyendok salad.
"Aku gak akan bahas masalah itu, kita ngobrol-ngobrol biasa aja. Gimana, hm?"
"Ya udah Abang antar. Tapi janji jangan ganggu Nindi, oke?"
Khalisa mengangguk antusias, "insyaAllah kalo ingat, Abang." Katanya sambil terkekeh.
"Itu mah udah niat nakal!" Ghani mencibit gemas pipi Khalisa, "makin chubby aja. Nambah berapa kilo, Sayang."
Khalisa mengangkat dua jarinya ke hadapan Ghani.
"Sehat dong anak Ayah. Bentar lagi bisa lari," katanya dengan tersenyum lebar. Khalisa membulatkan mata, lahir juga belum masa disuruh lari.
"Bundanya," sambung Ghani usil.
Dahlah, dia malas menanggapi suaminya yang mulia gak jelas ini. Khalisa beranjak meninggalkan dapur.
"Sayang, kopi Abang belum habis, jangan ditinggalin!" Rengek Ghani manja.
"Abang punya tangan sendiri kan, bawa ke atas." Sahut Khalisa jengah.
"Tangannya sakit, Sayang." Ujar Ghani cengengesan, tapi tetap mengikuti sang istri.
"Entar tangannya Kha potongin biar gak capek lagi." Teriaknya dari tangga paling atas.
Ghani memikirkan ucapan istrinya lalu bergidik ngeri. Kha tidak serius mau motong tangannya kan? Dengan bodohnya Ghani menatap tangan kiri yang di bolak baliknya.
"Sayang, tangan Abang bukan ceker yang bisa dibikin sup, masa mau dipotong." Lelaki itu ikut masuk ke ruang kerja. Khalisa sudah duduk tenang memangku laptop sambil bersender.
"Kha," panggil Ghani mengganggu Khalisa yang sudah fokus ke layar laptop.
"Hm."
"Sayang," ulang Ghani sambil ikut memencet tuts keyboard masih mengganggu Khalisa.
"Hm."
__ADS_1
"Sayangnya akuh, cintanya akuh. Kalau dipanggil itu noleh. Apa aku kurang ganteng sampai kamu cuekin gini." Ghani menangkup gemas pipi Khalisa mengarahkan padanya.
"Abang kenapa jadi cerewet sih." Ujar Khalisa heran, suaminya itu seperti orang haus perhatian saja.
"Abang mau minta obat, tadi pagi belum dapat morning kiss." Katanya sambil manyun, Khalisa mendengus sebal kemudian menggeleng.
Ghani tambah merengek-rengek mau minta obat. Khalisa dibuat bingung dengan suaminya yang jadi tidak jelas setelah pulang dari rumah sakit. Apa perawat salah suntikkan obat pada Ghani. Bukan obat gila kan yang mereka suntikkan pada suami tersayangnya.
"Abang kenapa sih, sana kerja jangan gangguin aku." Usir Khalisa, Ghani malah menyandarkan kepala di bahu kanan sang istri.
"Gak semangat kerja kalau gak dikasih obat dulu."
"Abang, Kha mau sate." Ujar Khalisa sambil mengelus-elus perut. Siapa suruh manja-manja sama ibu hamil.
"Masih pagi belum ada yang jual sate, Sayang. Adanya bubur ayam, mau." Ghani menegakkan kepala menatap istrinya yang tiba-tiba ingin sate.
"Kha maunya sate, tapi Abang yang ngipasin sendiri." Katanya dengan senyuman yang sangat menggoda.
"Harus Abang banget yang ngipasin, Kha?"
Khalisa mengangguk, Ghani menggaruk kepala. "Ya udah, ayo kita bikin sate sendiri."
"Abang ke bawah duluan ya, Kha selesain ini dulu. Dikit lagi." Katanya dengan memelas, Ghani mengangguk setuju. Demi anak dan istri, ngipas sate pun dia jabanin.
Setelah selesai update satu chapter di platform menulis online. Khalisa mendatangi suaminya, dia sih gak pengen-pengen banget sama sate. Cuma mau mengerjai suaminya itu aja.
Ghani mengipas-ngipas sate di halaman belakang di bantu art. Mau ngipas di dalamĀ bakal kena omel kanjeng mami. Dia sudah keringetan, bajunya bau asap semua. Huh, perjuangan demi istri tersayang.
"Wooww, Abang bikin sate. Pantesan aromanya semerbak mewangi!" Ujar Ghina lebay, merecoki kembarannya.
"Demi apa, seorang Ghani ngipasin sate sampai keringetan." Lanjutnya dengan gelak tawa, "udah matang kan. Mau satu," Ghina mencomot sate. Tapi tak ada yang berpindah ke tangannya karena ditepis Ghani duluan.
"Jangan diambil, sebelum Kha makan. Kalau mau kipas sendiri." Ghani memberikan kipas lalu pergi membawa satenya.
"Ghaaa!" Pekik Ghina kesal. Ghani mengabaikan adiknya yang mencak-mencak.
"Abang sudah selesai."
Ghani tidak jadi membawa sate ke ruang kerja. Istrinya sudah sampai di dapur. Dia meletakkan sate di meja. "Sudah Sayang, mau makan sekarang?"
"Boleh aku makan nih?"
"Boleh Sayang, Abang bikin buat Kha." Ujar Ghani tersenyum mendekatkan sambal kacang pada Khalisa. Perempuan hamil itu minta dibuatkan sambal kecap pada art.
__ADS_1
"Nih buat Abang yang bikin." Khalisa menyuapkan sate terlebih dahulu pada suaminya, baru setelahnya dia mencicipi.
"Abaaang!" Pekik Ghina menyusul Ghani ke meja makan. "Aku juga mau, ogah bakar sendiri. Bau!" Katanya menggeser Khalisa yang duduk di samping Ghani.
"Kursi sebelah kanan Abang kan masih kosong, kenapa pake acara geser Kha segala!" Bentak Ghani tidak suka, dia lagi asyik makan sate sambil disuapi malah diganggu adiknya.
"Kamu marahin aku!" Rajuk Ghina lalu beranjak pergi.
"Bukan gitu Sayang." Ghani menangkap tangan adiknya, bukan cuma dia yang ketularan manja Khalisa. Adiknya juga ikut-ikutan manja. "Abang di tengah ya, biar adil." Bujuknya, Ghina mengangguk. Dia harus menyiapkan stok sabar yang banyak untuk mengurus adik dan istri tersayangnya ini.
Dua orang perempuan itu Ghani suapi bergantian. Mungkin begini ya rasanya punya istri dua, memikirkan dua orang di dekatnya sekarang rebutan minta disuapi saja sudah membuatnya pusing. Cukup satu istri, kepala Ghani sudah hampir meledak.
"Abang, habis ini kita ke tempat Nindi ya?" Ajak Khalisa.
"Iya, Sayang."
"Ikuut!" Seru Ghina, Ghani langsung menoleh pada adiknya itu. Untung Khalisa tidak pernah protes kalau Ghina ikut bermanja-manja.
"Airil sama siapa Ghin, kamu di rumah aja ya. Aku beliin aja kamu mau nitip apa?" Bujuk Ghani, repot dia kalahu harus mengajak dua perempuan ini sekaligus.
Ghina menggeleng keras, "aku mau ikut," pekiknya.
"Iya-iya, izin dulu sama Zaky." Pasrah Ghani, banyak drama banget keluarganya ini.
"Emm, sayang deh." Ghina mengecup pipi Ghani lalu pergi sambil tersenyum senang.
"Abang, Kha gak suka Abang dicium-cium orang lain." Ucap Khalisa dengan wajah cemberut.
"Kha yang hapusin bekasnya ya," bujuk Ghani sambil membersihkan sisa kecap yang menempel di sudut bibir Khalisa.
Khalisa menggeleng, "aku gak mau bekas Ghina."
"Hm, Abang cuci muka." Ujar Ghani beranjak menuju wastafel, satu-satu merajuk membuat kepalanya pusing saja. "Sudah bersih, Abang cuci tujuh kali sampai ngalahin wudhu." Katanya setelah kembali duduk di samping Khalisa.
Khalisa memegang dagu Ghani, lalu memiringkan ke kanan dan ke kiri. "Kok gak glowing?"
"Bukan iklan facial wash, Sayang. Kalau mau glowing diedit dulu," Ghani berdecak.
"Ya udah edit dulu biar kayak spongebob."
Ghani memutar bola mata kesal, "gak dikotakin juga kali wajah Abang, Kha. Tega banget. Emang mau punya suami wajah spongebob?"
"Ntar Kha nyari suami lagi," jawabnya asal.
__ADS_1
"Kha, mau Abang sate, hah!"