Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
103


__ADS_3

"Kalian kenapa?" Tanya Anindi heran saat melewati ruang tengah, semua orang sedang memasang ekspresi tegang. Perempuan itu mendekati Tomi lalu menyalaminya.


"Kha mengamuk," bisik Tomi pelan. Menarik tangan Anindi dengan lembut untuk duduk di sampingnya.


"Kenapa?" Jawab Anindi dengan bisikan yang hanya bisa di dengar Tomi. Tomi menggeleng, mengisyaratkan untuk dibahas nanti.


"Kamu yang kenapa?" Khalisa mengangkat kepalanya dari pelukan Ghani lalu menatap Anindi tajam. "Ngapain sih pake mau pisah segala!" Serangnya, ibu hamil itu memang susah dikondisikan.


"Kha, Abang gak suka ya kamu gini. Tadi Abang sudah ingatkan, jangan ikut campur masalah mereka!" Tegas Ghani dengan nada yang lebih tinggi.


"Gha," Tomi meningatkan lalu menggeleng pelan. Ibu hamil satu itu sangat sensitif, yang ada dramanya akan lebih panjang.


"Abang marahin aku!" Ucap Khalisa dengan air mata yang sudah menggantung lalu berlari ke kamar.


"Jangan dikerasin Gha, tinggal lo yang bisa-bisa buat ngertiin Kha." Zaky mengingatkan, Ghani menggeleng pelan menyusul istrinya ke kamar.


Salah lagi, dia cuma menjaga perasaan Anindi karena istrinya terlalu keras. Eh, malah Khalisa yang mengamuk.


Ghani membuka pintu kamar dengan pelan, istrinya sudah bersiap untuk sholat maghrib. Selesai sholat Khalisa duduk bersandar di kepala ranjang sambil memangku laptop.


"Sayang, maafin Abang ya." Ghani mengambil bagian duduk di samping sang istri. Khalisa tak acuh fokus pada layar, memainkan jemarinya di atas keyboard.


"Abang gak bermaksud marahi Kha, Kha harus ngerti perasaan Nindi, Sayang. Dia gak cinta sama Tomi, dia tersiksa hidup bersama Tomi. Kha jangan nyalahin Nindi, kasihan dia tertekan."


Khalisa menutup laptop meletakkannya di atas nakas. Perempuan itu menatap suaminya dengan lekat. "Kenapa Nindi tersiksa hidup sama Tomi, Tomi baik selalu memberikan apa yang Nindi mau."


Ghani menggenggam kedua tangan Khalisa. "Sekarang kembalikan kehidupan mereka sama kita, apa Kha tersiksa saat Abang belum bisa mencintai Kha?" Tanyanya lembut, dia ingin menyadarkan Khalisa dengan kenyataan yang mereka lalui.


"Sangat sakit."


"Itu juga yang Tomi rasakan, Sayang. Kha ngerti ya, biar mereka memutuskan sendiri. Kasih mereka waktu saling menjauh untuk menyadari perasaan masing-masing. Seperti yang Abang bicarakan tadi malam sama Tomi."


Khalisa mengangguk, Ghani membawa istrinya dalam pelukan. "Abang curiga Kha bukannya gak ngerti. Tapi pura-pura gak ngerti."


Perempuan itu hanya cekikikan dalam pelukan Ghani.


"Benarkan? Kha ngerjain Abang lagi." Kesal Ghani, istrinya itu tidak polos lagi. Masalah seperti itu tidak mungkin tidak mengerti.


"Kenapa suka sekali bikin Abang khawatir, hah." Ghani mencubit gemas pipi Khalisa. "Awas Abang makan, kamu!"

__ADS_1


"Takut!" Teriak Khalisa sambil tertawa lalu melompat dari ranjang. Istri Ghani itu berlari keluar dari kamar menuruni anak tangga.


"Sayang, jangan lari-lari. Kamu lagi hamil." Teriak Ghani yang menggema di rumah besar itu.


"Kha kenapa Gha?" Anindi yang paling dulu menyusul diikuti Tomi.


"Gak papa, anak nakal itu cuma ngerjai aja." Jawabnya ikut berlari menuruni tangga.


Seperginya Ghani yang berlari menyusul Khalisa, Anindi memandang Tomi penuh tanya. Lelaki itu hanya mengendikkan bahu lalu kembali ke kamar.


"Kita harus bicara Nin," ujar Tomi serius duduk di sofa sambil memainkan ponsel tanpa menatap wajah Anindi.


"Apalagi yang harus kita bicarakan, bukannya Mas kemaren yang siap melepaskanku." Anindi berucap dengan tenang, walau tak mengerti dengan hatinya sendiri.


"Oke, kalau kamu sudah mantap seperti itu. Aku akan bicarakan ini sama papa mama, biar tidak mengganggu pikiran Kha. Kita akan selesaikan secepatnya." Tomi berusaha ikhlas melepaskan Anindi, jodoh mereka hanya sampai di sini.


Anindi terdiam lalu tersenyum kemudian, saat selesai mengucapkan Tomi keluar kamar meninggalkannya.


Ghani ngos-ngosan menyusul Khalisa. Sampai di meja makan istrinya sudah duduk manis di sana.


"Abang lemah, gitu aja ngos-ngosan."


"Buktikan," tantang Khalisa. Dia sudah memikirkan rencana melepaskan diri dari Ghani malam ini.


"Abang jadi curiga kamu mau ngerjai lagi, kenapa sekarang suka nakal, hm."


"Kha gak nakal Abang, mm." Khalisa menempelkan pipinya di meja makan. Bukannya membantu menyiapkan makan malam. Dia malah malas-malasan. "Capek," gumamnya yang masih bisa di dengar Ghani.


"Makan di kamar aja yok Sayang kalau capek." Ghani memijat bahu Khalisa pelan.


"Nanggung Abang," katanya lemas.


"Istrimu kenapa Gha?" Tegur Mira seraya menyusun menu makan malam di meja.


"Kelelahan habis main lari-larian Mah." Jawab Ghani dengan cengengesan.


"Udah tau lagi hamil malah lari-larian." Mira menggeleng tak mengerti dengan tingkah menantunya satu ini.


Semua penghuni rumah menatap Khalisa heran saat sampai meja makan.

__ADS_1


"Kalian ngejar apaan sih, sampai teriak-teriak gitu. Rumah jadi kayak hutan." Khalisa mengangkat wajahnya dari meja, kemudian memandang suaminya dengan tersenyum geli.


"Kembaran Abang kenapa, ngomel begitu?" Tanya Khalisa sok polos, Ghani mengendikkan bahu lalu tertawa bersama.


"Kalian perlu periksa ke dokter jiwa." Desis Ghina tambah kesal.


"Istrimu gak ikut makan Tom?" Mira mengalihkan perhatian pada Tomi, pasangan paling anteng itu tumben tidak makan bersama.


"Enggak Mah, nanti aku bawain ke kamar aja." Jawab Tomi santai seperti biasanya, tak ingin memperlihatkan luka hatinya yang menganga lebar.


Semua menikmati makan malam dalam diam, Khalisa dan Ghani juga serius makan. Guntur sedang pulang ke rumah orang tuanya, jadi tidak ikut makan malam.


"Pah, Mah, aku mau bicara malam ini selesai sholat isya."


"Kamu mau bicara aja pake izin Tom. Ada masalah serius?" Tanya Emran penasaran.


"Sedikit serius," jawab Tomi.


Ghani dan Khalisa hanya saling pandang, lalu melanjutkan makannya dalam diam. Selesai makan Ghani membawa istrinya ke kamar lebih dulu.


"Apapun yang mereka putuskan, Kha gak boleh emosi dan ikut campur masalah mereka ya." Ghani kembali mengingatkan istrinya, Khalisa hanya memberikan anggukan.


"Mereka beneran mau berpisah, Bang?" Tanya Khalisa sendu, "kok sakit ya."


"Kita gak tau gimana takdir Allah, Sayang." Ghani menggenggam tangan istrinya dengan erat, "Kha harus percaya, apapun yang terjadi semua yang terbaik dari Allah."


"Tomi sayang banget sama Nindi, Bang. Kha lihat itu." Ghani mengangguk membenarkan, "tapi Nindi gak punya perasaan apapun sama Tomi, Sayang. Kalau bertahan kasihan mereka sama-sama terluka."


Khalisa menggembungkan pipinya lalu mengangguk. Mereka juga pernah diposisi itu, memilih berpisah agar tidak saling menyakiti.


"Kalau Kha gak kuat, gak usah ikut ya. Kha di kamar aja. Abang gak mau Kha sedih." Ghani membawa istrinya dalam pelukan. Perempuannya ini sangat sensitif dan baperan.


"Kha kuat Abang, janji gak nakal dan bikin masalah lagi." Ujar Khalisa sendu, Ghani tidak suka istrinya sedih begini.


"Harus janji gak ngerjain Abang lagi juga ya?" Ghani menangkup pipi Khalisa lalu menciuminya.


"Enggak mau janji kalau itu." Katanya dengan tertawa jahil.


"Harus janji!" Ghani menggelitiki istrinya sambil menciumi sampai puas.

__ADS_1


__ADS_2