Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
116


__ADS_3

Ghani memaksa untuk pulang walau rumah sakit belum mengizinkan. Dia tidak ingin tidur terpisah dari Khalisa.


"Kha jangan banyak gerak!" Tegur Ghani, istrinya itu tidak bisa diam dengan satu tangan yang masih terbalut perban. Sedang dia tergeletak di ranjang karena luka di perut lebih susah untuk bangun.


"Kha cuma ambilin Abang air minum buat minum obat," Khalisa membela diri.


"Tinggal minta, Sayang. Kha duduk diam aja. Kalau sakit, Abang gak bisa gendong."


Khalisa merengut lalu kembali duduk di ranjang.


"Nah, gitukan manis." Ghani membelai rambut Khalisa dengan sayang.


"Perut Abang, sakit?" Tanyanya sendu.


"Sedikit," jawab Ghani sambil tersenyum.


"Maafin aku sudah buat Abang terluka."


"Abang ingetin sekali lagi ya, ini bukan salah Kha. Jadi berhenti minta maaf. Kalaupun nyawa Abang harus jadi taruhan untuk nyelamatin Kha, Abang akan tetap lakukan."


"Sayang Abang," ujarnya bergelayut manja di tangan kiri Ghani.


"Abang juga sayang Kha, selalu."


***


Tomi membaringkan tubuhnya yang lelah di sofa bed ruang tamu, sejak datang belum ada beristirahat. Dia malas tidur di kamar, malam ini ingin tidur di sini saja.


Perlahan matanya terpejam tanpa mempedulikan mama dan Guntur yang asyik menonton televisi.


"Nindi, datang sama siapa Nak?" Sapa Mira pada yang kedatangan tamu malam hari.


"Sendiri Mah, ini bawain titipan Ibu sekalian cake buat ibu hamil. Katanya Ibu besok baru bisa ke sini," jelas Anindi.


"Duduk dulu Nin, Mama buatkan minum. Mereka ada di kamar kalau kamu mau ke atas."


"Iya Mah, nanti aku ke atas." Anindi menurut duduk di sofa, matanya melirik sekilas Tomi yang sedang tiduran, entah tidur atau pura-pura tidur.


"Woy, tidur di kamar." Guntur menarik tubuh Tomi, sengaja membangunkannya.

__ADS_1


"Berisik! Gue ngantuk Tur, jangan ganggu. Malas naik ke atas." Jawab Tomi seperti gumaman.


"Kamu nginap Nin?" Tanya Mira yang datang lagi membawakan segelas minuman.


"Enggak Mah, mampir bentar aja. Aku ke atas dulu minumnya nanti ya." Izin Anindi lalu beranjak meninggalkan ruang tamu setelah mendapat anggukan dari Mira.


Tomi menangkap suara orang yang sangat dia rindukan. Matanya membuka tapi tidak ada, hanya ada Guntur dan Mira di ruang tengah. Ah, dia sedang bermimpi. Lelaki itu kembali memejamkan mata.


Anindi menapaki anak tangga menuju kamar Khalisa, dia teringat kamar di sampingnya. Hanya kenangan singkat bersama Tomi. Tidak tau kalau lelaki itu sudah kembali dari Singapura.


Setelah mengetuk kamar dan mendapatkan jawaban Anindi langsung masuk.


"Manja-manja terus." Tegur Anindi, Khalisa melompat girang kedatangan sepupunya. Beberapa detik kemudian meringis kesakitan.


"Abang sudah bilangkan jangan banyak bergerak." Omel Ghani sambil mengusap tangan istrinya. Mata Khalisa sudah berkaca-kaca menahan sakit. "Kalau gak bisa diam, Abang antar ke rumah sakit lagi." Gertaknya, perempuan hamil itu merengek semakin menjadi-jadi.


"Makan cheese cakenya dulu, gak usah nangis." Anindi menarik kursi kemudian menyuapi Khalisa, "makanya jangan kebanyakan tingkah. Nanti lukanya berdarah lagi, jadi lama sembuhnya." Anindi ikut mengomel, ibu hamil itu seperti anak kecil saja susah diatur.


"Nginap ya," pinta Khalisa manja.


"Enggak Kha, aku pulang gak bisa nginap." Ujarnya sambil tersenyum, masih menyuapi Khalisa cheese cake.


"Gak mau makan lagi kalau gak nginap," rajuknya cemberut.


"Kha gak boleh maksa gitu ya, Sayang. Mungkin Nindi sibuk jadi gak bisa nginap." Bujuk Ghani sambil membersihkan sudut bibir Khalisa dengan jempolnya.


"Kalau kamu sibuk tinggal aja, Nin." Ghani mengerti kalau Anindi tidak nyaman berada terlalu lama di tengah keluarganya lagi. "Biar Kha aku yang urus," lanjutnya dengan tersenyum.


"Pintar-pintar," Anindi mengusap puncak kepala Khalisa sebelum pergi.


"Nindi kenapa sih Bang?" Khalisa cuma sengaja bertingkah seperti itu agar Anindi mau menginap. Tapi tetap gagal juga.


"Dia gak nyaman ada di sini, Sayang. Jangan dipaksa ya, doakan aja semoga mereka bisa bersatu lagi dengan takdir yang baru." Ghani mengecup kepala Khalisa dari samping.


"Tapi Tomi sudah sama perempuan lain kan, Bang?" Tanya Khalisa sendu.


"Abang gak tau Kha," ujar Ghani berbohong. Lebih baik seperti itu, daripada tambah panjang. "Kha gak usah mikirin mereka dulu, kamu istirahat biar cepat sembuh."


Khalisa menurut, melupakan apa yang ingin dia tau. Usapan lembut di kepala membuatnya terlelap. Ghani ikut memejamkan mata, malam ini tidak bisa tidur memeluk istrinya.

__ADS_1


Suara gumaman membangunkan tidur Ghani, ditatapnya Khalisa yang tidur dengan gelisah karena meringis kesakitan. Ingin sekali dia ikat istrinya itu agar tidak banyak bergerak seperti tadi siang.


Memar di pipi bekas tamparan masih terlihat, Ghani mengusap dengan pelan. Karena kesalahannya Khalisa jadi menderita.


Khalisa terus bergumam tubuh itu demam. Ghani beranjak dari ranjang untuk mengambil kompresan. Dia tidak ingin mengganggu seluruh penghuni rumah yang sudah tertidur.


"Gha, ngapain turun!" Sentak Tomi, dia tidak bisa memejamkan mata kembali setelah mendengar suara Anindi tadi.


"Kha demam, mau ambil kompresan."


Tomi berdecak, "dikasih tau nurut, kalian itu belum boleh pulang. Kalau di rumah pasti gak bisa diam. Dah naik sana, nanti gue bawain ke atas."


Ghani menurut kembali ke kamar, tidak berapa lama Tomi datang.


"Kalian itu sama-sama ngeyelan, susah diatur." Ujarnya terus mengomel sambil mengompres kening Khalisa.


"Tadi ketemu Nindi?" Tanya Ghani, mengabaikan ocehan Tomi.


"Nindi? Tadi ke sini." Tomi memastikan kalau telinganya masih berfungsi dengan baik. Ghani mengangguk. "Berarti tadi gue gak bermimpi," desisnya.


"Gak mau memperjuangkannya lagi?"


Tomi menggeleng sebagai jawaban, "gue sadar diri Gha. Gak pantas buat dia." Katanya dengan senyuman, "sudah, kalo perlu apa-apa telpon aja. Ingat luka lo itu. Kalo lo sakit ribet ngurusin Kha." Ujarnya sebelum meninggalkan Ghani.


Ghani ikut merasakan kesedihan sepupunya itu. Dari senyuman itu tersirat luka yang menganga. Setelah suhu badan Khalisa turun, Ghani kembali tidur.


"Selamat pagi, Sayang." Sapa Ghani pada istrinya yang baru membuka mata, "sakit?" Tanyanya.


"Badanku terasa remuk, sakit semua. Tangannya susah gerak." Adu Khalisa sambil tertawa kecil.


"Kha jangan banyak gerak ya, Sayang."


Khalisa mengangguk, gimana mau gak nurut. Mengangkat tangan sendiri saja tidak bisa.


"Mau pipis," cicitnya. Ghani terkekeh geli, "Abang bantu bangun tapi gak bisa gendong ya."


"Iya," Ghani menuntun Khalisa ke kamar mandi. "Tangan Kha sakit beneran Abang," keluhnya.


"Abang bantu, Sayang." Ghani melayani istrinya seperti anak kecil.

__ADS_1


"Huuh," Khalisa menarik napas lega setelah berhasil berbaring di ranjang kembali.


"Hari ini Kha harus benar-benar istirahat, kalau gak mau nanti Abang minta suster suntik penenang," ancam Ghani. Khalisa mengangguk pasrah.


__ADS_2