Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
58


__ADS_3

Sesampainya di rumah mewah itu, orang yang dikhawatirkan Ghani mengobrol dengan santai bersama Tomi dan Mira dalam kamar.


"Tomi,becandamu gak mutu!" Teriak Ghani kencang. Tiga orang yang berada dalam kamar itu sejenak terkejut dengan kemarahan Ghani yang terpancar dari tatapannya.


"Lo mikir gak sih, gue bawa Kha yang lagi hamil. Kalau tadi kami kecelakaan karena terburu-buru ke sini gimana? Lo mau tanggung jawab?" Geramnya, Ghani langsung naik pitam. Melihat papa yang baik-baik saja, sedang dia membawa istrinya kebut-kebutan.


"Abang, tenang." Khalisa memeluk suaminya erat, membenamkan wajah di dada lelakinya itu. Ghani sangat marah sekarang, karena dibohongi. Tak menyangka keluarganya mempermainkannya seperti ini.


"Gha, masuk dulu." Tomi menarik tangan Ghani, tapi ditepis lelaki itu dengan kasar.


"Ghani, maafin Mama." Mira dan Emran mendekati putranya. Khalisa melepas pelukannya dari Ghani lalu menyalami mertuanya.


"Kita pulang Sayang." Ajak Ghani, membawa istrinya menuruni anak tangga dengan hati-hati. Khalisa menurut, tak berani membantah suaminya yang sedang marah.


"Gha, ini hari ulang tahunmu. Mama Papa hanya ingin meranyakan denganmu. Ghina sudah menyiapkan semuanya." Jelas Tomi dengan berteriak.


"Abang, maafin mereka ya. Kita rayakan ulang tahunmu di sini." Khalisa memberikan tatapan memohonnya. Mana bisa Ghani menolak kalau istrinya sudah begitu. Ghani mengangguk, dengan mata yang masih memerah karena menahan marah.


"Demi kamu Sayang." Ucap Ghani memeluk kekasihnya dengan erat membawanya menuju ruang keluarga. Di sana ada Ghina dan suaminya, juga Guntur yang sedang menyiapkan tumpeng dan kue ulang tahun. Ghani tidak mempedulikan membawa istrinya duduk di sofa.


"Di sini aja Sayang, biarkan mereka." Tahan Ghani pada Khalisa yang mau beranjak membantu adiknya.


Khalisa menurut, "Abang jangan marah lagi." Katanya manja, bergelayut di lengan suaminya.


"Iya, Sayang."


"Senyum dulu, jelek kalau babang cemberut." Goda Khalisa mencubit pipi Ghani.


"Biarin aja mukanya jelek." Ghani membuang wajah ke arah lain pura-pura merajuk.


"Jangaaan, nanti dedek ikutan jelek." Ringis Khalisa dengan manja. Itu yang selalu Ghani suka dari tingkah kekasihnya. "Kha, gak mau dedek jelek. Cukup babang yang jelek." Lanjutnya sambil terkikik geli.


"Khaa, nakal deh."


"Makanya senyum yang ikhlas dulu."


"Nih." Ghani menarik kedua ujung bibirnya dengan tangan sambil melotot kemudian tertawa.


"Kok tambah jelek sih!" Sesal Khalisa.

__ADS_1


"Iihh, dasar istri nakal." Ghani menggelitiki istrinya sampai berteriak minta ampun sambil tertawa.


Kha selalu bisa mengalihkan pikirannya dengan segala tingkah istrinya itu. Ghani menghentikan keusilannya lalu memeluk erat istrinya.


"Asyik banget, lagi ngapain." Tomi duduk di samping Khalisa mendekatkan tangannya ingin mengusap perut Khalisa saat Ghani lengah tapi ditarik Ghani ke perutnya.


"Nih usap puas-puas." Ghani membusungkan perut dengan tertawa. "Enak aja nyari kesempatan." Entah marahnya tadi sudah hilang kemana. Semua menguap dengan adanya Khalisa di sisi Ghani.


Mira datang menggeser posisi duduk Tomi, menggantikannya di samping Khalisa.


"Pelit, cuma ngusap doang," Tomi mencebik.


"Calon cucu Mama datang, yang sudah ditunggu-tunggu." Mira menciumi perut Khalisa sambil menahan tangis memeluk menantunya. "Jaga cucu Mama ya Sayang, nitip anak Mama juga."


"Mama jangan sedih." Khalisa paling tidak bisa melihat orang bersedih di hadapannya. Sekarang Emran datang menggeser Ghani merangkul anak dan menantunya.


"Maafin Papa ya Gha, maaf sudah membuatmu sedih dan marah." Ghani hanya menganggukkan kepalanya. Kalau dia bilang tidak memaafkan, pasti istrinya akan bertindak sekarang. "Tinggal di sini lagi ya Gha?"


"Maaf Pah, Ghani gak bisa tinggal di sini." Ghani menggenggam tangan istrinya yang terhalang Emran.


"Mama pengen lihat cucu setiap hari Gha." Rengek Mira pada putranya.


"Gak mau, Mama mau setiap hari sama cucu Mama pokoknya." Ghani dan Khalisa saling pandang.


"Kita potong kue dan tumpeng dulu gimana?" Ujar Ghina mengalihkan perhatian. Khalisa beranjak kepangkuan Ghani dan melingkarkan tangannya.


"Kenapa Sayang?" Pasti mau tinggal sama Mama, pikirnya. Harus maut bujukannya nih. Ghani sudah hapal dengan tingkah yang istrinya buat semenjak hamil. Selalu memelas kalau keinginannya tidak dipenuhi.


"Mau di sini." Rengek Khalisa dengan mata berkaca-kaca. Ah, Ghani sudah lemah kalau melihat kesayangannya betingkah seperti ini. Mira menampakkan senyuman kemenangannya.


"Sayang." Khalisa menggeleng menolak dibujuk.


"Aku pinjam kamar dulu ya Mah."


Mira mengangguk sumringah, Ghani membawa istrinya menaiki anak-anak tangga menuju kamar. Sudah berapa bulan Ghani meninggalkan kamarnya ini. Meskipun dia tidak ada, kamarnya selalu dibersihkan.


"Sayang jangan begini dong." Ghani mengusap lembut puncak kepala Khalisa. "Kita balik ke Singapura ya."


"Abaaang, masih mau di sini sama Mama Papa."

__ADS_1


"Dua hari ya." Ghani memberikan penawaran, Khalisa menggeleng pelan.


"Sayang, jangan begini. Please, bantu Abang." Mohon Ghani, Khalisa membuang wajahnya dari pandangan sang suami.


"Satu minggu ya?"


"Iya, makasih Abang sayang." Ghani menarik napas kasar, membaringkan tubuhnya ke ranjang. Tomi mengetuk pintu kemudian masuk tanpa menunggu jawaban.


"Gha!" Panggil Tomi.


"Hm."


Khalisa duduk di sisi ranjang dengan cemberut.


"Kha aku pinjam Ghani sebentar ya." Khalisa tidak menyahut, Tomi menarik Ghani ke kamarnya.


"Mau apa dia sampai muka ditekuk gitu?"


"Mau tinggal di sini." Ghani mengusap wajah kasar, menarik napas untuk melepaskan kekesalannya. Istrinya tak bisa dibantah saat seperti ini. Bisa-bisa tambah lama merajuknya.


"Masih marah sama Papa?" Tanya Tomi santai mengamati sepupunya yang terlihat berantakan.


"Aku gak bisa tinggal di sini lagi Tom. Mau ngomong apa lagi, jangan bikin otakku tambah panas," geramnya.


"Gak jadi, lo gakkan bisa diajak ngomong juga kalau lagi gini." Ujar Tomi, Ghani meninggalkan kamar Tomi membanting pintu dengan keras, kembali ke kamarnya. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang kemudian membenamkan wajah di bawah bantal.


"Abang marah sama aku?" Khalisa kebingungan melihat suaminya yang gusar, tidak biasanya Ghani bersikap seperti itu padanya. Apa ini karena permintaannya tadi?


Ghani mendekap istrinya erat. "Sayang, Abang gak marah. Boleh kita gak usah tinggal di sini. Kalau uang Abang udah banyak, nanti kita beli rumah besar juga."


"Ya sudah, kita gak usah nginap di sini, ayo kita pulang aja." Lebih baik saat ini Khalisa menurut, toh suaminya gak nyaman lagi tinggal dengan orang tuanya. Dari pada nanti tambah bikin renggang hubungan Ghani dengan keluarganya.


"Ngambek nih, dari pada ngambek mending kita beli rujak gimana?" Ghani menoel hidung istrinya yang sekarang menjadikan dadanya sebagai bantal dengan sesuka hati.


Khalisa menggelengkan kepalanya manja. "Aku mau cake di tempat Anindi."


Ih gemesin banget deh punya istri seperti ini. Ghani mencubit kedua pipi itu "Oke, kita langsung ke sana." Setelah berpamitan dengan Emran dan Mira, Ghani membawa istrinya meninggalkan kediaman keluarga Emran.


Tak penting acara ulang tahunnya, asal Khalisa berhenti merengek ingin tinggal di rumah papa. Tinggal di sana membuat Ghani terus menerus terkekang oleh keinginan papa yang tak ada habisnya.

__ADS_1


__ADS_2