Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
102


__ADS_3

Ghani mengamati wajah Khalisa yang berbaring dengan nyaman dalam pangkuannya. Dia bingung dengan tingkah istrinya yang berubah-ubah. Apa karena faktor hormon kehamilan yang menjadi pemicunya.


Tangan Ghani tak berhenti mengusap-usap kepala Khalisa dengan sayang. "Masih pagi jangan tidur dulu Kha, kita main di luar yuk Sayang."


Perempuan yang sedang hamil muda itu mengangguk antusias. Ghani membawa istrinya duduk di gazebo sambil membawa laptop.


Khalisa membiarkan suaminya sibuk dengan pekerjaan. Dia berkeliling di sekitar taman seraya berjemur menikmati matahari pagi.


Tempat ini masih sama seperti dulu, saat mereka masih anak-anak. Khalisa kecil sering bermain di sini bersama Ghani.


Dirasa cukup berjemurnya Khalisa berpindah tempat mengamati ikan-ikan yang sedang berenang. Kolam ikan yang dihiasi batu-batu alam itu menyegarkan pandangan mata. Inilah yang selalu dia lakukan saat bosan berada dalam rumah.


"Abang sibuk?" Tanyanya sambil bergelayut manja di tangan Ghani, setelah berjam-jam meninggalkan suaminya tenggelam bersama laptop.


"Lumayan Sayang, Abang harus kerja kan buat dedek." Ucap Ghani dengan tersenyum. Tangannya mengelus pipi Khalisa disela-sela memeriksa laporan.


"Tangan Kha masih bau darah gak, Abang." Ghani spontan membawa kedua telapak tangan Khalisa ke depan hidung. "Enggak, tangan Kha wangi sabun. Tadi sudah Abang cuci sampai bersih."


"Aku mau kita hidup tenang, Abang."


"Kita udah ngomongin inikan Kha," Ghani menjeda aktivitasnya. Mengamati wajah Khalisa dengan lekat. "Kha masih takut?" Tanyanya lembut.


Khalisa mengangguk, mengusap perutnya dengan manja. "Aku takut anak kita disakiti lagi, Bang."


Ghani mengerti ketakutan Khalisa, dia juga tidak ingin orang-orang tersayangnya tersakiti lagi. Lelaki itu membawa istrinya dalam dekapan hangat, "kita akan jaga dia baik-baik Sayang. Kha jangan takut, harus tetap tenang biar dedek bisa sehat."


Khalisa menjawab dengan anggukan, inginnya hidup tenang. Namun berada dalam rumah keluarga Ghani dia bukannya bisa tenang. Ada saja kejadian yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.


"Kha bau keringat, hm." Ghani menjepit hidungnya menggoda Khalisa.


"Ih, awas peluk-peluk. Sana jauh-jauh." Khalisa melepaskan diri dari dekapan Ghani dengan wajah masam.


"Biarin aja bau, Abang masih mau meluk kok." Sambil tertawa Ghani menarik Khalisa kembali dalam pelukannya. "Kita masuk Sayang, sudah mulai panas nih. Abang juga mau meeting."


"Hayuuk." Khalisa beranjak mengikuti Ghani masuk ke kamar.


Sembari menemani Ghani meeting virtual, Khalisa membuka platform menulis miliknya yang berjamur karena lama tidak diurus. Sambil mendengarkan percakapan sang suami, Khalisa melanjutkan menulis di ponsel.

__ADS_1


"Sayang, kalau mau menulis di laptop aja. Kasihan matanya kalau megang hp terlalu dekat gitu." Tegur Ghani, Khalisa menoleh. Dia sampai tidak menyadari suaminya sudah selesai meeting saking asiknya dengan dunia sendiri.


"Pake laptop susah sambil rebahan Abang. Nyamannya gini."


Ghani tersenyum terus menggeleng pelan, "paparan radiasi hp bisa mempengaruhi perkembangan otak janin sehingga anak jadi hiperaktif. Selain itu, radiasi hp juga bisa menyebabkan kerusakan sel yang menjadi pemicu keguguran pada ibu hamil." Jelasnya, Khalisa memajukan bibir lalu melepaskan ponselnya dari genggaman.


"Gak usah manyun gitu juga, Abang ambilin laptopnya." Ujar Ghani terkekeh lalu beranjak mengambil laptop Khalisa.


"Udah gak mood nulis," tolak Khalisa saat Ghani menyodorkan laptop. Suami Khalisa itu tertawa kecil lalu mencuri kecupan di bibir manyun sang istri. Membuat ibu hamil itu tambah kesal.


"Sini Abang ketikkan, Kha mau nulis apa." Bujuk Ghani kembali duduk di samping Khalisa.


"Mana bisa Abang, ide aku langsung lenyap kalau gitu." Ucapnya ketus, Ghani sudah sangat terbiasa dengan tingkah ibu hamil yang suka mood swing ini.


"Jadi Abang harus gimana nih, biar Kha mood lagi?" Ghani tidak masalah dengan tingkah istrinya yang berubah-ubah ini. Walau kadang dia ingin menyerah saking lelahnya memomong Khalisa.


"Gendong Kha ke bawah, lapar." Pintanya manja, Ghani cepat menggeleng. "Kha berat, Abang gak kuat gendong nih. Kecuali Kha pijetin dulu." Katanya sengaja menggoda Khalisa.


"Tangan Kha capek." Khalisa mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan Ghani.


"Kalau begini capek gak?"


Suami Khalisa itu mencuri satu kecupan yang diberikannya dengan lembut. Ghani melakukan gigitan kecil lalu menerobos masuk menjelajah di sana. Napas mereka semakin beradu, Ghani memberikan kesempatan istrinya bernapas kemudian melanjutkan lagi. Lelaki itu beralih dari bibir, turun ke leher jenjang Khalisa. Tangannya ikut menyusup ke balik baju.


"Abang, cukup!" Khalisa memukul tangan Ghani yang kelayapan dangan nakal. Napasnya masih terengah-engah, dia berusaha menormalkan detak jantungnya kembali. Ghani sudah berhasil membuat jantungnya melompat-lompat ingin keluar dari habitatnya.


"Belum Sayang, kan gak capek." Ujar Ghani manja, lelaki itu membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Juniornya sudah terlanjur bangkit dari tidur.


"Enggak, ini masih siang. Kha gak mau olahraga jantung," tegas Khalisa.


Ghani mengangkat kepalanya lalu tersenyum lebar pada sang istri. "Nanti malam boleh dong," tangannya mengusap lembut bibir Khalisa yang membengkak karena ulahnya.


"Lihat nanti deh," jawab Khalisa asal dengan wajah memberengut masam.


"Ayo ke bawah, katanya tadi lapar." Ajak Ghani, Khalisa merentangkan kedua tangannya.


Dengan sabar Ghani memikul beban satu karung beras itu. Selama hidup tiga puluh tahun Ghani tidak pernah mengangkat beban berat selain tubuh istrinya ini.

__ADS_1


***


"Tomi, Anindi belum pulang. Ini sudah hampir maghrib." Ujar Khalisa gelisah mendekati Tomi yang sedang mengobrol dengan tiga lelaki tampan, salah satunya sang suami.


"Sudah kamu telpon, Sayang." Ghani menarik lembut tangan Khalisa untuk duduk dipangkuannya.


"Gak bisa dihubungi Abang, kalau bisa ngapain aku repot nanya Tomi," jelasnya ketus.


Ghani menarik napas panjang. Istrinya belum lagi tau masalah pasutri itu sudah seperti ini. Apalagi kalau tau, dia pasti yang akan jadi sasaran amukan Khalisa.


"Sudah di jalan Kha, Pak Maman tadi yang jemput. Hp Nindi mati." Tomi menjelaskan dengan pelan. Ghani sudah mengkode untuk bicara dengan hati-hati.


"Kenapa Pak Maman sih yang jemput, biasanya juga kamu yang jemput," ujar Khalisa judes. Ghani mengusap lengan istrinya untuk menenangkan.


"Kita jangan ikut campur urusan mereka ya, Sayang." Bujuk Ghani lembut, Zaky dan Guntur sudah menatap Tomi penuh tanda tanya.


"Mereka berantem?" Selidik Khalisa, Ghani tak berani menjawab takut keceplosan.


"Enggak Kha, aku lagi capek aja jadi gak bisa jemput Nindi," jawab Tomi cepat.


"Capek?" Khalisa menatap Tomi penuh curiga, "kalau capek istirahat bukan malah ngobrol di sini," katanya ketus.


"Ya sudah aku ke kamar, istirahat." Pasrah Tomi, adik iparnya itu ngeselin pake banget.


"Duduk!" Titah Khalisa saat Tomi beranjak dari duduknya. "Aku tau ya kamu gak tidur di kamar Anindi tadi malam. Aku juga dengar semua yang kalian bicarakan. Jadi jangan sok nutup-nutupi dari aku." Ungkapnya dengan penuh emosi.


"Sstt, Sayang," Ghani membenamkan Khalisa dalam pelukannya. "Jangan marah-marah, oke. Kita gak berhak ikut campur rumah tangga mereka," bisiknya dengan lembut.


"Biar Tomi dan Anindi selesain masalah mereka ya, Kha gak usah ikut pusing." Lanjut Ghani seraya memberikan usapan lembut untuk menenangkan Khalisa.


"Jadi benar apa yang dikatakan Kha, Tom?" Tanya Zaky penuh selidik, si empunya hanya mengangguk lemah.


"Kalian diam, jangan sampai mama papa tau. Nanti gue selesaikan masalah ini sama Nindi secepatnya."


"Kalian mau pisah?" Tembak Khalisa menatap tajam Tomi, membuat suami Anindi itu mematung di tempat.


"Kalau Anindi menginginkan itu, Tomi bisa apa, Sayang. Kha harus hargai apapun keputusan mereka ya." Khalisa menggeleng lemah membenamkan kepala dipelukan Ghani.

__ADS_1


__ADS_2