
"Istirahat, aku jagain di sini."
Tomi membaringkan tubuh di sofa. Rindu tidur sambil memeluk perempuannya itu. Malam ini dia akan rela tidak tidur semalaman untuk mengamati wajah cantik Anindi.
Anindi mengangguk, rasanya seperti dejavu. Tomi menyelamatkannya lagi. Perempuan itu memejamkan mata yang lelah dengan membelakangi Tomi.
Lelaki itu bangkit mengambil obat di tas Anindi. Mengamati botol obat itu bergantian dengan perempuan yang ada di depannya.
Jadi Anindi selalu minum obat ini. Tomi menggeleng pelan, dulu tidak pernah Anindi minum obat tidur. Apa selama jauh darinya, perempuannya ini tidak bisa tidur.
"Nindi." Tomi duduk di sisi ranjang, memanggil perempuan itu dengan lembut. "Kamu belum tidur kan?"
Anindi membalik tubuhnya menghadap Tomi, "iya. Kenapa Mas?"
"Gak bisa tidur?"
Perempuan itu menjawab dengan anggukan kepala.
Huh, kenapa dia selalu merasa harus melindungi Anindi. Tomi tidak boleh bersikap seperti ini lagi. "Kamu belum minum obat ya?"
"Belum."
Boleh meluk gak sih, Tomi tau perempuan yang sok kuat di depannya ini sangat rapuh. Dia ingin menjadi pelindung buat Anindi. Kenapa sekarang sangat susah untuk mengendalikan diri.
"Gak baik minum obat terus, nanti kamu ketergantungan." Ujar Tomi lembut, mengelus kepala Anindi. Tangannya tidak kuat untuk tidak menyentuh. Memberikan rasa nyaman pada mantan istrinya ini.
"Iya, aku tau."
Anindi menyembunyikan kegugupan. Jantungnya bekerja lebih cepat saat Tomi mengelus kepalanya.
"Kalau tau kenapa masih di minum?" Tanya Tomi dengan tersenyum. Matanya memberikan tatapan teduh.
"Aku gak bisa tidur kalau gak minum obat."
__ADS_1
"Dulu kamu gak pernah gini." Tomi ikut berbaring, membawa kepala Anindi di atas tangannya, posisi tidur yang perempuan itu suka, "ada apa sama kamu, mau cerita?"
Anindi bergeming. Apa yang terjadi dengan dirinya, kenapa dia senang saat Tomi memperlakukannya seperti ini. Bagaimana nasib perempuan yang akan mantan suaminya itu nikahi nanti. Dia bukan perebut kebahagiaan orang lain.
Tomi tersadar kalau tindakannya terlalu berlebihan. Dia mengembalikan kepala Anindi ke bantal. "Maaf sudah bikin kamu gak nyaman, ya sudah aku ke kamar ya. Kasihan kamu terganggu kalo ada aku di sini."
Huh, Tomi keluar dari kamar Anindi dengan napas berat. Dia turun ke ruang tengah. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Kalau begini terus bisa kelepasan.
Kenapa Anindi sekarang sangat menggoda untuk dimanjakan dengan sentuhan. Tomi memejamkan mata, akhir-akhir ini dia memang lebih suka tidur di ruang tengah.
Dalam kamar Anindi mendesah berat, bingung harus bersikap seperti apa untuk menghadapi mantan suaminya. Apa setiap perempuan yang dekat dengan Tomi diperlakukan lembut seperti itu. Argh, apa yang otaknya pikirkan.
Tidur pun tidak bisa, terpaksa Anindi minum obat lagi. Sekarang sudah jam satu malam. Tidak ada air di kamar, dia turun ke bawah untuk mengambil air putih.
Netranya menemukan Tomi yang terlelap di sofa. Perempuan itu mendekat, mengamati wajah Tomi yang tertidur dengan damai. Melupakan tujuannya untuk mengambil air putih, Anindi ikut berbaring di sofa dan tertidur.
Tomi terjaga karena dinginnya suhu ruangan. Matanya menemukan Anindi yang tidur di sofa juga.
"Kenapa tidur di sini, badanmu nanti sakit." Ucapnya pelan, kemudian membawa Anindi ke kamar. Tomi membaringkan tubuh mungil itu dengan pelan di tempat tidur. Membelai lembut pipi perempuan yang sangat dirindukannya. Lalu ikut berbaring di samping.
Anindi terbangun karena merasakan beban berat menindih perut dan kakinya. Ternyata Tomi pelakunya, lelaki itu memeluknya dengan posesif.
"Mas," Anindi membangunkan Tomi dengan lembut.
"Iya Sayang," gumam Tomi menguatkan pelukannya. "Kamu jangan pergi tinggalin aku ya," katanya masih dengan mata terpejam.
Anindi menikmati wajah Tomi, baru kali ini dia menatap lelaki yang memeluknya ini dengan penuh kasih sayang. Semua sudah terlambat, yang ada di sampingnya sekarang ini calon suami orang.
Wajah Tomi membuatnya terbuai. Anindi mengusap pipi Tomi dengan lembut, kemudian mengecupnya lama.
Tanpa Anindi sadari, lelaki yang dia cium itu sudah membuka mata. Tomi menyambar bibir Anindi, menyesapnya dengan lembut. Sensasi hangat mengaliri tubuh mereka dengan debaran jantung yang ikut menggila.
Anindi mengikuti permainan Tomi. Mereka sama-sama terbakar gairah. Tangan Tomi sudah berkelayapan kemana-mana, memberikan sentuhan yang memuaskan untuk perempuannya. Desa*han Anindi membuat gairah Tomi semakin membara.
__ADS_1
"Boleh?" Lirih Tomi, mereka sudah sama-sama tidak bisa mengendalikan diri. Anindi mengangguk, menunggu Tomi datang memenuhi dahaganya.
Tomi tertidur di atas tubuh Anindi setelah selesai melakukan penyatuan. Anindi mengusap wajah lelaki yang sudah membuatnya menggila beberapa waktu lalu. Kemudian tertidur kembali, matanya terasa sangat berat.
"Astaghfirullah, Nindi." Pekik Tomi saat tersadar apa yang sudah dilakukannya. Tangannya menepuk pelan pipi perempuan itu untuk membangunkan.
"Maaf aku kelepasan, Nin." Sesal Tomi dengan penuh rasa bersalah. "Maaf sudah menodaimu."
Anindi tidak tau harus marah atau sedih. Dia juga ikut andil dan menikmati. Bukan salah Tomi sepenuhnya.
Huhh, Tomi menarik rambutnya kasar. Dia tidak tau harus apa sekarang. Menikahi Anindi tidak mungkin, perempuan itu pasti tidak bahagia bersamanya.
"Kamu mau nikah sama aku lagi?" Tanya Tomi pelan.
Anindi menggeleng lemah, dia tidak mungkin menghancurkan rencana pernikahan Tomi dengan perempuan lain.
"Anggap aja ini gak pernah terjadi, udah gak usah dipikirin." Ucapnya lalu beranjak ke kamar mandi, menangis kencang di bawah shower.
Sebelum ini terjadi memang dia sudah tidak punya harga diri lagi. Lagian dia juga yang mengiyakan saat Tomi menginginkan. Anindi terbuai oleh nafsunya sendiri.
Huh, kenapa dia bisa tergoda dengan mantan suaminya itu. Allah, masih pantaskah Anindi menyebut nama itu. Setelah perbuatan terlarang yang mereka lakukan tadi.
Sedang Tomi masih memukul-mukul kepala atas apa yang dia lakukan pada Anindi. Selama menikah pun dia masih bisa menahan diri. Kenapa malah kelepasan malam ini, sekuat tenaga dia sudah menahannya.
"Hei, kepalanya sakit kalau di pukul terus." Tegur Anindi mengusap kepala Tomi dengan sayang. Tomi bersujud di bawah kaki Anindi.
"Maafin aku, maaf aku udah hancurin kamu. Maafin aku." Tomi memeluk kaki Anindi untuk memohon pengampunan. Prinsipnya selama ini sudah dia langgar.
Anindi berjongkok, "gak ada yang perlu dimaafin, aku juga salah. Mas kembali ke kamar gih, mandi dulu. Kita lupain semua ini."
"Aku gak bisa lupain Nin, gak bisa. Kamu terlalu berharga buat aku."
Anindi menanggapi dengan senyuman. "Mas bersih-bersih dulu sana," bujuknya dengan lembut.
__ADS_1
Tomi mengangguk, kembali ke kamar dengan berat hati. Dia tidak boleh melakukan kesalahan lagi. Apapun keinginan Anindi, dia akan turuti.
Seperginya Tomi, Anindi kembali meringkuk di bawah selimut. Sesakit apapun keadaannya sekarang, tidak boleh ada yang tau kalau dia sedang terpuruk. Biar orang melihatnya sebagai Anindi yang kuat setegar karang.