
“Yayah ini siapa dan ini siapa?” tunjuk Nefa pada bayi kembar Ghani yang baru berumur tiga hari. Gadis berumur empat tahun itu tidak berkedip menatap box bayi berisi makhluk kecil yang wajahnya sangat mirip.
“Ini adek Celin Sayang,” tunjuk Tomi pada bayi yang ada di box kanan, Celin Ghaida Faizan. “Dan ini adek Celena.” Lanjutnya menunjuk pada Celena Khaida Faizan yang ada di box sebelah kiri.
“Nefa lupa. Wajahnya sama,” sebut gadis kecil itu karena tidak bisa membedakan wajah kembar putri Ghani.
“Nanti kalau adeknya besar Nefa akan bisa mengenalinya,” beritahu sang ayah. Gadis kecil itu mengangguk mengerti.
“Nefa mau punya adek yang wajahnya sama?” tanya Khalisa pada keponakannya yang sangat comel itu.
“Nefa mau dua,” ujar Nefa seraya mengangkat jemarinya. Tapi yang diangkat jari manis, telunjuk dan tengah.
“Itu namanya tiga, adek.” Arraz membenarkan dengan gemas. Dia sudah tidak memusuhi adik kecilnya ini.
“Ya, tiga.” Ulang Nefa.
“Satu aja bundamu belum berhasil Sayang apalagi tiga,” gumam Tomi yang pasti Nefa tidak mengerti.
“Nanti Bunda buatin dari adonan tepung,” sahut Anindi asal.
"Buatin yang banyak ya?" Pinta Nefa lugu.
Anindi dan Tomi saling pandang lalu tertawa geli, "anak siapa itu Mas?"
"Anak kita Sayang, masa lupa. Cuma ingat waktu buatnya ya," bisik Tomi di telinga sang istri.
Anindi memutar bola mata malas, sempat-sempatnya mikir ke arah sana.
“Nefa mau cium adek ini dan ini.” Ujar Nefa menunjuk kedua box bayi itu.
Anindi dan Tomi mengangkat masing-masing bayi itu agar Nefa mudah menciumnya. Gadis kecil itu menciumi riang putri kembar Ghani.
“Abang gak di cium juga, hm?” Airil menyodorkan pipinya. Nefa langsung mendekat, memberikan cap stempel di sana.
“Abang Arraz mau juga?” tanya Nefa. Bocah lelaki Ghani itu menggeleng.
__ADS_1
“Mau ya,” Nefa memeluk kaki Arraz meminta agar menunduk. Arraz menurut saja agar bocah kecil itu tidak menangis.
“Gendong,” pinta Nefa setelahnya pada Arraz.
"Nefa mau kemana?"
"Mau jalan-jalan," tunjuknya ke arah luar. Arraz menggendong adik sepupunya, membawa berjalan-jalan keluar sesuai keinginan adiknya itu.
“Kalian masih ingat, suka seperti itu waktu seumura Arraz, aku sampai dilupakan.” Ujar Ghina cemberut pada kembarannya.
“Adik Abang sayang,” Ghani menarik sang adik yang cemberut lalu memeluknya.
“Maafin Abang,” gumamnya mengelus-elus kepala Ghina. Jangan dicium, karena Kha pasti akan marah kalau melihatnya mencium Ghina.
“Eitz cukup, pelukannya tidak boleh lebih dari dua menit. Ada aku di sini Sayang.” Lerai Zaky, siapapun bisa mengira kakak beradik itu suami istri kalau dibiarkan bermesraan.
“Sekarang sudah gak bisa meluk lama-lama lagikan, ada yang cemburu.” Celetuk Ghina, Ghani terkekeh kecil mencubit pipi adiknya.
“Cucu Opa yang dua mana?” tanya Emran hanya melihat Airil yang ada di sana.
“Lagi manja Pah. Arraz ajak jalan-jalan keluar," jawab Tomi.
“Pah, mereka cuma anak kecil. Wajar kalau Nefa lengket sama Arraz, apalagi satu rumah." Sahut ayah Arraz.
“Kamu dan Kha juga lengket dari kecil Gha,” Emran mengingatkan, Ghani terdiam menatap istrinya.
“Papa ingin salah satu dari kalian tinggal lebih jauh. Agar mereka tidak terbiasa bersama,” putus Emran.
“Jadi Papa mau salah satu dari mereka pergi?” Tanya Mira tidak setuju pada pemikiran suaminya.
“Cuma tinggal lebih jauh Mah, itu gak akan merubah kenyataan mereka anak kita.” Jelas Emran pada sang istri.
“Biar Tomi yang pindah Pah, lagian Nefa belum sekolah jadi tidak perlu mengurus pindah sekolah segala macam.”
“Mama gak mau pisah sama Nefa, titik.” Rajuk sang nenek.
__ADS_1
“Kami akan selalu mengunjungi Mama. Papa benar lebih baik mereka dipisahkan sejak kecil, sebelum yang Papa takutkan kejadian.” Jelas Tomi pelan pada sang mama.
Ia memang sudah lama ingin mengajak istrinya pindah rumah. Tapi tidak tega pada ibunya ini.
“Pokoknya Mama gak setuju!!” Seru Mira kemudian pergi dari rumah Ghani. Nenek Arraz itu merajuk tua.
"Airil cari adek kalian Sayang," pinta Zaky pada putranya.
"Baik Pah," jawab Airil pergi dari sana
"Cinta antar keluarga itu menyakitkan, belum tentu mereka bisa bersama. Iya kalau berjodoh, kalau tidak? Pada akhirnya akan menyakiti keduanya. Mereka tidak bisa menghindar saat hati tidak lagi sama-sama sejalan. Sedang kenyataan akan selalu mempertemukan mereka," ujar Emran bijak.
Tiga pasangan yang ada di sana mengangguk setuju pada pemikiran sang ayah.
***
"Bagaimana kalau kita sudah memisahkan tapi mereka tetap lengket Mas. Terutama putri kita yang tidak mau jauh dari Arraz. Karena Arraz yang selalu menemaninya sejak dalam kandungan." Gumam Anindi sambil membelai rambut putrinya yang sudah terlelap.
"Itu masalah nanti Sayang, yang penting kita sudah memisahkan mereka."
"Mas sudah dapat rumah untuk kita tinggal?"
"Sudah Sayang, tinggal menunggu dibenahi. Mungkin perlu waktu satu minggu.
"Tempat ini sudah seperti rumahku Mas," ucap Anindi sendu.
"Ini memang rumah kita Sayang," Tomi terkekeh geli membawa istrinya ke kamar.
"Maass, gak ngerti banget aku lagi sedih." Istri Tomi itu memberengut masam.
"Kamu gak bikin pengumuman kalau lagi sedih, aku jadi gak ngerti." Gurau Tomi, "kan enak kalau kita tinggal berdua Sayang."
"Nefa gak dihitung Mas. Atau mau dititipkan di panti asuhan," ujar Anindi sewot.
"Sayang, siapa yang mau nitipin Nefa di panti asuhan sih. Kamu ada-ada aja," Tomi menciumi gemas istrinya.
__ADS_1
"Mas, kalau aku gak bisa hamil lagi gimana?" Tanya Anindi serius.
"Kalau memang Allah cuma ngasih Nefa buat kita gak masalah, Sayang. Itu gak akan mengurangi rasa cintaku sama kamu." Tomi menatap lembut netra sang istri dengan penuh kasih sayang.