Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
80


__ADS_3

"Duduk diam di sini!" Titah Ghani mendudukkan istrinya di sofa di sana masih ada keluarganya berkumpul, juga Anindi. Guntur dan Ghina terkekeh geli melihat tingkah Ghani yang seperti menggertak anak kecil.


"Istrimu tidak akan hilang di sini Gha." Pekik Ghina, Ghani sudah melenggang ke dapur lalu kembali dengan segelas air putih dan segelas susu cokelat hangat.


"Mau minum yang mana?" Ghani meletakkan nampan di atas meja. Khalisa menunjuk air putih, Ghani mengambilkannya setelah selesai dia duduk di sofa memindahkan istrinya kepangkuan. "Masih ngantuk, hm?" Khalisa menggeleng, tangannya bergelayut di leher Ghani.


"Ekheemm mau bermesraan jangan di sini, masih ada yang polos." Sergah Guntur, Mira dan Emran terkekeh geli, karena anaknya yang satu itu suka memancing keributan.


"Kalau iri ya tinggal nikah juga Tur." Goda Mira, "masa sih orang ganteng kayak kamu gak laku." Lanjutnya, Guntur membulatkan mata. Sungguh terlalu harga dirinya dijatuhkan sang mama.


"Mama, banyak kok yang suka sama aku." Belanya, memalukan sekali kalau terlihat sangat mengenaskan.


"Ayo, buktikan." Sekarang Emran ikut-ikutan, "besok pagi juga Papa siap melamarkan gadis pujaanmu." Skakmat, Guntur tidak bisa berkutik lagi.


"Huwaaaa." Guntur pura-pura menangis, memang di rumah besar ini Guntur lah yang menyumbang kegaduhan ditambah Ghina yang setengah bar-bar.


"Abang, kenapa dia menangis? Kasih susu ya biar nangisnya berhenti." Khalisa berdiri memberikan segelas susu cokelat yang dibuatkan Ghani pada Guntur, kemudian kembali kepangkuan suaminya. Suara tawa pecah, menggelegar di ruang keluarga.


"Kha kamu kenapa jadi menyebalkan seperti ini sekarang." Geram Guntur setengah berteriak, Khalisa membenamkan wajahnya di dada Ghani karena ketakutan.


"Guntur!!" Sentak Ghani karena sudah membuat gadisnya takut.


"Iya, belain aja terus istri lo itu." Guntur berdecak kesal.


"Kok jadi salah Kha sih? Lo aja yang gak jelas dari tadi." Ghina memelintir telinga Guntur

__ADS_1


"Upss pasti sakit banget ya?" Ejek Tomi dengan kekehan.


"Sayang udah, tangannya jangan nakal." Zaky melepaskan tangan Ghina yang masih betah di telinga Guntur. Kasian telinganya sudah memerah, Ghina memang jahil juga ya.


"Udah ah gue ke kamar, kasian istri polosku tercemar otaknya karena kalian." Ghani tersenyum smirk membawa Khalisa dalam gendongan, "kita bobo ya, Sayang." Khalisa mengangguk setuju.


"Duh modus, modus, bilang aja mau bikin baby."


"Ada yang salah kalau gue bikin baby, hah?" Ghani puas mengejek Guntur, dia melenggang pergi meninggalkan Guntur yang menganga karena kesal.


"Anak dan menantu Mama itu kenapa menyebalkan sekarang." Adu Guntur kesal.


"Lo aja yang iri lihat mereka selalu bermesraan." Zaky mencebik yang diacungi Ghina jempol, suaminya memang the best.


"Mau bikin baby, hm?" Ghani duduk di sisi ranjang setelah mengunci pintu, Khalisa mengangguk. Ghani menggaruk tengkuknya, apa benar istrinya masih polos? Kenapa bisa jadi seperti anak kecil. Padahal cuma hilang ingatan, harusnya cuma ingatannya yang hilang bukan jadi seperti bayi yang masih suci begini.


Ghani membelai rambut istrinya, menciumi seluruh wajah istrinya lalu berhenti dibibir. "Ikuti Abang ya Sayang," bisik Ghani sensual, menggigit pelan telinga Khalisa.


Khalisa merasakan tubuhnya menengang seketika. Bibir lembut Ghani sudah menempel sempurna. Dia mengikuti permainan Ghani dengan panas. Peraduan napas itu membuat gairah Ghani meledak.


No, istrinya tidak polos. Buktinya sekarang dengan lihai mengimbangi ciumannya. Ghani tertawa bahagia, berlanjut mengendus leher Khalisa memberikan gigitan kecil di sana. Erangan kecil gadisnya membuat hasrat Ghani menggebu, sudah lama mereka tidak melakukan penyatuan.


Khalisa memberikan tatapan kecewa saat Ghani melepaskan ciumannya. Ghani terkekeh geli, salah kalau dia menilai istrinya polos. Wanita tetaplah wanita, yang jika disentuh tubuhnya akan memberikan respon. Apalagi mereka sering melakukannya, hanya ingatannya yang hilang. Tapi sensitifivas terhadap sentuhan Ghani tetaplah sama, itu yang membuat Khalisa cepat nyaman pada Ghani.


"Sabar Sayang." Ghani membimbing Khalisa melepaskan seluruh atributnya lalu mereka bersembunyi dibalik selimut. Selesai berdoa Ghani siap memakan istrinya dengan lapar.

__ADS_1


Hampir tiga bulan dia bersabar menunggu istrinya sadar. Sekarang dia sudah siap menyebar benih kembali di rahim gadisnya. Erangan Khalisa membuat Ghani semakin bergairah. Ghani junior akan siap datang kembali.


Dipeluknya erat tubuh mungil itu setelah mereka berhasil menyatukan cinta kembali. Rasa cinta semakin bertambah saat bulir-bulir keringat membasahi satu sama lain.


Ghani bahagia, sangat bahagia saat istrinya kembali. Walau masalah selalu menghadangnya dengan gagah berani. Namun dia tidak akan kalah selama masih ada sang kekasih di sisinya.


"I love you Sayangku." Ghani mengecup kening Khalisa, "terimakasih sudah membuatku puas." Bisiknya lagi, pipi Khalisa bersemu merah menahan malu, dia sangat malu sekarang.


"Jangan malu Sayang," Ghani menyingkirkan tangan Khalisa yang menutup wajahnya, "kamu selalu cantik dan sexy." Lagi dan lagi pipi Khalisa memerah.


"Kamu lucu sekali, masih saja malu-malu." Ghani memeluk gemas istrinya, "hangat kalau seperti ini."


Ghani paham, istrinya sekarang tidak secerewet dulu lagi, masih banyak diam kalau tidak diajak bicara. Tapi dia tetap cinta, selamanya cintanya tetap tertaut pada Khalisa Rihana gadis kecilnya, cinta pertamanya.


"Abang sakit." Cicitnya, Ghani langsung mengurai pelukannya menduga terlalu bersemangat memeluk istrinya. "Maaf, terlalu kuat memelukmu. Dimana yang sakit Sayang." Khalisa mengarahkan tangannya pada bagian yang sakit dengan menutup mata. Ghani dengan tol*olnya mengikuti tangan itu mengarah kemana dan baru menyadari ketololannya.


"Hm, sebentar lagi sakitnya hilang Sayang, tapi enakkan tadi?" Ghani tol*ol, kenapa pertanyaan absurd harus ditanyakannya pada istrinya yang masih polos. Khalisa mengangguk, lagi-lagi ekspresinya sangat menggemaskan. Ghani ingin memakannya sekali lagi.


"Mau lagi, hm?" Khalisa mengangguk kecil, yes kemenangan ada pada Ghani malam ini. Coming soon Ghani junior jeritnya dalam hati.


"Tapi sakit gak papa?" Tanya Ghani, dia juga kasian dengan kepolosan Khalisa sekarang. Entah saraf kepala bagian mana yang putus sehingga membuat istrinya jadi seperti ini.


"Sakit ya?" Cicitnya lagi.


"Sedikit, tapi banyak enaknya kok. Abang akan pelan-pelan." Bulshit Gha, pelan? Nyatanya dia hilang kendali sampai membuat istrinya berkali-kali menjerit. Tapi itu malah membuatnya Ghani semakin bersemangat. Maklum, dia kelaparan jadi harus makan yang banyak biar kenyang. "Mau?" Khalisa mengangguk, Ghani siap memangsa lagi kalu istrinya polos seperti ini.

__ADS_1


Malam ini saja dia ingin menyalurkan segala perasaan yang membuncah di dada, juga kegalauan yang dirasakannya. Tapi kalau besok lagi ya juga tak masalah untuknya. Dia selalu siap untuk memuaskan kekasihnya, eh malah kebalik ya. Justru dia yang dipuaskan Khalisa. Puas banget malahan. Dasar otak mesummu Gha, kayaknya yang harus dibenerin otaknya Ghani deh. Biar tidak meresahkan otak polos Khalisa. Ajarannya sangat menyesatkan.


__ADS_2