Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
92


__ADS_3

"Tak apa, aku senang kamu kembali seperti dulu, tapi aku juga sedih kehilangan jiwa polosmu yang bikin gemas." Ghani menangkup kedua pipi Khalisa, menatap manik mata gadisnya dengan lekat.


"Kamu tertembak saat kita berdiri di balkon itu Kha." Tangan Ghani menunjuk ke arah balkon, "kamu sempat mengalami henti jantung, aku seperti orang gila Kha. Aku sangat takut kehilanganmu."


Khalisa tertegun, dia sangat yakin kalau Ghani tidak berbohong. "Kamu koma selama dua bulan Kha. Kamu tau sakitnya aku selama dua bulan itu. Kamu bagai mayat hidup untukku Kha."


Ghani meneteskan air matanya, rasa sakit itu menyeruak ketika cerita menyedihkan itu diungkit kembali. "Aku sakit Kha, aku terluka, aku kecewa kamu tertidur sangat lama. Ketika bangun kamu lupa denganku Kha. Kamu lupa dengan semua kisah kita."


"Yang membuatku semakin sakit, Azhar dan Clara berniat membunuhmu disaat kamu terbaring lemah, Kha." Khalisa memeluk erat tubuh Ghani, dia tidak kuat melihat kekasihnya menangis dan terluka.


"Maafkan aku Gha, maaf sudah membuatmu bersedih dan berjuang sendirian." Ghani menggeleng, "kamu berjuang Kha, kamu memperjuangkan napasmu agar kembali, kamu memperjuangkan jantungmu agar tetap berdetak."


"Kha, berkali-kali ada orang ingin membunuhmu. Jadi sekarang, walau kamu sudah ingat semuanya tetaplah menurut atas apa yang aku katakan langsung. Aku tidak ingin kamu terluka." Khalisa mengangguk, "Sayang kamu ingat setelah bangun dari koma kamu bersikap seperti anak kecil. Begitu manja dan menggemaskan." Ghani menghapus air matanya kemudian tersenyum.


"Kamu gak mau makan kalau gak disuapin, ke dapur pun minta gendong." Jelas Ghani sambil tertawa kecil.


"Benarkah aku seperti itu Gha?" Khalisa masih ingat Ghani selalu menggendong dan menyuapinya makan.


Ghani mengangguk kemudian tertawa, "Sayang kamu membuat Guntur frustasi, karena kamu merengek minta digendong, saat aku gak ada kamu minta tidur ditemani Guntur dan minta peluk." Ghani terkekeh geli, Khalisa menutup wajahnya karena malu.


"Apa Guntur menyentuhku?" Ghani menggeleng, "kalau dia melakukannya pasti sekarang sudah tak bernyawa lagi, Sayang. Kamu ingatkan semua kejadian pasca koma?"


"Ingat sedikit, tapi aku pikir itu hanya bayangan semu." Khalisa membenamkan wajahnya di dada Ghani.


"Tidak apa kalau masih mau seperti itu, asal jangan minta peluk lelaki lain." Ghani membelai lembut punggung Khalisa untuk memberikan rasa nyaman. Suasana hatinya sedikit membaik sekarang. "Aku suka kamu lebih manja padaku Kha."


"Abang, terimakasih sudah sabar menghadapi tingkahku." Khalisa mengecup pipi Ghani.


"Sayang pipi yang satunya ngiri nih." Ghani mengelus pipi kirinya.

__ADS_1


Cup, Khalisa mengecup basah.


"Sayang, kenapa dibasahin." Rengek Ghani, sekarang istri agresifnya sudah kembali. Pergulatan baru akan dimulai kembali.


"Aaaaa bahagia, cintaku kembali lagi." Ghani berteriak girang, "Sayang jangan ke balkon lagi ya."


"Kenapa?" Tanya Khalisa pura-pura polos. "Abang takut aku kepleset dan jatuh, nanti kakinya sakit." Sambung Khalisa tertawa gelak, Ghani mencubit hidung Khalisa manja.


"Aku bahagia Sayang, bahagia banget kamu sehat dan ingat semuanya. Aku bahagia." Pekik Ghani girang, "aku akan tambah bahagia kalau di sini ada dedeknya." Ghani menciumi perut Khalisa. Khalisa tersenyum, pria yang sempat membuatnya porak poranda sekarang menjadi bucin karena dirinya.


"Ayo kita ketemu Mama Papa." Ajak Ghani, "tapi kamu pura-pura polos seperti biasa dulu ya Sayang." Khalisa mengangguk.


"Sayang!" Rengek Ghani, kenapa kalau sekarang Khalisa mengangguk begitu jadinya menyebalkan.


"Aku sudah mengangguk Bang, apa yang salah." Khalisa terkikik geli, "katanya pura-pura polos, aku udah nurut lho." Lanjutnya, dia kenapa jadi seperti orang oon begini, mau aja disuruh suami tidak jelasnya ini.


"Ih, ngeles aja deh." Ghani mencubit gemas pipi Khalisa, merangkul istrinya menuruni anak tangga.


Eh ampuh, kenapa jadi semua orang yang datang. Perasaan cuma manggil mama papa deh.


Ghani menarik Khalisa untuk duduk dipangkuannya sambil menciumi perut langsing sang istri.


"Ada apa Gha, bikin kaget aja." Omel Mira yang baru datang, di belakang ada Emran yang mengikuti. "Kha hamil?" Tanyanya, melirik Ghani yang terus memegang perut Khalisa.


"Maunya di sini ada dedek bayi." Ghani terkekeh, Zaky, Tomi dan Guntur yang belum kembali ke kantor juga ikut bergabung. Anindi seperti hari biasa sibuk di toko.


"Lalu kenapa teriak-teriak Gha?" Emran duduk di sisi Mira, Ghani tidak berhenti cengengesan. Untungnya Khalisa masih dalam mode akting.


"Pengen aja Pah, pusing di kamar mulu." Khalisa kesal dengan jawaban Ghani, kali ini dia tidak mencubit suami tersayangnya itu. Tapi tangannya yang usil menggagahi dada Ghani yang terlindung tubuhnya jadi tidak ada yang tau.

__ADS_1


"Sial," Ghani menggeram, "kamu membangunkan juniorku Sayang." Ucap Ghani pelan, Khalisa mengulum senyumnya. Ingin sekali mulutnya tertawa puas, tapi masih dalam tuntutan akting sekarang.


"Pah, aku pengen honeymoon boleh?" Pinta Ghani, Khalisa tidak tau kalau suaminya seabsurd itu. Mereka bukan penganten baru lagi ngapain honeymoon. Matanya melotot pada Ghani, si punya mata yang dipelototi hanya terkikik di bahunya.


"Kenapa sih Gha, lo jadi aneh deh hari ini. Sekarang itu suasana sedang tidak kondusif malah mau keliaran kemana-mana." Ghina berdecak kesal, tak paham dengan pikiran kembarannya itu, biasanya sangat posesif pada istrinya.


"Sayang kita gak bisa liburan gak papa kan?" Ghani mencium pipi Khalisa untuk memberi kode.


"Males ah, lama banget dari tadi. Aku capek, Gha." Ghani terkikik geli menciumi istrinya brutal, semua orang melongo melihat tingkah Ghani.


"Gha malu, dilihat mama papa!" Pekik Khalisa geram, membalas ciuman Ghani dengan pukulan di dada.


"Kha, lo bisa ganas lagi?" Tanya Guntur keheranan, mata Khalisa membola, malas menanggapi Guntur. "Ya iyalah," sahutnya ketus.


"Ih Ghani, berhenti ciumin aku. Geli banget deh." Ghani menurut masih dengan tawanya, apalagi membuat Khalisa kesal itu sangat menyenangkan.


"Kha-ku sudah kembali." Pekik Ghani girang memeluk Khalisa dengan erat. Khalisa terharu, suaminya sebegitu rindu dengannya sampai bertingkah seperti ini.


"Sayang, berhenti tertawanya. Kebanyakan ketawa nanti nangis." Tangan Khalisa mengelus lembut pipi Ghani, Ghani menahan tangan Khalisa di pipinya. "Sayang aku bahagia, sangat bahagia." Khalisa mengangguk, membenamkan wajahnya di dada bidang Ghani.


"Iya Sayang, aku tau kamu sangat bahagia sekarang. Maaf sudah mebuatmu rindu." Ghani menjawabnya hanya dengan deheman, sekarang dia sedang tidak ingin melow. Hanya ingin menikmati kebahagiaannya.


"Kamu beneran sudah ingat semuanya, Nak?" Mira mendekati Khalisa. Khalisa menegakkan tubuhnya menatap ibu mertuanya dengan mengangguk.


"Bagaimana bisa? Tiba-tiba ingat, kepalamu habis kejedot atau terjatuh Kha?"


"Ih Guntur, merusak suasana deh. Gimana ceritanya kepala terjatuh." Khalisa berdecak yang disambut tawa. Sekarang musuh Guntur sudah kembali, rumah tidak akan sepi lagi.


"Kepalamu ada yang sakit atau merasa pusing, Nak?" Emran yang tadinya heran dengan tingkah putranya akhirnya paham.

__ADS_1


"Gak ada yang sakit Pah, semua sehat." Khalisa tersenyum sumringah. Alhamdulillah, kebahagiaan keluarga ini lengkap sudah. Ruang keluarga dipenuhi canda tawa lagi, yang tadinya tegang karena tingkah Guntur sekarang sudah mencair.


__ADS_2