
"Mama," Khalisa membawa ke dapur kotak berukuran sedang yang dititipkan security padanya, saat dia menyiram bunga di teras.
"Kenapa Kha?" Tanya Mira yang sibuk membuat cemilan di dapur.
"Paketan Mama aku taroh di ruang tengah ya." Teriaknya seraya berbalik meninggalkan dapur.
"Kamu bukain aja. Paling itu panci copper core yang Mama pesan." Sahut Mira, Khalisa menghentikan langkahnya.
"Itu panci sultan yang harganya belasan jete Mah?" Khalisa memastikan, khawatir panci itu terjatuh jatah jajannya bakalan dikurangi Ghani.
"Lebay deh Kha, Mama biasa beli begituan buat pajangan. Biar bisa pamer waktu arisan." Ujar Ghina merebut paketan di tangan Khalisa.
"Beneran Mah?" Teriak Khalisa yang masih bisa didengar Mira, "kalau dihisab Allah nanti Kha gak ikutan ya." Lanjutnya lalu mengikuti Ghina ke ruang tengah.
"Jangan dengerin iparmu itu, Kha." Omel Mira yang menyusul anak-anaknya.
Ghina mengabaikan ocehan mama dan iparnya. Dia penasaran dengan koleksi terbaru yang mamanya beli.
"Mah, kok gak ada alamat pengirimnya. Terus kotak pancinya polosan gini. Mama ditipu kali." Komentar Ghina saat mengamati kotak itu, tidak ada merk panci sultan.
"Masa sih Mama ditipu, coba buka biar Mama komplain," usul Mira.
Tanpa pikir panjang Ghina membuka paketan itu, Khalisa penasaran panci sultan itu bentukannya gimana sih, gumamnya. Apa bedanya sama panci yang harganya ratusan ribu itu. Fungsinya tetap sama kan buat masak.
"Aaaaaaaa...!!" Teriak Ghina syok, lalu melempar kotak itu kesembarang arah. Setelahnya dia menangis histeris karena ketakutan.
"Kenapa?" Tanya Kha bingung, Ghina sudah pucat pasi. Mira langsung menenangkan putrinya.
Khalisa mengambil kotak itu dan melihat isinya karena penasaran. Apa gerangan yang membuat Ghina sampai menangis ketakutan.
"Abaaaannngg!" Teriak Khalisa, melempar kotak di tangannya lalu berlari menaiki tangga mencari sang suami.
Mira menatap heran menantunya yang seperti kesetanan, dia tidak tau apa isi kotak itu. Putrinya juga masih menangis ketakutan tidak mau bicara.
Khalisa menggedor pintu kamar, tangannya tremor tidak dapat membuka handle pintu lagi. Berlari menaiki tangga saja kakinya lemas.
"Sayang!" Ghani membuka pintu mendapati istrinya sudah pucat pasi. "Ada apa?"
__ADS_1
"A—ada teng-ko-rak, da-rah." Ucap Khalisa gagap dengan bibir bergetar.
Ghani lekas membawa tubuh Khalisa yang lemas dalam gendongan. Membiarkan sang istri menangis dipelukan.
Lelaki itu menuruni anak tangga sambil membawa beban berat tubuh Khalisa. Di ruang tengah mamanya kebingungan menenangkan Ghina. Ada apa dengan dua perempuan yang menangis di rumah ini.
"Mah, tolong telpon Zaky. Aku yang tunggu di sini." Pinta Ghani, dia tidak membawa ponsel. Mira mengangguk, melenggang pergi dari ruang tamu.
Ghani mendudukkan istrinya di sofa. Lalu duduk di tengah dua perempuan itu, memeluk keduanya dengan erat.
Suami Khalisa itu mengusap kepala dua orang kesayangnya untuk menenangkan. Zaky dan yang lainnya sudah berangkat ke kantor. Hanya dia yang bekerja dari rumah.
"Sudah tenang?" Tanya Ghani, dua perempuan itu masih membisu meskipun isak tangis sudah tak terdengar.
"Jangan takut ada Abang di sini." Ghani menciumi puncak kepala istri dan adiknya. Dia persis seperti memiliki dua istri kalau Guntur melihatnya begini.
Dia beranjak dari sofa mengambil kotak yang Ghani duga penyebabnya. Padahal sudah seminggu tidak ada teror lagi. Kenapa kecolongan begini.
Tengkorak manusia, darah segar. Gumamnya setelah melihat isi kotak, pantas saja dua perempuan itu menangis ketakutan.
"Kenapa?" Zaky berlari mendekati istrinya, dia panik langsung pulang setelah mertuanya menelpon. "Sayang," ayah satu anak itu membawa istrinya dalam pelukan.
"Guntur!" Ghani melempar kotak di tangannya saat Tomi dan Guntur datang. "Kita kecolongan," desisnya lalu membawa sang istri kembali dalam gendongan.
"Bawa Ghina ke kamar Zak," pesannya sebelum beranjak pergi membawa istrinya ke kamar.
Guntur dan Tomi cengo setelah dua pasangan itu berlalu dari ruang tengah. Segera Guntur mengeluarkan isi kotak dengan penuh semangat.
"Astaghfirullah," pekiknya melemparkan tengkorak yang berlumuran darah ke lantai. Wajahnya yang tadi bersemangat jadi pucat pasi.
Tomi mendesah berat, teror belum berakhir gumamnya, "beresin, jangan sampai Mama lihat. Pake dikeluarin segala," desis Tomi.
Kalau Mira yang melihat pasti pingsan di tempat. Akan tambah heboh lagi rumah ini nanti.
"Kaget," cicit Guntur. Dia saja syok, apalagi dua perempuan itu. Terpaksa Guntur memasukkan lagi benda mengerikan itu ke tempatnya. Kalau nanti malam dia dihantui arwah gentayangan bagaimana. Guntur bergidik ngeri, ini jaman modern, kenapa masih ada teror seperti ini.
Setelah tugasnya membereskan sisa darah di lantai selesai. Guntur mencuci tangan ke wastafel. Pengalaman pertama memengang tengkorak, gumamnya.
__ADS_1
Dua lelaki itu masuk ke ruang rahasia, mengamati cctv yang ada di depan gerbang dan disekeliling rumah.
Ojek online yang mengantar paket itu tak terekam. Hanya terlihat orang yang memberikan paket pada security menggunakan masker dan helm sehingga wajahnya tak bisa dikenali.
"Tidak ada petunjuk yang bisa kita gunakan." Ujar Guntur lemas, badannya sudah lebih dulu lemas karena melihat tengkorak itu juga karena lapar.
Baru tadi pagi Ghani menyaksikan istrinya lebih banyak bicara dan cerewet. Sekarang sudah jadi pendiam lagi.
"Sayang, teror itu tidak akan menyakiti Kha. Mereka hanya ingin melihat Kha ketakutan dan jadi lemah." Ghani duduk di sofa sembari memangku istrinya.
"Kha bisa lawan rasa takut, buat mereka yang meneror Kha jadi kesal."
"Kha suka lihat orang kesalkan? Nah hayoo kita bikin mereka kesal." Oceh Ghani agar istrinya berhenti murung.
"Aku gak takut cuma kaget." Kilah Khalisa kemudian menegakkan kepalanya, "ayo kita lihat lagi." Perempuan itu menarik tangan suaminya dengan semangat keluar dari kamar kembali ke ruang tengah.
Praank
Tanpa ragu Khalisa membanting tengkorak itu ke lantai sampai tangannya berlumur darah. Andai itu kaca pasti sudah remuk tak berbentuk lagi.
"Abang, Kha gak takut." Pekiknya nyaring, Ghani bukannya ikut bahagia malah merinding melihat tingkah istrinya.
"Kha!" Teriak Emran kaget. Dia bergegas pulang, karena istrinya mengabarkan anak-anaknya histeris. "Kamu terluka?"
Khalisa menyeringai ngeri, "Kha gak takut sama tengkorak dan darah sialan ini, Pah." Pekiknya nyaring.
Mira hampir saja pingsan melihat darah yang berceceran di lantai kalau tidak ditangkap Tomi, "itu bukan darah Kha, Mah." Jelasnya pelan.
"Ngeri!" Desis Guntur, sedang Ghina kembali mematung di samping suaminya.
"Ayo kita cuci tangannya Sayang. Hore, Kha sudah berani." Pujinya sambil tersenyum, padahal hatinya meringis ngeri melihat aksi heroik sang istri.
"Ayo!" Katanya semangat sambil tersenyum bangga.
"Itu tadi beneran Kha yang biasanya menangis dan merengek manja?" Tanya Zaky hampir tak percaya, perempuan hamil muda itu malah tertawa girang setelah melakukan aksinya.
Emran berjongkok mengambil tengkorak dan memasukkannya kembali dalam kotak. Setelahnya dia meminta asisten rumah tangga membersihkan darah di lantai.
__ADS_1
Ghani membawa istrinya duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Setelah kejadian tadi suasana jadi hening sibuk dengan pikiran masing-masing.