Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
115


__ADS_3

Ghani mengerjap pelan, pipinya terasa panas perutnya juga perih. Perlahan matanya membuka sempurna. Isak tangis terdengar jelas di telinganya.


"Hei, kesayanganku menangis." Ghani mengusap kepala kembarannya, perempuan itu mengangkat kepala dengan mata sembab.


"Aku benci kamu Gha," pekik Ghina. "Kamu nakutin aku," ucapnya tak kalah histeris dari Khalisa. Ghani beneran seperti punya istri dua sekarang.


"Sini, Sayang." Ghani mengulurkan tangan membawa Ghina dalam pelukannya. "Jangan takut, aku cuma ketiduran." Lelaki itu mengusap punggung adiknya dengan sayang.


"Ada yang sakit?" Tanya Ghani, adiknya itu selalu ikut merasakan sakit kalau dia sedang terluka.


Ghina menggeleng, "sesak," keluhnya.


Ghani tersenyum lalu mengecup kening Ghina sebelum mengurai pelukan. "Peluk suamimu gih."


Ghina menggeleng tetap berada di tempat duduknya.


"Anak Mama sudah bangun," Mira mendekati brankar lalu mengelus pipi putranya yang baru di tampar si bungsu. "Sakit, Sayang?"


"Siapa yang nampar aku Mah, pedas banget tangannya kayak dikasih cabe sekilo." Canda Ghani sambil tersenyum melirik adiknya yang manyun.


"Kalian jangan sampai rebutin Abang nanti ya. Abang gak akan bisa milih kamu atau Kha, kalian sama-sama penting buat Abang." Ghani mencubit pipi Ghina gemas. Ghina menahan tangan Ghani agar tetap di pipinya.


"Mama juga habis nangis?" Ghani beralih menatap Mira lagi, sambil mengusap pipi adiknya yang jadi manja.


"Mama takut, kamu gak bangun." Mira mengecup kening putranya lama.


"Ruang rawat sudah kayak studio film hari ini," Guntur berdecak, tidak tahan untuk tidak berkomentar. Dia sedang sedih tapi ingin tertawa juga, apalagi saat adegan Ghina menampar Ghani tadi.


Emran tersenyum menepuk bahu Guntur, si bungsu satu ini susah diajak serius.


"Sini kalau mau gue tampar juga!" Geram Ghina, dia beneran sedih dianggap hanya drama. Jelas tidak terima.


"Sayang, di sini ada dua orang yang sakit. Jadi jangan bikin keributan lagi ya." Ucap Zaky, lalu mengecup pipi istrinya. "Susah kalau harus nambah satu brankar lagi buat Guntur, nanti dikira ini kamar rawat pasien tidak mampu." Lanjutnya seraya melirik sinis Guntur, si empunya berdecak kesal.


"Bela aja terus kesayangan-kesayangan kalian itu." Guntur mendekati Ghina lalu mencubit gemas pipi istri Zaky itu.


"Lepas Guntur, tangan lo bisa bikin pipi gue jerawatan." Pekik Ghina kesal.


"Eh, gue bisa bunuh orang sekarang loh!" Zaky menatap tajam Guntur, yang diancam malah meleletkan lidah tidak peduli.


"Kalian bisa-bisanya ya berantem saat situasi seperti ini." Geram Mira, tiga orang yang tadi ribut langsung diam di tempat. Ghani berusaha menahan tawa, karena otot perutnya masih belum bisa diajak senam.

__ADS_1


"Kalian kalau masih mau ribut di sini, mending pulang sana. Jangan bikin Mama kalian yang sekarang mengamuk." Ujar Emran mengingatkan, Tomi memijat pelipis di depan brankar Khalisa.


Ghani membelai lembut kepala sang istri, menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipi Khalisa. "Sayang, Abang sudah bangun."


"Abang," Khalisa membuka mata ketika merasakan sentuhan di pipinya.


"Abang di sini, Sayang." Ghani menyambut dengan senyuman.


"Kha mau dipeluk Abang," rengek Khalisa manja.


"Tom, tolong pindahin Kha ke sini." Pinta Ghani menepuk brankarnya.


"Lo luka Gha, bahaya kalo kesenggol." Tomi mengingatkan.


"Enggak, Kha gak lari-lari juga." Sahutnya sambil tersenyum. Tomi menurut memindahkan Khalisa ke brankar Ghani.


"Kita bisa pulang gak, aku mau dirawat di rumah aja." Pinta Ghani, kasian istrinya kalau harus tidur di ranjang sempit bersamanya.


"Nanti aku urus administrasinya," ujar Zaky.


Ghani mengangguk, mengecup kening Khalisa lama lalu beralih pada mata istrinya yang membengkak. "Kenapa menangis, hm. Matanya bengkak."


"Abang pasti bangun buat kamu, Sayang." Ghani bingung bagaimana cara memeluk istrinya ini, salah sedikit bisa menyenggol luka Khalisa atau luka di perutnya.


"Maafin Kha yang nakal, Abang." Lirih Khalisa dengan wajah sendu, Ghani menggeleng lalu tersenyum.


"Kha gak nakal, Sayang. Kha kesayangan Abang, makasih sudah kuat bersama Abang. Maaf, karena Abang, Kha selalu terluka." Ucap Ghani seraya mengusap perut Khalisa dengan sayang. "Terimakasih dedek sudah kuat sama bunda."


"Sayang!" Itu suara yang sangat Khalisa rindukan, perempuan paruh baya itu datang dengan berlari kecil.


"Ibu, aku kangen." Rengek Khalisa manja.


"Ibu juga kangen, Sayang." Nina mengecup kening Khalisa lama, lalu beralih mengusap pipi menantunya.


"Ibu bangga, anak Ibu sangat kuat." Khalisa tersenyum meskipun dalam hatinya ingin menangis. "Kamu gimana Nak?" Nina beralih menatap menantunya.


"Ghani gak papa Bu, bentar lagi juga sembuh, jangan khawatir." Ucap Ghani dengan tersenyum.


"Syukurlah, Ibu lega kalian masih bisa bangun." Ungkapnya, dia takut kejadian beberapa bulan yang lalu terulang kembali.


"Cucu kakek apa kabar?" Haris mendekati anak dan menantunya bergantian dengan sang istri.

__ADS_1


"Baik Yah, aku mau dipeluk Ayah." Rengek Khalisa akhirnya, tidak tahan untuk berpura-pura kuat.


"Sini, Sayang." Haris membangunkan putrinya lalu duduk memeluk dari belakang. "Putri Ayah gak dilarang menangis." Haris menciumi puncak kepala Khalisa.


Hanya pada Haris, Ghani tidak boleh cemburu. Walau Ghani sebenarnya cemburu ada lelaki lain tempat Khalisa bermanja selain dirinya.


"Kha takut Yah, mereka mau misahin Kha dari Ghani." Adu Khalisa dipelukan Haris, dia miring ke kanan agar bisa bersandar di dada sang ayah. Ghani masih menggengam tangannya, mengelus dengan ibu jari.


"Sayang, pertemuan dan perpisahan itu kehendak Allah. Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali atas izin Allah. Rasa takut diciptakan agar kita sadar, hanya Allah tempat kita bersandar." Haris menasehati putrinya.


"Ayah, apa setelah ini mereka masih mau membunuh Kha?"


Hening, seisi ruangan membisu dengan pertanyaan Khalisa.


"Tidak, mereka sudah ditangkap Sayang." Jawab Haris akhirnya untuk menenangkan sang putri. "Sekarang Kha istirahat biar cepat sembuh dan dedek cepat besar." Haris mengusap pipi Khalisa yang basah lalu mengecup puncak kepala, sebelum membantu putrinya berbaring kembali.


"Ibu bawain aku masakan apa, tadi aku nungguin ojol anterin makanan buatan Ibu." Ghani mengernyit, memandang Khalisa dan ibu mertuanya bergantian.


"Maaf Sayang, nanti Ibu bawain buat makan malam ya." Khalisa mengangguk-angguk lucu. "Kha istirahat, Ibu pulang buatin makanan kesukaan Kha dulu ya. Mau yang lain lagi?"


"Mau cheese cake buatan Nindi."


"Nanti Ibu bilangin Nindi ya, Sayang." Ujar Nina, lalu mereka pulang duluan. Setelahnya yang lain ikut pulang, kecuali Zaky dan Ghina yang mengurus administrasi agar mereka diperbolehkan pulang hari ini juga.


"Abang, maksudnya apa ya, Pak Luthfi itu ayah Clara, lalu Om Mahesa yang di penjara itu?" Ghani menggeleng, "Abang juga gak tau Kha. Kamu jangan pikirin itu ya."


Khalisa memajukan bibirnya karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan.


"Kamu yang gemesin gini aja diincar banyak musuh Sayang, gimana kalau jahat." Ghani mengalihkan pembicaraan. Khalisa terluka karena Tyas dendam padanya yang sudah meninggalkan Clara.


"Ih Abang, aku gak cocok jadi penjahat. Terlalu imut." Ghani menahan tawa dengan kepedean istrinya.


"Imut dari Hongkong!" Desisnya menggoda.


"Abang, imut itu berasal dari huruf I M U T." Khalisa mengeja dengan kesal.


"Gitu aja ngambek." Ghani tersenyum geli, sedang Khalisa merengut masam. "Kok makin cantik kalau mukanya gitu."


"Abang! Abang! Abang! Nakal," rengek Khalisa.


"Cup cup cup, sayang istri Abang yang cantik." Ghani menciumi pipi Khalisa, "jangan banyak bergerak, nanti jatuh."

__ADS_1


__ADS_2