Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
Bonchap 13


__ADS_3

"Kha, Sayang." Panggil Ghani, yang tidak cukup memanggil istrinya itu dengan satu panggilan.


"Hm," jawab Khalisa sambil membaca komentar para pembaca di platform novel onlinenya.


"Kamu sudah mendpatkan warisan ilmu limbad, Sayang. Sudah bisa narik mobil truck pakai gigi belum?" Usil Ghani mengganggu istrinya yang sedang asik sendiri.


Khalisa memutar bola mata malas, mengibas-ngibaskan tangan pada Ghani yang senang mengganggu kesenangannya.


"Alhamdulillah kesayanganku ini sudah mendapatkan kesaktian limbad, bisa mengipas-ngipas sate pakai tangan tanpa kepanasan." Ujar Ghani dramatis karena merasa dicueki, dia mengajak Khalisa ke hotel bukan untuk menemani istrinya ini mencari inspirasi.


"Abaang ganggu Kha!!" Khalisa merengek karena kesal.


"Akhirnya merengek juga," gumam Ghani dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.


"Abang gak ganggu Sayang. Abang di sini mau ditemani Kha, mau manja-manja sama Kha. Bukan dicueki seperti ini," tutur Ghani.


Khalisa meletakkan ponsel di tangannya ke atas nakas. "Maaf," ucapnya manja kemudian merentangkan tangan.


Ghani tersenyum masuk dalam pelukan Khalisa. Dia hanya perlu bersabar menghadapi istrinya yang masih sangat labil ini.


"Sayang, apa Abang salah kalau penasaran dengan perempuan yang bersama Guntur itu."


"Tergantung, Abang cuma mau kepo atau benar-benar peduli. Kalau cuma kepo sebaiknya gak perlu dicari tau." Khalisa menjawab asal karena dia sedang malas berpikir.


"Jawabannya umum banget Kha, gak bisa lebih spesifik gitu." Ghani mulai usil lagi, netranya tidak berhenti memandangi kecantikan sang istri yang sudah memberikannya buah hati ini.


"Karena itu ilmu pengetahuan umum Abang, Kha taunya cuma itu." Jawab Khalisa diikuti bibirnya yang manyun.


"Kalau ilmu pengetahuan khusus Kha tau?"


Istri Ghani itu mengangguk, "sini Kha bisikin jawabannya."

__ADS_1


Ghani spontan mengangkat kepala agar dekat dengan mulut Khalisa. Tapi Bunda Arraz itu bukan berbisik di telinga. Malah menautkan bibirnya sambil menopang kepala sang suami.


Tau posisi itu menyusahkan Khalisa, Ghani bangun menegakkan tubuhnya tanpa melepaskan bibir yang tertaut mesra. Ia menekan tengkuk Khalisa agar tautan itu tidak cepat terlepas.


Meski ribuan kali mereka mengulang aktivitas itu, tetap saja Ghani tidak pernah bosan. Khalisa menarik napas panjang saat Ghani memberikan kesempatan.


"Itu namanya ilmu pengetahuan khusus Abang. Manfaatnya bisa untuk mengurangi rasa cemas dan stres yang disebabkan oleh hormon stres kortisol. Saat kita melakukan hal yang disukai, tubuh akan menghasilkan beragam hormon, seperti hormon oksitosin, dopamin, dan endorfin, yang bisa membuat hati merasa bahagia dan lebih tenang." Jelas Khalisa menepuk kedua bahu suaminya dengan lembut.


Ghani spontan tertawa geli, "dan bisa membuat otak Kha jadi lebih encer juga." Katanya menambahkan. Kenapa semakin hari istrinya ini semakin menggemaskan saja.


"Jawabannya sudahkan?" Tanya Khalisa.


"Iya Sayang," jawab Ghani gemas.


"Obatnya juga sudah. Jadi sekarang Abang jangan ganggu Kha. Oke." Ujarnya membuat peraturan sendiri yang tentu saja tidak disetujui Ghani.


"Sayaaaangg!!" Ghani merengek tidak terima dikerjai istrinya sendiri.


"Abaaang, Kha geli!!" Teriak Khalisa, menggeliat-geliatkan tubuhnya dalam pelukan Ghani. "Ampuuunn!!"


"Abang akan lepasin Kha kalau mau nurut," Ghani membuat kesepakatan.


"Enggak, Abang pasti mau makan Kha sekarang."


"Ya sudah, olahraganya ganti gini aja." Ujar Ghani usil.


"Abang, Kha mau pipis...!!" Khalisa mencari-cari alasan.


"Pipis aja di sini Sayang," jawab Ghani dengan kekehan.


"Duh Abang, Kha beneran pipis di celana ini sudah basah." Ucap Khalisa serius, tidak mengada-ngada.

__ADS_1


"Lebih bagus kalau sudah basah Sayang," ucap Ghani ambigu tanpa memberhentikan tangannya yang usil.


"Kha susah napas, Abang." Rengek Khalisa kelelahan karena terus digelitiki suaminya.


Ghani sontak berhenti menggelitiki Khalisa. Mengingat Khalisa berjuang untuk melawan detak jantungnya itu sangat mengerikan. Dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali.


Khalisa yang masih ngos-ngosan langsung bangun dan berlari ke kamar mandi. Dia beneran kebelet pipis. Matanya hampir menyembuk keluar ketika sadar sedang kedatangan tamu.


"Lama banget Sayang, takut Abang gelitiki lagi?" Ghani memainkan alisnya menggoda Khalisa.


"Abaang," panggil Khalisa manja. Lalu duduk di samping Ghani memeluk lengan suaminya itu.


"Kenapa Sayang?" Ghani mengelus-elus kepala sang istri. Ketika menyadari mood Khalisa berubah.


"Kha haid," jawab Khalisa lemas.


"Ya sudah gak papa Sayang," Ghani tersenyum membelai pipi Khalisa. "Ada pembalutnya?"


"Ada," jawabnya lesu.


"Terus kenapa sedih. Perut Kha sakit?" Tanya Ghani tidak mengerti kenapa Khalisa jadi lemas. Harusnya istrinya ini senang karena tidak jadi santapannya malam ini.


"Abang pasti kecewa, kitakan mau bikin baby twin."


"Sayaaang," Ghani mendekap Khalisa erat. "Kita bisa bikin kapanpun, gak harus sekarang Cinta. Kha gak perlu pikirin yang seperti itu.


"Abang gak marah?"


"Kalau Abang marah, emang bisa langsung berhenti Sayang. Enggakkan, Kha jangan masukin hal gak penting seperti itu ke dalam kepala. Nambahin beban aja. Cukup kepala Abang aja yang dimasukin," gurau Ghani yang mendapat cubitan manja.


"Abang mesum!!" Desis Khalisa.

__ADS_1


__ADS_2