
Sekarang Ghani menemani Khalisa sampai siap berangkat ke kampus. Tidak seperti biasanya sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Selesai mandi Khalisa berdiri di depan cermin besar. Dia baru menyadari ada beberapa bagian di lehernya yang memerah.
"Ulah Ghani nih." Khalisa mengusnya kesal, suaminya masih berada di kamar mandi.
"Kenapa Sayang, wajahnya di tekuk gitu." Ghani mendekati istrinya yang sibuk memutar tubuh di depan cermin.
"Kamu meninggalkan banyak noda di leherku." Ghani terkekeh mengusap manja leher istrinya.
"Sampai merah begini, sakit ya Sayang."
"Malu."
"Malu sama siapa, kan pakai jilbab juga." Ghani memeluk Khalisa menunjuk depan cermin. "Liat tuh kalau cemberut cantiknya hilang."
"Aku gak bisa jalan normal."
"Masa sih, coba aku lihat." Ghani tergelak mengamati istrinya yang kesusahan berjalan normal.
"Nanti gak bisa lari kalau di kejar Azhar."
"Ssttt," Ghani kembali mendekap Khalisa erat. "Di rumah aja ya hari ini kalau gak mau ke kampus."
"Kaakk.. aku gak mau di rumah sendirian kecuali kalau ditemenin."
"Gak bisa Sayang, aku ada beberapa meeting hari ini." Khalisa membalikkan badannya menatap Ghani dengan cemberut.
"Cantiknya hilang kalau cemberut gini, selesaikan dandannya baru kita sarapan. Kalau keluar jangan cantik-cantik, nanti aku repot jagainnya."
"Udah cantik dari lahir gimana dong ngilanginnya." Goda Khalisa.
"Nakal yaa, awas kembung perutnya kalau nakal."
"Cemburu gak kalau banyak cowok tampan yang kaya mendekatiku."
"Sayang... aku masih kurang yaa jadi masih mau sama cowok lain."
"Yaa, kalau ada yang bisa dimanfaatin. Sayang kalau disia-siain." Khalisa mengedipkan matanya manja.
"Awas ya, kalau nakal gak kubolehin keluar rumah."
"Sayang jugakan sama aku."
"Jelas sayang dong sama istriku yang cantik, calon ibu dari anak-anakku."
"Cinta gak?"
__ADS_1
"Cinta." Ghani mengecup lama di bibir gadisnya. "Kalau gak bilang cinta nanti gak dikasih lagi, bikin sakit kepala." Ujarnya terkekeh.
"Jahaatt..!"
"Tapi bikin bahagiakan?"
"Baangeet..."
"Alhamdulillah." Ghani mengambil ciput yang sudah siap ingin dipakai Khalisa lalu memakaikan ke kepala istrinya. "Sini aku bantu, ini terlalu ketat bisa bikin kepalamu sakit Kha." Karena kesusahan, Ghani menarik-narik ciput itu supaya melar.
"Kak, jangan digituin nanti melar kalau longgar sama aja bohong rambutnya bisa keluar." Khalisa merebut ciputnya memakai sendiri. "Kalau gak bisa jangan sok bantuin."
"Ini gimana cara masangnya." Ghani mengambil jilbab pashmina, merentangkannya memikirkan cara menggunakan. "Ini terlalu pendek Kha, dadamu tidak tertutup."
Khalisa mengambilnya lalu menggunakan dengan rapi, membuatnya menutupi dada. Ghani melongo memperhatikannya. Memutar-mutar tubuh Khalisa.
"Sudah tertutupkan." Tanya Khalisa sambil terkekeh.
"Cantik..."
"Eeee, baru sadar istrinya cantik. Ayo sarapan." Khalisa mengambil tas mencek isinya, memastikan tidak ada yang tertinggal. uga membawa tas laptopnya.
"Sayang." Tangan Ghani menangkap istrinya memerintahkan untuk melepas semua yang sedang dipegang.
"Apa lagi Kak?"
"Aiissshh..." Khalisa mendesah berat, suaminya jadi ketergantungan sekarang. Ini lebih berbahaya dari narkoba, bisa bikin perut kembung kalau kebablasan. Tanpa persetujuan Ghani sudah menangkup bibirnya, menikmati dengan manja.
"Manis." Ghani melap bibir Khalisa dengan ibu jarinya. "Pelembab bibirmu tambah lagi Sayang, yang ini hilang karenaku." Ghani menyengir "pelembab aja jangan lipstik tebal, aku gak suka kecantikan istriku dinikmati orang." Tegas Ghani, membawa Khalisa kembali ke depan cermin.
"Cantik." Sekali lagi Ghani memujinya dengan mengecup pipi yang merona kemerahan. "Ayo Sayang sarapan." Ghani menggandeng tangannya sampai meja makan. Perhatian Ghani membuat Hati Khalisa meleleh seperti cokelat yang kepanasan, lumer.
"Pagi Mbok." Sapa Ghani pada seorang ibu paruh baya yang menyiapkan mereka sarapan.
"Pagi Mas, Mbak, cocok sekali yang satu tampan, yang satu cantik." Puji mbok Sri, asisten rumah tangga yang membantu pekerjaan mereka.
"Ah Mbok bisa aja, tapi emang sih bidadari juga cemburu liat istriku." Ghani melirik ke arah istrinya sambil mengedipkan mata. Khalisa mengabaikan gombalan suaminya yang menjadi-jadi. Sekarang mulut lelaki itu terasa seperti gula, bisa membuat semut tergila-gila.
"Mbok, nanti ajarin aku masak ya." Kata Khalisa sambil mengambilkan roti untuk suaminya yang cuma mau makan roti pagi ini.
"Pasti Mbak, akan Mbok ajarin bikin makanan enak." Mbok Sri meletakkan segelas susu cokelat di depannya sambil tersenyum. Melihat majikannya yang begitu mesra.
"Sayang ngapain belajar masak." Protes Ghani, menatap Khalisa yang mengolesi roti dengan lembut. Pengen jadi roti deh biar bisa dibelai lembut juga.
"Biar jadi istri yang membanggakanmu."
__ADS_1
"Tanpa itu, aku sudah bangga menjadi suamimu."
"Hmmm, makan dulu." Khalisa menyuapi suaminya yang masih terpaku menatap wajahnya. Mau dijutekin gimana nih wajah tetep aja kelihatan merona karena kebanyakan makan gombalan maut pagi ini.
"Kamu jadi tambah manis gini ya setelah dikasih jatah, tau gitu dari dulu aku kasih." Ghani menyeringai.
"Husstt, jangan asal ngomong."
"Sekarang mau minum susu apa obat dulu." Lelaki itu mengalihkan pembicaraannya agar tak kena semprot bidadari.
"Harusnya sih obat, tapi pengen minum susu juga."
"Minum susu aja dulu, nanti obatnya minum sejam lagi. Jangan lupa bawa air. Jangan makan yang sembarangan dulu." Oceh Ghani, lelaki itu sekarang jadi banyak ngomong dan posesif deh.
"Iya bawel. Bawel juga sekarang, biasanya juga cuma diemin aku di meja makan."
"Sekarang beda, jangan dibahas. Ayo berangkat."
Mereka menampakkan keromantisan yang tidak pura-pura, tidak malu-malu Ghani mengecup keningnya dimanapun. Suaminya mengantar sampai ke depan pintu kantornya.
"Telpon aku lebih awal sebelum pulang, jangan keluar ruangan sendirian. Jaga kepalamu jangan sampai terbentur." Ghani mencium keningnya kemudian beralih di bibir sebentar. Azhar yang memandangnya dari pojok ruangan menggigit bibir melihat kemesraan mereka.
"Iya Sayang, kamu hati-hati." Khalisa menyalami suaminya kemudian melambaikan tangan. Ghani membalasnya sambil berjalan mundur.
"Kha...!" Lelaki itu kembali mendekat padanya yang masih berdiri di depan pintu. Menarik tubuhnya dalam pelukan. "Hati-hati Sayang, dia sedang menatapmu." Khalisa mengangguk lemah, diliputi perasaan cemas. Ghani mengurai pelukannya kemudian pergi menjauh. Khalisa memandang sampai punggung suaminya tak terlihat lagi.
"Mesra banget Neng." Sapa rekan kerjanya Deni.
Khalisa terkekeh, "lagi kasmaran." Sahutnya asal.
"Jangan bikin kita jadi pengen cepat nikah juga dong." Winda menimpali.
"Nikah aja kenapa juga takut." Kata Khalisa berjalan menuju mejanya, sebelumnya dia sudah mengirim pesan pada Winda untuk menemani kemanapun beranjak.
"Takut gak dapat yang kayak Ghani, tampan, tajir, romantis, cerdas."
"Kebanyakan mimpi Win." Deni melemparkan gumpalan kertas ke arah Winda.
"Kaliankan gak tau kalau itu cuma akting." Sambar Azhar yang terlihat kesal.
Khalisa tidak menanggapi Azhar mengajak Winda keluar. Dia lebih aman jauh dari lelaki yang sangat mengerikan itu.
"Win, kenapa Azhar masih bisa bebas ya, bukannya sudah ada bukti yang tersebar itu?"
"Mulutnya lebih manis dari pada bukti itu Kha." Lawan bicaranya menatapnya serius, mereka duduk di kantin sambil menunggu jam kelas dimulai.
__ADS_1
Jika Ghani saja belum bisa membuat Azhar mendekam di penjara berarti ada masalah yang lebih besar. Azhar tidak sendirian, dia punya orang yang kuat dibelakangnya, siapa? Apa mungkin rektornya sendiri. Khalisa bergidik ngeri memikirkannya.