
"Selama aku di rumah sakit Tomi gak pulang, kalian gak ada yang cari dia?" Tanya Ghani, setelah tiga hari dirawat dia diperbolehkan pulang.
Ghani berdecak saat tidak ada yang menjawab. Lelaki itu mengambil kunci mobil, mumpung istrinya sudah tidur. Kalau siang dia tidak bisa menemui Tomi.
"Gue temenin, Gha." Ujar Guntur ikut beranjak dari sofa.
"Gak perlu, lo di rumah aja. Kabarin kalau Kha bangun," sahutnya lalu pergi. Guntur mendaratkan pantat, kembali menekuni cemilannya. Memamah biak merupakan aktivitas yang menemaninya selama menonton televisi.
Emran bukannya tidak ingin mencari Tomi, dia memberi waktu pada keponakannya itu untuk menenangkan diri. Selama keadaannya baik-baik saja tidak masalah.
Ghani mengemudikan mobil mengarah ke sebuah apartemen. Selama ini orang yang paling dekat dengan Tomi hanya dia. Setelah menaiki lift menuju lantai tiga belas, Ghani mengetuk sebuah pintu apartemen.
Orang yang ada di dalam membuka pintu dengan malas. Tomi pikir orang nyasar yang mengetuk pintu, ternyata Ghani.
"Ghani!"
Tanpa disuruh masuk pun Ghani sudah berada di dalam. Dengan santai duduk di sofa. Tomi berdecak, kembali membaringkan tubuh. Ghani sudah mengganggu waktu malas-malasannya.
"Kha tau lo ke sini?" Tanyanya.
Ghani menggeleng, "kenapa gak pulang?"
"Gue di sini dulu, kasihan Kha kalau gue pulang ke rumah." Ujar Tomi seraya mengangkat betis ke atas lutut.
"Maafin gue ikut campur masalah lo. Gara-gara gue lo jadi gini."
Tomi melirik sekilas ke arah Ghani, menanggapi ucapan sepupunya itu dengan deheman. "Lo pulang sana, ntar Kha ngamuk nyariin."
"Kha gak akan ngamuk kalau gue pulang dengan selamat. Lo ngusir gitu amat, gak hargain perjuangan gue. Kasih gue minum kek dulu baru disuruh pulang."
"Ganggu aja lo, beli minum di jalan kan bisa? Jangan manja! Tamu gak diundang jangan sok minta dilayanin."
"Tamu adalah raja, lo sekarang pelayan gue. Sana gih ambilin gue minum." Ghani menarik-narik kaki Tomi usil.
"Jangan sampai gue tendang perut lo Gha." Geram Tomi, "gue mau tenang bentar aja gak bisa."
"Kalo mau tenang di kuburan," katanya sambil menggelitiki kaki Tomi.
"Ghaaa!" Tegur Tomi, kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun. "Mau gue tendang sampai masuk lubang kubur?" Ujarnya dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Iih sereem!" Ghani berlagak sok ketakutan sambil tertawa.
"Pulang Gha, pulang. Kha bingung nyariin nanti," ucap Tomi malas.
"Gue cuma mau nemenin, malah lo diusir." Katanya berdecak setelah berkali-kali Tomi usir pulang.
"Gue gak butuh teman, butuhnya ketenangan. Sekarang lo pulang, daripada gangguin gue."
"Iya-iya gue pulang. Awas lo mati gak gue kuburin," sarkas Ghani.
"Gue jalan sendiri ke kuburan, gak perlu diantar." Jawab Tomi asal, ngapain dari tadi dia menanggapi ucapan Ghani yang tidak jelas ini.
Ghani mengangkat pantat dari sofa. Sebelum pergi dia membekapkan bantal ke wajah Tomi. Tomi mendengus kesal, kalau tidak ingat Ghani baru pulang dari rumah sakit sudah dia tendang sepupu lucknutnya ini. Sejak kapan tingkahnya jadi menyebalkan seperti itu. Fix ketularan Kha.
Sampai kamar Ghani disambut Khalisa yang duduk bersila di tempat tidur dengan wajah cemberut.
"Abang habis darimana aja? Janjian sama cewek ya? Keluar malam-malam."
Ghani membulatkan mata dengan tuduhan Khalisa, setelahnya dia tersenyum geli.
"Ngapain Abang ketemu cewek, Sayang. Kalau sudah ada yang sangat cantik di sini." Rayunya dengan menoel-noel hidung sang istri.
"Maaf, tadi Kha tidur jadi Abang gak bisa izin." Ujar Ghani mengalah, daripada tambah panjang.
"Gak izin karena aku tidur apa memang nunggu aku tidur biar bisa pergi?" Tanya Khalisa garang.
Kenapa istrinya jadi tambah galak sekarang. Ghani mengulum senyum, ingin tertawa takut Khalisa tambah merajuk. "Maaf, Abang salah."
"Kha gak butuh maaf dari Abang, Kha maunya Abang jawab!" Tegasnya, Ghani menggigit bibir berpikir keras. Kalau jujur pasti ceramahnya tambah panjang. Tapi kalau tidak jujur, pertanyaannya semakin panjang.
"Abang memang nunggu Kha tidur," jujur Ghani sambil menunduk. Agar Khalisa kasihan kalau melihatnya memelas.
"Abang ketemu Tomi?"
Ghani hanya mengangguk, Khalisa bergeming membaringkan tubuh lalu menarik selimut membelakangi suaminya.
"Sayang, maafin Abang. Abang cuma kasihan sama Tomi." Mohon Ghani sambil menarik-narik selimut Khalisa.
"Abang pikir aku gak kasihan sama Nindi. Coba Abang pikir, siapa yang lebih dirugikan!"
__ADS_1
"Tomi mau tanggung jawab, tapi Nindinya yang gak mau Kha." Ujar Ghani meluruskan. Khalisa membalikkan badan, menatap suaminya tajam.
"Jadi Abang nyalahin Nindi? Kalau aku jadi Nindi pun gak akan mau menerima Tomi lagi. Perempuan mana yang mau sama laki-laki yang suka main perempuan!" Sarkas Khalisa marah, setelahnya berbalik lagi. Dia kesal karena Ghani terus membela Tomi.
Ghani terdiam, dia salah berucap. "Kha, Sayang. Jangan gini dong. Abang salah, Abang minta maaf ya. Bukannya Abang nyalahin Nindi. Kenapa kita harus berantem karena masalah mereka." Katanya lembut sambil membelai kepala Khalisa.
"Abang sama Tomi sudah dari kecil sama-sama. Dia yang selalu jaga Abang. Apa salah kalau Abang khawatir dengan keadaannya, sejak pisah sama Nindi dia jadi gak bersemangat."
Khalisa membalikkan badan, menatap teduh netra Ghani. Apa dia sudah keterlaluan melarang Ghani bertemu dengan Tomi.
"Abang gak akan menemui Tomi lagi, kalau Kha gak suka. Jangan marah sama Abang lagi," mohon Ghani sambil menangkup pipu Khalisa.
"Maafin Kha sudah egois." Selama ini Tomi selalu membantu mereka. Kenapa kebaikannya harus terlupakan hanya karena satu kesalahan. Sekarang suaminya juga sudah baik-baik saja.
Ghani berbaring membawa Khalisa dalam dekapan. "Kita lupain masalah mereka, Abang gak mau karena masalah orang lain kita jadi ikut dapat masalah."
"Abang bau, mandi dulu gih."
Suami Khalisa itu mendelik, lagi enak-enaknya berpelukan malah disuruh mandi. "Dingin, Sayang."
"Itu kalo Abang mandinya pake air es. Kan ada air panas."
"Ntar badan Abang melepuh," katanya dengan wajah memelas. Malas sekali malam-malam disuruh mandi.
Khalisa memutar bola mata sebal, "itu kalo Abang direbus."
"Beneran Sayang, dingin. Lagian luka Abang gak boleh sering-sering kena air juga." Kilah Ghani, alasan apa sajalah asal jangan disuruh mandi sekarang. Dia sedang dalam fase malas terkena air. Ribet nutupin lukanya.
"Oke, tapi Abang cuci tangan sama kaki lagi sana sampai wangi sabunnya nempel." Titah Khalisa.
"Oke-oke, Abang tempelin sabunnya. Gak usah dibilas. Biar wanginya nempel." Ujar Ghani seraya bangkit dari rebahan.
"Ya gak gitu juga, Abaaang!" Geram Khalisa, ini malam loh, suaminya kenapa jadi suka sekali memancing kericuhan. Itu yang bermasalah perut apa otak sih.
"Terus Kha maunya Abang gimana? Sabunnya di lem gitu. Atau dibawa ke sini," jawab Ghani polos.
"TERSERAH!!!" Ujar Khalisa kesal, jangan sampai dia hipertensi gara-gara suaminya ini.
Ghani masuk kamar mandi sambil cekikikan. Jangan harap dia akan diam saja saat diusili kesayangannya itu. Dia akan membalas dengan cara yang elegan.
__ADS_1