Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
139


__ADS_3

"Hampir gue kirim lo ke rumah sakit jiwa Tom," Ghani mendengus kesal, setelah acara selesai dan semua tamu pulang mereka berkumpul di ruang keluarga.


Si empunya hanya menanggapi dengan kekehan. Dia memang sengaja akting seperti orang gila.


"Pengen aku potong-potong kepalanya!" Sarkas Khalisa ikutan kesal.


"Bukan kepala ayam, Sayang. Jangan dipotong, gak bisa buat sup." Ghani terkekeh menarik istrinya dalam pelukan. Ini sudah jam tidur Khalisa, tapi dia masih belum bisa menggendong kalau kesayangannya ini ketiduran di sini.


"Makin galak aja!" Tomi mengusap kepala Khalisa yang duduk tepat di samping Anindi. Dia suka melakukan itu sekarang pada si ibu hamil yang sensian.


"Abang, aku dibilang galak." Adu Khalisa manja pada suaminya.


"Biarin galak, tapi Abang tetap sayang." Ujar Ghani sambil tersenyum menanggapi istrinya itu.


"Mesra-mesraan aja kalian sampai puas di depan gue," decak Guntur. Sedih amat hidupnya lihat orang pacaran setiap hari.


"Gue juga sendiri kali," sahut Zaky yang ditinggal istrinya menidurkan Airil. Emran dan Mira sudah istirahat duluan.


"Lo mah sendiri di sini, di kamar berdua." Ujar Guntur kesal, kemana sih hilal jodohnya belum nongol-nongol.


"Bawa Nindi istirahat Tom, masih pucat tuh. Gue juga mau ke kamar, udah jam tidur Kha." Ghani beranjak tanpa mempedulikan Guntur yang masih menggerutu sendiri.


"Ayo Nin, kita istirahat." Tomi mengikuti Ghani yang sudah lebih dulu beranjak.


"Nindi masih sakit, jangan di gempur!" Teriak Guntur nyaring. Tomi menoleh menatap lelaki itu tajam.


"Malam Tur, Mama sudah istirahat." Tegur Zaky yang juga ikutan pergi meninggalkan Guntur.


"Lah gue sama siapa dong?" Tanya Guntur pada dirinya sendiri setelah semua orang tidur dengan pasangannya masing-masing. Sungguh malang nasib jomblo. Mending ke kamar juga lah biar gak kelihatan ngenes nonton tv sendirian.

__ADS_1


"Abang, Tomi gak maksa Nindi kan ya. Kok bisa mereka langsung nikah?" Tanya Khalisa saat mereka sudah sampai di kamar.


"Kamu ini ya, mereka nikah salah, mereka gak nikah sedih." Ghani menjawil gemas hidung istrinya.


Khalisa memanyunkan bibir, "cuma penasaran," katanya dengan nada bicara dimanja-manjakan.


"Udah ya gak usah mikirin hidup orang. Sekarang istirahat, ini sudah tengah malam." Ghani membaringkan Khalisa paksa, kalau tidak begitu kapan tidurnya.


"Ih Abang, Kha masih belum selesai curhatnya."


"Mau nyurhatin apaan lagi sih, Sayang. Besokkan masih bisa. Tengah malam gini energi Abang udah habis."


"Yakin energinya udah habis." Khalisa menoel-noel genit hidung Ghani.


"Jangan mancing, Sayang!" Tegur Ghani, istrinya ini suka memberi harapan palsu.


"Kha gak bisa mancing Abang, takut ketusuk kail." Sahut Khalisa genit.


"Abang apaan sih, otaknya kotor!" Khalisa memukul keras tepat di junior Ghani.


"Sakit Sayang, dimanja dong bukan dipukul." Ringis Ghani, sakit banget disiksa istri sendiri. Lelaki itu mengambil guling lalu memeluknya. Dari pada jadi sasaran ibu hamil lagi.


"Kok meluk guling sih, gak meluk Kha?" Kesal perempuan hamil itu.


"Guling gak bisa mukul, kalau Kha suka nyiksa Abang." Ujar Ghani dengan mata yang sudah terpejam.


"Kalo Abang gak lepas gulingnya Kha pukul lagi!" Sarkas Khalisa marah.


Ghani membuka mata lalu memindah guling. Suara istrinya sudah semakin meninggi, itu tandanya benar-benar marah. Ghani membawa Khalisa dalam pelukan.

__ADS_1


"Sstt, sensitif banget sekarang, kenapa sih." Ghani mengelus punggung Khalisa dengan lembut.


"Abang suka bikin Kha marah," kesalnya.


"Hm, Abang nakal ya. Ya udah, Abang minta maaf ya Kha sayang." Ujar Ghani seraya mengecup puncak kepala Khalisa berkali-kali. Istri manjanya ini sangat menggemaskan.


Di samping kamar Ghani, Tomi sibuk mengurus Anindi yang muntah-muntah karena masuk angin.


"Kamu terlalu sering begadang jadi sampai sakit begini." Lelaki itu membaluri tubuh Anindi dengan minyak kayu putih.


"Gak bisa tidur, bukan begadang." Ralat Anindi, "kalau begadang artinya sengaja gak mau tidur."


"Sama aja, intinya kamu kurang istirahat. Sakit juga tapi masih bisa ngeles." Omel Tomi lucu, Anindi malah ingin tertawa.


"Emmm."


"Tidur!" Titah Tomi lalu ikut berbaring setelah selesai memijat Anindi. Membawa istrinya dalam pelukan.


"Gak bisa tidur."


"Bisa, kalau Mas peluk gini pasti bisa tidur." Ujar Tomi, tangannya masih memijat kepala Anindi.


Sampai Tomi tertidur, Anindi belum juga tidur. Kepalanya sangat sakit, perempuan itu melepaskan pelukan Tomi. Dia sedang demam, sangat gerah kalau dipeluk.


"Sayang," Tomi belum benar-benar terlelap, masih bisa merasakan pergerakan tubuh Anindi dalam pelukannya. "Kepalanya masih sakit?" Tanyanya melihat Anindi meringis.


Perempuan itu mengangguk pelan, Tomi langsung bangkit mengambilkan obat. "Minum obat dulu Nin," katanya seraya membantu Anindi bangun dan minum obat.


Setelahnya Tomi membawa kepala istrinya dalam pangkuan, memijatnya lembut dengan mata mengantuk.

__ADS_1


Cukup lama sampai istrinya itu tertidur. Tomi membenarkan posisi Anindi, setelahnya dia ikut tidur, matanya sangat berat.


__ADS_2