
Khalisa melanjutkan aktivitasnya sampai azan isya berkumandang. Mungkin Ghani langsung masuk kamarnya karena masih marah, batinnya. Khalisa melepaskan kertas dan pulpen di tangan beranjak memeriksa kamar sebelah.
Masih belum pulang, dia kembali ke meja melanjutkan aktivitasnya kembali. Masih ada sekitar lima puluh lembar yang harus diperiksanya dari kelas yang berbeda.
Semua tidak mudah seperti dulu lagi, sekarang ada embel-embel hati yang gelisah memikirkan Ghani sambil memeriksa ini, lirihnya.
Khalisa melepaskan pulpen di tangan, membaringkan tubuh di ranjang, memejamkan mata. Semoga dengan tidur lebih cepat besok pagi suasana hatinya lebih baik, walau masih dicueki Ghani.
Khalisa terbangun saat azan subuh berkumandang, kamarnya masih berantakan. Tumpukan kertas di meja masih tetap sama tidak seperti biasanya. Apa Ghani tidak pulang ke rumah tadi malam.
Dia beranjak ke kamar mandi, mandi bebek dengan cepat setelah selesai langsung mencari Ghani di kamarnya. Khalisa menemukan Ghani baru selesai sholat, masih duduk di sajadah.
Hatinya lega walau ada yang menyayat di dalam. Ghani menyadari pintu kamarnya terbuka lalu dengan cepat Khalisa menutup pintunya kembali.
Khalisa melanjutkan pekerjaannya tadi malam yang belum selesai, dari pada sibuk memikirkan Ghani. Yang penting suaminya sudah ada di rumah dengan selamat.
Ada rindu yang menjalar di hati, namun diabaikan. Sampai jam tujuh kurang sepuluh menit Khalisa baru berganti pakaian kemudian mencari sarapan. Tapi meja makan kosong seperti saat ditinggalnya. Khalisa membuat susu untuknya sendiri, melihat nasi di rice cooker masih ada tinggal ceplok telur, gumamnya.
Ghani pasti sarapan di luar ada Tomi dan Guntur yang mengurusnya. Khalsia menceplok telur, setelah memasukkan telur ke wajan, berdiri agak jauh agar tidak kecipratan minyak panas. Ghani tidak ada menemuinya, ada apa dengan suaminya itu. Sikapnya jadi begini lagi, mungkin ucapannya kemaren hanya untuk membujuknya agar mau ke dokter.
Setidaknya kamu bertahan untuk tetap hidup sekarang Kha, senyum yang dipaksakan keluar juga setelah telur siap. Memakan sedikit nasi dan telur dengan hampa, sepi, rindu. Selesai makan Khalisa mencari Ghani ke kamarnya ingin ikut ke kampus. Tapi orangnya sudah tidak ada di kamar.
Sabar Kha, mungkin Ghani sibuk jadi harus duluan. Belajar berpikir positif Kha, sabar. Khalisa keluar rumah, ada mobil baru di garasi. Dia tidak ingin melihatnya, mungkin Ghani baru ganti mobil. Segera Khalisa naik taksi online yang sudah dipesan.
Tak boleh bawa mobil sendiri pun tidak apa, asal jangan dicueki seperti ini Gha. Sakit sekali rasanya. Khalisa mengeluarkan obat dan air mineral lalu meminumnya, ini akan membuatnya bertahan sekarang walau tanpa Ghani.
Harus belajar tanpa Ghani lagi, melakukan semuanya sendiri. Walau lebih sulit karena belum pernah melakukan pekerjaan rumah.
Kha : Gha, aku berangkat ke kampus ya. Maaf kalau sudah bikin kamu marah.
__ADS_1
Terkirim, centang dua. Khalisa tak lepas menatap layar sampai centang biru namun tidak ada balasan. Khalisa menyunggingkan senyumannya.
"Kamu sudah membuatku jatuh cinta Gha dan juga terluka. Baru sebentar aku merasakan benih-benih cinta itu di hatimu sekarang dingin lagi. Aku tidak tau penyebabnya apa. Maafkan aku tidak bisa menjadi istri yang baik."
Saat keluar dari taksi, Azhar memandang ke arahnya. Hadapi Kha dengan tersenyum. Khalisa melewati lelaki itu masuk ke ruangan. Alhamdulillah tidak sendirian di sini, Azhar mendekati mejanya.
"Sudah sarapan Kha?"
Khalisa hanya membalas dengan mengangguk tanpa memandang pada Azhar.
"Maaf ya sudah membuatmu ketakutan denganku."
"Iya." Sahut Khalisa lirih.
"Lagi berantem dengan Ghani?"
"Dia buru-buru ke kantor hari ini jadi gak bisa antar." Ujar Khalisa mengerti dengan pertanyaan itu.
"Azhar, biarkan aku bahagia bersama Ghani ya, aku mencintainya." Khalisa mengucapkannya dengan lembut agar tidak membuat Azhar emosi dan kalap lagi.
"Tapi dia menyakitimu Kha."
"Tidak Azhar, Ghani tidak menyakitiku, itu hanya pikiranmu. Aku sangat bahagia dengannya." Azhar melepaskan tinjunya keudara, kilatan emosi di mata lelaki itu dapat tertangkap oleh Khalisa. "Kita bertemankan, kamu ingin aku bahagia?" Tanyanya mencoba melunakkan hati Azhar.
"Aku sangat mencintaimu Kha."
"Terimakasih Azhar, maaf aku tidak bisa membalas cintamu semuanya sudah terlambat, aku sudah punya suami."
"Boleh aku memelukmu."
__ADS_1
Khalisa menggeleng lemah, tubuhnya sudah gemetar tapi harus kuat menghadapi Azhar dengan kepala dingin.
"Kalau kamu mencintaiku, kamu tidak akan melukaiku dengan cara seperti inikan. Kamu membuatku takut Azhar." Air mata Khalisa merembes saat mengucapkan kalimat itu, Azhar semakin maju mendekat padanya.
"Jangan menangis karenaku Kha, jangan."
"Berhenti menangis Kha," Azhar mendekati Khalisa, sangat dekat. Khalisa berdiri mundur dan mengisyaratkan pada orang yang ada di ruangan untuk menahan Azhar. Karena kalau dia berlari akan membuat lelaki itu semakin membabi buta. Jalan pikiran Azhar sudah bisa ditebak. Semakin ditolak semakin mencari celah untuk memangsa.
Badan Khalisa beringsut mundur sampai membentur tembok saat Azhar semakin maju ingin memeluknya. Dia menundukkan tubuhnya kemudian menjauh saat tangan Azhar ingin merengkuhnya. Dua orang menangkap Azhar dari belakang atas isyarat Khalisa tadi.
Khalisa tidak peduli mau mereka apakan Azhar, hatinya sedang kacau karena Ghani juga Azhar. Dia memasuki ruang kelas dengan tidak bersemangat. Ghani tidak membalas pesannya.
Bagaimana dia harus menghadapi Azhar tanpa Ghani seperti ini. Beruntung hari ini Khalsia bisa menyelamatkan diri, tapi besok-besok tidak tau. Belum tentu pihak kampus langsung menindak lanjutinya.
Jam pelajaran selesai Khalisa langsung pulang, tidak berani terlalu lama berada di kampus, lagian sudah jam empat sore. Saat ingin memesan taksi online, Guntur sudah ada di depan pintu.
"Aku antar pulang Kha."
Khalisa mengangguk, hatinya sedikit lebih tenang, Azhar tidak akan memangsanya sekarang. Sepanjang jalan Khalisa hanya diam.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Guntur memecah keheningan, Khalisa tersenyum tidak mungkin bercerita kejadian di kampus tadi. Apalagi dengan Ghani, yang sekarang tidak peduli padanya.
"Guntur, boleh antar aku ke toko Anincake aja. Nanti aku pulang naik taksi." Pinta Khalisa, tapi Guntur menggeleng membuat perasaannya kecewa.
"Maaf Kha gak bisa, aku harus mengantarmu sampai rumah."
"Oke." Sahut Khalisa pasrah, lalu meminum obat yang selalu dibawanya saat kepala mulai terasa berat. Guntur hanya melirik sekilas.
"Pusing?" Tanya Guntur lagi setelah Khalisa mengembalikan botolnya dalam tas.
__ADS_1
"Sedikit, obat ini akan membantuku bertahan agar tidak tumbang sekarang. Nanti merepotkanmu." Jelas Khalisa sambil tersenyum, seolah tidak ada luka di hati ini. Ingin sekali menanyakan di mana Ghani. Tapi Khalisa mengurungkan niatnya.