
"Bunda ini calon istri Arraz," tunjuk bocah yang baru berusia empat tahun itu pada bayi perempuan yang masih berada dalam bedongan.
"Kemaren putra Abang ini berani mencium pipi Erra, sekarang malah mengklaim Nefa sebagai calon istrinya." Khalisa meringis, putranya itu kekeuh menganggap putri Tomi sebagai calon istrinya.
"Masih kecil Sayang," sahut Ghani dengan tawa kecil.
"Masih kecil aja begitu, gimana besarnya nanti Abang."
"Sstt, jangan mikir yang aneh-aneh. Itu bisa jadi doa," Ghani mengusap kepala Khalisa lembut.
Anindi yang duduk bersandar di kepala ranjang hanya menanggapi ucapan Arraz dengan kekehan. Tidak seperti Khalisa yang membawanya sampai ke pintu masa depan.
"Abang Arraz sini, temani dedek bobo." Panggil Tomi, tidak memusingkan Khalisa yang mempermasalahkan ucapan bocah cilik ini. Adik iparnya itu memang sangat overthinking. Namanya juga penulis, masalah kecil saja bisa diuraikannya menjadi beberapa halaman.
Arraz dengan berbinar naik ke tempat tidur berbaring di samping bayi yang baru berumur tiga hari itu.
"Kalau Arraz peluk apa dedeknya masih bisa bernapas, Paman?" Tanya Arraz lugu.
"Arras meluknya jangan kencang-kencang Sayang." Tomi mempraktekkan caranya pada Arraz dengan melingkarkan tangan pada bayi perempuan yang baru bisa menggerakkan bibir.
"Dedeknya wangi, Bunda bikinkan yang begini. Arraz mau dua." Katanya mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan.
"Ngeluarin satu aja bundamu kesakitan apalagi dua." Gumam Ghani pelan, "Ayah bikinkan dulu. Arraz tinggal di sini sama paman dan bibi ya Sayang," sahutnya setelah mendapat ide brilian.
"Dua ya Yah, ingat dua." Tekan Arraz seraya mengganggukkan kepala setuju untuk tinggal.
__ADS_1
"Iya Sayang, dua." Ulang Ghani sumringah, sementara Khalisa memberengut masam. "Modus," decaknya kesal.
Tomi menggeleng pelan, dia sudah punya anakpun masih Ghani jadikan babbysitter juga.
"Ayo Sayang, kita pulang." Ghani menggandeng istrinya keluar dari kamar Tomi. Mereka sudah pindah rumah, tepat di samping rumah besar ini. Karena tidak dibolehkan orang tuanya tinggal di lokasi yang jauh dari mereka. Jadilah Ghani membangun rumah minimalis di dalam kawasan rumah Emran.
"Abang siang-siang juga modus ih." Kesal Khalisa setelah sampai di rumahnya, mereka hanya perlu berjalan kaki untuk sampai ke rumah.
"Cuma siang kita bisa nitipin Arraz Sayang," Ghani bergelayut manja di tangan Khalisa. Di rumah itu tidak ada art, jadi Ghani bisa bercinta dimanapun kalau Arraz tidak ada di rumah.
Khalisa mencebikkan bibir, "kemaren-kemaren juga nitip Arraz sama mama. Emang Abang aja yang mau nempel sama Kha terus."
"Nah tuh tau, Kha itu kayak permen karet. Bikin lengket," sahutnya sambil menyeringai.
"Eh, enggak Sayang. Mana mungkin Abang membuang istri Abang yang cantik ini," Ghani menempelkan pipinya di pipi Khalisa mengungkapkan rasa cinta yang dimilikinya dengan bahasa tubuh.
"Kha sanggup gak ngeluarin dua, kita ke dokter konsultasi cara bikin kembar." Ghani menatap Khalisa dengan penuh cinta.
"Sekarang, atau nunggu umur Arraz lima tahun dulu Abang?" Tanya Khalisa ragu, meskipun tidak menjaga Arraz sendirian tetap saja melelahkan.
"Punya kembar pasti capek Sayang," Ghani melepas penutup kepala istrinya. "Abang cuma kasihan sama Kha, gak dikasih kembar gak papakan Sayang."
"Apa aja, sedikasihnya Abang." Khalisa menyandarkan kepala ke dada bidang Ghani.
"Semoga segera Allah kasih lagi, Cinta." Ghani tersenyum mengecup perut Khalisa kemudian mengelusnya.
__ADS_1
*
Dua sejoli itu tertidur di depan televisi dengan pakaian yang berserakan di mana-mana.
"Astaga!!" Teriak Guntur saat masuk rumah Ghani yang pintunya tidak dikunci.
Untung dia lekas membalikkan badan saat melihat ruang tengah itu berhamburan pakaian. Jangan ditanya apa yang terjadi. Apalagi sampai berpikir kalau di rumah itu ada pencuri pakaian yang kabur sampai berceceran membawanya.
"Bangun Gha!!" Teriak Guntur, "dasar pasangan gila. Tidak tau waktu dan tempat untuk bercinta." Gumamnya frustasi.
Ghani terbangun masih memeluk istrinya yang tertidur lelap. "Jangan balik badan Guntur, tutup mata." Ucapnya saat menyadari ada Guntur di depan pintu.
Lekas ia mengambil pakaian dan memakainya. Ghani langsung menggendong Khalisa ke kamar. Apa dia lupa mengunci pintu sampai Guntur bisa masuk ke rumahnya.
Setelahnya Ghani kembali memunguti pakaian Khalisa. Guntur masih memejamkan mata, memikirkan apa yang sudah Ghani lakukan di siang bolong membuatnya merinding.
"Kalian memang tinggal berdua, bisa bercinta dimana aja. Tapi pintu dikunci juga, untung gue cepat sadar kalau kalian sudah gak waras." Guntur berdecak sangat kesal, Ghani hanya menanggapi dengan kekehan kecil. Ia tidak sempat melihat Khalisa karena memang terlindung sofa.
"Namanya juga lupa mau gimana," jawab Ghani cengengesan.
"Lo bikin gue panas dingin," desis Guntur yang masih kesal karena ketiban sial.
"Bawa berendam di kolam renang," jawab Ghani santai. Mengambil dua kaleng minuman soda. "Kenapa? Lagi galau?" Tebaknya. Pasti ada sesuatu kalau Guntur sampai mencarinya ke rumah. Biasanya sepupunya itu menunggu di rumah utama kalah ada yang ingin dibicarakan.
Guntur hanya mengangguk lemas, Ghani tertawa gelak. "Sekarang baru tau rasanya direpotkan perempuan kan. Tapi mereka itu ngangenin," gumamnya seraya menghabiskan satu kaleng minuman soda.
__ADS_1