Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
37


__ADS_3

"Kita mau kemana Guntur?" Khalisa baru menyadari, Guntur membawanya bukan pulang ke rumah.


"Kantor, Ghani masih meeting."


"Aku bisa menunggunya di rumah."


"Setelah kejadian pagi tadi kamu pikir Ghani akan membiarkanmu di rumah sendirian Kha."


"Kejadian pagi tadi? Maksudmu?" Ujar Khalisa pura-pura tak mengerti.


"Azhar ingin memelukmu di depan banyak orang."


Khalisa membisu, jadi Ghani sudah mengetahuinya secepat itu.


Guntur membukakan pintu mobil, membawa Khalisa masuk ke ruangan Ghani. Kosong tidak ada orang, Guntur meninggalkannya sendirian. Tidak lama Ghani masuk memeluknya sebentar kemudian menciumnya di kening.


"Kha, kamu tidak apa Sayang?"


Khalisa hanya mengangguk, bingung, kemaren cuek sekarang bersikap seperti ini lagi.


"Maaf, aku mengabaikanmu. Aku harus kembali ke ruang meeting. Kamu istirahat di sini dulu ya." Cuma anggukan yang dilayangkan Khalisa.


Setelah Ghani keluar, Tomi yang masuk menemaninya. "Minum dulu, cokelat hangat." Tomi menyodorkan segelas minuman, Khalisa meminumnya.


"Suka?"


"Yaah, tidak terlalu buruk."


"Perempuan selalu suka cokelat kalau hatinya sedang kacau." Khalisa hanya menyunggingkan senyuman.


"Ghani baru selesai meeting jam sembilan malam, hanya istirahat sholat lalu lanjut lagi."


"Ada masalah apa, jadi sampai selarut itu?" Walau dijawabpun, Khalisa tidak akan merngerti juga masalah perusahaan.


"Hanya meeting dengan beberapa direksi, cukup serius dan rahasia."


"Hmmm."


"Bagaimana Azhar?"


"Aku tidak tau, setelah kejadian tadi aku meninggalkannya."


"Jaga dirimu baik-baik Kha, jangan sampai aku memberikan pengawalan untukmu."


"Lebay."


"Ini serius Kha. Kamu pikir kami akan diam saat melihatmu di kejar mangsa seperti ini."


"Dia hanya tidak bisa mengendalikan dirinya, Tom."


"Itu lebih berbahaya Kha."


"Aku akan jaga diri." Sahut Khalisa tidak ingin terlalu lama membahas tentang Azhar. Dia mengambil obat kembali saat kepalanya terasa pusing. Namun Tomi merebutnya.


"Obat ini tidak akan berguna lagi kalau kamu terlalu sering meminumnya."


"Hanya ini yang bisa membantuku sekarang Tom." Khalisa menyandarkan kepala yang semakin berat ke sofa.


"Tahanlah sebentar, obat tadi hanya belum bereaksi." Khalisa tidak menghiraukan ucapan Tomi memejamkan mata yang juga ikutan berat. Akhir-akhir ini kesehatannya semakin memburuk, ada saja pikiran yang membuat otaknya terganggu.


"Gha tolong...!!" Khalisa spontan berteriak saat merasakan ada tangan membelai pipinya.


"Aku di sini Sayang." Perlahan Khalisa mengerjapkan mata, Ghani sedang menatapnya dengan teduh. Khalisa menghambur kepelukan suaminya.


"Gha, aku takut...!"

__ADS_1


"Kamu aman di sini Sayang."


"Kenapa mendiamkanku Gha, aku sakit...!" Adu Khalisa, hatinya tidak kuat kalau Ghani mengabaikannya. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran suaminya itu.


"Maaf Sayang, maaf." Ghani mengusap kepala lembut kepala Khalisa. "Beberapa hari ini aku lagi pusing, maaf ya."


"Aku istrimu Gha, jadikan aku tempatmu berbagi lelah dan bahagia. Jangan malah menjauhiku."


"Maaf." Ghani mengecup bibir istrinya dengan hangat, melepaskan kerinduannya di sana. Waktu seketika berhenti saat napas mereka beradu. Sayup-sayup terdengar azan maghrib berkumandang. Ghani melepaskan istrinya dengan wajah gusar.


"Setelah sholat, aku lanjut meeting ya. Kamu istirahat di sini." Khalisa mengangguk sambil tersenyum manja.


"Selesaikan dengan cepat urusanmu, aku kangen." Ucapnya dengan sedikit memaksa.


"Pasti Sayang." Ghani meninggalkan Khalisa sendirian di ruangan. Tidak ada waktu liburkah untuk mengajaknya bulan madu, batin Khalisa. Sia-sia banyak duit kalau gak di gunakan, Khalisa mencebik saat Ghani sudah menghilang di balik pintu.


Sisil : Kha, are you okay?


Sebuah pesan yang dikirim Sisil langsung padanya.


Kha : Yeach, I'm okay Sil, don't worry.


Baru ditekan send langsung centang biru. Panggilan video yang masuk, segera Khalisa jawab.


"Kha, kamu masih di kampus?"


Khalisa menggeleng sambil tersenyum melihat sahabatnya begitu cemas.


"Aku masih di kantor Ghani menunggunya meeting," jawabnya.


"Kamu dan Ghani sudah...." Sisil tidak melanjutkan kalimatnya, pasti takut Khalisa tersinggung.


"Belum." Kata Khalisa diikuti gerakan kepala yang menggeleng.


"Kha, peluk jauh."


"Sayang." Ghani masuk langsung mengecup keningnya.


"Apa itu Ghani?" Teriak Sisil terkejut.


"Gha." Khalisa menunjuk ponsel yang masih aktif video, untung pakai earphone jadi Ghani tidak bisa mendengar suara Sisil.


"Sorry mengganggu. Sedang bicara dengan siapa?" Ghani malah menempel padanya.


"Sisil."


"Kha, dia begitu mesra denganmu mana mungkin belum menyentuhmu." Kata Sisil dengan raut tidak percaya, Khalisa hanya tersenyum penuh arti pada sahabatnya.


"Kalian ngobrolin apaan sih, mau dengar." Pinta Ghani manja.


"Gha," Khalisa mengedipkan mata pada Ghani, Sisil malah mentertawakannya.


"Ayo pinjam satu earphonenya, kalian ngobrolin apaan?" Ghani melepas paksa satu earphone di telinga Khalisa.


"Hai Gha, apakabar? Bagaimana rasanya jadi suami Kha." Goda Sisil pada suaminya.


"Kha, tidurnya tidak bisa diam." Ghani mencubit hidung Khalisa. "Suka mendengkur juga."


"Gha, apaan sih..!"


"Kamu dikasih makan apa sama Kha di rumah."


"Makan cinta." Jawab Ghani kemudian terkekeh.


"So sweet, jagain Kha yaa. Si kecil udah rewel nih." Ujar Sisil sambil menggendong anaknya yang menghambur kepelukan ibu muda itu.

__ADS_1


"Iya." Jawab Ghani, setelah melambaikan tangan pada Sisil, Khalisa mematikan videonya.


"Pulang sekarang yuk Kha." Ajak Ghani setelah dia selesai ngobrol dengan Sisil.


"Mampir sebentar boleh? Aku belum beli kado buat anak Sisil kemaren dia ulang tahun. Nanti aku paketin aja."


"Kenapa dipaketin, gak diantar langsung aja?"


"Kan kemaren kamu yang gak izinin aku kemana-mana. Gha kamu plin plan deh." Khalisa berdecak kesal pada suaminya, untung ganteng dan sayang.


"Kan mobilnya sudah ada di rumah aku belikan."


"Aku gak perlu mobilmu Gha, kalau kamu malah jadi cuek seperti kemaren. Aku gak perlu hartamu." Kata Khalisa sewot, jengkel dengan keplin-planan suaminya.


"Iya maaf, aku lebih tenang kalau kamu berada di rumah Kha, Azhar tidak bisa mengikutimu."


Setiap kali nama Azhar disebut kepalanya mendadak berat, menyisakan trauma yang tidak mudah dilupakannya.


"Pusing lagi Sayang?" Tanya Ghani sambil merangkulnya keluar dari kantor menuju basemen.


"Sedikit Gha."


"Rileks Sayang." Ghani memijat tengkuk Khalisa sambil mengemudikan mobilnya. Membawanya ke sebuah toko dunia kado. "Di sini aja ya cari kadonya, kamu kelelahan kalau harus keliling mall lagi."


"Iya." Khalisa merapikan jilbabnya yang berantakan setelah diacak-acak suaminya.


"Kita antar malam ini aja ya Kha."


"Kamu capek habis meeting Gha, aku paketin aja deh besok."


"Kamu kangen sahabatmu kan?"


"Banget...!!"


"Ya udah jangan membantah." Ucap Ghani mencubit hidungnya. "Kamu mau juga?"


"Aku mau di kasih baby aja Gha."


"Sayaaangg...!!" Ghani mencium pipi Khalisa, "ayo pilih."


"Pilihkan...!"


"Anaknya cewekkan?" Tanya Ghani sambil mengambil boneka besar, mainan masak-masakan, boneka barbie dan lain-lain. Kemudian membayarnya, meminta penjaga toko untuk membawakannya ke mobil.


"Banyak banget Gha...!!"


"Tadi aku disuruh milihkan." Ghani memasukkan semua yang dibeli sampai mobil penuh.


"Aku gak disuruh bayar semua belanjaan inikan?"


"Bayar dong, enak aja gratisan...!!"


"Uangku gak cukup Gha buat bayar semua ini."


"Bayarannya tidur denganku malam ini tapi gak pake baju...!!"


"Gha,, otakmu mesum, lagi konslet ya." Khalisa mengacak-acak rambut suaminya.


"Daaan temani aku mandi, seharian ini lelah bangeett Kha." Tambah Ghani sambil tertawa.


"Mahal amat bayarannya Gha. Seluruh hartamu pun gak cukup untuk membayar tubuhku." Sahut Khalisa sambil terkikik.


"Tapi buat aku gratiskan? Ku ganti baby." Ghani mencubit pipi istrinya.


"Buatmu gratis semuanya Gha. Apapun untukmu. Everything."

__ADS_1


"Gombaall deh...!!" Ghani mencebik, tingkah istrinya sangat menggemaskan. Apalagi melihatnya sedang ngambek, kecantikan bertambah dua kali lipat.


__ADS_2