
Tomi, Zaky dan Guntur keluar dari kamar bersamaan ketika mendengar teriakan histeris Ghani.
"Ada sniper yang menembak Kha." Teriaknya dengan air mata yang bersimbah. Tubuhnya lemas tak dapat melangkah lagi untuk menuruni anak tangga. Tomi bergegas mengambil alih tubuh Khalisa. Membawanya berlari menuju mobil.
"Zaky, telpon rumah sakit segera siapkan ruang operasi. Guntur ikut aku. Biar Papa yang urus Ghani." Teriak Tomi saat Emran dan Mira baru menyusul ke arah tangga.
Zaky berlari ke kamar mengambil ponselnya untuk menghubungi pihak rumah sakit, setelah beres dia mengambil kunci mobil. Menuntun Ghani ke mobil.
"Khalisa akan baik-baik saja Gha." Ucapnya dengan bergetar, walau tak terlalu yakin akan hal itu. Emran dan Mira yang belum tau apa yang terjadi keheranan.
"Ada apa Zak?" tanya Emran menyusul menantunya, dia datang semua orang dalam keadaan panik.
"Kha tertembak Pah." Lirih Zaky dengan suara sendu.
"Astaghfirullah." Pekik Mira, seolah belum cukup apa yang dialami menantunya itu. Tubuhnya terkulai lemas.
Brakk
Mira terjatuh ke lantai, Emran berbalik saat mendengar suara benda terjatuh. Dia langsung berlari mendekati istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
Zaky yang melihat itu tak dapat berbuat apa-apa, dia melanjutkan menuju mobil. Setelah menelpon istrinya untuk memastikan kondisi mama mertuanya, Zaky melajukan mobil menuju rumah sakit.
Ghani seperti orang linglung yang kehilangan separuh hidupnya. Mulutnya tak dapat bersuara lagi selain air mata yang menggantikan rasa takutnya.
"Percepat Guntuurr!" Teriak Tomi, Khalisa yang dalam pangkuannya sudah tak sadarkan diri. Darah terus mengalir.
__ADS_1
Tomi terus menekan luka agar darah berhenti mengalir. Namun tak berhasil, wajah Khalisa sangat pucat. Sudah dapat dipastikan banyak darah yang hilang.
"Ini sudah cepat Tomii, kita bisa mati bersama kalau kamu menggangguku seperti ini." Guntur tak kalah kacaunya, melajukan mobil seperti orang kesetanan. Kurang dari sepuluh menit mereka sampai rumah sakit. Tomi berlari menuju ruang IGD. Setelah dilakukan pemeriksaan pasien langsung dilarikan ke ruang operasi yang sudah disiapkan, Khalisa langsung ditangani.
"Aku berharap peluru itu bergeser dari jantungnya, tapi—" kalimat Tomi terhenti, dia begitu frustasi mengetahui kenyataan di hadapannya.
"Tapi sniper itu handal, tidak diragukan lagi, dengan senjata yang kedap suara." Guntur melanjutkan, Tomi hanya mengangguk lemah. Tubuhnya sudah berlumuran darah. Tidak lama Ghani datang bersama Zaky.
Tak banyak kata yang Ghani ucapkan, tubuhnya yang ternodai darah Khalisa begitu lemas. Berulang kali dia mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Mama pingsan, aku sudah minta Ghina menghubungi Ayah Haris agar segera datang." Jelas Zaky, suaranya masih bergetar. Tak ada yang bisa tenang dengan situasi seperti ini. Semua orang juga sudah tahu kemungkinan yang terjadi dengan peluru yang menembus dada.
Tomi mengangguk, "cari segera pendonor jantung Zak, untuk mempercepat tindakan. Antisipasi kemungkinan terburuk." Tomi menghela napas panjang, untuk menghilangkan kegelisahannya. Sekarang dia harus berpikir walau keadaan sedang genting.
"Guntur, tambah pengawal untuk mengawasi rumah. Sisir semua tempat, tambah cctv di sekeliling rumah." Lanjutnya. Guntur mengangguk, segera menghubungi orang-orang yang dapat membantu memudahkan tugasnya.
"Kita ada di sini untuk saling menguatkan." Zaky duduk diantara Tomi dan Ghani. "Katanya hari yang berat hanya untuk orang-orang yang hebat." Zaky mendongakkan wajahnya agar air mata tak terjatuh.
"Kha, apapun yang terjadi hari ini, aku percaya kamu kuat. Aku percaya kamu bisa melewatinya. Jangan tinggalkan aku sendirian Kha. Semua ini sangat menyakitkan. Melihatmu dalam keadaan bersimbah darah saja aku tak mampu. Apalagi jika harus kehilanganmu. Ya Allah, aku tau Engkau sangat menyayangi istriku. Tapi aku mohon beri dia kesempatan dan kekuatan agar dapat bertahan dengan ujian yang sedang menimpanya. Kali ini aku mohon Ya Rabb, beri Khalisa kekuatan untuk melawan sakitnya." Lirihnya Ghani.
Air mata begitu mengerti dengan luka yang Ghani rasakan. Tanpa izin membersamai setiap sakitnya. Tak ada yang dapat terucap lagi selain doa. Tak ada yang bisa disalahkan karena semua sudah ketetapan-Nya. Dia tak mengerti mengapa ada orang yang sekeji itu dalam menyakiti seseorang yang tak berdosa.
Khalisa tak tau apapun tentang hidupnya, tapi malah istrinya yang harus menganggung semua rasa sakit yang tak bisa dibayangkan rasanya.
Ayah dan ibu Khalisa datang dengan air mata yang basah di pipi. Sudah dibilang tidak ada yang bisa baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
"Bagaimana ini bisa terjadi Gha?" Tanya Haris lembut tanpa nada menyalahkan. Ghani mengangkat wajahnya lalu menggeleng lemah.
"Aku bersama Kha sedang berdiri di balkon Yah, tiba-tida dia mengerang kesakitan. Saat kubalik tubuhnya sudah bersimbah darah, dadanya tertembak." Jawab Ghani dengan terbata-bata, Nina memeluk Ghani untuk memberikan kekuatan.
Salah satu dokter mencari keluarga pasien dan menjelaskan kalau pasien kehilangan banyak darah. Harus segera dilakukan transfusi darah, dua kantong darah yang tersisa masih kurang.
"Golongan darah saya A seperti putri saya dok." Ujar Haris, kemudian mengikuti dokter untuk segera melakukan donor darah untuk menyelamatkan putrinya.
"Bu, Kha kuatkan? Kha akan bertahankan? Kha tidak akan pergi meninggalkanku sendiriankan?" Lirih Ghani, dadanya sesak, sangat sesak. Ghani memukul-mukul dada untuk menghilangkan sesak yang memenuhi rongga dadanya.
"Kenapa rasanya sesakit ini Tuhan, kenapa bukan aku saja yang tertembak." Nina menggelengkan kepala.
"Kha tidak akan sanggup melihatmu terluka Nak." Nina menghapus air mata yang membasahi pipi Ghani. "Kha tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, sudah cukup dia menderita dengan kehilangan janinnya. Kalau dia melihatmu bersimbah darah, dia tidak akan bisa kuat."
"Bu sakit, ini sangat sakit." Ghani menangis dalam pelukan ibu mertuanya. "Kenapa mereka jahat sama Kha Bu? Kha tidak pernah salah apapun, kalau mau balas dendam harusnya mereka menyakitiku bukan Kha. Ini sangat tidak adil, Bu."
"Tidak ada manusia yang bisa adil yang seadil Allah Nak. Ini sangat adil bagi Allah, jangan salahkan takdir buruk yang terjadi, hanya karena kita tidak tau hikmah dibalik semuanya."
"Mereka sudah merenggut paksa anakku Bu, sekarang mereka juga ingin merenggut paksa istriku."
"Tidak, tidak ada yang bisa merenggut nyawa manusia tanpa izin Allah Nak."
"Apa sekarang aku harus membalasnya Bu, aku berusaha bersabar saat anakku dibunuh. Menghadapi Kha seperti kehilangan jiwanya. Aku berusaha bersabar untuk tidak membalas mereka. Tapi ketika aku diam mereka sangat keterlaluan Bu. Aku tidak akan membiarkan mereka bisa hidup tenang setelah ini." Nina menggeleng lemah, "biar Allah yang membalasnya Nak, biar pihak yang berwajib yang melakukannya. Jangan kamu, Ibu tidak ingin kamu hidup dalam penyesalan karena menjadi penjahat. Kalau kamu melakukan itu, apa bedanya kamu dengan mereka."
Guntur yang sejak tadi berusaha untuk menahan air matanya agar tidak tumpah namun tidak berhasil juga. Dia berlari meninggalkan ruang tunggu, sangat menyakitkan mendengar segala resah gelisah yang Ghani ungkapkan. Dadanya ikut sesak, seperti dihimpit ribuan ton beban.
__ADS_1
Selama ini dia yang paling bersikap santai dengan segala permasalahan yang mereka hadapi. Namun sekarang Guntur tak kuat, tak sanggup menahan perih yang ikut dirasakannya. Tomi menyusul Guntur, duduk di kursi taman rumah sakit.