
Walau masih hujan Anindi tetap keluar menggunakan payung. Di dekat rukonya ada toko pakaian. Jadi tidak perlu memesan ojek online.
Saat Anindi kembali ke kamar, Tomi sudah meringkuk di bawah selimut. Dia baru memperhatikan wajah lebam Tomi. Dengan siapa lelaki ini berkelahi.
Perempuan itu mengambil air hangat untuk mengompres wajah Tomi. Tidak tega membangunkan lelaki itu.
Sebenarnya bagaimana perasaannya pada Tomi ini sih. Kenapa dia harus khawatir berlebihan. Selesai mengompres, Anindi turun ke bawah. Malam ini biar dia istirahat di ruang kerja.
Di rumah sakit Khalisa masih setia memeluk Ghani. Tak ada yang bersuara di sana, hanya memperhatikan perempuan yang terlihat sayu.
Ghani mengerjapkan mata, tangannya dalam genggaman Khalisa. Lelaki itu tersenyum, lalu mengecup puncak kepala istrinya. Khalisa belum menyadari kalau Ghani sudah bangun.
Tangan kanan Ghani terulur untuk membelai pipi sang istri, "sedihnya udah dong. Abang sudah bangun nih."
Khalisa menegakkan kepala, "Abang!" Pekiknya girang, "Abang sudah bangun."
Suami Khalisa itu mengangguk, "jelekkan jadinya kalau kebanyakan nangis gini." Ujar Ghani sambil membelai pipi kesayangannya.
"Perutnya sakit?" Tanya Khalisa sendu, Ghani merebahkan kepala sang istri di dadanya.
"Abang gak papa, Sayang. Masih sehat, masih bisa lihat Kha tersenyum."
"Kha gak mau tinggal di rumah Papa lagi. Kha gak mau lihat Tomi." Lirih Khalisa, Ghani tidak menjawab. Hanya memberikan usapan di kepala sang istri.
Di sana tinggal orang tua Khalisa dan Ghani yang menunggu. Guntur dan Zaky sudah pulang.
"Pah, bisa minta satu ranjang lagi buat Kha." Pinta Ghani, dia tidak bisa minta pulang sekarang. Lukanya cukup parah setelah kehilangan banyak darah.
Emran mengangguk, menghubungi petugas rumah sakit. Tidak lama para perawat datang membawakan brankar menyatukannya dengan milik Ghani.
Khalisa naik ke atas ranjang, tidur di samping sang suami.
"Tidurnya jangan nakal ya, nanti kena luka Abang." Ghani menoel hidung Khalisa. Istrinya itu masih saja sendu.
"Tomi kenapa mukul Abang?"
"Abang salah, Sayang. Kalau Abang gak bikin kekacauan di toko Nindi. Mungkin Tomi gak akan melakukan kesalahan sama Nindi." Bisik Ghani, agar tidak di dengar orang tua mereka yang sedang mengobrol di sofa.
"Itu gak akan terjadi kalau Nindi nolak dan Tomi bisa melawan nafsunya sendiri, Abang. Ini bukan salah Abang." Ujar Khalisa masih tidak terima Tomi membuat suaminya terluka.
__ADS_1
"Tetap Abang yang salah Sayang, karena udah bikin Tomi bawa Nindi ke rumah. Mulai sekarang Abang gak akan ikut campur masalah mereka lagi."
Ghani tidak masalah kalau dia terluka. Tapi dia tidak bisa melihat istrinya bersedih.
"Kalau Abang sembuh, kita pergi dari sini ya. Kita kembali ke Singapura aja. Kha gak papa rumah kita kecil di sana. Kha gak masalah kita gak punya mobil."
"Kalau Kha minta semua itupun, Abang udah bisa kasih sekarang. Kha maafin Tomi ya, Sayang."
"Kha gak akan maafin orang yang sudah buat Abang sakit."
"Ya sudah, Kha istirahat ya. Sini Abang peluk." Khalisa beringsut membenamkan wajah di bahu Ghani.
Dia tidak bisa memaksa Khalisa untuk memaafkan Tomi. Ghani juga tidak menyalahkan sepupunya itu, andai terjadi padanya. Pasti dia juga akan sangat marah.
***
Tomi terbangun dengan kepala berat, dia tertidur di kamar Anindi. Di mana perempuan itu, Tomi beranjak ke kamar mandi setelahnya mencari Anindi ke bawah. Dia menemukan Anindi di dapur.
"Mau ngopi Mas?" Tawar Anindi, dia sedang memasak. Dapur itu berukuran kecil, karena Anindi hanya tinggal di sebuah ruko.
"Boleh," Tomi duduk menunggu di meja makan. Anindi datang membawakan segelas kopi setelah selesai memasak.
"Berantem sama siapa?" Tanya Anindi, dia sudah berbaik hati memberikan tumpangan pada mantan suaminya itu.
"Kenapa?" Anindi tau, Tomi pasti punya alasan kenapa melakukan itu.
"Karena kamu," lirih Tomi. "Karena semua rencana mereka aku nidurin kamu. Kalau malam itu mereka gak bikin kekacauan di sini. Kamu gak akan jadi mangsaku," sesalnya.
"Jadi orang yang menyerang aku itu suruhan mereka?" Tanya Anindi setelah mencerna perkataan Tomi. Mantan suami Anindi itu mengangguk.
"Kenapa?" Anindi kembali bertanya.
"Karena mereka ingin kamu kembali tinggal di rumah papa."
Anindi sedikit kecewa mendengar semua itu. Niat mereka memang baik ingin menyatukannya dengan Tomi kembali. Tapi cara mereka salah.
"Terus gimana keadaan Kha?" Tanya Anindi khawatir, adik sepupunya itu pasti sekarang sedang bersedih.
"Kemaren dia gak berhenti menangis karena Ghani pingsan."
__ADS_1
Anindi menghela napas panjang. "Mas pulang ya, istirahat. Nanti aku nengok Ghani ke rumah sakit."
"Maafin mereka ya Nin, tapi tetap yang salah aku sih. Karena aku yang gak bisa nahan diri."
"Jangan dipikirkan, lupakan aja semua yang sudah terjadi. Sekarang Mas sarapan dulu." Anindi menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Tomi berharap masih bisa membangun keluarga kecil bersama Anindi kembali. Walau kemungkinan sangat kecil. "Kalau kamu hamil, apa kamu masih tetap gak mau nikah sama aku?"
"Aku akan membesarkannya." Jawab Anindi tenang, Tomi mengangguk. Bukan saat yang tepat untuk berdebat sekarang. Anindi sampai segitunya tidak mau menerimanya. Tak ada harapan untuknya mendapatkan perempuan itu lagi.
Mereka makan dalam diam, setelahnya Tomi pulang dari rumah Anindi. Sebelum mencari apartemen, dia mampir ke rumah sakit sebentar untuk melihat keadaan Ghani dan Khalisa. Sepasang suami istri itu sudah bisa tertawa.
Tomi meninggalkan rumah sakit setelah memastikan semua baik-baik saja. Setelah ini mungkin dia akan menjauh dari semuanya, keluarga dan juga kemewahan.
Ghani melihat Tomi yang berdiri beberapa saat di depan pintu. Lalu melirik istrinya, Khalisa masih marah dengan lelaki itu. Dia tidak bisa mengajak Tomi bicara sekarang.
"Tadi malam Tomi pulang ke rumah gak Mah?" Tanya Ghani sambil melirik istrinya yang cemberut masam.
"Kayaknya enggak deh, sarapan tadi pagi juga gak ada."
"Kenapa cemberut gitu sih." Ghani menjawil-jawil hidung Khalisa.
"Kha gak suka Abang nanyain Tomi." Jawabnya ketus, Ghani tersenyum kecil.
"Maafin Abang, Sayang." Cukup ucapkan maaf agar tidak memperpanjang masalah.
"Abang makan. Kha gak mau nanti Abang gak sembuh-sembuh." Khalisa menyuapi Ghani sambil mengomel, wajahnya masih saja cemberut. Bukannya takut yang mendengar malah gemas. Ghani mencubit hidung istrinya.
"Abang, sakit. Nanti Kha mati gak bisa napas." Ujarnya dramatis, Ghani terkekeh geli.
"Cemen amat cuma dicubit langsung mati, Sayang." Goda Ghani, Khalisa mendengus sebal.
"Nyawa ikan soalnya."
"Eh, sekali gorok langsung masuk wajan dong." Ghani menanggapi dengan kekehan.
"Emang Abang mau gorok aku, dan masukin di wajan."
"Enggak, Abang mau masukin kamu di kantong biar gak bisa kabur. Kalau Abang perlu baru dikeluarin."
__ADS_1
"Ih Abang, gak muat tau. Nanti gimana aku napas coba." Khalisa mencubit Ghani di pinggang karena kesal.
"Aauuw, mau nyubit lihat-lihat juga Sayang. Perut Abang masih luka loh. Nanti Abang pingsan lagi kamu nangis." Goda Ghani, Khalisa memutar bola mata kesal, malas menanggapi suaminya. Dia melanjutkan menyuapi Ghani dalam diam.