Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
121


__ADS_3

Seperginya Tomi, Ghani memeriksa laporan keuangan dan operasional supermarket dari ponsel sambil rebahan. Perutnya masih terasa nyeri, dia bertekad untuk segera sembuh. Kasihan istrinya tidak bisa bermanja-manja kalau sakit seperti ini.


Kalau Khalisa sudah sembuh nanti, akan dia ajak mengunjungi tempat usahanya di Singapura dan Malaysia. Untuk pembukaan outlet King Burger di Indonesia masih on proses.


"Haus," gumam Khalisa masih dengan mata masih terkatup. Ghani dengan sigap mengambil botol air mineral, menempelkan sedotan di bibir sang istri.


Jemarinya mengusap sisa tetesan air yang tertinggal. Ah, dia rindu rasa bibir itu. Beberapa menit kemudian napas Khalisa kembali teratur.


"Ngantuk banget rupanya." Ghani terkekeh kecil, mengelus pipi Khalisa dengan punggung tangannya.


Ghani kembali melanjutkan pekerjaannya, membaca laporan dengan teliti. Dia sudah terbiasa bekerja dengan keadaan bagaimanapun. Sampai tak sadar ponsel yang di pegangnya tergeletak, pemiliknya sudah tertidur.


"Enak banget, sakit bareng, tidur bareng, bikin anak bareng." Guntur berdecak saat membuka pintu kamar Ghani, "eh, gimana caranya bikin anak kalau gak tidur bareng ya." Pikirnya ulang, otaknya rada sableng sekarang.


"Jangan gangguin mereka!" Teriak Mira yang berdiri sambil berkacak pinggang di tangga.


"Serem banget, pake kacak pinggang begitu." Gumam Guntur, menutup pintu dengan pelan lalu berlari ke kamar. Ibu ratu sudah mengeluarkan sabdanya, itu tanda bahaya. Dia cuma mau jengukin orang sakit masa gak boleh. Malang nian nasibnya yang selalu disiksa ini.


Sedang di gedung Emeral Corp, Tomi menyibukkan diri sampai malam. Dia malas pulang ke rumah. Sedikit banyak otaknya kepikiran dengan apa yang diucapkan Ghani tadi siang. Apa benar dia sedang menyerah sekarang.


Dia bukan lelaki yang selemah itu, menyerah tanpa perjuangan kan? Tapi dia juga sudah lelah berjuang.


Tomi bolak-balik menatap ponsel. Ingin menghubungi Anindi tapi malu. Akhirnya Tomi membaringkan tubuh di sofa.


Gedoran keras di pintu membangunkan Tomi, baru sebentar terlelap sudah ada yang mengganggu. Tangannya memencet remot, pintu terbuka menampakkan wajah kesal Guntur.


"Lo gak nyusahin orang bisa kan? Gue jadinya cape disuruh nyariin lo. Tuh hp gak fungsi ya. Banting aja sekalian."


Tomi memang sengaja mematikan ponsel supaya tangannya tidak gatal mau menanyakan kabar Anindi.


"Gue bukan anak kecil yang harus lo cariin. Gak ada yang minta buat lo nyari gue." Jawab Tomi kalem, memejamkan mata kembali.


"Maunya juga gitu. Tapi mama ribut seantero jagat raya karena kehilangan anak. Gue kan yang kena imbasnya, siapa lagi yang lo bikin susah kalau bukan gue. Sekarang lo pulang, atau gue seret."


"Ck," Tomi berdecak, bangkit dari tidur mengambil kunci mobil lalu meninggalkan ruangan mendahului Guntur. Bukan sebab takut dengan Guntur, dia tau persis bagaimana Mira kalau sedang gelisah. Seluruh isi rumah dibikin repot.


"Dasar manusia gak ada akhlak, gue malah ditinggalin." Umpat Guntur kesal, berjalan cepat menyusul Tomi.


Sampai di kediaman Emran, Tomi mendapat tausiyah gratis dari Mira. Sudah malam begini, energi emak satu itu masih on fire. Sampai membangunkan seluruh penghuni rumah. Padahal rumah itu besar, masih saja suara berisiknya terdengar ke kamar.

__ADS_1


"Mama kenapa Bang, suaranya sampai melengking gitu." Tanya Khalisa khawatir, tidak pernah dia menemui mama mertuanya sampai marah sambil berteriak begitu.


Ghani membuka cctv ruang tengah dari ponsel menunjukkan pada Khalisa, untung mereka belum tidur. Karena siang tadi sudah kebanyakan tidur. "Nih, mama lagi marah sama Tomi. Kayaknya Tomi baru pulang, masih pake pakaian yang tadi siang."


"Mama bisa marah segitunya Bang?" Tanya Khalisa tak percaya. Ghani hanya mengangguk, kalau sudah mama tersayangnya itu marah. Papa pun ikut menciut, tak berani berkutik.


"Kasian banget wajah Tomi memelas gitu Bang." Ucap Khalisa sambil tertawa kecil.


"Kami sudah kebal dikasih tausiyah gratis," jawab Ghani dengan cengiran.


"Sering?"


"Dulu, udah lama mama gak ngomel begitu."


"Ngeri," gumamnya lalu mengembalikan ponsel Ghani.


"Mama gak mungkin marah gitu sama kamu, dah tidur, ini sudah malam banget Kha."


Elusan sayang mendarat di kepala Khalisa, tapi masih ada yang kurang. "Aku mau tidur sambil di peluk," pintanya manja.


"Sini Abang peluk, tidurnya yang kalem ya. Kalo perut Abang tambah parah, Kha juga yang tambah lama gak bisa manja-manja." Ghani beringsut mendekati Khalisa. Memiringkan tubuh perlahan, lalu mengganjal perutnya dengan bantal kecil supaya tidak kena senggol.


"Eh, kenapa bawa-bawa artis sih," Ghani terkekeh. Merekatkan tangan di pinggang Khalisa, tangannya yang lain masih mengelus di kepala.


"Tidur, Sayang." Satu kecupan mendarat di kepala Khalisa yang sudah memejamkan mata, kemudian elusan di perut. Kangen istrinya yang tidak bisa diam. "Dedek istirahat juga ya Sayang, biar besok pagi bunda udah bisa lari-lari lagi."


Paginya Khalisa masih mengalami morning sickness. Ghani sudah siaga menyiapkan kantong muntah dan minuman jahe hangat.


"Peluk," lirih Khalisa, tubuhnya lemas. Pagi ini cuma bisa memasukkan beberapa potong buah pepaya.


Ghani duduk di belakang Khalisa, memeluk dengan hati-hati. "Kha kuat ya Sayang, kita hari ini ke rumah sakit ya. Check up luka kamu."


"Enggak, aku gak mau ke rumah sakit. Aku mau di rumah aja!"


"Cuma check up, Sayang. Gak nginap kok, biar tau kondisi luka kamu. Kalau di rumah sakit peralatannya lengkap." Rayu Ghani seraya mencium belakang kepala Khalisa. Khalisa tak menjawab.


"Abang sedih kalau lihat Kha sakit gini, mau meluk juga susah." Lanjutnya dengan suara pelan, berharap sang istri luluh.


"Iya-iya, Kha mau check up." Jawab Khalisa tidak ikhlas.

__ADS_1


"Pintar istri Abang, hm." Sanjung Ghani, "sekalian Kha mau apa, kita beli ya."


"Kha mau eemm," Khalisa nampak berpikir, lalu menyebutkan keinginannya. "Rujak, bakso, ice cream, cokelat, pempek, seblak, tom yam."


Ghani membulatkan mata, dalam hatinya bertanya-tanya. Itu lapar apa lagi absen makanan.


"Emang Kha bisa makan semuanya sekaligus?" Tanyanya pelan, khawatir menyinggung perasaan Khalisa yang sensitif.


"Bisa, kan ada Guntur yang doyan makan bantu ngabisin."


Mending gak usah dibelikan kalau orang lain juga yang disuruh makan, pikir Ghani.


"Pokoknya Kha mau lihat semua makanan itu." Lanjut Khalisa, sebelum Ghani membujuk.


Ya sudahlah turutin aja apa maunya. Ditolak juga gak bisa, pasrah Ghani. "Oke, Abang belikan semua makanan itu buat Kha."


"Beneran ya, gak boleh bohong. Gak boleh kurang satupun."


"InsyaAllah, Sayang. Abang usahain, jangan rewel kalo gak lengkap ya."


"Yaaah, Abang udah niat gak nyariin semuanya." Khalisa bersungut kesal.


"Kha lagi pengen semuanya, apa pengen ngerjain Abang aja, hm." Ghani membawa dagunya bertopang di bahu kanan Khalisa.


"Cuma ngerjain, tapi ketahuan duluan." Sahut Khalisa mesam-mesem.


"Tuh kan, Abang sakit gini aja masih di kerjain."


"Eee, enggak. Kha cuma bercanda, cukup ada Abang di sini." Katanya mencuri satu kecupan di pipi Ghani, membuat si empunya kaget.


"Udah berani godain ya, Abang masih bisa bikin Kha keenakan loh walau sakit gini."


"Abang apaan sih, mau Kha congkel tuh luka di perutnya!" Ujar Khalisa galak.


Ghani mencubit gemas pipi kesayangannya, jemarinya meraba bibir Khalisa. "Abang kangen ini, udah tiga hari gak dikasih obat, hm."


"Tolong ya di jaga tangan Abang ini." Khalisa menggigit kencang jari telunjuk Ghani.


"Aauw, sakit Kha." Pekik Ghani kaget, spontan menarik jemarinya. Khalisa malah tertawa cekikikan.

__ADS_1


"Awas ya, jari ini bakal kasih Kha pelajaran nanti." Ancam Ghani, kemudian menyeringai devil.


__ADS_2