
"Aku pikir kamu masih Gha-ku dulu yang penyayang, perhatian dan selalu menjagaku. Tapi aku salah, kamu sekarang begitu egois, jahat dan mengerikan. Terserah kamu Gha, kalau kamu ingin menyiksaku seperti ini aku pasrah. Mungkin ada kesalahanku dulu sehingga kamu membalasku seperti ini."
"Aku tidak akan meminta apapun lagi darimu, lakukan apa yang kamu suka, menyiksaku perlahan sampai aku mati pun tak apa Gha."
"Hidupku sekarang pun tidak untuk apa-apa lagi, hanya sekedar bertahan agar tetap bernapas sampai waktunya tiba."
Maaf Kha, sudah membuatmu sampai depresi seperti ini. Tapi Ghani berjanji akan menebus kesalahan ini.
Khalisa tersenyum lebar, tidak ingin menangis lagi di depan Ghani. Seperti biasa, saat dia mengungkapkan panjang lebar tentang perasaannya lelaki itu tetap diam tanpa ekspresi. Dengan santainya Ghani memarkirkan mobil pada sebuah restoran kemudian memesan steak tanpa bertanya Khalisa mau apa.
Sebelum memberikan piring berisi steak. Ghani memotongnya kecil-kecil dengan pisau terlebih dahulu. Lalu memberikannya pada Khalisa. Saat perlakuan Ghani seperti ini seakan cinta itu untuk Khalisa. Lelaki itu terlalu pintar mengubah-ubah sikap.
Kha, kamu terlalu berharap, Ghani hanya menjagamu karena merupakan satu-satunya aset, agar kekayaan papa mengalir padanya. Dasar perempuan bodoh mau saja diperdaya. Khalisa menghina dirinya sendiri yang lemah, tidak berdaya dan menyedihkan ini.
"Mau pesan yang lain, jadi gak mau makan steaknya?" Tanya Ghani saat melihat Khalisa hanya diam menatap manja daging-daging empuk itu.
"Gak selera makan, kepalaku pusing." Kata Khalisa sembarang mencari-cari perhatian, hanya ingin melihat reaksi dari Ghani saja. Melupakan sejenak tentang kekasih lelaki yang menyayat hati itu. Dia ingin memiliki secuil kisah bersama suami sementaranya.
"Makan dulu, setelah selesai kita langsung pulang."
Khalisa menggelengkan kepala tetap menolak, Ghani menarik piringnya kemudian menyuapkan steak itu ke arah mulut Khalisa. Khalisa menepis sendok dengan tangannya, tapi Ghani tetap memaksa sambil mengancam. Ancaman, ancaman dan ancaman, itulah yang selalu dilayangkan Ghani saat Khalisa membantah maunya.
Khalisa membuka mulut dan menerima steak dari suapan Ghani. Rasanya kenapa jadi lebih enak. Ada rasa bahagia meskipun harus dengan pura-pura menolak dulu agar dipaksa.
Rupanya Khalisa sudah mulai menggunakan otak untuk menghadapi Ghani.
"Kamu jangan sakit ya nanti aku repot harus kerja, harus ngurus kamu juga. Makanya tadi dibilangin gak usah kerja, nurut. Kalau kamu sakit bikin aku pusing juga tau, siapa nanti yang jagain kamu di rumah."
Wow Khalisa berhasil membuat Ghani nyerocos panjang lebar. Gha dulu seakan sudah kembali, tapi jangan senang dulu pasti akan ada embel-embel demi kekayaan Papa mengucur padanya. Menyedihkan, menyakitkan lengkap jadi satu. Satu lagi apakabar pacarnya, haha. Kha Kha, kasian.
__ADS_1
"Karena aku asetmu yang berharga agar bisa menaklukkan papa, iyakan?" Kata Khalisa lebih dulu sebelum Ghani yang mengucapkannya, karena itu akan lebih menyakitkan.
Ghani tersenyum meluncurkan suapan keduanya. Jantung, tolong jangan copot sekarang, senyuman Ghani membuat hatinya melompat-lompat.
Suaminya itu tak makan sebelum selesai menyuapinya. Sungguh perhatiannya membuat Khalisa terpesona menikmatinya. Tapi muka datarnya itu tetap saja tanpa ekspresi seperti hantu muka datar. Emang ada yaa, ah gak penting. Yang penting diperhatikan Ghani, bahagia rasanya.
"Ya, kamu satu-satunya asetku yang tersisa Kha. Jangan minta aku menceraikanmu lagi ya."
Khalisa labil, dia benar-benar seperti abg yang baru jadian, pagi jadian sorenya putus. Persis seperti itu dia sekarang, pagi bisa bahagia sore bisa menderita, sangat labil.
Tersenyumlah Kha, dia memang tidak bisa secepatnya melupakan Clara, tapi Ghani akan berusaha membuat Khalisa bahagia.
"Apa yang akan kamu berikan jika aku bertahan denganmu?"
"Semuanya."
"Aku tak yakin, kamu bisa memberikan semuanya." Khalisa mencebik, mengabaikan Ghani yang masih menatapnya.
"Aku hanya perlu bukti, tidak sekedar ucapan Gha."
"Iya, aku akan buktikan. Tapi jangan tolak aku memelukmu. Boleh?"
Khalisa tak bergeming.
"Aku tidak akan melakukannya lebih dari itu kalau kamu belum mau, izinkan aku membuktikannya dengan perhatianku padamu Kha."
"Ayo pulang, sudah selesaikan?" Khalisa mengalihkan pembicaraannya, dia tidak ingin terbuai oleh mulut manis Ghani.
Beginikah rasanya diabaikan, baru kali ini Ghani merasakannya. Saat ingin berubah malah tidak dihiraukan. Bertahan Gha, sabar. Pernikahan ini harus tetap berlanjut sampai nanti.
__ADS_1
***
Ketika bangun Khalisa merasakan kepalanya sangat berat. Apa gara-gara bohong dengan Ghani kemaren kepalanya jadi beneran sakit sekarang. Mana hari ini jadwal ngajar ada tiga kelas.
Khalisa memegang kepala yang migrain sambil bersandar di kepala ranjang. Ini bukan nyeri seperti biasanya, dia mengambil obat lalu meminumnya. Memejamkan kembali matanya, membuang semua pikiran yang mengganggu. Itu dapat memperparah kondisinya, akhir-akhir ini pikirannya benar-benar terganggu.
Suara ketukan di pintu tidak Khalisa hiraukan.
Beberapa kali Ghani mengetuk pintu kamarnya, Khalisa berjalan sempoyongan untuk membuka pintu. Biasanya juga tidak dikunci, kenapa jadi ngerepotin diri sendiri sih, gerutunya.
Setelah memutar anak kunci dan membukanya sedikit Khalisa tersandar di dinding tembok untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Keringat sudah mengucur diseluruh tubuhnya, badannya mulai limbung. Kakinya tidak mampu menopang berat badannya lagi.
"Kha." Ghani menangkap tubuh istrinya yang hampir terhempas ke lantai. Digendongnya tubuh mungil itu ke ranjang.
Ghani menghapus keringat yang membasahi kening istirinya. Wajah cantik itu sekarang memucat, karena kehabisan tenaga.
"Apa yang sakit Kha?" Tanya Ghani dengan ekpresi wajah khawatir padanya, benarkah dia khawatir. Saat seperti ini masih saja negative thinking Kha.
"Migrain...!!"
Setelah membaringkannya Ghani memijat kepala Khalisa dengan pelan. Tapi dapat meringankan beban yang seakan menumpuk di kepala. Ya Allah, siapa dia sebenarnya. Bisa beneran jatuh cinta kalau perlakuannya seperti ini, batin Khalisa.
Jangan Kha, kamu tidak boleh jatuh cinta dengannya. Ghani hanya perlu kamu untuk sementara waktu, saat ini lelaki itu masih perlu kamu untuk menjadi senjatanya. Ghani sudah memiliki perempuan lain.
Kedua ujung telunjuk Ghani menekan lembut diantara kedua kening. Kepala Khalisa menjadi semakin ringan, entah karena sentuhannya atau Ghani memang pandai memijat.
Ghani beranjak dari kamar meninggalkannya sendirian. Khalisa mentertawakan dirinya sendiri yang terlalu banyak berharap pada suami sementaranya.
__ADS_1
Jangan berharap lebih Kha, jika tidak ingin kecewa. Jaga hatimu agar tidak jatuh cinta padanya.
Tidak ingin menunggu Ghani kembali, Khalisa memejamkan matanya sampai tertidur. Melupakan hati yang berharap mendapatkan cinta dari Ghani. Semua itu bagai pungguk merindukan bulan.