Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
90


__ADS_3

"Mengapa begitu berat hari-hari yang harus kita lalui Kha, tidak mengapa jika hanya sekedar berat. Tapi ini mengancam nyawamu. Setiap detik bisa saja berpotensi aku kehilanganmu. Harus setragis inikah mencintaimu Kha, aku sudah menarikmu semakin mendekat pada jurang yang sangat membahayakan." Ghani mengecup lama kening Khalisa, gadis kecilnya, cinta pertamanya, istri polosnya.


Ghani membuka matanya menatap jam di samping nakas, azan subuh masih setengah jam lagi. Dia masih betah menatap lekat wajah istrinya. Menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah manis sang kekasih.


Senyumannya langsung merekah saat Khalisa membuka mata. "Morning Sayang," sapanya beberapa detik kemudian bibirnya sudah menempel di kening sang istri.


"Abang masih pagi."


"Yang bilang udah siang siapa?" Goda Ghani, menarik pinggang Khalisa agar semakin mendekat.


"Huh Abang bau, pasti belum mandi." Pekik Khalisa kesal.


Dengan jahilnya Ghani mengapit telapak tangannya ke ketiak lalu membekapkan ke hidung Khalisa dengan tertawa puas.


"Huuhuu Abang bau." Kesalnya saat Ghani melepaskan bekapan tangan, wajah cantik itu sekarang cemberut masam.


"Wangi kok," Ghani mengangkat tangannya lalu mencium ketiaknya sendiri, "mau lagi?" Khalisa menggeleng cepat, membenamkan wajahnya di dada bidang Ghani, suaminya itu hanya terkekeh geli. Khalisa jadinya tambal kesal.


Beberapa detik Ghani terdiam, lalu membelai perut langsing Khalisa. "Sayang, di sini belum ada dedeknya lagi ya," tanyanya.


Khalisa menggeleng pelan, wajahnya berubah sendu.


"Gak papa deh yang penting ada isi nasikan." Ghani terkekeh mengalihkan pembicaran, "ada nasi, ada bakso, ada apalagi?"


"Ada Abang," jawabnya setelah berpikir lama.


Ghani tertawa kecil, "Abangnya disini." Ucapnya lalu mengecup basah pipi kesayangannya. "Mandi yuk, siap-siap sholat Sayang." Pria itu membangunkan paksa istrinya dengan cara usil.


Beginilah nasib pengangguran sukses, hari-hari Ghani habiskan menjaga istrinya. Sudah mirip bodyguard saja. Outlet yang di Malaysia hanya diawasinya dari rumah, sedang yang di Singapura sudah selesai renovasi siap buka kembali.


Syukurlah, meskipun kerugiannya sangat besar tapi keuntungan yang didapat dari cabang Malaysia masih cukup untuk membackup.


"Abang, hari ini aku boleh ke toko Nindi?" Khalisa mendatangi Ghani yang sedang duduk di ruang tengah sendirian.


"Abang temani." Khalisa merengut, bibirnya mengerucut manja. Ghani mencubit pelan, "kalau menolak, gak akan dapat izin keluar rumah." Ancam Ghani sambil mengedipkan mata. Khalisa menghentak-hentakkan kaki, Ghani tak peduli. Lebih baik istrinya merajuk daripada harus celaka.

__ADS_1


"Jadi gimana?" Tanya Ghani santai, "mau ditemani atau gak boleh keluar?"


"Gak jadi." Jawab Khalisa malas, lalu melenggang menaiki anak tangga.


Blaamm


Pintu kamar dibanting Khalisa dengan keras, Ghani geleng-geleng kepala sambil beristighfar menyusul istrinya ke kamar. Lagi PMS kali ya, jadi galak.


Ghani membuka pintu pelan, melirik istrinya yang sedang memeluk lutut duduk di sofa. Kalau sudah begini mana tega dia.


"Sayang, maafin Abang ya." Ghani memeluk Khalisa dari samping, membenamkan wajahnya di bahu sang istri. "Abang cuma gak mau Kha terluka, Kha taukan sekarang banyak orang yang jahat."


"Abang pernah ceritakan kalau Kha pernah ditembak sampai tidurnya lama. Abang gak mau itu terjadi lagi, Abang gak mau kehilangan kesayangan Abang." Ghani berbicara dengan sangat lembut, agar istrinya mengerti.


"Melihat istri Abang lupa segalanya saja sudah bikin Abang sakit, apalagi kalau Abang ngelihat ada orang yang menyakiti Kha. Kha pahamkan apa yang Abang katakan ini."


Khalisa mengangguk, memutar tubuhnya demi bisa memeluk Ghani, melingkarkan kakinya di pinggang sang suami.


"Makasih Sayang." Ghani mengecup puncak kepala Khalisa dengan sayang.


"Maafin Kha, maaf sudah buat Abang sedih." Khalisa itu cengeng, disentil dikit aja pasti langsung nangis. Ghani bisa memanfaatkan itu untuk meluluhkan hati kesayangannya ini.


"Kha tetap boleh pergi, tapi sama Abang. Itu aja kok syaratnya." Ghani menangkup kedua pipi gadis cantik di depannya, jempolnya dengan lincah menghapus sisa cairan bening. Khalisa mengangguk, "istri Abang memang paling pintar," puji Ghani.


Ghani menggandeng tangan Khalisa memasuki sebuah toko roti yang disulap menjadi cafe Anincake. Baru selangkah melewati pintu, aroma roti sudah menyeruak, membuat cacing berdemo ria.


Tentang cake, ada yang membuat Ghani trauma, cheese cake. Melalui perantara itu dia kehilangan anaknya.


Anindi datang menyambut mereka berdua, mempersilahkan duduk lalu mengambilkan cake kesukaan Khalisa.


"Kenapa?" Tanya Anindi heran saat melihat Khalisa hanya memandang cheese cakenya. Ghani mengamatinya lekat, tau penyebab kenapa istrinya jadi aneh. Walaupun hilang ingatan mungkin masih ada trauma yang tersimpan.


"Aku gak mau ini." Cicit Khalisa lalu menggesernya cheese cake itu.


"Ganti red velvet aja Nin," pinta Ghani.

__ADS_1


"Oke." Anindi memanggil pegawai untuk mengambilkan red velvet. Pesanan datang, Khalisa sangat bersemangat menyendoknya. Ghani menahan tangan Khalisa yang ingin menyuap sendokan cake itu ke mulut.


"Nin, maaf, bukannya aku tidak percaya. Tapi bisakah kamu saja yang mengambilkan cakenya. Aku harap kamu mengerti kekhawatiranku." Ghani meletakkan sendok yang hampir menyentuh mulut Khalisa lalu menggeser piringnya dari depan sang istri.


Tanpa bersuara Anindi beranjak, dia paham kenapa Ghani begitu posesif menjaga Khalisa. Hampir dua kali pria itu kehilangan orang yang dicintainya. Anindi kembali dengan membawa cake yang baru keluar dari oven.


"Ini, fresh from oven."


"Thanks." Ungkap Ghani sembari tersenyum menatap istrinya yang sangat senang.


"Nin, apa cctv di sini terhubung ke ponselmu?" Tanya Ghani pelan, hampir tak terdengar oleh Khalisa yang sibuk dengan cakenya. Anindi mengangguk memberikan tabnya.


Entah kenapa dia jadi curiga tanpa alasan dengan pegawai Anindi yang mengantarkan cake tadi. Akhir-akhir ini dia jadi sensitif menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan Khalisa.


"Nin." Ghani menjeda bagian rekaman yang mencurigakan, memberikannya pada Anindi.


"Astaghfirullah." Anindi beristighfar, menatap Khalisa yang tidak mempedulikan orang lain.


"Tolong bawakan aku box untuk cake ini mau kubawa pulang." Pinta Ghani, "bersikaplah seperti biasa, kirim rekaman itu padaku." Tambahnya dengan suara seperti gumaman sangat pelan. Anindi mengangguk, langsung beraksi memasukkan cake ke dalam box.


"Enak Sayang?" Ghani membersihkan sisa cake yang menempel di sudut bibir Khalisa. Bisa melihat bibir itu terus tersenyum merupakan kebahagiaan untuknya.


"Banget," jawab Khalisa antusias.


"Mau lagi buat di rumah?" Tawar Ghani sambil tersenyum.


"Mau."


"Nin, tolong yang fresh ya buatan kamu." Ghani mengkode Anindi. Orang yang di kode mengangguk paham mengambilkan satu box red velvet untuk Khalisa.


Setelah menuruti kemauan sang istri, Ghani membawa Khalisa pulang. Dia tidak berani membawa istrinya terlalu lama berada di luar. Itu bisa membahayakan keselamatan Khalisa.


"Kenyang." Cicit Khalisa, kini mereka sudah berada di mobil. Ghani tersenyum gemas mengelus kepala istrinya dengan sayang.


Sepanjang jalan tak hentinya Khalisa tersenyum berbinar. Ghani ikut senang melihat wajah istrinya yang ceria. Lengah sedikit saja istrinya hampir dalam bahaya lagi.

__ADS_1


Dia sudah mengirim pesan agar tiga pria tampan berkumpul di rumah. Tinggal berpikir cara untuk menjinakkan Khalisa.


__ADS_2