Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
40


__ADS_3

Dua kali dua puluh empat jam sudah berlalu tapi Khalisa belum siuman. Ghani tidak mau beranjak dari samping istrinya sampai tidak mau makan. Matanya bengkak akibat kebanyakan menangis, penampilannya sudah lusuh.


"Kha, kamu janji gak tidur lama. Kenapa belum mau bangun juga."


"Bangun Sayang, Kha bangun."


Ghani tidak berhenti menciumi tangan istrinya sampai dia merasa lelah baru tertidur. Seluruh keluarga menatap iba padanya.


"Jangan hukum aku karena kesalahanku seperti ini Kha, aku lebih suka kamu marah padaku."


"Makan dulu Gha?" Tomi datang membawakan makanan dan meletakkannya di atas nakas.


"Aku tidak lapar Tom."


"Tapi kamu harus punya tenaga untuk menunggu Kha bangun." Bujuk Tomi, "makanlah walau sedikit, isi perutmu."


"Kha Tom, Kha gak mau bangun Tomi, dia marah padaku."


"Kha akan bangun Gha, dia akan kuat. Kamu juga harus kuat."


Ghani tidak menghiraukan Tomi, melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Silih berganti membujuk Ghani makan namun tidak ada yang berhasil melakukannya. Tomi duduk di samping adik sepupunya sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Kha akan sedih kalau kamu begini Gha." Bujuk Tomi, Ghani tak bergeming.


"Assalamualaikum Kha, aku datang lagi. Kamu masih belum mau melihatku." Ghani melepaskan pelukannya mendengar suara yang sangat mirip dengan milik istrinya.


"Anindi...!"


"Gha, makanlah. Aku akan menjaganya seperti kamu menjaganya." Anindi mengusap pipi adiknya. Ghani mengangguk, mengambil makanan yang tadi diletakkan Tomi di atas nakas. Kemudian memakannya dengan lahap.


"Laparkan, kenapa susah sekali disuruh makan." Tomi mengusap pundak Ghani lagi. "Kamu harus kuat Gha, kita sedang dalam situasi sulit sekarang. Kalau kamu begini musuh akan mudah melumpuhkanmu."


"Aku kuat Tom, hanya rindu Kha tersenyum lagi."


"Senyumannya akan selalu untukmu." Hibur Tomi.


"Kha, kamu mendengarkanku. Bangunlah kita pulang bersama Sayang. Jangan nakal seperti ini pura-pura tidur." Anindi berbisik di telinga sepupunya.


"Ghani menunggumu bangun Kha, bangunlah untuknya, bangun untuk kami. Lanjutkan hidupmu."


"Kamu tidak suka aku diamkan Kha, aku juga tidak suka kamu diam. Bangun sekarang, atau aku tidak akan menemuimu lagi. Aku akan membencimu kalau tidak bangun sekarang." Tetesan bening jatuh di wajah Anindi, gadis itu langsung menyekanya.


Tomi menatap wajah cerah yang tiba-tiba berubah sendu, bibir ranum Anindi tak berhenti menyunggingkan senyuman.


Anindi mengusap tangan adiknya yang masih diinfus. Tangannya merasakan gerakan jari tangan Khalisa. "Kamu sudah bangun Sayang."


Ghani menghentikan makannya mendengar ucapan Anindi, diletakkannya kembari makanan yang belum habis ke atas nakas. Menatap mata Khalisa yang perlahan membuka.


"Alhamdulillah." Anindi mundur ketika ada dokter yang datang untuk memeriksa Khalisa. "Terimakasih Ya Allah, sudah mengembalikan adikku." Gumamnya.


"Sayang...!!" Ghani mendekap istrinya kembali setelah dokter menyatakan kondisi istrinya membaik. "Kamu bangun juga akhirnya, kenapa tidurnya lama."


"Gha, kamu kangen aku?" Khalisa membelai pipi suaminya. "Kenapa menangis sampai matamu bengkak, aku tak suka suamiku tak tampan lagi."


"Sangat kangen, jangan tidur lama lagi. Aku juga tak suka kalau kamu nakal begitu."

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, habiskan makannya." Khalisa melirik ke arah nakas.


"Sudah kenyang melihat kamu bangun."


"Ghaa, nakal..!"


"Kamu yang nakal, meninggalkanku tidur lama." Ghani menahan tangan istrinya di pipinya.


"Nin, kamu juga menangis? Kenapa kalian jadi cengeng begini."


"Kamu yang membuat kami cengeng Kha, semua orang menangisimu. Apa kamu lapar Kha?" Tanya Anindi


Khalisa menggeleng, "kamu sama siapa ke sini?"


"Sama Mas Dhafi dia nunggu di depan sama Ayah."


Tomi melirik arah luar mencari sosok yang baru di sebut namanya, namun tidak bisa terlihat jelas dari dalam.


"Kalian lanjut kangen-kangenannya ya, aku di luar biar gantian sama yang lain." Ucap Tomi, menepuk pundak Ghani kemudian meninggalkan mereka.


"Aku juga tunggu di luar ya Kha, kamu cepat pulang." Khalisa hanya mengangguk, Anindi mengikuti langkah Tomi.


"Kepalanya masih sakit Sayang?" Ghani menciumi tangan istrinya dengan kecupan hangat.


"Iya, sangat nyeri." Mata sayu Khalisa tak berhenti menatap suaminya.


"Bisa pindahin sakitnya padaku."


"Jangan, aku tidak kuat melihatmu tersiksa."


"Sayang jugakan sama suami." Goda Ghani


"Alhamdulillah putri Ayah sudah bangun."


"Putri Ibu juga Yah jangan diakuin sendiri." Sela Nina sambil terkekeh.


"Putri kita." Haris meluruskan mengusap lembut pipi Khalisa. Kepala putrinya masih tebungkus perban.


"Kangen pengen peluk ayah sama ibu." Pinta Khalisa manja.


"Jangan banyak bergerak dulu, peluknya nanti kalau sudah sembuh aja." Ujar Nina.


"Ghani selalu mencari kesempatan memelukku Bu." Jawabnya sambil terkekeh.


"Gak tahan kalau gak meluk Sayang." Ghani menoel dagu istrinya. "Cepat sehat biar bisa pulang, makan yang banyak."


"Mau, kalau disuapin."


"Tuhkan Yah, anak Ayah nakal." Adu Ghani yang tidak beranjak dari sisi Khalisa.


"Ghaaa...!!"


"Sayang, manggil suami gak boleh gitu." Nasehat Nina, Khalisa mengernyitkan keningnya memikirkan embel-embel untuk memanggil suaminya.


"Terus apa dong Bu?"


"Sayang atau cinta, ya kan Bu." Ghani menggoda sambil terkekeh.

__ADS_1


"Maumu?" Khalisa menjulurkan lidahnya.


"Kalian selalu bertengkar gini ya kalau ketemu, kapan bikin anaknya." Ujar Haris, membuat Khalisa dan Ghani saling pandang kemudian tertawa.


"Kalau bikin anak diam-diam Yah biar gak ketahuan tetangga." Ujar Ghani dengan tawa gelak.


"Eee kalian ngomongin apaan sih bahas bikin anak." Sambar Mira dari depan pintu.


"Mama kepo." Ghani mencebik.


"Mamamu selalu kepo kalau urusan cucu." Tambah Emran yang ikutan tertawa. "Tapi dua bulan sudah gak jadi-jadi, gak top cer ya Gha."


"Aissshh Papa, meragukanku."


"Atau belum di coba." Mira mendelik ke arah Ghani.


"Sayang kalau belum dicoba Mah. Kha terlalu menggoda." Sahut Ghani gelak, beberapa detik kemudian mendapat cubitan di pipi. "Aauuuww sakit Sayang."


"Naakaal, bikin malu aja."


"Sama suami sendiri juga masih malu-malu." Ghani tak berhenti menggoda istrinya yang menggemaskan.


"Kalian nanti pulang ke rumah Ayah aja ya kalau sudah keluar rumah sakit, biar Ghani gak terlalu repot ngurusin anak Ayah."


Ghani menatap ke arah istrinya, mencari alasan untuk menghindar.


"Gak papa kok Yah, Ghani yang jaga Kha. Nanti gak enak manja-manjaan kalau keliatan ayah sama ibu."


"Sama kami aja masih malu, anak Ayah aja gak malu minta dicium di depan Ayah, Gha."


"Ayaaahhh, sekarang ikutan nakal deh." Sahut Khalisa cemberut. Bibirnya maju beberapa senti.


Ghani terkekeh. "Mau honey moon tiap hari Yah."


"Tambah enak kalau ada yang ngurusin tinggal masuk kamarkan?" Goda Nina


"Atau kalian selama ini tinggal di kamar terpisah?" Mira menatap tajam putranya.


"Mama, main tuduh sembarangan. Ada istri ngapain tidur sendiri, enak juga ditemeninkan." Bela Ghani, belum siap kalau ketahuan mama rahasia hubungan mereka.


"Kha tinggal sama Ghani aja ya Yah, janji gak ngerepotin. Kha mau belajar masak dan ngerjain kerjaan rumah sendiri."


"Kamu harus banyak istirahat Sayang, masa kamu gak bisa bayar pembantu sih Gha." Sekarang Emran yang ikutan buka suara, berasa lagi disidang.


"Bukan gitu Pah, aku cuma pengen berduaan di rumah, gak ada yang ganggu. 'Kan rumahnya kecil. Gak enak kalau ada orang lain lagi di rumah." Ah, Ghani terlalu pintar untuk mencari alasan.


"Ngeyel sih, sudah Papa bilang tinggal di rumah satunya aja malah tinggal di sana."


"Iya, nanti kami pindah ke sana." Ghani menyerah, membantah papa bikin tambah panjang. Bisa-bisa kebongkar semuanya.


"Minggu depan. Nanti Papa siapin."


"Pah...!" Sergah Ghani, tapi Emran tidak mempedulikannya.


"Jangan membantah lagi, kasian Kha sendirian di rumah kalau kamu tinggal."


"Oke. Ngikut Papa aja."

__ADS_1


Setelah perdebatan panjang selesai rempat orang paruh baya itu meninggalkan ruangan. Akhirnya Ghani bisa bernapas lebih lega sekarang.


__ADS_2