Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
128


__ADS_3

"Nindi mana Tom, gak di ajak sarapan?" Tanya Mira saat melihat Tomi datang sendirian.


Lelaki itu celingak-celinguk di ruang makan. "Belum turun ya, aku panggil dulu."


"Ada Nindi?" Tanya Khalisa.


"Iya, tadi malam di jemput Tomi, Kha. Kangen sama Mama katanya." Mira mengarang cerita, Khalisa menanggapi dengan ber-oh ria.


Tomi masuk ke kamar Anindi yang tidak di kunci. Perempuan itu masih meringkuk di bawah selimut.


"Nindi, bangun sarapan dulu yuk. Semua sudah nunggu di bawah." Panggil Tomi lembut, Anindi mengiyakan dengan lemas, badannya sakit semua.


"Kamu sakit?" Tomi menyingkap selimut, membantu Anindi bangun.


"Gak enak badan aja Mas." Sahut Anindi malas-malasan. Ada apa ini, kenapa dia ingin bermanja-manja dengan Tomi. Kenapa hati dan pikirannya tidak bisa diajak kerjasama sih.


"Makan di kamar aja ya, aku bawain ke sini." Tomi merapikan anak rambut Anindi. Apa yang sudah dia lakukan ini melewati batas, mereka bukan suami istri lagi. Harusnya ini tidak terjadi, tapi Tomi tidak bisa menahan diri untuk memperhatikan Anindi.


"Jangan, nanti Mama khawatir. Aku turun aja, bentar aku cuci muka dulu." Anindi beranjak ke kamar mandi, area sensitifnya masih agak nyeri.


"Mas, jalan aku aneh gak. Aku takut ketahuan." Kata Anindi ketika sudah keluar dari kamar mandi.


"Coba jalan," ujar Tomi sembari memperhatikan cara jalan Anindi. Anindi menurut berjalan di depan Tomi.


"Lumayan aneh, sakit banget?" Tanyanya sambil meringis, apa dia kasar tadi malam. Ini pertama kali untuknya, jadi tidak terlalu lihai.


"Sedikit," jawab Anindi dengan cengiran. Kenapa mereka sudah seperti suami istri saja. Duh, sadar Nindi.


"Kamu mau kasih aku alasan, kenapa kamu gak mau nerima aku lagi?" Tanya Tomi lembut. Dia ingin bertanggung jawab atas semua yang terjadi tadi malam.


"Sarapan Mas, nanti mereka nungguin." Anindi berusaha menghindar, malas membahas itu.


Tomi mengangguk, berjalan di samping Anindi menuruni tangga. "Pelan-pelan kalau sakit Nin."


Anindi menanggapi dengan senyuman. Mereka romantis sekali kalau orang lain melihat tanpa tau isi hati dua orang yang sedang berperang batin itu.

__ADS_1


"Ih, datang gak bilang-bilang." Kesal Khalisa pada Anindi. Merentangkan tangannya minta di peluk.


"Sayang, tangannya itu nanti sakit. Jangan pecicilan." Tegur Ghani gemas, Khalisa tidak mempedulikan ocehan suaminya.


"Kamu sakit?" Khalisa meneliti seluruh tubuh Anindi. Sepupunya itu terlihat sayu.


"Sedikit, habis di kejar-kejar—"


"Kamu di kejar anjing di mana, Nin?" Potong Mira, "tadi malam kamu belum sempat cerita." Lanjutnya dengan mengedipkan mata.


"Dekat rumah Mah, anjing tetangga. Makanya aku minta jemput Mas Tomi. Takut di kejarnya lagi."


Anindi paham arti tatapan mata Mira, jadilah dia berbohong juga agar dramanya berjalan dengan lancar.


Sedang Tomi, hatinya menghangat, pertama kali mendengar Anindi menyebutkan namanya lengkap dengan panggilan Mas begitu.


"Assalamualaikum," pekikan suara salam membuat semua yang ada di meja makan menoleh dan menjawab salam.


Devina datang dengan wajah cerah dan senyuman yang berbinar.


"Sendirian, kangen kamu." Canda Devina diikuti cengiran, lalu menyalami Mira dan Emran. "Om, Tante apa kabar?" Tanyanya ramah.


"Baik, kamu kemana aja Nak, lama gak ke sini?" Sahut Emran antusias, matanya melirik Anindi yang terdiam tak berkutik.


"Gak kemana-mana Om. Cuma gak pernah mampir ke sini aja," Devina tersenyum manis.


"Ayo sarapan bareng Dev," ajak Mira.


"Dengan senang hati Tante, kalau makan gratis Mah aku gak pernah nolak." Ujar Devina hangat.


Anindi hanya bisa membatin, Devina sudah sangat akrab dengan keluarga ini. Perempuan itu mengambil posisi duduk di antara dia dan Tomi.


Semua orang terfokus pada Devina. Kehadiran perempuan itu membawa keceriaan di rumah ini. Membuat Anindi berkecil hati. Dia merasa tersentil. Siapa Anindi di keluarga ini, huft. Helaan napas pelan keluar masuk dari hidungnya, untuk menenangkan dada yang mulai menyesak.


"Mau disuapin." Pinta Devina manja pada Tomi, lelaki itu dengan senang hati menyuapi.

__ADS_1


"Baby di jaga baik-baik." Tomi mengusap perut Devina lembut. Perempuan itu mengangguk bahagia.


Tomi sengaja memanjakan Devina di depan Anindi, untuk melihat apakah ada cemburu di mata perempuannya itu.


Jadi Devina sudah hamil, batin Anindi. Semakin sakit rasanya saat menyadari Tomi sudah tidur dengan perempuan lain. Argh, kenapa Anindi lupa dengan isi video yang dikirim untuknya itu sudah memperjelas semuanya. Bodohnya Anindi sudah menyerahkan diri pada sang mantan.


Sekuat tenanga Anindi berusaha untuk tetap tersenyum. Walau kenyataannya sangat ingin menangis.


Khalisa yang duduk di samping kanan Anindi, mengusap tangan sepupunya itu untuk memberikan kekuatan. Dia dapat melihat luka yang disembunyikan.


Selesai sarapan semua orang berkumpul di ruang tengah. Anindi izin kembali ke kamar karena alasan tidak enak badan.


Anindi membenamkan wajahnya di bawah bantal, lalu menangis di sana. Dia sudah tidak sanggup berpura-pura untuk kuat. Tidak apa kan kalau menangis sekarang.


Tomi memindahkan bantal dari wajah Anindi, membangunkan dan memeluknya erat. "Ada aku kalo mau menangis."


Semua yang terjadi karena salahnya. Tomi mengikuti Anindi ke kamar, karena tau perempuannya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Maafin aku, sudah buat kamu merasa gak berarti." Tomi membimbing tangannya untuk mengusap punggung Anindi. Nyaman, saat berada dalam pelukan perempuannya ini.


"Apa semua perempuan yang Mas dekati, selalu Mas perlakukan seperti itu?" Anindi memberanikan diri untuk bertanya. Hatinya sakit melihat Tomi memperhatikan perempuan lain.


Tomi tersenyum, Anindi cemburu, itulah yang dia harapkan.


"Enggak, Mas hanya ingin lihat kamu cemburu." Katanya dengan menatap lekat wajah Anindi, menyeka sisa air mata di sana.


"Apa yang dia kandung itu anak Mas?" Anindi akan mempersiapkan diri jika jawabannya iya. Itu artinya saat menikah dengannya Tomi sudah berhubungan dengan perempuan lain.


"Kamu yang pertama, Sayang. Mas gak pernah melakukannya pada perempuan lain. Anak yang di kandung Dev bukan anakku." Tomi menangkup pipi Anindi, menyatukan kening pada perempuannya.


Anindi menggeleng, "Mas sama dia di hotel." Ucapnya penuh dengan kesakitan.


"Mas khilaf waktu itu Nin. Mas mau tanggung jawab sama dia, tapi ternyata Dev sudah punya suami. Mas gak tau itu dan Mas menyesal. Mas mau minta maaf langsung sama suaminya tapi gak dibolehin Dev. Mas menyesal, Sayang. Hanya kamu yang Mas inginkan. Hari itu Mas kecewa sama kamu, Mas jadiin Dev pelampiasan."


Tomi membenamkan wajahnya di ceruk leher Anindi. Betapa menjijikannya dia, sudah menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Apalagi orang yang sangat disayanginya.

__ADS_1


Semua ini membuat Anindi bingung. Tidak tau harus bersikap seperti apa. Kalau benar perempuan itu bukan siapa-siapa Tomi, dia masih punya kesempatan. Tapi apa Anindi bisa kalau Tomi masih dekat dengan Devina. Itu akan menjadikan masalah dikemudian hari.


__ADS_2