
“Arraz mau mimi Sayang?” Anindi mengajak bicara baby boy itu sambil senyam-senyum sendiri. Jangan ditanya kemana orang tuanya, ayah Arraz pasti lagi minta dimanja Khalisa.
“Mas, boleh minta tolong ambilkan susu Arraz di kamar Ghani, tapi ketuk pintu dulu pasti mereka lagi pacaran.” Pinta Anindi pada suaminya yang baru selesai mandi.
“Haus boy?” Tanya Tomi mendekati Arraz yang berada dalam gendongan Anindi lalu mengecupnya di pipi, kemudian mencuri satu kecupan di pipi Anindi.
“Mas, basah iiih. Kebiasan habis mandi rambutnya gak dikeringin.” Omel Anindi, membaringkan Arraz di tempat tidur lalu mengeringkan rambut Tomi.
“Sengaja, biar sekalian kamu pijetin.” Sahut Tomi dengan cengiran.
“Yang gak baik itu jangan dibiasakan, masa setiap habis mandi harus selalu diingatkan.” Ucap Anindi kesal, matanya sambil mengawasi Arras yang mengecap-ngecap bibir.
“Iya Sayang,” Tomi tersenyum lagi.
“Iya-iya aja terus, tapi gak pernah dikerjain.” seru istri Tomi itu sewot.
“Kamu tuh lebih gemesin dari Arraz kalau ngoceh gini,” Tomi menjepit bibir Anindi yang masih terus mengomel.
“Udah selesai, sekarang ambilin susu Arraz.” Anindi meletakkan handuk yang di pegangnya. Tidak menghiraukan Tomi yang mengamatinya sambal tertawa kecil.
“Bibimu itu kenapa Sayang, sejak ada kamu jadi suka marah-marah sama paman. Apa cintanya sudah berpindah ke kamu semua, hm.” Tomi menciumi gemas pipi Arraz sampai wajah mungil itu cemberut hampir menangis.
“Mas, aku minta tolong ambilin susu. Kenapa malah gangguin Arraz!!” Kesal Anindi, kalau menangiskan dia yang dibuat repot.
Tomi hanya menyengir, sekali lagi menciumi Arraz sampai baby boy itu benar-benar menangis. Baru dia kabur dari kamar sebelum istrinya ceramah lebih panjang lagi. Lelaki itu sambil bersiul-siul masuk ke kamar Ghani, lupa pada pesan Anindi.
“Astaghfirullah!” Pekik Tomi melihat orang tua Arraz itu sedang melakukan adegan terlarang di mata jomblo, untung dia sudah sold out.
“Kalian ya enak-enakan pacaran lupa sama anak yang kehausan,” omel Tomi sambil berkacak pinggang persis emak-emak yang sedang memarahi anaknya karena kebanyakan main game.
__ADS_1
“Ih, Abang sih pake bawa Arraz kabur. Jadi aku belum selesai ngasih ASI-nya.” Rengut Khalisa pada suaminya, Ghani hanya tersenyum menyapu sudut bibir Khalisa dengan jemarinya.
Tomi geleng-geleng kepala dengan adik sepupunya itu. Jelas dia tau siapa yang mengusir Arraz dari kamar megah ini demi dapat bercinta tanpa gangguan si bocah kecil.
“Tinggal kasih susu apa susahnya sih Tom,” Ghani berdecak mengambilkan stok ASI di kulkas menyerahkannya pada Tomi.
“Dasar ayah lucknut!!” Umpat Tomi mengambil ASI itu lalu pergi. Kalau mereka menambah anak lagi, sudah bisa dipastikan dialah yang akan direpotkan.
"Kasihkan ke bundanya aja kenapa sih Nin, biar kita aja yang pacaran." Tomi meletakan ASI dan peralatannya dengan wajah masam di atas nakas.
"Tolong rendamin diair hangat sekalian Mas," ujar Anindi yang menimang Arraz di gendongan, baby boy itu sudah berhenti menangais.
"Udah dibilangin ketok pintu dulu. Pasti main nyelonong masuk makanya cemberut gitu," tebak Anindi.
Dengan malas Tomi melakukan apa yang istrinya itu titahkan. Setelahnya ia duduk di belakang Anindi melingkarkan tangan di pinggang ramping itu sambil mengendus-endus di leher, tidak mau kalah dengan Arraz.
“Mas ada Arraz loh ini,” protes Anindi. Badannya seperti kena setrum, akibat ulah sang suami. “Sebentar lagi juga maghrib mending siap-siap ke masjid gih.”
Anindi menggeleng tegas, tau apa yang dimau suaminy itu. “Bentar lagi maghrib,” ulangnya mengingatkan.
“Sebentar aja Sayang,” bujuk Tomi dengan ekspresi minta dikasihani.
“Aku gak suka nanggung,” ucap Anindi sengaja mencari alasan. Memberikan kecupan singkat di bibir Tomi.
“Cuma segitu, gak dikasih bonus nih?” ujar Tomi cemberut.
“Bonusnya nanti Mas Suamiku sayang, kalau Anincake dapat untung besar.” Jawab Anindi jutek, kalau sudah ada maunya susah sekali dibujuk. Perasaan dulu tidak seperti itu, kenapa sekarang suaminya ini jadi bayi besar yang sangat manja.
“Nggak bisa,” tanpa persetujuan pun Tomi tetap menyesap leher Anindi. Menutup mata Arraz dengan telapak tangannya. Gerakan cepat itu membuat Anindi menggeliat geli, sebisa mungkin mulutnya tidak mengeluarkan suara apapun. Karena tangan Tomi sudah mulai nakal.
__ADS_1
“Mas, ada Arraz.” Anindi mengingatkan dengan napas yang turun naik.
Tomi menjeda aksinya meletakkan Arraz di tempat tidur lalu menarik Anindi ke sofa. Tidak peduli dengan istrinya yang terus menolak menggunakan berbagai macam alasan.
“Hm, bentar ajakan.” Ujar Tomi dengan senyum pepsodent, Anindi tidak menjawab menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Untung Arraz tidak protes, padahal Anindi berharap baby boy itu melakukan protes dengan menangis kencang.
“Tom, buka pintu!” Ghani mengetuk pintu kamar dengan keras karena terkunci dari dalam.
“Masuk,” sahut Tomi setelah memasangkan jilbab Anindi dan membuka pintu lewat remot.
“Kalian habis ngapain, lama banget buka pintunya?” Kepo Ghani melihat Tomi yang berkeringat, “astaghfirullah salah tempat nitip Arraz.” Decaknya, mengangkat sang putra yang tertidur. Susu yang tadi diambil Tomi pun belum sempat dikasihkan.
“Cepat mandi sana, sepuluh menit lagi azan!” Peringat Ghani sebelum meninggalkan kamar pasangan itu.
Tomi hanya mengendikkan bahu acuh, “ayo mandi lagi Sayang,” ajaknya. Padahal dia baru mandi, terpaksa harus mandi lagi gara-gara ulah si kecil yang nakal. Suka bangun disaat yang tidak tepat.
"Mas aja mandi duluan, aku ngantuk." Jawab Anindi lesu setelah mendapatkan serangan senja.
"Eits, maghrib Sayang. Mandi dulu baru sholat." Tomi menahan kepala Anindi yang ingin bersandar dengan nyaman di sofa.
"Kan Mas yang cari gara-gara, udah kubilang nanti." Ujar Anindi cemberut.
"Gimana dong, dia yang bangun sendiri. Ayo sama Mas, kita mandi." Bujuk Tomi, membawa istrinya itu berdiri. Perempuan itu menggeleng malas.
"Mandi Sayang," Tomi menggendong Anindi ke kamar mandi memandikannya dengan paksa. Sampai mata itu melek karena ia menyiram dengan air dingin.
"Mas dingin!" Anindi merengek-rengek.
"Sebentar aja Sayang, biar hilang ngantuknya." Dia yang berbuat, jadi dia juga yang harus bertanggung jawab.
__ADS_1
"Udah segarkan," Tomi mengecup mta Anindi yang masih basah. Dia sangat suka kalau istrinya bersikap manja seperti ini, otomati akan jadi sangat penurut.
"Sekarang pake baju, gantian Mas yang mandi." Tomi memberi aba-aba seperti sedang memandikan anak kecil. Bibirnya tersenyum manis dalam hatinya selalu terselip doa semoga Allah segera menitipkan kepercayaan pada mereka untuk memiliki buah hati.