Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
87


__ADS_3

Setelah kejadian disiram darah di pasar pagi tadi, Khalisa tidak mau keluar kamar sampai malam. Istrinya itu merengek mau pulang ke rumah ayah.


"Jadi mau nginap di rumah ayah?" Tanya Ghani, sejak Khalisa keluar dari rumah sakit Ghani memang belum ada ke rumah mertuanya. Lebih sering mereka yang mengunjungi.


"Jadi." Katanya dengan mengangguk-angguk, seperti pajangan dashboard mobil saja.


"Sekarang?" Tanya Ghani usil, terkadang dia rindu Kha-nya yang cerewet dan nakal. Pipi cubby itu menggembung lalu menggeleng, kemudian mengangguk.


Siapa yang tahan dengan tingkah yang menggemaskan itu. Ghani mengacak gemas rambut Khalisa. Syukurlah sudah mau berekspresi lagi, tidak seperti tadi siang yang tidak mau lepas dari pelukannya.


"Abaangg!" Seru Khalisa nyaring, "rambut Kha rusak," kesalnya menghentak-hentakkan kaki lalu meninggalkan kamar.


"Eh, eh. Kemana Sayang, jilbabnya gak dipake." Panggil Ghani tapi Khalisa tidak mau mendengarkan.


"Guntur!" Panggil Khalisa nyaring. Orang yang merasa terpanggil berlari mendekat.


"Kenapa gak pake jilbab, Kha. Nanti Abang marah. Sana masuk." Usir Guntur, Khalisa semakin cemberut dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu duduk di anak tangga, membenamkan wajah diantara kedua lutut.


"Sayang!" Ghani mendekati istrinya lalu memasangkan jilbab kaos instan. "Maafin Abang," katanya sambil menahan tawa.


"Nggak mau, Abang nakal. Abang jahat. Kha gak mau sama Abang. Kha mau sama Guntur aja." Amuknya lalu berlari mendekati Guntur yang tidak jauh dari tangga.


"Guntur, peluk." Rengeknya sambil menangis.


"Gha, Gha istri lo meresahkan." Pekik Guntur beringsut mundur menghindari pelukan Khalisa. Ghani mendesah frustasi, salahnya sudah membuat istri polosnya ini merajuk.


"Uh, Sayangnya Abang. Ngambek lagi." Ghani menangkap istrinya lalu menggendong ke kamar.


Sekarang Guntur bisa bernapas lega sambil mengelus dada, setelahnya dia tertawa terpingkal-pingkal. Istri polos Ghani itu bisa meresahkan imannya.


"Drama menjelang malam lagi?" Tegur Tomi pada Guntur. Si empunya mengiyakan masih dengan tawanya.


"Istri polos Ghani itu sangat meresahkan, takut gue gak kuat iman." Desisnya lalu kembali ke kamar.


Tomi hanya bisa mengelengkan kepala, dia juga sudah tidak bisa berpikir lagi kalau menghadapi kemanjaan adik iparnya itu. Selalu ada drama di setiap pagi, siang, sore. Sudah seperti minum obat tiga kali sehari.


"Kha boleh marah sama Abang, tapi gak boleh keluar kamar tanpa jilbab. Kha juga gak boleh minta peluk orang lain." Tegas Ghani setelah mendudukkan Khalisa di ranjang. "Kha paham?" Tanyanya lembut.


"Enggak! Abang jahat." Ucapnya masih dengan nada ketus.


Ghani mengelus dada, dia memasangkan istrinya jaket lalu menggendongnya. Saat merajuk seperti ini Khalisa susah diajak bicara.


"Abang turunin, turun. Jangan buang Kha. Abang, Kha janji gak nakal lagi." Teriaknya sambil menangis ketakutan.

__ADS_1


Ghani menurunkan istrinya dengan wajah cengo, dia tidak berniat membuang istrinya sendiri. "Siapa yang mau buang, Kha. Abang mau ajak Kha ke rumah ayah," jelasnya pelan.


"Huuu huuu, jangan buang Kha." Ulangnya lagi, Ghani membawa istrinya dalam pelukan. Dia masih belum gila kan sekarang? Mungkin sebentar lagi.


"Abang sayang sama Kha, gak mungkin buang Kha, Sayang." Ujar Ghani menenangkan. "Ya udah mau jalan sendiri ke mobil apa di gendong?"


"Gendong."


Nah kan, apa yang salah dengan Ghani. Duh Gusti, tolong siram kepala Ghani yang mulai memanas ini.


"Ya udah, ayo Abang gendong." Ucapnya seperti membujuk anak kecil, Ghani menggeleng seraya menarik napas pelan. Yang menyaksikan jadi ingin tertawa dan kasihan.


"Mah, Pah, aku nginap di rumah ayah." Pamitnya saat melewati kedua orang tuanya yang menonton televisi di ruang tengah.


"Hati-hati, jaga menantu Mama," pesan Mira.


"Mama cuma peduli sama menantu aja, anaknya enggak." Decak Ghani lalu melenggang pergi melewati ruang tengah. Harap bersabar, ini ujian. Seakan jidat Ghani sudah bertulisan seperti itu.


"Kha mau jalan-jalan dulu?" Tawar Ghani saat mereka sudah di mobil.


"Kha takut, ada orang jahat."


Lelaki itu mengusap pipi Khalisa lembut sebelum menjalankan mobilnya. Hari ini berapa kali sudah mata ini menangis, Ghani menghilangkan jejak air mata di sana.


"Kita langsung ke rumah ayah kalau Kha takut." Ujar Ghani menepuk pelan puncak kepala istrinya lalu menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


"Kha suka?"


"Suka, boleh bawa pulang?"


Ghani tertawa kecil mendengar pertanyaan istrinya itu. "Itu gak bisa dibawa pulang, Sayang." Jelasnya dengan lembut.


"Huum," Khalisa menggembungkan pipinya tanda mengerti.


Braakk,


Suara hantaman keras pada mobil Ghani.


Ciitt!


Lelaki itu lekas menginjak rem mendadak sebelum mobilnya menghantam pohon besar.


"Abaaanggg!" Teriak Khalisa ketakutan.

__ADS_1


"Allahu Akbar." Pekiknya setelah berhasil mengendalikan mobil yang oleng dan membuat kemacetan di jalan raya. Ghani lekas melepas sabuk pengaman, memeluk sang istri yang menagis ketakutan untuk menenangkan. "Sayang, tenang! Kita selamat."


"Abang takut, Kha mau pulang." Ucap Khalisa ditengah isak tangis dengan tubuh yang bergetar karena goncangan dalam mobil tadi.


"Iya kita pulang, Sayang."


Ghani menoleh, kala pintu mobilnya diketuk, lelaki itu membuka kaca mobil.


"Bagaimana keadaan kalian?" Tanya seorang bapak-bapak yang mendekati mobilnya.


"Alhamdulillah kami baik Pak," jawab Ghani dengan tersenyum.


"Syukurlah, mobilnya rusak parah, Nak. Ayo saya antar pulang," tawar bapak itu.


"Makasih Pak bantuannya, saya nunggu jemputan." Ujar Ghani, padahal dia belum menghubungi Tomi. Bapak itu mengangguk lalu meninggalkan mobilnya.


"Ada yang sakit, Sayang?" Ghani beralih menatap sang istri.


Khalisa menggeleng dalam pelukan Ghani. Syukurlah dia masih bisa mengendalikan mobilnya. Hantaman keras tadi cukup membuat mobil Ghani oleng.


Allah, kalau sampai Kha masuk rumah sakit lagi. Ghani tidak tau apakah istrinya itu masih bisa bangun lagi atau tidak. Dia sangat takut memikirkan itu.


Setelah Khalisa lebih tenang Ghani menghubungi Tomi untuk menjemputnya. Dia juga mengabari mertuanya kalau tidak jadi menginap. Biar mereka saja yang menginap di rumah, itu lebih baik.


Sambil menunggu Tomi, Ghani berpindah duduk agar bisa memangku istrinya.


"Ya Allah, terimakasih sudah melindungi mereka malam ini." Lirih Ghani dalam hati, lagi-lagi keajaiban Allah, dia masih bisa bersama Khalisa.


"Abang, di luar banyak orang jahat. Kha takut," cicitnya. Ghani hanya bisa menenangkan. Diapun tidak tau siapa orang jahat yang tidak berhenti mengincarnya.


"Orang baik selalu ditolong Allah. Kita harus jadi orang baik agar selalu ditolong Allah." Ujar Ghani meyakinkan istrinya.


"Apa kita orang baik?" Tanya Khalisa polos.


"Tidak ada orang baik yang mengaku baik, Sayang."


Khalisa tidak paham apa yang diucapkan suaminya terlalu tinggi, otaknya tidak sampai. Dia sudah berhenti menangis. Kata Ghani air matanya bisa kemarau kalau kebanyakan menangis.


"Kha takut Abang luka, Kha takut Abang tidur gak bangun-bangun lagi. Kha takut Abang pergi tinggalin Kha, karena Kha nakal." Lirih Khalisa, Ghani menghela napas panjang. Kalau kondisinya dibalik dia juga takut Khalisa tidur tidak bangun lagi.


"Kha gak nakal, Abang akan selalu menemani Kha semampu Abang, Sayang."


Khalisa mengangguk, "Abang, kenapa lama. Kha takut di sini."

__ADS_1


"Sabar Sayang, bentar lagi Tomi sampai. Kamu tidur aja biar gak takut lagi." Bujuk Ghani membetulkan posisi duduk istrinya agar bisa tidur dengan nyaman.


Gadis itu menurut patuh membenamkan wajahnya di dada bidang Ghani.


__ADS_2