
Suasana di depan ruang operasi hening, Mira duduk di samping Ghani menggenggam erat tangan putranya. Wajah Ghani pucat dengan mata merah dan bibir bergetar tergambar jelas ketakutan pria itu. Bisa dibilang air matanya sudah kering karena tidak ada isak tangis lagi.
Setelah dua jam berlalu Haris datang dengan kondisi masih lemas. Lelaki paruh baya itu duduk di samping Nina. Malam semakin larut namun belum ada dokter yang mengabarkan operasi telah selesai. Ghani terus berdoa dalam diamnya, Khalisa segalanya untuk Ghani. Dia tidak sanggup melihat istrinya meregang nyawa seperti ini.
Ceklek
Ghani mendekat ke arah dokter yang baru keluar dari ruang operasi. Dia ingin berita yang keluar dari mulut dokter itu kabar baik. Melihat gurat kesedihan pada wajah dokter membuat Ghani ingin berteriak.
"Bagaimana istri saya dok?"
"Operasinya berjalan lancar, pelurunya cukup dalam hampir —"
"Jangan katakan apapun, cukup katakan istriku baik-baik saja." Teriak Ghani, dokter paruh baya menggeleng lemah. Tidak bisa dikatakan baik-baik saja, kalau pasiennya kritis.
"Pasien kehilangan banyak darah, alhamdulillah pelurunya tidak tepat di bagian jantung. Istri anda mengalami koma, masih belum bisa dijenguk." Setelah mengucapkan dokter paruh baya itu berlalu pergi.
"Aargghh." Ghani luruh di lantai, lututnya lemas tak memiliki kekuatan untuk berdiri lagi. Air matanya berhasil lolos kembali. Kekasihnya sekarang terbaring lemas tak berdaya, apa yang bisa dilakukannya sekarang untuk memastikan Khalisa tetap hidup. Zaky dan Guntur membantu Ghani duduk di kursi tunggu.
"Kenapa harus Kha, kenapa? Kenapa bukan aku saja." Ghani menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis masih terdengar, lebih pilu dari sebelumnya. "Sayang, jangan seperti ini kamu harus bangun. Kita akan pulang."
Ghani menatap istrinya yang terbaring lemah dari balik pintu kaca. Khalisa sudah dipindahkan ke ruang ICU. Hari sudah berganti sekarang pukul dua dini hari, belum ada sedetik pun Ghani terpejam. Anindi, Zaky, Mama Papa sudah pulang. Tomi dan Guntur masih bersama dengannya juga kedua mertuanya.
Bukan hanya Ghani yang bersedih, orang tuanya juga pasti jauh lebih sedih. "Bangun Sayang," ucapnya sambil tersenyum pilu lalu beranjak pergi. Tomi dan Guntur mengikuti, takut Ghani bertindak gegabah yang dapat membahayakan nyawanya. Ternyata mereka salah perkiraan, Ghani menuju mushola lalu berwudhu.
Tidak ada yang bisa mempercepat kesembuhan Khalisa selain Rabbnya. Istrinya masih bernapas meski dengan bantuan peralatan itu sudah alhamdulillah. Masih ada harapan untuk gadisnya sembuh.
Selesai sholat tahajud di tutup witir Ghani menengadahkan tangannya. Siapa lagi yang bisa membantunya kalau bukan Allah. Mau menyalahkan takdir? Tidak ada gunanya, semua terjadi atas kehendak Allah.
"Ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim aku menyayangi istriku tapi Engkau jauh lebih menyayanginya. Aku—aku bukanlah hambamu yang taat, aku bergelimang dosa. Aku memohon pengampunanmu, jika musibah yang menimpa istriku karena kesalahanku maka ampuni aku. Jangan hukum Kha atas kesalahanku. Jangan ambil istriku sekarang Ya Rabb, aku mencintainya, aku akan membahagiakan dan menjaganya. Aku tidak akan menyakitinya lagi, tapi tolong sembuhkan dia Ya Rabb." Ghani tak kuasa menahan tangisnya, air mata membasahi seluruh wajahnya. Dadanya bagai tertikam, sangat perih melihat istrinya melawan maut.
"Allah, aku belum siap kehilangannya, aku belum sempat membahagiakannya. Walau Engkau sangat menyayanginya namun jangan jemput sekarang ya Rabb." Ghani tergugu dalam tangisnya, dia lelah menangis, hatinya sakit. Berulang kali diucapkannya saat ini hatinya sedang sakit, sangat sakit. Bahkan tidak bisa digambarkan dengan apapun. Ghani bersimpuh di atas sajadah, karena terlalu lelah dia tertidur.
__ADS_1
Tomi dan Guntur sudah satu jam menunggu di luar mushola tapi Ghani tidak keluar juga mereka memutuskan untuk mencek langsung. Menemukan Ghani dalam keadaan tertidur, tubuhnya lemah dengan mata yang bengkak.
Untunglah Ghani tidur ditepi, kalau di tengah-tengah mushola akan mengganggu jamaah lain yang ingin sholat. Akhirnya Tomi dan Guntur juga memutuskan untuk tidur sebentar menunggu subuh datang.
"Abang kenapa menangis, kalau abang menangis jadinya jelek." Khalisa mengusap air mata yang membasahi pipi Ghani.
"Jangan tinggalin Abang, Sayang. Abang kesepian kalau jauh darimu." Khalisa menggeleng dengan senyuman yang sangat manis.
"Aku tidak pernah pergi, selalu ada di sini." Khalisa menempelkan telapak tangannya di dada Ghani, "aku selalu ada di hati Abang, tidak pernah jauh."
"Sini Sayang." Ghani merentangkan tangan pada Khalisa yang mendekati, namun belum sampai Ghani memeluk, gadis itu menggeleng lemah dengan senyum khasnya kemudian menjauh. "Sayang jangan tinggalin Abang." Ghani ingin mengejar, tapi kakinya kaku tak dapat bergerak. "Sayang jangan tinggalin Abang." Teriak Ghani nyaring.
Tomi membuka mata lalu duduk mendengar suara teriakan Ghani. Ghani melambai-lambaikan tangannya seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggalkan, keringat mengucur deras di keningnya. Guntur juga ikut terbangun, telinganya berdengung karena teriakan Ghani.
"Gha bangun." Tomi menepuk-nepuk pipi Ghani sampai si empunya sadar. Napasnya terengah-engah seperti habis lari maraton. Setelah beberapa menit kemudian Ghani duduk melirik jam ditangannya. Sebentar lagi azan subuh, Ghani menghela napas panjang.
"Mimpi apa?" Tanya Guntur penasaran dengan mata yang masih enggan terbuka.
Tomi dan Guntur menegang mendengarnya tepat saat azan subuh berkumandang. Mereka bertiga membersihkan diri lalu melaksanakan sholat berjamaah.
Setelah selesai mereka kembali untuk bergantian sholat dengan Haris dan Nina. Tubuh Ghani sudah lebih segar setelah sholat. Dia enggan duduk, ingin menatap istrinya setiap saat.
"Gha kita pulang dulu sebentar." Ajak Tomi, Ghani menangguk, berpamitan dengan Haris dan Nina. Sebentar lagi mama dan Anindi datang, mereka bergantian jaga. Di depan ruang ICU sudah ada dua bodyguard yang menjaga. Bukan waktunya Ghani mementingkan ego sendiri. Sekarang saatnya melumpuhkan musuh yang sudah keterlaluan, dia tidak akan tinggal diam.
"Saatnya kita bertindak Gha."
"Ya, Guntur pinjam hp."
Guntur menyerahkan ponselnya pada Ghani, Ghani terlalu panik tadi malam jadi tidak ada benda apapun yang dibawanya. "Siapa pemilik rumah yang berhadapan langsung dengan kamarku?"
"Belum tau, hari ini aku bereskan," ujar Guntur.
__ADS_1
"Sangat kecil kemungkinan kalau pelaku membidik dari tamankan?" Ghani bertanya lagi.
Tomi mengangguk. "Yah, kalau tidak dari rooftop atau balkon."
"Apa Papa sudah bertindak?"
"Mungkin, sama sepertimu kami belum bicara banyak karena terlalu panik," jelas Tomi.
"Yeah, tanganku gatal sekali ingin main tembak-tembakan." Ghani menyeringai, senyuman jahat yang dia sembunyikan membuat Tomi bergidik menatap dari kaca spion. "Rupanya mereka belum puas kalau belum bermain langsung dengan Ghani, sampai harus menyakiti kesayangan Ghani." Kali ini Guntur yang merinding mendengarnya.
"Kamu pasti sudah memperketat keamanankan?" Tanya Ghani pada Guntur.
"Yes."
"Lalu kamu Tom?"
"Aku akan mengawasi dalam penyidikan, Zaky sudah menghubungi Dimas untuk membantumu nanti."
"Oke." Ghani menyandarkan kepala dikursi dengan mata terpejam. Pikirannya masih melayang pada istrinya yang tak berdaya.
Huhh! Ghani menarik napas lalu menghembuskan dengan kasar, berulang kali dilakukannya untuk mengusir rasa sesak yang enggan pergi.
Bertahan Sayang, jangan tinggalkan Abang sendirian. Jangan pergi Sayang, bertahan dan kuatlah dalam melawan sakitmu. Abang di sini juga berjuang untuk membalaskan rasa sakit yang kamu rasakan Kha.
"Gue mau istirahat sebentar, nanti kalau Dimas sudah datang bangunkan." Pinta Ghani setelah keluar dari mobil, langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selepas mandi Ghani berdiri di balkon, sudah tidak ada lagi ceceran darah Khalisa di sana. Matanya menatap tajam rumah yang berhadapan langsung dengan kamarnya, jaraknya cukup jauh.
Mata Ghani enggan terpejam, walau kepalanya sudah sangat berat. Dia harus istirahat agar bisa menemukan bajingan pengecut itu. Ghani tidak bisa menghadapi musuh dengan kondisi kacau seperti ini.
"Berjuanglah Sayang agar kita bisa kembali bersama dan hidup bahagia bersama anak-anak kita nanti. Kita akan bersama Sayang selamanya."
__ADS_1
Kamu harus kuat Gha, jangan lemah seperti ini. Kha perlu kamu. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Ghani tersenyum simpul setelah menasehati dirinya sendiri. Perlahan matanya tertutup, kalah dengan kantuk yang enggan pergi sebelum empunya beristirahat.