
Tomi memainkan rekaman dari ponselnya. Semua yang ada di ruangan menyimak dengan tegang.
"Dia harus menderita seperti apa yang sudah mereka lakukan. Kamu harus memberikannya padaku." Terdengar suara seorang perempuan paruh baya.
Hening...
"Masih aku usahakan, sulit untuk menembus pengamanan mereka."
"Ini demi putri kita."
Suasana kembali hening...
"Ya, aku tau. Aku sudah melakukannya sesuai maumu. Tapi anak itu terlalu cerdas."
"Ubah rencana kalau masih belum berhasil juga. Aku tidak hanya ingin melihatnya gila. Tapi mati secepatnya."
Rekaman suara selesai, suasana di ruangan menjadi hening.
"Putri? Maksudnya Clara putri Paman Luthfi." Ghani menyimpulkan pembicaraan singkat dalam rekaman itu.
"Luthfi memang mempunyai anak dari perempuan lain. Tapi identitas mereka ditutup rapat sehingga tidak ada yang mengetahui. Termasuk kami dan keluarganya sendiri." Jelas Emran, dia tidak menyangka hal itu malah menjadi bumerang untuk keluarganya sendiri.
Suasana kembali hening.
Rekaman itu membawa pada satu kesimpulan, penculiknya adalah Paman Luthfi. Tidak diketahui motif sebenarnya apa selain balas dendam, tapi kenyataannya seperti itu. Atau ada dalang lain di balik semuanya.
"Mereka ada di pinggiran kota, gedung tua yang dulu pernah kita datangi saat mencari Anindi." Terang Guntur setelah melacak keberadaan Luthfi.
"Dendam apa Luthfi sampai menculik Anindi juga, kita tidak punya masalah padanya." Tidak ada yang menjawab ucapan Emran. Karena memang tidak ada yang tau jawaban persisnya. "Berapa jauh jaraknya Tur?" tanya Emran.
"Kita perlu waktu dua jam sampai ke sana, sangat beresiko." Jawab Tomi, "Guntur hubungi polres setempat untuk segera ke titik lokasi. Kita tidak boleh terkecoh seperti pencarian Anindi dulu. Polanya sama, pelakunya orang yang sama," terang Tomi. Ah, ingat Anindi membuat hatinya berdenyut nyeri kembali.
__ADS_1
"Zaky, siapkan helikopter. Kita tidak boleh terlambat. Kha sedang hamil," ucap Emran cemas.
"Siap Pah." Zaky meninggalkan ruangan, Tomi, Guntur dan Ghani melongo. Jadi papa sudah punya helikopter. Mereka belum tau, malah menantunya yang tau duluan. Sungguh terlalu.
"Guntur, kamu susul pakai mobil bersama polisi," saran Emran.
"Yaaah," Guntur mendesah lemas, "gak ngerasain helikopter baru deh." Keluhnya memelas. Suasana genting masih saja bercanda.
"Sebaiknya Guntur tidak ikut, cukup standby di sini. Ingat waktu kejadian Anindi. Jangan sampai terkecoh lagi." Usul Tomi, Guntur mengangguk paham.
***
Khalisa mengerjapkan mata, tadi dia keluar rumah karena ada paketan yang datang. Dia pikir dari Nina, karena kemaren ibunya mau datang ke rumah tapi tidak jadi. Nina berjanji mengirimkan makanan kesukaannya pakai ojol.
Saat Khalisa keluar pintu gerbang, supir ojol itu membekapnya dari belakang. Sekarang dia tidak tau sedang ada dimana. Tempatnya sangat mengerikan.
"Gha, aku takut." Lirih Khalisa dengan tangan dan kaki terikat, "Ya Allah jangan biarkan ada orang jahat yang mengambil anakku lagi." Dia tidak boleh lemah, siapapun penjahat itu tidak boleh melihatnya sedang ketakutan.
"Pak Luthfi!" Mata Khalisa membola melihat sosok lelaki yang berdiri di tengah pintu bersama dengan seorang perempuan paruh baya. Dia tidak mengenal perempuan itu siapa.
"Kaget!"
"Tidak!" Tegas Khalisa, walau sebenarnya dia sangat terkejut. Sosok lelaki yang sangat berwibawa dan menjadi panutan ternyata punya sisi lain sejahat ini.
"Saya pikir hanya ada dalam sinetron orang baik memiliki sisi lain sebagai penjahat. Ternyata tidak, di depan saya contohnya!" Khalisa tersenyum miring, perempuan paruh baya itu sampai terperanjat karena ucapannya yang berani walau dalam posisi terikat.
"Kamu berani juga Kha!" Puji Luthfi dengan setengah tertawa.
"Kalau saya pengecut Ghani tidak akan memilih saya menjadi istrinya." Ucap Khalisa tanpa gentar, menutupi ketakutannya. "Oh ya, sebagai istri keponakan anda." Pempuan hamil itu mengingatkan.
"Ya benar, Ghani sangat cerdas makanya memilihmu. Tapi setelah ini dia tidak akan pernah melihatmu lagi." Khalisa tercekat, meneguk ludah kasar. Sejenak dia membeku lalu mengembalikan ekspresinya untuk tetap terlihat tenang.
__ADS_1
"Saya juga baru tau anda ternyata mempunyai obsesi menjadi Tuhan, sampai ingin menentukan takdir saya dan Ghani." Senyuman lebar tercetak dari bibir Khalisa.
"Sudah puas bicaranya, hah!" Perempuan paruh baya itu mendekat dan menampar pipi Khalisa dengan kasar. Khalisa sampai meringis kesakitan, sudut bibirnya berdarah. Tapi dia tetap tersenyum menahan lukanya.
"Anda tidak ada hak melarang saya bicara!" Khalisa berucap lantang di tengah bibirnya yang sakit. Semoga mereka tidak tau kalau dia sedang hamil.
"Kamu pantas mati. MATI! Kamu perenggut kebahagiaan putriku." Khalisa mengernyit lalu tersenyum lagi.
"Mungkin saya perlu menegaskan, kalau anda bukan Tuhan Nyonya!"
"Saya memang bukan Tuhan, tapi kamu akan mati sekarang!" Khalisa memucat, kalimat itu cukup untuk membuatnya down.
"Lakukan! Jika memang anda malaikat pencabut nyawa." Dalam hatinya Khalisa terus merapal doa agar Allah menolongnya, dia ingin Ghani sekarang menjemputnya.
"Luthfi, tembak sekarang tepat di jantungnya. Jangan melesat seperti waktu itu." Perintah perempuan paruh baya itu, Khalisa menarik napas dan terus beristighfar memohon pertolongan. Dia belum siap mati sekarang, dosanya masih banyak. Dia belum memberikan Ghani seorang anak yang lucu dan menggemaskan.
"Itu hukuman karena dia sudah merebut kebahagian putri kita, Clara."
Putri kita? Clara. Apa maksudnya, jadi Luthfi ayah kandung Clara mantan Ghani. Dan perempuan ini ibunya Clara. Fakta itu cukup membuat Khalisa terkejut.
Luthfi mendekat mengeluarkan pistolnya, meneliti setiap inci tubuh Khalisa. "Dia hamil," gumamnya.
"Bagus, Ghani akan kehilangan dua nyawa sekaligus, karena telah mencampakkan putriku. Itu lebih seru." Perempuan paruh baya itu menyeringai jahat. Khalisa sampai merinding, pistol sudah ada di depan matanya.
Mungkin setelah ini dia tidak akan bisa melihat Ghani lagi. Semoga Allah memberikan Ghani kekuatan dan ketabahan saat menyaksikan tubuhnya sudah menjadi mayat nanti.
Hanya memikirkan itu sudah cukup membuat Khalisa lemah. Melihatnya tidur selama dua bulan dan kehilangan ingatan saja Ghani hampir gila. Apalagi kalau dia benar-benar pergi. Allah, dadanya terasa sesak. Siapa yang bisa menolongnya sekarang selain Allah.
"Lakukanlah, tunggu apalagi. Aku akan mengunjungi kalian di neraka nanti." Ujar Khalisa lantang berusaha mengulur waktu dengan memancing amarah dua orang itu. Dia yakin Ghani pasti sedang mencarinya.
"Bicaralah sepuasmu, karena sebentar lagi kamu tidak akan bisa menghirup udara segar." Geram Tyas, "bunuh sekarang Luthfi!" Titahnya tak bisa dibantah.
__ADS_1