Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
49


__ADS_3

"Tenang Sayang." Ghani membaringkan kembali tubuh Khalisa. Menghapus jejak air mata yang jatuh di pipi cantik itu. "Marahlah padaku, tapi jangan pergi lagi."


Ghani mencumbui istrinya dengan pelan sampai Khalisa hilang kendali, ikut menikmati permainannya. Wajah tampan itu tersenyum jahat. Ini yang kamu mau Kha, sampai lari seperti ini.


"Sakit Sayang?" Ghani memeluk kembali perempuan labil di hadapannya.


"Hatiku yang sakit Kak." Lirih Khalisa dengan air mata, "hatiku sakit dengan sikapmu yang seperti ini. Seolah kamu menginginkanku tapi nyatanya kamu hanya memperdayaku." Ghani melongo mendengar ucapan istrinya.


Kenapa Khalisa tau kalau dia hanya berusaha menenangkannya saja, tapi menikmati juga sih.


Ghani masuk ke dalam mata sayu Khalisa yang meringkuk dipelukannya. Rasa bersalah semakin besar, dia begitu kejam memperlakukan adiknya seperti ini. Memanfaatkannya untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Tanpa benar-benar memberikan cinta.


"Kamu mau pergi dariku Kha? Aku akan mengantarmu pulang ke rumah Ayah. Tidak apa kalau kamu tidak mau bersamaku lagi. Maafkan aku yaa." Ghani membangunkan Khalisa memasangkan pakaian dan jilbabnya.


Dengan melepaskannya mungkin Khalisa akan lebih bahagia. "Ayo aku antar pulang. Nanti minum obat penghilang nyerinya ya." Ghani menuntun istrinya keluar kamar menuju mobil, memerintahkan Guntur untuk membawa barang-barang Khalisa.


Ada sesak yang hadir saat Ghani mengatakan ingin mengantar Khalisa pulang ke rumah ayah. Walau dia ingin ditemani setiap malam, tapi terlalu egois jika Ghani menahan Khalisa tidak bahagia dengannya.


Sepanjang jalan dia memeluk Khalisa, mendekap erat perempuan yang sebentar lagi tidak akan bisa dipeluknya.


"Kita ke rumah Ayah, Guntur. Mengantar Kha pulang." Ucap Ghani dengan debaran tidak rela, dia berusaha mempertahankan pernikahannya tapi istrinya bersikeras ingin berpisah. Setelah tiba di rumah Ayah dan memastikan istrinya selamat Ghani langsung pulang.


"Ambillah Kha, Guntur. Jaga dia baik-baik." Kalimat yang sangat sakit untuk diucapkan Ghani. Matanya memerah menahan embun yang ingin keluar.


"Kenapa menyerah Gha?"


"Tidak kuat melihatnya tersiksa denganku. Mungkin ini karma untukku yang sudah mengabaikannya. Antar aku ke rumah, mau tidur."


"Bilang sama Papa, aku di rumah kalau dia ingin menghajarku. Jaga Kha yaa, aku ingin kembali ke Singapura besok."


"Ketemu Clara."


"Tidak, Clara ada di Paris." Sahut Ghani singkat.


"Tempat itu akan membuatmu teringat Clara."

__ADS_1


"Rumah itu menyisakan semua kenangan bersama Kha." Jawabnya sendu.


"Bagaimana kalau Azhar yang mengambil Kha?"


"Setelah menjadikan Kha istri, Azhar tidak akan menyakitinya lagi. Mungkin dia bisa menjaga Kha lebih baik dariku."


"Kamu bertindak dalam keadaan emosi Gha, tenanglah dulu. Ayah pasti bisa membujuk Kha. Kita cari rumah baru, aku akan menemanimu."


"Cepat, aku ngantuk!"


Guntur mempercepat kendaraannya, memarkirkan mobil di depan rumah Ghani. Ghani langsung masuk ke kamarnya berganti pakaian dan meminum obat tidur. Guntur mengamatinya dari balik pintu, dia sudah meminta Tomi untuk segera menyusul.


Setelah memastikan Ghani tertidur, Guntur beranjak ke ruang keluarga yang juga berada di lantai dua. Tidak berapa lama Tomi datang menemuinya setelah melihat Ghani di kamar.


"Kenapa Ghani?"


"Kha sudah ketemu diantar ke rumah Ayah, Ghani bersedia menceraikannya." Terang Guntur lemas. "Dia mau kembali ke Singapura besok."


Tomi tidak dapat berucap apa-apa hanya menarik napas berat dalam diam. Apapun yang dia lakukan tidak akan merubah keputusan Ghani. Adiknya itu tidak mudah untuk dipengaruhi.


***


Ada nyeri di bagian bawah tubuhnya, juga nyeri di bagian hatinya. Pelukan hangat itu tidak akan ada lagi untuknya. Sebentar lagi dia akan menjadi jandanya Ghani.


Khalisa mengambil ponselnya membaca ulang pesan-pesan Ghani. Cuma itu yang dia punya, tidak punya foto berdua dengan Ghani untuk kenang-kenangan selain foto pernikahan. Sebegitu tidak menginginkannya Ghani.


Perempuan itu beranjak dari tempat tidur, menemui sang ayah di ruang kerja, ibu ada di dapur. Dengan manja Khalisa memeluk cinta pertamanya dari belakang. "Ayah, aku sakit." Haris melepaskan pelukan putrinya kemudian membawanya duduk di sofa. Khalisa meringkuk dalam pelukan ayah.


"Aku mau berhenti ngajar ya Yah, boleh aku tinggal di sini."


"Apapun, asal putri ayah tidak sedih lagi. Kamu tidak mencintai Ghani?"


"Sangat mencintainya Yah, tapi Ghani tidak bisa memberikan cintanya untukku, aku tidak bisa membagi suamiku pada perempuan lain Yah." Isak tangisnya sampai bisa didengar ayah.


"Jangan terlalu berharap dengan makhluk Nak, cintai Allah sebelum kamu mencintai hamba-Nya."

__ADS_1


"Bagaimana aku hidup tanpa Ghani Ayah."


"Ada Allah Sayang, jangan takut. Ayah akan menemanimu di sini."


"Bagaimana kalau aku hamil Yah?"


"Ayah akan menjagamu Sayang, tenanglah di sini ada ayah dan ibu." Haris menenangkan Khalisa, salahnya sudah memaksa putrinya menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya.


***


Semua perlengkapan sudah disiapkan, Ghani siap berangkat ke Singapura. Tapi ada yang masih kurang, dia belum izin dengan Khalisa yang masih bersatus istri sahnya.


Dia tidak bisa pergi menggantung Khalisa seperti ini, harus menceraikannya di pengadilan agama agar perempuan itu bisa bebas menikah lagi.


Disiapkannya semua berkas untuk datang ke pengadilan agama. Kemudian menemui Khalisa untuk menandatanganinya. Meski hatinya ragu akan semua ini, dia tidak rela berpisah dari Kha.


Ghani mendatangi kediaman Khalisa bertemu dengan ayah dan ibu mertuanya. Mereka menyambut Ghani masih seperti bisa, seakan tidak ada masalah yang terjadi.


"Ayah, aku minta maaf tidak bisa menjaga putri Ayah dengan baik. Aku tidak akan memaksanya lagi untuk tinggal bersamaku. Sekali lagi mohon maaf Ayah."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Nak, apa kamu sudah mantap melepaskan Kha."


"Itu yang bisa membuatnya bahagia Yah, boleh aku bertemu dengannya sebentar."


"Ibu panggilkan dulu ya Gha." Ghani mengangguk. Nina memanggil putrinya untuk menemui suami yang masih berstatus suaminya.


Ghani mengajak Khalisa duduk di taman samping rumah mertuanya.


"Maafkan kakak ya Kha, maaf sudah menodaimu. Kamu jaga diri baik-baik ya. Carilah kebahagiaanmu." Ghani berusaha menyunggingkan senyuman saat mengatakannya.


"Kalau nanti kamu hamil, kakak akan tetap bertanggung jawab menafkahinya. Carilah lelaki yang bisa membuatmu bahagia. Kakak pamit ya."


"Boleh peluk?" Pinta Ghani, Khalisa tak bergeming. Ghani mengurungkan keinginannya, mengusap puncak kepala Khalisa dan mencium keningnya sekilas sebelum beranjak pergi.


Khalisa mematung ditempat duduknya, ucapan itu seperti membakar tubuhnya yang menyisakan sakit dan perih. Padahal semua ini atas keinginannya, Ghani selalu menolak keinginannya untuk berpisah. Tapi sekarang lelaki itu menyetujuinya.

__ADS_1


__ADS_2