Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
75


__ADS_3

"Guntur!" Si empunya mendekat lalu memborgol dua tahanan, membawanya pulang digiring beberapa bodyguard.


Ghani menormalkan deru napasnya yang memburu, napas pembunuh yang menggelora di dadanya. Belum puas kalau belum membunuh musuh langsung di tempat. Ghani merasakan hatinya kosong, benarkah dia seorang pembunuh sekarang?


"Tom, apa hukuman yang pantas selain membunuh mereka, aku tidak ingin menjadi pembunuh." Ghani menarik rambutnya frustasi, menatap sendu Tomi yang masin bermain ponsel.


"Serahkan pada Ayah Haris Gha, aku sama sepertimu belum puas kalau tidak membuat tikus-tikus itu mati di tempat," ucap Tomi dengan tenang. Ghani mengangguk lalu berjalan menuju pintu ruang ICU, perawat yang tadi pingsan sudah sadar. Tiga dokter yang tadi memeriksa Khalisa juga sudah keluar.


"Saat kamu tak berdaya pun masih ada yang tega ingin membunuhmu Sayang. Kalau tadi terlambat sedikit saja mungkin kamu akan marah dan langsung pergi dariku."


Zaky memejamkan matanya, beberapa hari ini tubuhnya sangat lelah setiap malam ada saja hal tak terduga terjadi. Sama seperti kemaren, malam ini dia belum bisa tidur memeluk putranya Airil.


Tomi beranjak mendekati Ghani yang menatap ke dalam ruang ICU dari balik kaca. Matanya mengisyaratkan kesedihan yang sangat dalam. Seakan begitu lengkap penderitaan yang sekarang sepupunya itu rasakan.


"Dia kuat Gha, Allah selalu menjaganya dari orang-orang jahat. Kha pasti sangat ingin bertemu denganmu, melihat senyumanmu lagi. Temui dia besok, aku yakin dia akan cepat bangun kalau kamu menemaninya." Ghani mengangguk, kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Senyum penuh kepalsuan.


"Tom, apa tidak aneh Azhar dan Clara terang-terangan datang ke sini. Mereka pasti tau kalau tempat ini selalu dalam pengawasan. Mereka tidak senekat itu kalau tidak memiliki rencana lain."


"Kali ini mereka bertindak membawa perasaan Gha, musuh tidak gegabah seperti itu kalau tidak terbawa perasaan."


"Maksudmu?"


"Cinta, orang akan melakukan hal segila apapun demi orang yang dicintainya."


"Kalau Clara mungkin iya, tapi Azhar tidak akan membunuh orang yang sangat diinginkannya Tom."


"Mungkin, bisa jadi kecurigaanmu juga benar ada rencana lain dibalik semua ini." Tomi memikirkan ulang ucapan Ghani, kalau cinta Azhar tidak mungkin membunuh orang yang selama ini sangat dikejar-kejarnya. Itu sangat benar, lalu apa motif dibalik semua ini.


"Waspada, geledah Azhar dan Clara, Tom." Tomi mengangguk, "apa Guntur sudah sampai?"

__ADS_1


"Belum ada kabar." Tomi memainkan ponselnya menghubungi Guntur berkali-kali namun belum dijawab. "Tidak ada pembelotkan Tom?" Ghani menatap Tomi dengan wajah serius. Tomi tak menjawab, jarinya masih memainkan ponsel dengan panik.


Ghani tak bisa tinggal diam langsung menghubungi Emran, sekarang sudah jam satu dini hari, semua orang sudah tertidur. Dering keempat akhirnya ada jawaban, suara serak diseberang telpon membuat Ghani lega.


Namun kelegaannya tidak bertahan lama saat mengetahui Guntur belum sampai. Dia langsung mematikan ponselnya.


"Tom, kemungkinan mereka menangkap Guntur sekarang." Ghani mengepalkan tangannya meninju angin berkali-kali untuk melepaskan kemarahannya. "Zaky bangun!" Ghani menepuk bahu Zaky berkali-kali membangunkan pria itu.


"Ada apa Gha?" Zaky menatap wajah Tomi dan Ghani bergantian, raut khawatir sangat tampak pada keduanya.


"Sampai sekarang Guntur belum sampai Zak, ada dua kemungkinan sekarang. Para bodyguard membelot atau mereka diserang saat perjalanan pulang." Jelas Ghani yang sudah bisa menguasai diri, dia tidak bisa meninggalkan Kha sendirian di sini.


Zaky menegakkan tubuhnya menyerap informasi yang baru didapat dengan mata masih mengantuk. Jarinya dengan lincah memainkan ponsel, membuka akses kamera yang dipasangnya di depan mobil.


"Guntur masih di jalan utama, Tom kirim orang ke sana segera untuk membantu Guntur."


"Proses!" Tomi langsung mengirim perintah pada anak buahnya. Zaky memasukkan ponselnya ke saku. "Lo jaga Kha di sini Gha, kami membantu Guntur dulu dan segera kembali." Zaky menepuk bahu Ghani. Zaky dan Tomi memasuki lift menuju basement.


Guntur sudah babak belur diserang puluhan preman yang mencegatnya di tengah jalanan yang sudah sepi. Dia hanya ditemani tiga bodyguard, satu orang menjaga tawanan. Jadilah hanya dua orang yang bisa membantunya, mereka bertiga saling serang. Belum sempat mengirim sinyal bantuan, Guntur hampir tumbang.


Bodyguard yang menjaga tawanan, dibius oleh salah satu preman dan membantu tawanan untuk kabur. Tapi Guntur tidak akan membiarkan itu, dengan sisa tenaganya dia menendang preman yang ingin masuk kebalik kemudi. Naasnya dia diserang balik mendapatkan tinjuan dan tendangan di perut. Guntur tumbang.


Preman itu bersiap kabur membawa mobil. Namun telat dua puluh orang datang menyerang para preman dengan brutal. Tanpa pikir panjang mereka melayangkan tembakan untuk melumpuhkan musuh. Menarik preman yang ingin kabur membawa mobil Guntur..


Dua bodyguard yang menemani Guntur juga sudah tumbang, mereka kalah jumlah. Zaky dan Tomi datang tepat waktu membawa Guntur masuk ke mobil dan dua bodyguard yang terluka. Tanpa menyaksikan pertempuran selesai Zaky langsung melajukan mobil diikuti Tomi di belakangnya yang membawa mobil Guntur.


"Akhirnya kita berjumpa lagi Clara." Tomi tersenyum smirk membuat Clara tambah ciut. "Kalian kurang perhitungan melakukan penyerangan. Kami belum siap-siap loh, kalian sudah mengibarkan bendera perang. Kami jadi ketakutan." Tomi menggoda dengan suara gemetar, setelah menempuh sepuluh menit perjalanan mereka sampai di rumah keluarga Emran. Tomi memerintahkan para pengawal membawa tawanan lewat belakang.


Zaky membawa Guntur ke kamar dan menelpon dokter. Wajah tampan itu sudah tak berbentuk lagi, kedua sudut bibirnya keluar darah. Biru dan lebam. Papa menyusul ke kamar Guntur, Zaky membersihkan wajah yang penuh lebam itu dengan air hangat. Sudah malam seperti ini semua penghuni rumah sudah tertidur.

__ADS_1


"Kali ini apalagi yang sudah Papa lewatkan?" Emran duduk di sisi ranjang menatap wajah Guntur.


"Azhar dan Clara menyusup ke kamar Kha menyamar sebagai dokter. Alhamdulillah kami bisa bergerak cepat. Saat Guntur dalam perjalanan membawa tawanan di cegat para preman, mungkin bukan benar-benar preman." Jelas Zaky.


"Sekarang dua orang itu dimana?"


"Penjara bawah tanah, sesuai keinginan Ghani." Zaky mengganti pakaian Guntur, setelah selesai dia duduk di samping Emran. "Papa kenapa tidak bertindak?" Tanyanya hati-hati.


"Papa ingin melihat sejauh mana kemampuan anak dan menantu Papa dalam menangani masalah."


"Tapi ini bukan masalah sepele Pah, ini menyangkut nyawa menantu kesayangan Papa." Emran tersenyum, "buktinya kalian sudah melakukan tugas dengan baikkan?"


"Apa Papa masih ingin melihat kami bermain-main?" Tanya Tomi yang sekarang berdiri di depan pintu. "Papa bahkan sudah tau siapa dalang dibalik semua ini."


"Haruskah menunggu satu nyawa menghilang baru Papa melakukan tindakan, aku yakin saat itu terjadi Papa akan hidup dalam penyesalan selamanya." Tambah Tomi dengan bersedekap di dada.


"Kalian ingin Papa bertindak terang-terangan, yang akan membahayakan lebih banyak nyawa? Papa tau kalian pasti tidak menginginkan itu, seperti mereka yang menggunakan anak-anaknya sebagai umpan. Begitu juga Papa. Hanya mengikuti permainan ini." Perdebatan terhenti saat dokter Rizal datang, beliau masuk ke kamar dengan tersenyum.


"Anak Ayah sudah jadi laki-laki sekarang." Ucapnya dengan santai, "hei kamu pingsan apa tidur sih."


"Berharapnya pingsan Pah, tapi jiwaku terlalu cemen kalau pingsan. Jadi aku tidur aja, ngantuk." Guntur menyengir dengan menahan perih bibirnya yang terluka. Saat babak belur begitu, Guntur masih bisa bercanda.


"Bisa-bisanya lo bikin gue panik Tur." Zaky melempar guling ke tubuh Guntur.


"Buseet sakit bego, badan gue benaran babak belur." Keluh Guntur.


"Bodo amat." Zaky beranjak meninggalkan kamar Guntur, "gue nengok Airil bentar baru kita kerumah sakit ya Tom."


"Mandi dulu Zak kalau mau ketemu anak lo."

__ADS_1


"Dahlah mending besok aja dari pada mandi malam begini." Zaky balik badan menarik tangan Tomi. Mereka sampai di rumah sakit pukul tiga pagi.


__ADS_2