
Berhari-hari Azhar tidak mendapati Khalisa di kampus, semua rekan kerjanya pun tidak ada yang tau. Dia tidak punya nyali untuk mencarinya Khalisa ke rumahnya. Sudah pasti akan diusir. Semua orang sudah tau apa yang pernah dilakukannya pada Khalisa.
Azhar mendatangi Ardi—papanya yang sedang menonton televisi, ikut duduk di sampingnya.
"Pah, tau Ghani di mana?" tanya basa-basi. Papanya pasti tau di mana Ghani berada.
"Di Singapura."
"Sama Khalisa, sudah beberapa hari dia gak ada di kampus." Azhar ingin memastikan kalau Khalisa memang ikut bersama Ghani.
"Hati-hati Azhar, beruntung kamu tidak mendekam di penjara. Bermainlah dengan cantik jangan gegabah. Karena ulahmu kita tidak bisa pakai jalur Khalisa lagi. Kamu menyulitkan Papa."
"Masih ada Dhafi harapan Papa, itu pun kalau berhasil." Azhar tersenyum miring.
"Pasti berhasil, kalau Dhafi tidak bikin ulah sepertimu." Ardi menyeringai jahat.
"Semoga saja." Azhar meninggalkan papanya, info yang dia mau sudah didapatkannya.
Gara-gara gegabah akhirnya Ghani membawa istrinya pergi jauh darinya. Nomornya pun sudah diblokir Khalisa. Malang sekali nasibnya, lepas sudah targetnya. Cintanya benar-benar pergi. Azhar *******-***** seprainya dengan emosi. Kenapa harus Ghani yang duluan melamarnya, kenapa bukan dia yang cepat bertindak.
Harusnya dia bisa mendapatkan Khalisa andai tidak terlambat datang melamar gadis itu. Walaupun Khalisa menjadi janda, Azhar akan siap menerimanya.
***
Setiap malam Khalisa selalu menangis di kamarnya. Mengadukan segala luka pada Rabbnya. Semua terjadi tidak sepenuhnya salah Ghani, dia yang berulang kali meminta suaminya untuk menjauh pergi.
"Ya Allah sakit rasanya kehilangan ini sangat sakit. Aku sudah mencintai makhluk melebihi cintaku pada-Mu. Aku terlalu berharap pada makhluk yang lemah dan tak berdaya."
"Allah, jika dia jodoh dunia akhiratku, jika dia jalan surga untukku maka satukan kami kembali. Jadikan perpisahan ini pelajaran untuk kami berbenah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
Khalisa mengakhiri doanya di atas sajadah. Merebahkan badannya yang akhir-akhir ini sering terasa lelah. Walau tidak melakukan aktivitas apapun selain menulis di sebuah platform untuk mengisi waktunya selain merindu.
Rindu yang merantai hati, menjerat kalbu, menghalau waktu yang tak kunjung bertemu. Nina masuk ke kamar membawakan Khalisa segelas susu cokelat. Rutinitasnya sebelum tidur.
"Ibu, apa ada kabar dari Ghani, aku rindu." Katanya sambil meminum susu yang dibawakan sang ibu.
"Belum ada Kha, coba kamu telepon aja. Ghani pasti jawab." Khalisa menggeleng pelan, di mana mukanya kalau sampai menghubungi Ghani duluan. Bisa saja lelaki itu sedang bersama pacarnya di Singapura. Miris sekali kisah cintanya.
__ADS_1
"Malu Bu, aku yang sudah merengek-rengek minta ditinggalkan."
"Gak papa perempuan memang selalu begitu, tidak bisa berpikir jernih saat sedang marah." Nina tersenyum mengambil gelas kosong di tangannya.
"Ayah mana Bu, aku gak mau tidur kalau belum dipeluk Ayah."
"Masih di kamar, bentar lagi ke sini." Nina memeluk putrinyanya sambil mengusap-usap pundaknya untuk menyalurkan ketenangan. Saat itu Ayah masuk mendekat ke arahnya.
"Ayah kenapa lama?"
"Kenapa Sayang?"
"Aku kangen Ghani, jadi harus peluk Ayah biar kangennya bisa hilang."
"Ayah telponkan Ghani ya, biar kamu bisa dengar suaranya."
"Jangan, malu Yah." Khalisa meringkuk dalam pelukan sang ayah, hanya itu yang bisa mengurangi rasa rindunya.
"Nak, Papa Emran mau Guntur yang menjagamu. Apa kamu mau menikahinya?"
"Ayah, kenapa jahat. Aku belum bercerai dengan Ghani, aku mencintainya. Kenapa selalu memaksaku." Air matanya terjatuh mendengar pertanyaan itu, kenapa menikah dijadikan seperti mainan yang bisa ditukar begitu saja. Tidak mengertikah dengan perasaan ini.
"Ayah cuma bertanya, tidak memaksamu menikah, Sayang."
"Sudah Yah, jangan dibahas lagi." Potong Nina, menghapus air mata putrinya. "Jangan membuatnya terluka lagi dengan menuruti kemauan Emran, kita tidak butuh kekayaannya. Ibu cuma mau anak kita bahagia."
"Ayah tidak mengiyakannya Bu, hanya bertanya." Haris berusaha menjelaskan, perempuan memang selalu suka membuat rumit masalah sederhana.
"Aku cuma mau Ghani sekarang Yah, mau Ghani, gak mau yang lain. Dia masih suamiku." Lirih Khalisa sendu, hanya Ghani yang ada dipikirannya sekarang. Hanya lelaki itu yang dia rindukan.
"Iya Sayang tenanglah. Nanti kalau Ghani pulang pasti mencarimu."
"Ghani sendirian di sana Yah, Papa Emran sudah mengusirnya gara-gara aku."
"Jangan bicara seperti itu Nak, itu sudah pilihannya menuruti kemauanmu."
"Aku menyesal Yah, aku menyesal."
__ADS_1
"Tenang Sayang, kamu istirahat yaa. Sama-sama kita tunggu Ghani pulang."
Tidak ada lagi warna dalam hidupnya setelah Ghani memilih pergi. Hatinya hampa kehilangan belahan jiwanya. Terantai rindu yang menjeratnya sampai tak bisa bernapas bebas atas rasa yang tak pernah putus asa.
Dia yang sudah membuat Ghani di benci ayahnya. Khalisa yang salah karena sudah egois mengambil keputusan sepihak. Tapi dia juga tidak kuat melihat Ghani bersama orang lain. Sedang dia sudah memberikan segalanya untuk lelaki itu.
Paginya Khalisa membuka grup rempong, sudah lama dia tidak ikut nimbrung di sana, karena terlalu sibuk pura-pura jadi orang sibuk.
Sisil : Kha kamu kemana, kangen tau. Apa Ghani membawamu ke Singapura.
Kha : Pagi-pagi kepo deh, apa cuma mau tau kabar babang tampan aja nih?
Marsya : Babang tampan yang tajir, kekayaannya bisa empat belas turunan dikali dua.
Ira : Semangat bener ngitungin harta orang, emang situ dapat jatah Sya? 🤭
Marsya : Jatah ngitungin doang. Wkwkw.
Sisil : Jangan bilang ngiri mau dibuatin taman bermain juga😃
Kha : Udah puas bu, gibahin suami tampan ane😄
Marsya : Belum sih kalau belum datang satu truk mainan baru berhenti ghibahnya, ckck.
Kha : Matre amat, Amat aja gak matre.
Ira : Ajakin dong babang ke rumah gue juga.
Kha : Boro-boro ke rumah lo Ra, gue aja jarang dibelai babang, haha.
Sisil : Tapi gila sih babang lo romantis banget Kha, siapa juga yang gak doyan suami gitu.
Kha : Udah cukup ya gibahin suami orang, nanti ketahuan orangnya. Gue kabur duluan yaa. Bye.
Khalisa mengakhiri obrolannya yang pura-pura bahagia itu sambil tersenyum syatir.
Tidak semua orang harus tau semua luka yang sedang dirasakannya. Apakabar Ghani di sana? Apa lelaki itu sedang mengatur rencana menikah dengan Clara.
__ADS_1
Akhirnya dia tetap kalah dengan perempuan itu. Siapa Khalisa sampai bisa menaklukkan hati Ghani. Dapat perhatiannya selama ini saja sudah alhamdulillah.
Beres membantu ibu mencuci piring setelah sarapan, Khalisa menyirami bunga di taman kecilnya. Dia harus bergerak untuk mengalihkan pikiran dari Ghani yang selalu menghantuinya.