Ajari Aku Mencintaimu

Ajari Aku Mencintaimu
89


__ADS_3

Pagi-pagi Nina mendapat kabar anak dan menantunya hampir celaka tadi malam. Menantunya itu tidak mengatakan kalau mereka batal menginap karena kecelakaan. Nina langsung mendesak suaminya untuk mengunjungi rumah besan mereka.


"Anak Ibu apakabar?" Nina memeluk putrinya yang seperti habis menangis. Perempuan paruh baya itu mengusap lembut punggung Khalisa.


Gadis yang dipeluk masih bingung, dia tau itu ibunya. Tapi Khalisa seperti merasa asing.


"Kamu takut?" Tanyanya pada sang putri, Khalisa mengangguk. Nina tersenyum, mengerti akan kondisi anak semata wayangnya ini.


"Peluk Abang gih biar tenang." Ucap Nina berbesar hati, walau sebenarnya dia sangat rindu gadis kecilnya yang dulu sangat manja.


Haris merangkul istrinya untuk memberi kekuatan, "sabar, kita harus sering menjenguknya biar Kha tidak takut lagi."


Nina hanya mengangguk atas saran sang suami. Jiwa putri kecil mereka sekarang sudah berbeda. Ghani merasa kasihan dengan ayah dan ibu mertuanya. Dia pun tak dapat berbuat apa-apa, istrinya masih memiliki ketakutan yang besar.


"Abang," panggil Khalisa lirih beralih duduk kepangkuan Ghani.


"Iya, Sayang. Mau apa?" Ghani mendekap Khalisa, membiarkan gadisnya itu mencari kenyamanan di dada bidangnya.


"Kha takut," cicitnya.


"Kha takut sama siapa, Sayang?" Tanya Ghani dengan lembut, Khalisa tak menjawab. "Mau ke kamar," pintanya manja.


"Ayah, ibu datang buat Kha. Kha temenin dulu ya, ibu kangen sama Kha." Bujuk Ghani, istrinya itu tetap menggeleng.


"Bawa istrimu ke kamar Gha, tenangkan dia." Ujar Haris, Ghani mengangguk menyetujui.


"Ayo Sayang," lelaki itu menuntun istrinya ke kamar. Empat pasang mata yang ada di ruang tengah itu hanya bisa menatap nanar anak dan menantunya.


"Apa perlu kita bawa Kha berobat keluar negeri?" Tanya Haris bingung, dia ingin yang terbaik untuk kesehatan putrinya.


"Tidak perlu, kata dokter sebenarnya Kha bisa cepat pulih kalau keadaan tidak membuatnya tertekan seperti ini. Cukup dengan berobat di sini, InsyaAllah kesehatannya bisa membaik."


"Aku akan memanggil dokter untuk memantau kesehatannya. Untuk sementara Kha tidak bisa keluar rumah tanpa pengawasan." Lanjut Emran, dia khawatir kejadian tadi malam terulang lagi. Jelas itu bukan kecelakaan biasa, mobil Ghani sengaja diikuti sejak keluar rumah.

__ADS_1


Dalam kamarnya Ghani persis seperti sedang memomong anak kecil. Khalisa begitu menggemaskan, kalau saja tidak khawatir istrinya itu akan mengamuk Ghani sudah mengunyel pipi itu sampai bengkak.


Kadang tingkah Khalisa bisa membuatnya terhibur. Tapi lebih banyak menguras energinya untuk lebih bersabar.


"Kha kenapa, Sayang. Abang capek." Ucapnya sangat pelan hampir tak bisa didengar Khalisa. Ghani membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Maafin Kha, udah nakal. Abang jangan marah." Beo Khalisa, mengangkat tangannya untuk membelai punggung Ghani.


"Abang gak marah, Abang sayang Kha. Sayaaangg banget." Ungkap Ghani, dia sangat rindu Kha-nya dulu. Rindu bermanja dipangkuan istrinya. Rindu melepas penat bersama.


Walau tidak keluar rumah, ancaman untuk Khalisa tetap saja masih selalu datang. Itu yang sedang Ghani pikirkan, menyembunyikan semuanya dari sang istri.


Ketika teror itu datang, dengan terpaksa Ghani membuat istrinya tertidur pulas. Pelaku masih belum terlacak, teror sudah menghantuinya selama dua bulan.


Sekarang Khalisa sudah lebih tenang, tidak sering ketakutan lagi. Karena Ghani dengan rapat menyimpan teror-teror yang bisa membuat istrinya itu jadi gila.


Selama dua bulan ini juga istrinya itu dalam pengawasan psikiater. Khalisa tidak tau kalau orang yang selalu datang mengajaknya bermain itu dokter.


Tak sedetik pun Khalisa lepas dari pengawasan Ghani, pengamanan diperketat. Pengawalan ditambah, tetap saja hatinya masih belum tenang.


"Sudah tidur Gha?" Tanya Emran melirik sekilas ke arah Khalisa, Ghani membenarkan posisi duduk agar gadisnya bisa terlelap dengan nyaman, "sudah Pah."


"Tom lo ingat Nada?" Guntur membuka percakapan serius malam ini, matanya fokus menatap layar laptop tanpa mempedulikan ekspresi lawan bicaranya.


Tomi mengernyitkan kening berusaha mengingat namun tak juga menemukan jawabannya.


Guntur berdecak merebut ponsel Tomi memutar video yang pernah Tomi rekam saat di kantin. Tomi ber-oh-ria, sedang Emran, Zaky dan Ghani masih menunggu kelanjutan pembicaraannya.


"Nada, anak accounting ruangannya di lantai dua, umurnya dua puluh lima tahun. Lulusan terbaik di Universitas Pancasila. Selingkuhannya Dhafi, mantan tunangan Anindi." Jelas Guntur tanpa jeda, Tomi mengangguk paham, tidak perlu diperjelas lagi.


"Lalu?" Tomi mengambil ponselnya kembali dari tangan Guntur. Guntur meletakkan laptop yang dipangkunya ke atas meja dan memplay rekaman cctv.


"Entah motifnya apa, dia sudah beberapa hari seperti orang linglung berada di sekitar rumah kita." Guntur mengambil kacang atom lalu mengunyahnya memberikan waktu sejenak untuk para seniornya berpikir cerdas.

__ADS_1


"Ponselnya sudah disadap?" Tanya Tomi.


"Sudah," jawab Guntur santai masih dengan kacang atomnya saat yang lain menerka-nerka menunggu ucapan selanjutnya yang keluar dari mulut Guntur, tapi nihil.


"Ada yang dicurigai?" Ghani bertanya dengan nada pelan, takut kesayangannya terganggu.


"Sejauh ini belum ada, tapi..." Guntur menjeda ucapannya sampai kacang atom ditoplesnya berkurang setengah.


"Jangan setengah-setengah Guntur, kasian Kha tidurnya terganggu." Itu bukan Ghani yang berbicara, apalagi Zaky atau Tomi. Tapi Emran yang sudah mengeluarkan tanduknya.


"Sabar Pah, Guntur masih menikmati kacang nih, gak enak banget terganggu." Jawab Guntur dengan cengiran.


"Halal gak sih Pah kalau kepalanya ditebas." Sarkas Zaky, yang mulai kesal karena Guntur mengulur-ngulur waktu, badannya lelah, matanya juga mengantuk.


"Halal, cepat ambil pedang, Zak." Ujar Emran antusias.


Guntur bergidik ngeri. "Serem bener!" Ujarnya terkikik, tajamnya tatapan Zaky mampu membunuh Guntur di tempat.


"Diakan punya hubungan sama Dhafi, bisa aja sih Nada yang membuat teror karena tidak rela pacarnya menghilang." Jelas Guntur, "kepala gue gak jadi ditebaskan." Ucapnya dengan cengiran lebar.


"Kalau begitu bisa aja bukan cuma Nada yang punya motif balas dendam, keluarga Azhar dan Clara juga." Ujar Ghani, setelah memikirkan ucapan Guntur.


"Maybe, teror terjadi setelah Kha keluar dari rumah sakit. Tiga orang itu juga sudah tidak ada termasuk Om Mahesa dan Om Ardi. Bisa jadi dari pihak keluarga mereka." Tomi menjabarkan apa yang dikatakan Ghani. "Atau Nada salah satu dari bagian rencana mereka," lanjutnya.


"Fokuskan penyelidikan pada tiga keluarga itu," saran Emran.


"Sudah tau tugas lo, Tur?" Tomi melirik ke arah lelaki yang sudah menghabiskan setoples kacang atom.


"Siyaap, gue akan selidiki anggota keluarga Azhar, Clara dan Dhafi." Sahut Guntur serius, takut kepalanya putus.


Tomi mengangguk, "bagus." Suami Anindi itu beralih menatap Zaky. "Sidik jari yang ada di teror paketan baru-baru ini masih sama belum diketahui, Zak?"


"Masih sama, mereka melakukannya dengan bersih," jawab Zaky.

__ADS_1


"Kalau sudah tidak ada info penting lagi, kita bubar." Ujar Emran lalu meninggalkan anak-anaknya lebih dulu. Diskusi malam ini dibubarkan. Ghani menggendong kesayangannya ke kamar dengan hati-hati agar tidak terbangun.


__ADS_2