
Tiga orang lelaki yang tadi berpencar sekarang berkumpul kembali di depan mobilnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Khalisa di sana. Ghani dengan gusar menendang-nendang ban mobilnya.
"Udahlah Gha tenang dulu, kita tambah capek kalau lihat kamu begini dari tadi. Masuk mobil sana jangan sampai turun pamor gara-gara kamu terlihat kacau." Ujar Tomi, Ghani menurut masuk mobil karena dia juga sudah lelah memikirkan semua yang terjadi.
"Kha kamu ke mana Sayang, kenapa meninggalkanku pergi." Ada yang sesak di dada, sama sesaknya saat meninggalkan Clara dua bulan yang lalu. Hatinya sakit sekarang, sangat sakit. Ghani menghantamkan kepalanya ke dashboard mobil.
Sebuah mobil berhenti di depan mereka, orang suruhan Zaky meminta mereka segera pulang.
"Guntur cepat balik, jangan sampai tambah masalah lagi." Ajak Tomi, kalau Zaky sudah turun tangan berarti papa sudah dalam mode mengerikan sekarang. Tomi memutar balik mobil, Guntur mengikutinya di belakang. Di sampingnya Ghani masih meracau sendiri.
"Kha pulang Sayang, jangan tinggalin kakak seperti ini."
"Kha kamu di mana." Ghani mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan, tampangnya sudah sangat kusut.
"Sayang pulang... Kha pulang Sayang."
Tomi hanya bisa menarik napas panjang, memarkirkan mobilnya di depan rumah mewah kediaman Emran. Dia harus melindungi Ghani yang bisa jadi sasaran kemarahan Papa sekarang.
"Gha, turun." Tomi seperti membujuk adik kecilnya lagi saat seperti ini. Dituntunnya Ghani menemui papa, Guntur mengikutinya di belakang.
"Ghaniii...!!"
Plaakk
Tamparan keras menghantam wajahnya, Tomi belum sempat melindungi adiknya.
"Pah, tenang kasian Ghani." Mira mengusap pipi putranya kemudian memeluknya erat.
"Mah, Kha pergi jauh dariku." Air matanya Ghani terjatuh di hadapan mama, entah kenapa hatinya begitu rapuh saat dihadapan sang ibu. Sakit tamparan papa tidak terasa, karena tidak sesakit hatinya sekarang.
"Kha pergi Mah. Aku tidak tau kemana Kha pergi Mah."
"Bantu bujuk Kha pulang Mah." Ghani meracau kembali.
"Mama marahlah padaku, tapi bujuk Kha pulang Mah. Kalau dia hamil gimana Mah." Hatinya teriris mengucapkan itu, kenapa dia mengacuhkan perempuan itu saat mengatakan ingin pergi. Kenapa tidak dia rangkul istrinya yang sedang rapuh itu.
"Kha ku pergi Mah, bagaimana kalau Azhar menyakitinya Mah, carikan Kha Mah.. Mama jangan diam Mah." Tatapan Ghani kosong, dia terus merengek pada Mira.
"Apa mama juga mau meninggalkanku pergi seperti Kha Mah." Mama kembali memeluk putranya.
"Kita akan cari Kha Sayang, mama tidak akan pergi darimu." Mira mengajak Ghani duduk, membiarkan putranya meringkuk dalam pelukan.
"Kenapa Ghani jadi seperti anak kecil begini." Tomi mengacak rambutnya dengan gusar. "Ingin kusuntik penenang rasanya."
__ADS_1
Emran yang tadi sangat marah terduduk menatap tatapan kosong anaknya.
"Kha, pulang Sayang. Aku kangen."
"Pah, bunuh aku sekalian Pah, bunuh.. aku tidak berguna Pah. Aku selalu menyakiti Kha, aku tidak bisa menjaga Kha. Aku tidak bisa menjaga adikku sendiri." Ghani menarik-narik tangan Emran. "Aku mau mati saja Pah, sia-sia aku hidup Pah. Clara mengkhianatiku, sekarang Kha pergi meninggalkanku." Emran menarik Ghani dalam pelukannya.
"Pah, kenapa Papa memilih adikku untuk kusakiti seperti ini. Adikku pasti sedang menangis karena kesepian Pah, dia takut sendirian Pah. Tapi aku selalu mendiamkannya. Aku mendatanginya kalau aku rindu Clara saja. Kenapa harus adikku Pah."
"Kenapa harus Kha yang menanggung semua ini Pah, Kha tidak pernah bersalah atas hidupku ini."
"Aku berjanji untuk mencintainya, tapi aku tidak bisa memberikan cinta itu padanya Pah, aku sudah merenggut semua kebahagiaannya. Adikku harus terluka karenaku Pah."
Tomi meninggalkan ruang keluarga tidak tahan melihat Ghani yang terus meracau. Bagaimana Ghani bisa terima kalau yang disandingkan dengannya gadis yang disayanginya sebagai adik. Rasa berdosanya karena sudah merenggut semua milik adiknya itu.
Tomi membenamkan kepalanya ke meja makan. Anindi, apa Kha sekarang bersama Anindi. Dia berlari menuju mobil melajukannya menuju Anincake. Tidak perlu lama dia sudah berada di tempat itu.
"Siang Nin." Sapa Tomi pada Anindi yang sedang merapikan kursi setelah pelanggan pergi.
"Siang Tomi, mau pesan atau ada perlu yang lain?"
"Boleh ngobrol sebentar Nin?"
"Oke." Anindi bergabung di meja tempat Tomi, "Mbak, tolong red velvet dan air mineral ya." Katanya pada seorang pegawainya.
"Sangat penting, Khalisa pergi dari rumah Ghani." Ucap Tomi lirih agar tidak ada yang mendengar. "Apa dia ada menemui atau mengabarimu."
Anindi menggeleng, "aku hanya bertemu waktu di rumah sakit itu, setelahnya tidak ada lagi. Dia berantem dengan suaminya?"
Tomi diam saat pegawai Anindi membawakan yang diminta sepotong kue dan air mineral. Kemudian pergi setelah Anindi mengucapkan terimakasih.
"Tidak tau penyebab pastinya, kemaren siang masih seperti biasa." Tomi menghela napas kasar.
"Dia tidak ke kampus?" Anindi sengaja tidak menyebutkan nama agar tidak ada yang paham siapa yang mereka maksud.
Tomi menggeleng pelan, menatap manja sepotong kue yang cantik. Seperti pemiliknya, pemilik hatinya yang tiba-tiba hadir mengisi relung hatinya.
***
Mira mengusap kepala putranya yang masih dalam pelukan Papa.
"Maafkan Papa Gha sudah memaksamu menikah dengan Kha." Ucap Emran, menatap mata nanar Ghani yang sayu.
"Cari Kha Pah, kalau dia hamil anakku bagaimana, dia selalu manja padaku Pah, Kha tidak mau jauh dariku. Tapi sekarang dia sendirian. Aku tidak bisa memeluknya Pah. Cari Kha Pah, tolong."
__ADS_1
"Kita pasti cari Kha, Nak. Dia pasti ketemu. Kamu istirahat yaa."
Ghani mengangguk, dia berjalan gontai menuju kamar diikuti Guntur. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang, dia selamat dari kemarahan papa, batinnya sambil tersenyum. Papa tidak akan memarahinya saat dia menjadi gila seperti itu.
Guntur mengunci pintu dan berbaring di samping Ghani. "Sudah kutebak tadi hanyalah aktingmu agar selamat dari kemarahan Papa."
"Kepalaku sakit setelah seperti orang gila." Jawab Ghani tanpa mempedulikan ucapan Guntur.
"Kamu memang gila Gha, sampai bertingkah seperti ini."
"Jangan keras-keras, Tomi kemana?"
"Pergi..!!"
"Biarlah, aku mau istirahat sebentar."
Ghani membuka layar ponselnya, membaca isi pesan terakhir dari Kha.
Istriku : Gha, marah banget yaa. Maaf yaa.. aku mau mandi gerah banget gak ganti dari kemaren, boleh buka pintunya bentaar aja, janjiii gak gangguin kamu.
Senyuman menyembul di wajahnya. "Kamu di mana Sayang." Guntur menatap ke arah Ghani dengan mengangkat sebelah alisnya. Tolong kasih tau cara angkat alis itu gimana, batin Guntur.
"Ini gak lagi aktingkan Gha?"
"Bodoh, Kha istriku. Aku pasti khawatir Guntur." Ghani mencekik leher sepupunya.
"Lepas Gha, jangan bunuh aku." Guntur tertawa setelah Ghani melepaskan tangannya.
"Guntur, coba cek cctv rumahku lusa." Yang di perintah langsung menyalakan laptopnya. Mencari rekaman dua hari yang lalu.
"Gha, ngapain kamu ngunci pintu kamar, biar Kha gak bisa masuk." Guntur geleng-geleng kepala, pantas saja istrinya kabur, kalau suaminya macam ini.
"Astaga Gha, lihat dia selelah itu kamu menyiksanya sendirian." Ghani bangun ikut mengamatinya, kemudian membaringkan badannya lagi.
"Badanmu pasti masih sakit Kha dan aku menambah sakit di hatimu." Batinnya, Ghani menutup laptop Guntur. "Jangan diteruskan, aku tidak sanggup melihatnya."
"Marah kenapa Gha, sampai tidak membolehkannya masuk kamar."
"Sudah, gak usah dibahas. Mending cari tau Tomi di mana?" Guntur memainkan ponselnya sambil melongo kemudian tertawa.
"Gilaa dia di Anincake."
"Haahh, bisa-bisanya saat seperti ini malah mencari celah," Ghani berdecak.
__ADS_1
"Haha,, kesempatan dalam kesempitan." Guntur puas tertawa.