
Di rumah sakit, Topan sedang berbaring lemah karena pingsan tadi bahkan para dokter sudah memberikan impus pada tangan Topan.
"Apa kita akan hubungi keluarga pasien dok" tanya seorang perawat yang merawat Topan.
"Jangan Sus kita biarkan saja pasien sadar dulu" jawab Dokter.
"Baiklah Dok saya akan pantau bapak ini" ucap Suster.
Topan masih pingsan hingga sampai pagi hari Topan baru saja sadar dari pingsannya, dia menatap nanar ruangan sekitarnya Topan merasa asing pada ruangan itu.
Dinding putih dan bau obat obatan mendominasi ruangan itu, Topan langsung bangun dari pembaringannya dia melihat tangannya yang sudah di pasangkan impus.
Saat Topan hendak turun dari ranjang, seorang Dokter datang kesana untuk melihat kondisi Topan yang semalaman pingsan.
"Sudah sadar tuan" tanya Dokter itu langsung mendekat kearah Topan.
"Kenapa saya bisa disini Dok" tanya Topan sambil memegang kepalanya yang masih sakit dan pusing.
"Semalam anda pingsan Tuan, alhamdulilah sekarang anda sudah sadar maaf tuan kami gak menghubungi keluarga anda" ucap Dokter.
"Iya tidak papa Dok" ucap Topan.
"Tuan kami akan siapkan makanan untuk anda makanlah dan minum obatnya, saya harap anda tunggulah disini karena kondisi anda belum sepenuhnya pulih" ucap Dokter.
"Baik Dok terima kasih".
-
Nita masih menunggu Topan di halaman depan rumahnya, Nita merasa cemas karena Topan semalaman tak pulang Nita sudah menelponnya hampir puluhan panggilan namun ponsel Topan tak ada jangkauan.
Nita semakin cemas, Nita berfikir kalau Topan tak pulang karena masih marah padanya akibat pertengkaran malam itu.
" pulang mas kamu dimana" gumam Nita cemas.
Sarah yang melihat hal itu langsung mendekati Nita, Sarah juga sudah tak sabar untuk mendengar bukti apa yang sudah di dapatkan Topan tapi Topan tak pulang jadi Sarah bertanya tanya bagaimana hasilnya.
"Nita kamu sedang apa" tanya Sarah.
"Sarah aku tak bisa menghubungi mas Topan, dimana dia sekarang? Kenapa semalaman dia tak pulang? Kemana dia?" ucap Nita bertanya tanya.
"Tenang Nita Topan pasti gak papa kok, mungkin saja dia menginap di kantornya" ucap Sarah.
"Aku akan coba hubungi Zahra sekertarisnya mas Topan" ucap Nita.
Nita mengambil ponselnya dari saku celananya dia mencoba menghubungi Zahra, siapa tau saja Zahra tau.
[ hallo Zahra apa Mas Topan ada di kantornya] tanya Nita langsung saat panggilan sudah terhubung.
[Bentar bu saya lihat dulu di ruangannya ya] ucap Zahra.
[Iya maaf ya sudah menyusahkanmu]
[Tidak bu]
__ADS_1
Zahra berjalan kearah ruangan Topan, namun saat Zahra mau membuka pintu ruangan Topan pintunya terkunci dari luar.
[Maaf Bu pintu ruangannya terkunci pak Topan belum ke sini bu] ucap Zahra.
[apa kemana mas Topan] tanya Nita.
[Saya kurang tau bu, nanti kalau pak Topan sudah kesini nanti saya hubungi lagi ibu] ucap Zahra.
[Terima kasih Zahra].
Nita kembali menyimpan lagi ponselnya dia terduduk di kursi dengan lemas, Nita tak percaya kalau Topan akan melakukan hal ini padahal dari dulu semarah apa pun Topan dia tak pernah sampai tak pulang.
"Kamu kenapa Nita" tanya Sarah cemas melihat Nita lemas begitu.
"Sarah mas Topan tak ada di kantornya" ucap Nita.
"Apa? Kamu tenang ya" ucap Sarah menenangkan Nita.
Sedangkan Nita sudah menangis sesegukan khawatir pada Topan bahkan pikirannya pun sudah buruk tentang Topan bahkan Nita berpikir kalau Topan menginap di hotel dengan seorang wanita.
Nita segera menepis pikirannya yang tidak tidak tentang Topan,
"Mas kamu dimana" batin Nita.
**
Di markas anak buah Rama.
Anak buah Rama yang paling ngaruh disana sedang memikirkan cara untuk membebaskan Rama dari penjara.
"Aku akan pikirkan dulu bagaimana rencananya" ucapnya.
Anak buah yang bernama Ruli itu langsung duduk di kursi dan menyeruput kopi yang berada di meja kecil dekatnya.
"Bagaimana kalau kita cari pembantunya tuan Rama yang dulu siapa namanya ehhh" ucap Ruli berpikir.
"Kalau gak salah namanya Sri bang" ucap anak buah yang lain.
"Oke kita cari dia, dia pasti tau sesuatu kalau dia tak tau apa apa kenapa dia harus lari dan pulang ke kampung halamannya" ucap Ruli.
"Aku siap untuk mencarinya ke kampung halamannya".
" kita harus bantu tuan Rama keluar dari penjara dia sudah banyak membantu kita, dan sekarang waktunya kita membalas budi" ucap Ruli.
Dua anak buah Rama langsung pergi untuk mencari Sri, mantan pembantu di rumah Rama yang dulu.
"Selagi menunggu kita harus cari bukti yang lain lagi siapa tau masih ada hal yang bisa kita jadikan bukti" ucap Ruli.
**
Hari sudah semakin siang Topan akhirnya di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit walau pun sedikit pemaksaan dari Topan yang sudah memaksa untuk pulang.
Topan tau kalau dia sedang di tunggu oleh Nita karena Topan tak pulang semalaman Topan takut jika Nita akan marah padanya karena tak mengabarinya dulu.
__ADS_1
"Kenapa loubet sih" gerutu Topan saat melihat ponselnya habis batre.
Topan berjalan kearah mobilnya Topan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sangat ramai karena banyaknya karyawan karyawan yang istirahat untuk makan siang.
Topan menghidupkan ponselnya ternyata banyak sekali pesan dan panggilan, Nita sudah menghubungi Topan hampir 20 panggilan, dan banyak sekali pesan dari kantornya karena sekarang ada meeting.
"Aku lupa kalau sekarang ada meeting" gumam Topan sambil menepuk jidatnya.
Topan kembali melajukan mobilnya dia sangat ingin pulang ke rumahnya karena takut Nita marah padanya sedangkan rumah tangganya sekarang sedang tak baik baik saja.
Akhirnya mobil Topan sudah sampai di rumah kediaman Lynda, Topan langsung masuk kedalam rumah Lynda tanpa mengetuk pintu dahulu.
Topan melihat Nita yang sedang duduk di Sofa dia sedang melamun tatapannya kosong ke arah depan.
Topan terkejut melihat keadaan Nita yang sangat menyedihkan itu.
Mata Nita sembab rambutnya juga acak acakan mungkin karena tak di sisir dan hal itu membuat Topan merasa kasihan karena sudah berbuat jahat pada Nita.
"Nita" sahut Topan yang masih berdiri di ambang pintu.
Nita langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Topan, Nita melihat kearah Topan, Nita merasa senang saat melihat Topan.
Nita berlari kearah Topan, Nita langsung memeluk Topan dengan erat Topan membalas pelukan Nita, sesekali Topan mengusap usap kepala Nita sehingga membuat Nita nyaman berada di dekat Topan.
"Mas kamu dari mana" tanya Nita lirih.
"Maafkan mas Nita mas gak bilang dulu sebelumnya" ucap Topan.
"Mas dari mana aku khawatir" tanya Nita.
"Mas dari rumah sakit" jawab Topan.
"Apa rumah sakit? Kenapa bisa ke rumah sakit" tanya Nita semakin cemas.
Nita melihat setiap inci tubuh Topan, mata Nita memicing saat melihat ada perban di tangan Topan.
Nita melihat tangan Topan yang ada perban itu, Nita mencoba bertanya pada Topan dengan isyarat.
"Ini hanya bekas impus, kamu gak perlu khawatir Nita mas gak papa kok" ucap Topan mencoba baik baik saja.
"Mas ini masih ada darahnya loh, dan kamu bilang gak papa" ucap Nita marah.
"Mas gak papa beneran" ucap Topan.
"Mas kamu memang sering berbohong" ucap Nita sambil memukul dada bidang Topan.
Topan membawa kembali Nita pada pelukanya, Topan merasa gemas pada Nita yang sedang marah begitu padanya.
bersambung..
***jangan lupa like comen dan votenya ya..
terima kasih sudah mendukung karya Author..
__ADS_1
salam manis Author***...