Aku Istri Kontrak Bosku

Aku Istri Kontrak Bosku
aku istri kontrak bosku eps 133


__ADS_3

Wedding Sarah dan Hilman..


Untuk episode yang berikutnya Author akan lebih memfokuskan pada Sarah dan Hilman, sesuai dengan judul Author akan buat tokoh di cerita ini mengalami pernikahan kontrak.


Selamat membaca..


Pagi harinya Sarah sudah di dandani layaknya pengantin sungguhan dan yang paling penting dia hanya merasakan begini saat akan menikah dengan Hilman sekarang, karena kemarin saat Sarah menikah dengan Rama dia hanya memakai kebaya itu pun kebaya yang Sarah beli sendiri.


Mobil yang akan menjemput Sarah sudah ada di halaman rumah Lynda, semua orang pun sudah siap bukan hanya itu Bi Iyem juga di dandani sangat cantik bahkan mungkin sebelas dua belas dengan Lynda.


Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tengah tinggal menunggu Sarah saja yang sekarang masih berada di kamarnya, Hilman juga sudah menyewa pengasuh untuk mengasuh Alena selama Hilman dan Sarah sibuk di acaranya.


"Ayo Sarah kita akan terlambat" ucap Nita.


"Iya ayo kita berangkat sekarang" ucap Sarah sambil naik kedalam mobil yang sudah Hilman tugaskan untuk membawa Sarah.


Dengan di temani oleh Nita dan Lynda, Sarah naik ke dalam mobil yang sudah di hiasi dengan bunga dan pita kertas sehingga membuat mobil itu terlihat begitu mewah.


Sejak tadi Sarah terlihat gugup dan grogi bahkan terlihat dari tangannya yang sedari tadi bergetar karena menahan rasa gugupnya,


"Sarah kau kenapa" tanya Nita yang duduk di samping Sarah.


"A-aku baik" jawab Sarah terbata bata.


"Kau nevers Sarah" ucap Nita sambil tertawa meledek.


"Tidak Nita aku baik baik saja, lagi pula hanya pernikahan kedua bahkan dengan mas Rama pun dulu aku tak merasa gugup" ucap Sarah berusaha terlihat baik baik saja.


"Tante percaya Sarah" ucap Lynda.


"Kita segera sampai Nona" ucap Pak supir yang mengendarai mobil itu.


"Bersiap lah Sarah kau harus terlihat bahagia" ucap Nita.


"Iya aku tau, aku sedang mengusahakan" ucap Sarah semakin di landa ke grogian yang sangat besar.


"Ya alloh semoga saja aku tak gugup di depan Hilman" doa Sarah dalam hatinya.


Sarah berjalan keluar dari dalam mobil dengan di papah oleh Nita dan Lynda, rombongan dari Sarah sudah masuk ke dalam Hotel itu sedangkan rombongan Hilman sudah menyambut di dalam Hotel itu.


Sarah semakin tak bisa terkontrol saat melihat Hilman yang sedang berdiri dengan gagah menunggu kedatangan Sarah, bahkan dengan jas yang sekarang di pakai oleh Hilman, Hilman terlihat sangat tampan dan berwibawa membuat jantung Sarah berdetak lebih cepat.


Kalau saja tak ada banyak orang mungkin Sarah sudah kabur dari sana, tapi itu tak mungkin karena jika Sarah lari dari sana maka anak buah Hilman akan segera menangkap Sarah.


"Rencanaku menjadi boomerang untukku, ya ampun tolong selamatkan aku dari tatapan Hilman yang membuat aku salah tingkah begini" batin Sarah.


Sarah dan Hilman sudah duduk di meja berhadapan dengan pak penghulu yang akan menikahkan mereka, untung saja Sarah bisa sedikit tenang sekarang.


Tetapi ada sosok yang membuat Sarah bingung sekaligus curiga karena bisa bisanya dia datang kesana dan duduk di dekat penghulu.


"Mau apa Ayah di sini apa dia akan menghancurkan acara aku" batin Sarah menatap tajam kearah Anjasmara.


"Aku akan jelaskan semuanya nanti" bisik Hilman pada Sarah.


"Aku tunggu" bisik Sarah lagi.


Hilman berjabat tangan dengan Anjasmara dan Hilman juga merapalkan ijab kabulnya dengan sangat lantang dan jelas, lalu di iringi dengan tamu undangan yang berteriak penuh kegembiraan bagi pengantin baru itu.

__ADS_1


"Nita apa maharnya itu benar" tanya Lynda berbisik pada Nita karena merasa heran kenapa Hilman menyebutkan kalau maharnya sebuah mobil, rumah, dan uang sebesar dua puluh juta itu pun Hilman berikan dengan langsung.


"Mamah apa mamah gak tau, Hilman itu orang kaya mah dia pewaris tunggal keluarga Argantara yang sekarang perusahaan nya sedang melambung di kalangan para pembisnis" jawab Nita sambil berbisik.


"Apa mamah baru tau, karena kan yang mamah tau kalau Hilman itu hanya seorang asisten pribadi Pak Anjasmara" bisik Lynda lagi.


"Aku juga gak percaya mah tapi ini benar nyata" bisik Nita.


"Beruntungnya Sarah".


Acara sudah berjalan dengan lancar sekarang Sarah dan Hilman sedang duduk di atas pelaminan bahkan banyak sekali rekan bisnis Hilman yang naik ke pelaminan dan mengucapkan selamat pada pengantin baru itu.


Sarah dan Hilman terlihat bahagia dengan acara ini apa lagi Hilman sedari tadi dia terus terusan melirik Sarah dan tersenyum dengan manis.


Berbeda dengan Bi Iyem yang sekarang sedang mengurus Aziya yang sedari tadi rewel tetapi karena Bi Iyem sudah terbiasa dengan seorang bayi dia bisa menghandle semuanya.


Setelah Aziya tenang di gendongan Bi Iyem, Lynda datang kesana dan mengambil alih Aziya karena Lynda tau kalau Bi Iyem sedari tadi belum makan sedikit pun.


"Bi biar Zia aku yang gendong kau makanlah dari pagi kau belum makan" ucap Lynda.


"Tapi bu apa ibu juga sudah makan" tanya bi Iyem.


"Aku sudah makan baru saja dan sekarang kau yang makan, Asih juga sedang makan disana" ucap Lynda menunjuk Asih yang ada di pojokan.


"Huhh dasar Asih gak ngajak" gerutu Bi Iyem.


Bi Iyem berjalan kearah makanan, namun ada hal yang membuatnya mengurungkan niat untuk mengambil nasi, Bi Iyem melihat para tamu undangan merasa risih karena ada seorang bayi yang menangis kencang sampai sampai membuat semua orang berbisik bisik membicarakannya.


"Kasihan ibunya pasti kesusahan" gumam Bi Iyem.


Bi Iyem berinisiatif untuk membantu menenangkan bayi itu walau pun Bi Iyem tak kenal tapi Bi Iyem merasa kasihan apa lagi orang tuanya menjadi bahan omongan orang orang.


"Non apa boleh saya bantu" tanya Bi Iyem pada wanita yang sedang menenangkan bayi dalam gendongannya itu, terlihat seorang laki laki yang berdiri melihat bayinya yang sedang menangis Bi Iyem bisa menduga kalau laki laki itu adalah Ayahnya bayi itu.


"Tapi Nyonya dia nangis dari tadi" ucap wanita itu.


"Biar saya coba gendong" ucap Bi Iyem sambil membawa bayi itu kedalam gendongannya.


Benar saja bayi itu langsung berhenti menangis dan mau minum susu sampai sampai bayi itu terlelap tidur di gendongan Bi Iyem.


"Terima kasih Nyonya kau sangat baik" ucap Wanita itu pada Bi Iyem.


"Tak apa aku senang dengan anak kecil" ucap Bi Iyem.


"Nyonya kau sangat tau banyak tentang anak kecil" ucap laki laki yang sedari tadi berdiri disana.


"Tidak aku hanya terbiasa saja dengan anak kecil" ucap bi Iyem tersenyum kecil.


Sekarang mereka sedang berada di lorong Hotel itu yang cukup jauh dari acara pernikahan itu di laksanakan, karena tadinya Bi Iyem paham dengan keadaan disana jadi dia berinisiatif membawa bayi itu menjauh dari kerumunan orang orang takut bayinya itu merasa gerah dan benar saja saat bayi itu jauh dari tempat itu dia langsung berhenti menangis.


"Non jika bayi nangis di acara begini lebih baik bawa ke tempat yang tenang supaya bayi bisa merasa tenang juga" ucap Bi Iyem.


"Saya baru tau sekarang Nyonya" ucap wanita itu.


"Nyonya kalau boleh tau siapa nama anda dan dimana anda tinggal" tanya laki laki itu yang kira kira seumuran dengan Topan.


"Nama ku Sutiyem panggil saja Bi Iyem aku tinggal di jalan Xxxxx pembantu di rumah itu" jawab Bi Iyem.

__ADS_1


"Oh terima kasih Nyonya atas bantuan anda aku sangat berterima kasih kau mau membantu kami padahal kita tak saling kenal" ucap laki laki itu.


"Tak masalah aku hanya tak mau kalian di bicarakan oleh orang lain karena bayi kalian menangis, baiklah aku harus pergi karena aku juga sedang mengasuh bayi majikan yang mungkin umurnya sama dengan bayi kalian" ucap Bi Iyem memberikan lagi bayi itu pada ibunya.


Namun saat Bi Iyem akan pergi dari sana seseorang datang dan melayangkan satu tamparan di pipi Bi Iyem.


Plakkk..


Tamparan yang keras bahkan suaranya pun sampai menggema di seluruh lorong yang penuh dengan kamar Hotel itu, Bi Iyem yang mendapat serangan secara tiba tiba itu langsung kelimpungan dan hampir saja terjatuh ke lantai.


"Papah" bentak laki laki itu tak menyangka kalau papahnya akan tega menampar wanita yang sudah membantunya barusan.


"Putra berani kau membentak papah" tanya laki laki yang di panggil papah itu.


Sedangkan Bi Iyem terkejut saat melihat kalau orang yang baru saja menamparnya itu tak lain adalah laki laki yang sudah memberikannya luka yang bahkan sampai sekarang pun belum sembuh total.


Siapa lagi kalau bukan Fransh suaminya yang sekarang masih menjadi suami sah menurut agama dan beda lagi jika menurut negara.


"Mas Fransh" gumam Bi Iyem.


"Mau apa kau menganggu putraku wanita murahan apa kau mau mengambil cucu ku yang baru saja lahir" ucap Fransh marah marah pada Bi Iyem.


"apa putra? Jadi dia anakku Mas" ucap Bi Iyem tersenyum senang karena bisa melihat putranya setelah hampir 30 tahun berpisah.


"Jangan pura pura gak tau Iyem kau membantu Putra karena kau tau kan kalau dia anakmu" ucap Fransh lagi.


Bi Iyem masih tak menyangka kalau anaknya itu sudah besar dan sekarang sudah memiliki anak, air matanya jatuh juga saat memandang laki laki tinggi tampan dan itu adalah bayinya yang dulu pernah dia gendong walau pun hanya sekali.


Tetapi berbeda dengan Bi Iyem, putra dan istrinya merasa bingung dengan apa yang Papahnya itu katakan.


"Tunggu papah kenal dengan Nyonya ini" tanya Putra memberanikan diri bertanya.


"Tentu kenal putra dan kau juga akan sangat mengenalnya" ucap Fransh.


"Siapa dia" tanya Putra.


"Nama mu Putra" ucap Bi Iyem berlinang air mata.


Bi Iyem hendak mendekati Putra dan menyentuhnya namun Fransh mendorong Bi Iyem sehingga membuat Bi Iyem terjatuh ke lantai dan kepalanya terbentur ke dinding sehingga membuat kepalanya terluka dan membiru.


"Papah kau kasar sekali" ucap Putra sambil membantu Bi Iyem untuk bangun.


"Ck jangan lebay kamu Iyem kamu pasti sengaja kan membenturkan kepala kamu sendiri supaya anakmu itu merasa kasihan padamu dan menyangka kalau aku jahat iya kan" ucap Fransh.


"Diam papah aku tak sangka kau sejahat ini pantas saja mamah meninggal mungkin dia juga meninggal karena kejahatan papah" ucap Putra.


"Dasar anak durhaka, kau sama saja seperti ibumu itu" kesal Fransh.


"Apa ibu? Jadi Nyonya ini ibuku" ucap Putra tak menyangka kalau Wanita yang sudah membantunya itu adalah ibu kandungnya sendiri.


"Cepat pulang jangan urusi wanita itu" titah Fransh dengan nada tinggi.


"aku akan bantu Nyonya ini dan menanyakan kebenarannya tentang masalah ini" ucap Putra.


"Terserah yang pasti aku tak ingin melihat wanita ini lagi" ucap Fransh sambil berlalu pergi meninggalkan putranya itu.


"Han kita bawa Nyonya ini ke rumah sakit" ucap Putra pada istrinya karena melihat kalau Bi Iyem sepertinya pingsan karena benturan itu.

__ADS_1


"Ayo mas aku akan panggilkan pak supir untuk membantu kamu mengangkat Nyonya ini masuk kedalam mobil" ucap Hani istrinya putra.


__ADS_2