
Aku berjalan menelusuri kantor, aku melihat ada karyawan yang masih kerja di jam istirahat.
"Siang " ucapku yang berlalu ke hadapannya.
"Siang pak" ucapnya dengan menundukan kepalanya.
"Kenapa gak istirahat" tanyaku pada lelaki berkecamata itu.
"Tanggung pak pekerjaan saya cuman sedikit lagi" jawabnya dengan gerakan tangannya.
"Oh lain kali, istirahat dulu baru selesaikan pekerjaannya" ucapku sambil berlalu meninggalkan meja kerjanya.
Ternyata seperti ini suasana kantor saat istirahat, kemana saja aku sampai aku lupa kalau kenyamanan karyawanlah yang terpenting.
Brughh..
Seseorang menabrakku.
"Kalau jalan pake mata jangan pake dengkul" bentakku pada seorang wanita yang memakai pakaian Ob.
"Maaf pak" ucapnya dengan kepala menunduk.
"Lain kali jangan di ulangi lagi" ucapku sambil merapihkan jasku.
"Nita" teriak seorang Ob yang memanggil wanita tadi.
'Oh namanya Nita yang baru saja ngelamar kerja' gumamku.
Aku masih memikirkan cara bagaimana aku bisa mendapatkan perusahaan dan aset milik Ayah.
'Apa aku turuti saja ya perintah Sarah waktu itu, untuk mencari istri kontrak, tidak tidak apa aku akan sejahat itu hanya karna warisan" gumamku.
Aku memikirkan cara yang lain.
Namun otak ini seakan tau kalau mencari istri kontrak adalah hal yang tepat.
Aku melihat Nita masuk ke ruanganku, membawa nampan dan secangkir Kopi yang asapnya masih mengepul.
"Ini pak kopinya" ucapnya.
"Terima kasih" ucapku.
Aku mengambil cangkir kopi itu aku langsung meminumnya sedikit.
"Tunggu, siapa yang membuatnya" ucapku menghentikan Nita yang hendak keluar dari ruanganku.
"Saya pak" ucap Nita.
"Ohhhh besok buatkan lagi" ucapku sambil mempersilahkan dia pergi.
Aku masih memikirkan tentang siapa yang akan mau menjadi istri kontrakku.
Aku terus membayangkan Wajah Nita di kepalaku.
'Apa Nita mau menjadi istri kontrakku' gumamku.
"Rio tolong kamu cari tahu tentang kehidupan Nita" suruhku pada Rio untuk mengkoreksi kehidupan Nita.
Rio hanya mengangguk patuh dan pergi, dia adalah kaki tanganku yang yang sangat bisa di percaya.
__ADS_1
Drttt drttt.. ( suara ponsel)
Aku mengangkat panggilan dari Rio.
[Ada kabar apa] tanyaku
[Nita tinggal di Rumah kecil pak, nama bapaknya Robi dia bekerja di sebuah toko sembako] ujar Rio di sebrang sana.
[Oh lanjutkan cari info] ucapku sambil menutup sambungan telpon.
Aku masih menunggu kabar dari Rio.
Hari ini aku tak melihat Nita bekerja apa dia sakit.
Aku berjalan ke arah luar melihat lihat siapa tau aku bisa melihat Nita.
"Tunggu " ucapku pada Vita teman sepropesi dengan Nita.
"Iya pak" tanyanya menunduk.
"Dimana Nita" aku balik tanya.
"Nita gak masuk pak, bapaknya sakit" jawab Vita.
"Terima kasih" ucapku yang langsung pergi ke arah parkir mobil.
[Rio cari tahu kenapa bapaknya Nita bisa masuk rumah sakit dan dimana Rumah sakitnya] perintahku pada Rio.
[Baik pak] ucap Rio.
Setelah menunggu lama, akhirnya Rio mengirimkan lokasi rumah sakit dimana bapak Nita berada.
'Tunggu, untuk apa aku ke rumah sakit, jika mereka bertanya aku harus jawab apa' gumamku.
'Baiklah aku akan coba masuk dulu siapa tau saja aku ketemu Nita' batinku.
Aku berjalan di lorong rumah sakit sambil melihat wajah wajah yang ada di ruangan terbuka.
Drtttt.... Drrttt..
Ponselku berbunyi ternyata dari Rio.
Aku langsung mengangkat panggilannya.
[Pak kamar mawar nomor 14] ucap Rio di sebrang sana.
[Terima kasih] ucapku.
Aku langsung mencari ruangan yang di sebutkan Rio tadi.
'Ketemu' gumamku.
Aku melihat ke arah jendela ternyata benar ada Nita dan keluarganya di sana.
"Nita tolong usahakan supaya kamu bisa segera punya uang untuk berobat bapak" ucap seorang wanita paruh baya yang aku kira itu ibu Nita.
"Tapi bu uang segitu dari mana" ucap Nita dengan isak tangis.
"Kamu kan kerja di kantoran, masa kamu gak bisa kasbon" ucap ibunya Nita memaksa.
__ADS_1
"Tapi bu aku kan cuman Og bukan karyawan, bahkan gajiku pun tak cukup untuk sehari hari" ucap Nita.
Nita langsung berjalan keluar aku yang masih nunggu di jendela langsung bersembunyi di kerumunan orang orang penunggu pasien.
Aku melihat Nita yang duduk di kursi sambil menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
'Kasihan Nita' batinku. Tak terasa air mataku pun menetes juga.
Kenapa aku menjadi secengeng ini hanya karena melihat penderitaan Nita.
Malam ini aku masih kepikiran dengan Nita.
Besok aku akan bantu dan tanya dia apa dia mau jadi istri kontrak.
Flash back offf...
"Topan cepat pulang Nita perutnya sakit" ucap mamah di sambungan telpon.
Tanpa aba aba aku langsung pulang ke rumah menelpon dokter kandungan untuk segera ke rumah.
Aku menginjak pedal gas supaya cepat sampai di rumah,
Aku langsung keluar dari mobil, berlari menuju rumah, Nita sedang berbaring di Sofa dengan memegang perut menahan rasa sakit, aku langsung memegang tangan Nita dan mengelus perut Nita yang masih datar.
"Tahan ya Nit, dokter akan segera kesini" ucapku berusaha menenangkanya.
"Mas sakittt" rintihannya.
"Permisi " ucap seorang Wanita yang memakai baju seorang Dokter.
"Dokter tolong periksa Nita, perutnya sakit" ucapku.
Dokter itu langsung memeriksa perut Nita, menekan nekan perut Nita.
Pegangan tangan Nita semakin erat ke tanganku, mungkin Nita merasa kesakitan.
"Pak istri dan bayi bapak tidak kenapa napa mungkin cuman kram saja, sesuai pemeriksaan bayi bapak sehat, gejala ini biasa di alami ibu hamil makannya ibu hamil tidak boleh terlalu capek dan tak boleh rebahan terus di kamar karena akan membuat tubuh jadi lebih malas." jelas Dokter itu.
"Terima kasih dok" ucap mamah.
" dan sering ajak istrinya jalan kaki ya pak supaya melancarkan untuk persalinan nanti, kalau saya hitung dari Hari terakhir mentruasi, berarti hari perkiraan lahirnya tanggal 24 november ya pak dan sekarang bayinya sudah menginjak 7 minggu, untuk ibu habiskan Vitaminya ya" ucap dokter sambil membereskan peralatannya.
"Saya permisi" ucapnya sambil berjalan keluar rumah.
"Sayang kamu harus sehat gak boleh nyakitin mamah kamu ya" ucapku pada si jabang bayi sambil mengelus elus perut Nita.
Untuk sekarang Nita sudah tidak kesakitan lagi,
"Mas bisa antar aku ke kamar" ucap Nita.
__ADS_1
Aku menyodorkan tanganku dan Nita meraihnya aku memapah Nita ke kamar membaringkannya di kasur.