
Setelah selesai mempacking semua baju Sarah dan Alena, semua orang berkumpul di ruang tengah mereka bercanda santai sampai menikmati teh hangat buatan Nita dan makanan ringan.
Tak lama setelah itu ada mobil yang asing bagi mereka terparkir di halaman rumah Lynda, semuanya menatap orang orang yang turun dari mobil betapa terkejutnya mereka ternyata yang keluar dari dalam mobil itu adalah Bi Iyem dan anaknya.
"Bi Iyem" serempak.
"Kau datang kesini bi" tanya Lynda.
"Ya Bu aku ingin mengambil pakaian" ucap bi Iyem yang sudah berada di dalam rumah Lynda.
"Kau akan pergi" tanya Lynda.
"Ya bu aku akan menikmati masa tua bersama Putra dan istrinya" jawab Bi Iyem.
"Dan aku, aku akan sendirian di sini Bi" ucap Lynda.
"Mamah biarkan Bi Iyem pergi, mamah ada aku, mas Topan, Zia dan Rayhan" ucap Nita.
"Ya Sayang".
" Putra aku tak sangka ternyata kau anak Bi Iyem kalau saja aku tau sejak awal maka aku akan pertemukan kalian" ucap Sarah.
"Ya aku juga baru tau sekarang".
"Begitulah takdir tak ada yang tau" ucap Lynda.
Setelah lama mereka berbincang bincang akhirnya Bi Iyem dan Putra pamit untuk pergi walau pun Lynda sempat menahan Bi Iyem agar tak pergi tapi se kuat apa pun keingiannya tak akan pernah bisa di laksanakan.
Karena ini lah Hidup Bi Iyem yang baru pergi dari Lynda dan Hidup tenang dengan anak dan menantunya, Lynda sempat menangis karena tak terima berpisah dengan Bi Iyem yang bahkan sudah tiga puluh tahun ini menemaninya.
"Kau harus janji akan menemui aku di sini Bi" ucap Lynda.
"Saya Janji Bu".
Sarah yang melihat hal itu langsung merasa tak enak hati jika meninggalkan Lynda yang jika hari ini Sarah pergi maka Lynda akan kehilangan dua orang di rumahnya.
Tapi Sarah tak bisa berbuat banyak dia harus patuh pada Hilman karena sekarang Hilman adalah Suaminya, kemana pun Hilman pergi Sarah harus ikut.
"Maaf tante kami harus pergi sekarang" ucap Hilman.
"Kalian akan pergi sekarang" tanya Lynda.
"Ya tante kami harus pergi karena kami harus bersih bersih di rumah" ucap Hilman.
"Baiklah tapi kalian harus janji kalian harus sering sering datang kesini".
" kami janji tante".
Lynda memeluk Sarah dan mencium Alena entah kenapa lama Sarah tinggal dengannya Lynda sudah menganggap Sarah sebagai anaknya sendiri bahkan kasih sayang Lynda pada Sarah imbang dengan kasih sayang Lynda pada Nita.
Tak lupa Sarah juga berpamitan pada Nita yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri, walau pun dahulunya mereka tak akur tapi sekarang mereka seperti saudara kandung.
"Hilman tolong jaga Sarah, jangan sampai dia menangis karena kau tak pengertian padanya" ucap Nita.
"Aku akan jaga dia Nita bahkan aku juga akan membahagiakannya".
"Syukurlah".
__ADS_1
" aku sangat mengharapkanmu Hilman" ucap Lynda.
Lynda, Nita, dan Topan menatap kepergian Sarah dan Hilman entah kenapa rasanya rumah ini menjadi sangat sepi bukannya ini lah yang dahulu Lynda inginkan.
Melihat Bi Iyem bahagia dengan anaknya dan melihat Sarah bahagia dengan suami dan anaknya, tapi jika di tanya Lynda sangat menyesal karena sudah mengucapkan itu nyatanya dia merasa sangat kesepian.
"Hanya kalian yang ada di sini, kalian harus janji tak akan ninggalin mamah dalam kondisi apa pun" ucap Lynda sendu.
"Kami janji mah, lagian kami akan pergi kemana, ini rumah kami dan mamah tujuan kami pulang" ucap Topan.
"Ya mah aku tak akan kemana mana" ucap Nita.
"Terima kasih sudah mau merawat mamah, bahkan mamah sudah tua tak ada yang akan kalian harapkan dari mamah" ucap Lynda.
"Jangan begitu mah, semua yang Topan miliki itu semua pemberian mamah".
**
Sedangkan Sarah yang sudah berada di rumah Hilman menatap ke seluruh sudut ruangan itu, Sarah tak menyangka kalau Hilman punya rumah semewah dan seluas itu padahal rumah Anjasmara pun tak sebesar ini.
" apa ini benar rumahmu Hilman" tanya Sarah.
"Benar dan ini akan menjadi milikmu, kau senang" ucap Hilman.
"Wah benarkah kau tak bercanda Hilman".
" tentu semua yang aku punya akan menjadi milikmu jika kau mau".
"Makasih".
" apa pun untuk tuan putri" ucap Hilman sambil menunduk memberi Hormat pada Sarah.
Hilman membawa koper Sarah kedalam kamarnya bahkan Hilman juga sudah menyiapkan kasur sendiri untuk Alena yang sekarang masih sangat kecil.
" ini kamar kita" tanya Sarah melihat kamar mewah dengan desain yang sangat langka bagi Sarah.
"Ya, apa kau tak suka" tanya Hilman.
"aku sangat suka Hilman terima kasih" ucap Sarah sambil memeluk Hilman dengan erat.
Tanpa Sarah sadar dengan sikapnya yang seperti itu membuat Hilman merasakan sesuatu yang tak biasa Hilman seperti tersengat aliran listrik saat dekat dengan Sarah.
"Kau kenapa" tanya Sarah.
"Ehh, itu " ucap Hilman gugup.
Seolah paham apa yang di inginkan Hilman, Sarah langsung mempersilahkan Hilman untuk masuk kedalam kamar.
"Masuklah dulu aku akan berikan di dalam" ucap Sarah.
Hilman tersenyum karena akhirnya Sarah tau juga apa yang dia inginkan sekarang, bahkan tanpa di minta pun Sarah langsung mengerti hanya dengan melihat kode dari gerak tubuh Hilman.
Hari demi hari berlalu sangat cepat hingga tanpa sadar Sarah mulai menyanyangi Hilman bahkan takut jika harus kehilangan Hilman.
Entah kenapa setiap harinya Sarah hanya ingin dekat dengan Hilman padahal Hilman harus berangkat bekerja, tetapi hanya karena keinginan Sarah dia cuti bekerja.
"Mau kemana" tanya Sarah karena melihat Hilman sudah siap dan rapih untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
"Sarah aku harus kerja" ucap Hilman.
"Tak bisa ya kalau kerjanya di rumah saja".
Hilman menggeleng.
"Sarah sudah hampir satu minggu aku tak kerja, dan sekarang kau minta aku kerja di rumah, semua pertemuan penting sudah di handle oleh Tristan aku hanya akan memeriksa laporan saja" ucap Hilman.
"Baiklah pergi saja".
"Marah" tanya Hilman yang sudah paham kalau Sarah sampai mengijinkan berarti dia sedang marah.
"Tidak".
" baiklah aku akan pergi, aku akan kembali Sarah jam 12 siang aku pastikan aku sudah ada di rumah".
"Janji".
" janji, aku harus pergi sekarang".
Cup..
Sarah mencium pipi Hilman,
"Hati hati di jalan ya Suamiku" ucap Sarah manis.
"Ya aku pergi ya jaga Alena" ucap Hilman.
"Ya".
**
Di sisi lain Anjasmara sedang berada di perusahaannya entah kenapa setiap harinya ada saja yang membuat Anjasmara marah, mulai dari pembatalan kontrak sampai kerugian besar yang akan berimbas pada nasib perusahaannya.
Satu persatu karyawan sudah Anjasmara Phk karena sedikitnya keuntungan yang dia dapatkan tetapi banyaknya pegawai yang harus dia bayar.
Bahkan kalau saja bukan karena kerja sama dengan Hilman mungkin saja perusahaan Anjasmara sekarang sudah gulung tikar, namun karena kebaikan Hilman Anjasmara bisa tetap mendirikan perusahaannya.
"Aku akan pinjam uang pada perusahaan lain" gumam Anjasmara.
Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya dia menghubungi seseorang yang akan membantunya, tapi tetap saja tak ada yang mau membantu Anjasmara.
"Apa aku pinjam uang pada Hilman" ucap Anjasmara sambil berfikir keras.
"Baiklah aku akan coba" putusnya.
[Hilman aku butuh uang mau kan kau pinjamkan aku uang] tanya Anjasmara to the poin.
[Berapa] tanya Hilman.
[Sekitar 1M itu pun jika kau punya] ucap Anjasmara sedikit meledek.
[Jaminan nya apa] tanya Hilman.
[Apa? Hilman aku mertuamu apa kau tak merasa malu sudah bertanya begitu padaku] Anjasmara marah pada Hilman.
[Kita memang menantu dan mertua tapi Ayah mertua dalam urusan uang kita hanya sebatas orang asing] ucap Hilman.
__ADS_1
[Awas kau, menyesal aku harus menghubungi orang seperti mu Hilman] ucap Anjasmara sambil memutuskan sambungan telponnya.
"Ck awas kau Hilman" gerutu Anjasmara.