Aku Istri Kontrak Bosku

Aku Istri Kontrak Bosku
aku istri kontrak bosku eps 61


__ADS_3

Setelah sekian lama menunggu akhirnya Rama sadar juga dan Dokter keluar dari ruangan itu dan memberitau pada keluarga Lynda tentang kabar baik itu.


"Nyonya tuan Rama sudah siuman apa anda mau bertemu sekarang" sahut Dokter.


Mereka semua masuk kedalam ruangan itu dengan tergesa gesa karena mau mengetahui bagaimana keadaan Rama dan bagaimana Rama bisa kecelakaan.


"Baiklah Nyonya saya akan panggilkan istrinya kesini" sahut Dokter sambil pergi.


Lynda menatap nanar wajah Rama yang pucat pasi dan hanya menatap langit langit rumah sakit saja.


Rama melirik kearah keluarganya itu.


"Mbak" lirih Rama sambil menatap wajah Lynda dengan mata yang sayu.


"Bagaimana keadaanmu Rama?" tanya Lynda dingin, dalam hati Lynda sangat benci pada Rama.


Rama tak menjawabnya dia hanya melihat kearah sekeliling.


"Dimana istriku" tanya Rama yang menyadari kalau istrinya tak ada disana.


"Dokter sudah memanggilnya tadi" ketus Lynda.


"Dari mana kalian tau kalau aku ada di sini" tanya Rama.


"Pihak rumah sakit yang menelpon kami untuk datang kesini" jawab Lynda masih dengan nada yang ketus.


Rama tak berani bertanya lagi, dia tau kalau dia bertanya lagi Lynda pasti akan menjawabnya dengan ketus.


Dokter berlari masuk kedalam ruangan Rama, terlihat kalau dirinya sedang cemas.


"Maaf tuan istri anda tak ada di kamarnya" sahut Dokter itu dengan nafas yang ngos ngosan karena kecapean berlari.


"Apa gak ada di kamarnya? Kemana dia Dok?" tanya Rama khawatir pada Sarah.


"Benar tuan saya tidak tau, tadi saat saya memeriksanya dia masih ada disana tetapi barusan dia gak ada tuan" jelas Dokter itu.


"Cari dia sampai dapat Dok, keadaanya pasti sangat lemah sekarang" sahut Rama.


"Maaf tuan tapi benar saya tak tau" ucap Dokter.


Nita Topan dan Lynda hanya diam tak bisa berkata apa apa lagi karena itu adalah urusan rumah tangga Rama jadi mereka tak berhak untuk ikut campur.


Rama berusaha untuk bangun dari tempat pembaringannya, Namun karena tubuhnya yang masih lemas dan lemah Rama tak bisa banyak bergerak dulu.


"Tuan kondisi anda belum stabil jadi anda tak bisa bangun dulu sebelum kondisi anda membaik" jelas Dokter.


"Tapi Dok istriku pergi dari sini, aku tak tau di luaran sana dia akan bagaimana aku takut orang jahat itu menyakiti istriku" ucap Rama cemas.


"Tenanglah Rama istrimu akan baik baik saja, mungkin dia tak tega melihatmu seperti ini" sahut Lynda berusaha menenangkan Rama yang terlihat sangat cemas.

__ADS_1


"Tidak mbak dia tak akan meninggalkanku aku paham benar bagaimana sikapnya" jawab Rama.


"Dulu aku selalu berdoa untukmu agar kau merasakan apa yang aku rasakan, namun hari ini aku menarik kembali doaku ternyata kau tak sekuat aku Rama" ucap mamah Lynda getir.


Rama hanya diam saja, dia merasa bersalah pada keluarga kakak tirinya itu! Rama telah melenyapkan kakak tirinya yang sudah berbaik hati menampungnya dahulu.


"Baiklah aku akan pulang sekarang, besok aku akan datang lagi kesini" sahut Lynda sambil meninggalkan tempat itu.


Nita dan Topan hanya mengikuti mamahnya itu berjalan karena tak enak juga kalau harus diam disana sedangkan mamah Lynda pun tak memperdulikannya.


Rama melihat kepergian keluarganya, sungguh hanya penyesalanlah yang dia rasakan sekarang, Rama tau kalau Lynda tak akan dengan mudah memaafkannya.


"Aku sudah menyia nyiakan keluargaku sendiri" gumam Rama sambil meneteskan air matanya.


Beberapa hari berikutnya.


Rama sudah merasa pulih dan sehat, hari ini dia di perbolehkan untuk pulang oleh Dokter karena kondisinya sudah membaik.


Tetapi Rama tak di perbolehkan untuk bekerja selama seminggu karena jika Rama kecapean itu akan membuat kondisinya menurun.


Lynda dan Topan sudah menunggunya di luar pintu rumah sakit itu.


Rama berjalan tertatih tatih karena kakinya masih sedikit terasa sakit.


Topan langsung membantu pamannya itu untuk berjalan masuk kedalam mobil mereka yang akan mengantarkan Rama ke rumahnya.


Di perjalanan tak ada percakapan di antara ketiganya karena sangat canggung jika harus memulai percakapan duluan.


"Di jalan Xxxxx nomor 6" jawab Rama.


Topan hanya menganggukan kepalanya saja.


Sedangkan Lynda tak terlalu peduli dengan ucapan Rama itu.


Rama hanya memandangi jalanan yang cukup ramai karena banyak mobil yang berlalu lalang.


"Sarah kamu dimana? Apa kau tak mau melihatku yang sudah sehat ini? Apa kau malu jika keluargaku tau kalau kau adalah istriku?" batin Rama bertanya tanya.


Topan memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumah pamannya itu, namun Topan merasa heran kenapa rumah itu di kelilingi oleh tanda polisi.


"Apa benar ini rumahnya" tanya Topan keheranan.


Rama yang sedang melamun langsung tersadar kalau mobil yang dia tumpangi itu sudah berhenti tepat di depan gerbang rumahnya.


Rama langsung turun saat melihat ada tanda polisi yang mengelilingi rumahnya.


"Ada apa ini" gumam Rama.


Rama mendekat kearah gerbang rumahnya yang terkunci oleh gembok yang sangat besar dan kuat.

__ADS_1


"Jerryy.... Rudiii...." teriak Rama sambil menggedor gedor gerbang itu.


Lynda dan Topan turun dari mobil dia merasa ada masalah pada rumah Rama.


"Kenapa paman apa tak ada orang di dalam" tanya Topan pura pura tak tau yang terjadi pada paman Rama.


"Entahlah aku tak tau" jawab Rama.


Saat Rama hendak berteriak lagi dia mendapati anak buahnya yang berlari mendekat kearahnya.


"Tuan kau dari mana saja" tanya Anak buah Rama sambil ngos ngosan karena kecapean berlari.


"Aku di rawat di rumah sakit Dik, ada apa ini kenapa rumahku di kunci seperti ini" tanya Rama dengan keheranan.


"Maaf tuan, tapi rumah tuan sudah di sita oleh polisi karena mereka menemukan jenazah Jery dan Rudi didalam, mereka mati karena tertembak oleh pistol tuan" jelas Dikdik anak buah Rama.


"apa Jery dan Rudi meninggal" ucap Rama terkejut tak percaya.


"Benar tuan dan orang tersangkanya adalah anda dan Non Sarah" ucap Dikdik ragu.


"Apa kenapa aku jadi tersangka aku ini sama sama korban" bantah Rama.


"Tuan kemarin aku melihat istri anda kemari dam melihat lihat rumah ini dengan teliti, karena aku sangat penasaran aku mendekatinya dan hendak bertanya tentang anda padanya tuan, tetapi Nona langsung berlari pergi meninggalkanku Tuan" jelas Dikdik.


"apa dia kesini, kemana dia lari Dik" tanya Rama.


"Aku gak tau tuan aku tak melihatnya lari kemana, mungkin bisa saja dia menghindar dari kita tuan karena dia takut dirinya merasa terancam jika berada bersama kita tuan" ucap Dikdik menerka nerka.


"Tidak Dik aku tak percaya jika dia melakukan itu padaku" bantah Rama.


"Atau bisa jadi Nona pergi karena merasa malu pada anda tuan, karena kan ini semua terjadi karena perbuatan Ayahnya! Bisa saja dia pergi karena tak mau Ayahnya lebih menyakiti lagi Tuan kalau Nona masih berada di samping tuan" ucap Dikdik.


Rama hanya berpikir sejenak mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Dikdik anak buahnya itu.


"Aku paham betul seberapa sayangnya Nona padamu Tuan" ucap Dikdik lagi.


Hati Rama seolah mengiyakan setiap ucapan Dikdik namun pikiranya membantah dengan keras, kenapa Sarah harus pergi dengan Sarah pergi itu akan membuatnya lebih menderita lagi, pikir Rama.


"Dikdik apa kau bisa memberi tau anak buahku yang lain untuk mencari keberadaan Sarah, dan aku akan mencari apartemen atau tempat apa lah yang bisa aku tempati sekarang, nanti jika aku sudah pulih benar aku akan turun tangan sendiri untuk mencari istriku" titah Rama pada Dikdik.


"Baik tuan akan saya usahakan, soal barang barang anda tuan semuanya ada di rumah saya" sahut Dikdik.


"Terima kasih Dik" ucap Rama.


Dikdik hanya menganggukkan kepalanya.


bersambung......


***jangan lupa like comen dan votenya ya.

__ADS_1


salam manis Author***..


__ADS_2