
Mobil Topan terparkir di rumah sakit yang cukup besar di kota itu, dengan sigap Rama merangkul tubuh Sarah dan membawanya kedalam rumah sakit untuk segera di periksa oleh Dokter.
Nita dan Topan turun mengikuti Rama yang masih menggendong Sarah dan masuk kedalam rumah sakit itu guna meminta bantuan untuk Sarah.
"Suster istri saya sedang sakit" sahut Anjasmara saat mendapati seorang suster yang sedang berdiri memegang buku.
Suster itu langsung berlari ke dalam kamar perawat dan membawa blangkar untuk membaringkan Sarah.
"Taruh di sini Tuan, kita langsung bawa saja ke ruang UGD" ucap Suster itu sambil mencoba memanggil Dokter yang akan menangani Sarah nanti.
Rama menidurkan Sarah di atas blangkar itu, dan suster yang lain membantu mendorongnya untuk segera masuk kedalam ruang UGD itu.
Dokter berlari menuju Sarah yang barusaja akan masuk ke ruangan UGD, Dokter itu yang akan menangani Sarah yang sedang tak sadarkan diri itu.
Setelah Sarah masuk kedalam para suster memasangkan impusan pada tangan Sarah, lalu Dokter itu memeriksa detak jantung Sarah.
"Sus panggilkan keluarganya untuk mencari tau pasien kenapa" titah Dokter itu.
"Baik Dok" ucap Suster sambil melangkah keluar mencari keluarganya Sarah yang akan menjelaskan sakit apa Sarah.
"Permisi Dokter ingin bertanya pada keluarga pasien" ucap Suster itu.
"Iya kenapa Sus, apa ada yang parah" tanya Topan.
"Dokter ingin menanyakan kenapa Pasien bisa pingsan" ucap Suster itu.
Nita langsung berjalan mendekat kearah Suster itu, namun dia sempat melihat Rama dan meminta ijin padanya menggunakan isyarat wajah.
Dan Rama menganggukan kepalanya menandakan dia mengijinkan Nita menjelaskan awal mula saat Sarah belum pingsan.
"Mas" lirih Nita meminta ijin sang suami.
Topan menganggukan kepalanya cepat.
Nita masuk kedalam dan Dokter itu menanyainya dengan banyak pertanyaan tentang kondisi Sarah yang bisa seperti itu.
"Nona bisa jelaskan pada saya kenapa pasien bisa pingsan seperti ini" tanya Dokter itu dengan masih memeriksa Sarah.
"Kemarin Sarah juga sempat pingsan Dok dan seorang bidan memeriksa Sarah dan katanya Sarah terkena Anemia" jawab Nita.
"Oh jadi pasien sempat ke bidan, lalu apa pasien tak sedang melakukan apa apa pada saat dia akan pingsan" tanya Dokter.
"Saat pingsan dia berteriak seperti orang gila Dok, dia meracau tak jelas terlebih lagi Sarah memegang kepalanya mungkin karena sakit" jawab Nita.
"Berteriak? Apa Pasien bertemu dengan orang yang pernah bermasalah dengannya tempo lalu atau di masalalunya" tanya Dokter.
"Iya Dok Sarah bertemu Ayahnya, aku dengar mereka memang kurang baik akhir akhir ini, tetapi Dok saat pertama melihatnya Sarah masih tersenyum melihat kedatangan Ayahnya namun saat Sarah mendengar suara Ayahnya dia langsung memegang kepalanya dan jatuh pingsan" jelas Nita.
"Baiklah terima kasih Nona, silahkan anda keluar" ucap Dokter itu.
Nita berjalan keluar dari ruangan itu setelah menjelaskan pada Dokter itu rasanya Nita sangat tak enak hati pada Rama karena dia tak menceritakannya pada Rama.
Namun Topan dan Rama yang sedari tadi berada di luar pun mendengarkan semua yang di ceritakan oleh Nita pada Dokter walau pun hanya terdengar sekilas tapi Rama bisa paham apa yang di katakan Nita.
__ADS_1
Rama duduk di kursi tunggu dia tak bisa berbuat apa apa selain berdoa meminta kesembuhan untuk Sarah dan bayinya.
Topan memeluk Nita, rasa rindunya bisa terobati karena bisa bertemu dengan Nita.
"Mas sangat rindu padamu Nita, jangan pergi lagi ya" bisik Topan tepat di telinga Nita.
Nita menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan suaminya itu.
"Mas bagaimana keadaan Rayhan aku sangat khawatir pada Rayhan" tanya Nita.
"Rayhan baik Nita kamu gak perlu khawatir, sekarang kita akan pulang dan bertemu dengan Rayhan dia pasti tak sabar ingin bertemu denganmu" ucap Topan.
Drtttt Drtttt..
Ponsel Topan berdering tanda ada yang sedang menelpon Topan.
Topan langsung melihat ponselnya yang ada di dalam sakunya.
"Mamah" ucap Topan sambil tersenyum haru.
Topan mengangkat panggilan telpon itu dan menempelkan ponselnya pada telinganya.
[Hallo Mah] ucap Topan.
[Pan bagaimana dengan Nita] tanya Lynda.
[Alhamdulilah mah Nita sudah ketemu tetapi Topan gak bisa pulang sekarang karena Sarah sedang di rawat] jelas Topan.
[Kenapa Sarah pan] tanya Lynda cemas.
[Mamah kesana sekarang ya, apa mamah bisa bicara dengan Nita] tanya Lynda tak sabar ingin mendengar suara menantunya.
Topan menyodorkan ponselnya pada Nita.
"Mamah mau ngobrol" ucap Topan.
Nita mengambil ponselnya dan menempelkannya di telinga.
[Hallo mah] ucap Nita.
[Hallo sayang kamu baik kan tak ada yang terluka mamah sangat merindukanmu Nita] ucap Lynda terharu.
[Baik mah]
Setelah lama mengobrol dengan Lynda, Nita memutuskan untuk menutup telponnya karena mamah mertuanya itu pun akan datang ke rumah sakit itu untuk melihat Sarah.
-
Lama menunggu belum ada kabar juga dari Dokter, bahkan Dokter yang memeriksa Sarah pun belum keluar juga dan itu membuat Rama menjadi sangat cemas.
Topan yang melihat Rama meneteskan air matanya pun langsung tersadar dan mendekat kearah Rama untuk menenangkannya.
"Sabar Paman Sarah akan baik baik saja" ucap Topan sambil duduk di sebelah Rama.
__ADS_1
"Aku harap begitu Topan, aku tak akan membiarkan Anjasmara hidup tenang jika Sarah kenapa napa" geram Rama sambil mengepalkan tangannya.
"Tenanglah yang terpenting sekarang itu adalah kesembuhan Sarah, soal Anjasmara nanti aja" ucap Topan.
Nita yang melihat itu hanya tersenyum pasalnya mereka berdua sering sekali bertengkar jika sedang bersama tapi sekarang mereka sangat akrab dan mampu menguatkan satu sama lain.
"Baiklah paman sambil menunggu Dokter keluar bagaimana kalau kita minum secangkir teh hangat untuk membasahi tenggorokan kita yang dari pagi tadi belum minum" ucap Topan.
"Oke" ucap Rama.
***
Hari sudah mulai sore sedangkan Puput masih berada di kampus karena ada pelajaran mendadak karena Dosennya masuk sore.
"Malas aku, pasti pulangnya malam" gerutu Puput.
Dengan tak sadar Puput di gandeng oleh Arka lakilaki yang sangat dia idam idamkan karena ketampanannya yang menjadi bintang di kampus itu.
"Jangan mengeluh ayo ke kelas" ucap Arka yang membuat Puput berbunga bunga.
Mereka berdua masuk kedalam kelas yang sama karena mereka pun ikut jurusan yang sama.
"Baiklah Put dimana rumahmu" tanya Arka yang tak tau dimana rumah temannya itu.
"Rumahku di kampung ka tapi aku sekarang tinggal di rumah kakak aku" jawab Puput.
"Oh siapa nama kakak mu Put" tanya Arka.
"Nita dia kakak terbaik untukku tapi sayang dia sangat tak adil padaku" ucap Puput jujur.
"Tak adil bagaimana" tanya Arka heran.
"Iya bahkan dia orang kaya tapi tak pernah memberiku uang atau pun kebahagiaan, apa kau tau Arka aku di kampung sering di buly karena miskin tetapi kakakku dia hidup bahagia di kota" ucap Puput.
Karena ucapan itu membuat Arka bingung, bukannya seorang kakak yang sudah menikah memang harus ikut suaminya dan menikmati setiap harta yang suaminya punya, pikir Arka.
"Kau salah Put, kakakmu berhak bahagia" ucap Arka yang menatap Puput berbeda.
"Tidak Ka, bahkan kakakku tak pernah membelikan aku barang mahal, tetapi kata orang tuaku si kakak suka mengirim uang untuk keperluanku" ucap Puput.
Arka semakin ilpil karena ucapan Puput itu.
"Tapi kan tetap saja kakakmu membiayai kehidupanmu Put" ucap Arka.
"Ah.. Kamu ini, Arka itu artinya kakak membiayai keluargaku bukan aku" ucap Puput dengan pemikiran yang egois.
"Rubah sikapmu Put sebelum orang lain menjauhimu" ucap Arka sambil pergi dari hadapan Puput.
Puput heran melihat sikap Arka yang langsung berubah dan pergi dari hadapannya bahkan Puput tak sadar kalau dengan sikapnya itu Arka semakin tak suka pada Puput.
bersambung...
***cepat sembuh Sarah jangan ririwit terus kasihan Rama.
__ADS_1
buat Puput lupain lah dendam yang tak jelas itu, lihat Arka juga semakin tak suka padamu.
salam manis Author***