
Pagi harinya Puput di bangunkan dengan cahaya pagi yang menganggu matanya, saat mata Puput terbuka wajah tampan Arka lah yang pertama kali dia lihat.
Puput tersenyum senang karena mendapat mimpi bisa melihat wajah Arka yang sudah beberapa tahun ini dia rindukan bahkan saat mereka bertemu pun bukannya hal indah justru hanya membuat masalah saja.
"Bangun Woii sudah siang" ucapan Arka yang menyadarkan Puput dari lamunannya itu.
"Hah jam berapa ini" tanya Puput yang langsung bangun dan melihat jam yang menempel di dinding.
"Jam enam pagi kau kesiangan dasar kebo" ledek Arka.
"Awas kau" geram Puput karena sudah di panggil kebo oleh Arka.
Puput bangun dan langsung ingin memukul Arka dengan bantal, tapi reaksi Arka malah membuat Puput merasa terkejut karena Arka langsung memeluk Puput dan membawa Puput kedalam pelukannya.
Ada rasa nyaman berada di pelukan Arka tetapi itu tak berselang lama karena dengan cepat Puput sadar dan di dalam pikirannya terlintas ucapan Arka yang dahulu bilang kalau dia tak suka pada wanita.
"Lepaskan aku" ucap Puput berontak.
"Mandilah kau sangat bau Put" bisik Arka.
"Ck awas kau, siapa suruh meluk meluk" ucap Puput.
Arka melepaskan pelukannya dan hendak keluar dari kamar itu.
"Kau mau kemana" tanya Arka.
"Ke kamar mandi" jawab Puput.
"Memangnya kau tau kamar mandinya dimana" tanya Arka yang membuat Puput mati kutu karena benar juga kalau dia tak tau dimana letak kamar mandinya apa lagi ini kali pertama dia datang ke rumah Arka.
"Gak tau kan? Yaudah biar aku antar" ucap Arka.
Puput hanya mengekor di belakang Arka sungguh dia sangat menyesali perbuatannya itu.
"Dasar bod*h kenapa aku salah tingkah begini, aku juga tak tau kamar mandinya dimana" batin Puput.
"Masuklah" ucap Arka.
"Kamar siapa ini" tanya Puput.
"Kau kira kamar siapa lagi, kamar aku lah" ucap Arka.
"Kamarnya bagus tapi sayang tak ada foto aku" gumam Puput yang masih bisa di dengar oleh Arka.
Arka menarik Puput, melingkarkan tangannya di perut Puput.
"Kalau kau mau fotomu ada di sini maka kau harus menikah dulu denganku, Calon Nyonya Arka Marta Jaya" bisik Arka di telinga Puput.
Perkataan itu membuat Puput merasa semakin salah tingkah di buatnya, bahkan pipi Puput memerah karena mendengar hal itu.
"Baiklah Nyonya kamar mandinya ada di sana dan handuknya ada di dalam kau bisa memakainya, untukmu semuanya bebas" ucap Arka.
"Ya".
Puput masuk ke kamar mandi.
" ya ampun kenapa dia harus bicara begitu hah, dan kenapa juga aku tak marah saat Arka memeluk aku tanpa ijin" gerutu Puput.
Sedangkan Arka sudah berada di dapur membuatkan teh hangat untuk dirinya sendiri, bahkan Arka membuat teh dengan senyum senyum sendiri karena merasa senang jika dekat dengan Puput.
"Ciee ada yang lagi seneng nih" ledek Luna yang melihat tingkah putranya itu.
"Mamah, apaan sih" ketus Arka.
"Udah mah jangan goda Arka dia kan baru jatuh cinta" goda papahnya.
"Mulai" ucap Arka.
"Gak deh, oh ya kamu lagi buat apa" tanya Luna.
__ADS_1
"Buat Teh".
" kenapa hanya satu, calon istri kamu gak kamu buatin" goda Luna sambil tertawa bahkan Leo pun tertawa saat melihat reaksi Arka yang malu malu.
"Ya aku mau buatin" ucap Arka.
Setelah selesai membuat teh Arka langsung masuk lagi kedalam kamarnya karena tak mau mendengar ucapan mamah dan papahnya yang selalu saja meledeknya.
Arka meletakkan dua gelas teh hangat di atas nakas kamarnya, Arka menatap pada pintu kamar mandi karena sedari tadi Puput belum juga keluar dari sana.
"Apa dia tak bisa menyalakan shower" gumam Arka sambil berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"Put sudah" teriak Arka dari luar.
Puput membuka pintunya setengah dia sedari tadi bingung karena tak punya baju ganti,
"Arka aku tak punya baju" ucap Puput.
"Kalau begitu tak perlu pakai baju" ucap Arka.
Puput mencubit tangan Arka.
"Awwwss sakit" ucap Arka.
"Pinjamkan aku baju" ucap Puput.
"Yaudah kamu keluar dulu" titah Arka.
"Arka aku tak pakai baju" ucap Puput.
"Tapi kau pakai handukkan".
Puput pun keluar dari kamar Arka untung saja handuk Arka besar dan lebar jadi hampir menutupi badan Puput dan hanya pundaknya saja yang tak bisa dia tutupi.
Arka melongo melihat pemandangan itu karena seingat Arka dia baru kali ini melihat seorang gadis yang baru selesai mandi.
" aku sudah keluarkan lalu dimana bajunya" tanya Puput.
"Jangan lama lama aku bisa masuk angin" ucap Puput.
"Ya bawel".
Arka meminjam baju mamahnya dengan sangat senang Luna meminjamkan bajunya untuk menantunya itu bahkan tak di balikin juga tak masalah bagi Luna.
" yang besar mah bajunya Puput gendut" ucap Arka.
"Ini bagaimana" tanya Luna memperlihatkan bajunya yang masih baru berwarna grey.
"Apa akan muat di Puput, mamah dia sangat gendut" ucap Arka.
"Muat Arka bahkan Puput tak segendut itu kan" ucap Luna.
"Mamah ini gak tau saja bahkan perutnya pun sangat buncit" ucap Arka tanpa sadar.
"Dari mana kamu tau perutnya buncit" tanya Luna dengan tatapan menyelidik.
"Tau mah karena kan sangat terlihat" ucap Arka gugup.
"Percaya sama mamah ini cukup kok" ucap Luna.
-
"Bagaimana cukup" tanya Arka.
"Bagaimana" tanya Puput.
"Bagus cuman kamu gendut" ucap Arka.
"Terserah yang terpenting aku cantikkan" ucap Puput dengan percaya diri.
__ADS_1
"Cantik sih tapi gendut" ledek Arka.
"Fyuhh terserah, hari ini aku akan berangkat naik taksi" ucap Puput.
"Berangkat kemana" tanya Arka.
"Kerja".
" No sekarang kita akan pergi ke kampungmu karena mamah dan papah sudah siap di bawah".
Glekk.
"Sekarang" tanya Puput.
Arka menganggukan kepalanya, Puput merasa sangat grogi, gugup, salah tingkah, takut semuanya tercampur aduk di pikiran dan hatinya.
"Ayo mereka sudah nunggu lama" ucap Arka.
Di dalam perjalanan tak ada pembicaraan, hanya hening yang mereka rasakan apa lagi Puput yang sangat cemas karena takutnya ibunya tak akan merestui pernikahan itu apalagi dengan kondisi bapaknya yang baru saja meninggal.
"Oh ya put dimana rumah kamu" tanya Leo.
"Tuan, Nyonya benarkah kita akan ke rumahku" tanya Puput.
"Benar pun kamu kira kita akan kemana" tanya Luna.
"Ya tapi rumah ibu di kampung kecil aku takut kalian akan merasa risih" ucap Puput.
"Tak apa put kami menerima kamu apa adanya" ucap Leo.
"Terima kasih Tuan".
Puput menunjukan arah ke rumahnya, mobil Leo berhenti tepat di depan rumah Puput, Nita, Lynda, dan Ibu Rubiah yang ada di dalam langsung menatap keluar karena ada mobil yang asing berhenti di depan rumahnya.
Keluarlah Puput dan keluarga Arka, Nita langsung terkejut melihat Arka yang ada di sana dan bersama Puput.
Dengan cepat Nita bangkit dan memberi taukan nya pada ibu Rubiah.
" bu akan ada tamu" ucap Nita.
"Siapa" tanya Ibu Rubiah.
"Keluarga Arka bu, bosnya Puput di kantor".
Nita dan ibu Rubiah langsung keluar mempersilahkan keluarga Arka untuk masuk kedalam rumah.
" selamat datang Nyonya, tuan" ucap Nita.
"Terima kasih, maaf kami datang tak mengabari dahulu" ucap Luna.
"Tak apa Nyonya kami senang anda datang ke sini, silahkan masuk Nyonya tuan" ucap Ibu Rubiah.
Semuanya masuk kedalam rumah, Nita menyajikan minum pada keluarga Arka dengan sedikit cemilan yang menemani minuman itu.
"Silahkan di makan Nyonya, tuan" ucap Nita.
"Terima kasih".
" bu maaf kami datang kesini dengan terburu buru, pertama tama kami ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Bapaknya Puput" ucap Luna.
"Terima kasih Nyonya" ucap Ibu Rubiah.
"Silahkan di nikmati Nyonya kalian pasti kecapean karena perjalanan jauh" sahut Lynda yang merasa pernah kenal dengan mamah dan papahnya Arka.
"Terima kasih Nyonya Lynda, maaf kami baru tau kalau Topan menikah dengan kakaknya Puput".
" tak masalah Nyonya".
"Oh ya kedatangan kami kesini kami ingin melamar Puput untuk anak kami Arka" ucap Leo.
__ADS_1
"Melamar" serempak.
Nita, Lynda dan Ibu Rubiah saling menatap satu sama lain karena tak sangka kalau keluarga Arka akan datang secepat itu, padahal yang mereka tau adalah Puput baru saja kenal dengan Arka setelah lama mereka berpisah.