
Di sisi lain tepatnya di rumah sakit kecil yang alat medisnya hanya seadanya bahkan rumah sakit itu terbilang satu satunya rumah sakit di kota itu.
Tomi dan Gilang menunggu dokter yang sedang memeriksa Nita dan Sarah.
Sudah hampir 1 jam lamanya dokter yang memeriksa mereka belum keluar juga dari ruangannya.
Gilang mondar mandir tak jelas dia sangat takut jika Nita sakit parah karena perbuatannya pada Nita.
"Jika terhadi sesuatu pada Nita aku tak akan memaafkan diriku sendiri" batin Gilang cemas.
Sedangkan Tomi merasa sangat ketakutan, takut jika sampai terjadi sesuatu pada wanita itu pasti dia akan di penjara atau bahkan bisa seumur hidup di penjara, karenakan mereka dari keluarga orang kaya memasukan seseorang ke dalam penjara adalah hal yang mudah bagi orang yang beruang, pikir Tomi.
Tomi bergidig ngeri saat berpikir seperti itu tentunya Tomi berdoa semoga kedua wanita itu cepat sadar dan pulih lagi.
Seorang dokter yang memeriksa Nita dan Sarah keluar dari ruangan itu, dengan cepat Tomi dan Gilang langsung mendekat kearah dokter itu guna menanyakan kabar Nita dan Sarah.
"Bagaimana Dok" tanya Tomi dan Gilang serempak.
"Begini pak, pasien yang bernama Sarah hanya mengalami anemia saja dia pingsan karena kekurangan Hemoglobin dalam tubuhnya" jelas Doktet itu.
"Terus bagaimana dengan Nita Dok" tanya Gilang cemas dan panik.
"Kondisi Nita cukup parah dia mengalami dehidrasi berat, apa dulunya dia pernah mengalami hal serupa" tanya Dokter.
"Aku tidak tau Dok" ucap Gilang menunduk dan menggelengkan kepalanya.
"Biarkan dia di rawat dulu disini" ucap Dokter sambil pergi.
Gilang bersandar di dinding rumah sakit itu, Gilang terduduk di lantai dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Semua ini salah kita Tom" ucap Gilang penuh penyesalan.
"Sudahlah kita akan bertanggung jawab" ucap Tomi yang tak kalah paniknya dari Gilang karena takut di penjara.
"Gue gak menyangka kalau kita akan menjadi sejahat ini" ucap Gilang lagi.
***
Topan Dan Rama masih berada di rumah kosan itu, mereka menunggu orang yang mungkin tinggal di dekat kosan itu.
Bahkan dari tadi pun tak ada orang yang berlalu lalang di sana.
"Apa mereka akan kemari Topan" tanya Rama yang masih emosi.
"Tunggu sebentar lagi paman, aku yakin mereka gak akan membiarkan motor mewah itu tetap berada di rumah kumuh ini" ucap Topan.
Rama tak henti hentinya mengepalkan tanganya sangking marahnya pada penculik itu.
3 jam pun berlalu
Tetap saja tak ada orang yang datang ke kosan itu, Rama dan Topan menunggu di mobil tetapi sesekali Rama turun untuk mengecek rumah dan Motor itu.
"Aku mulai bosan Topan, aku takut dengan menunggu ini kita akan semakin jauh dengan Sarah" ucap Rama mengeluh.
"Jangan banyak mengeluh paman, kita nemu tas Nita dan Sarah disini berarti mereka tak jauh dari sini, filingku kuat kalau tentang Nita paman" ucap Topan.
"Terserahlah" gumam Rama.
****
di kediaman Lynda House
Lynda sudah membawa kasus penculikan menantunya itu ke kantor polisi dia sangat tau jika Topan Dan Rama pasti belum mendapat kabar tentang Nita dan Sarah.
__ADS_1
[Saya ingin menantu saya segera di temukan] ucap Lynda di sambungan telpon.
[Baik Nyonya akan saya usahakan] jawab polisi di sebrang sana.
Lynda menaruh lagi ponselnya di atas meja saat sambungan telponnya sudah terputus.
Lynda duduk di sofa dia sangat tak bernafsu untuk makan, bahkan tidur pun dia tak tenang hanya satu dua jam langsung terbangun lagi.
Lynda memijat keningnya yang terasa pusing dan sakit, dia sangat panik dan cemas berlebihan jadi membuat kondisi Lynda mulai tak terlalu baik.
"Ibu mau makan, biar bibi bawakan" ucap Bi Iyem yang tak tega dengan melihat kondisi majikannya itu.
"Tidak usah bi aku gak lapar" jawab Lynda.
"Minum saja sedikit bu, ibu tak meminum apa apa dari kemarin" ucap Bi Iyem sambil menyodorkan teh hangat yang dia buat tadi.
"Aku terlalu takut akan kondisi anak anakku Bi, baru kali ini aku merasa terlibat dalam masalah orang lain" ucap Lynda menundukan kepalanya sedih.
"Sudah Bu ini sudah kehendak tuhan kita tak bisa berbuat apa apa biarkan polisi yang akan mencarinya bu" ucap Bi Iyem menenangkan.
Sedangkan Puput sudah bersiap untuk pergi ke kampus, dengan memakai rok selutut dan sepatu hak tinggi Puput berangkat seperti bukan untuk belajar.
Puput berjalan kearah Lynda dengan menenteng sepatu hak tingginya dan memakainya di sofa dekat Lynda duduk.
Tak ada raut wajah sedih dari Puput tak seperti kemarin yang berpura pura untuk terlihat paling sedih karena ingin caper di hadapan Lynda.
"Mamah aku berangkat dulu ya" ucap Puput berharap dapat uang jajan dari Lynda.
"Iya hati hati di jalan ya" ucap Lynda.
Puput melongo karena harapannya hanya sia sia, niatnya mau dapat uang jajan malah tak di beri sepeser pun.
"Ck apa aku harus minta" batin Puput bedecak kesal.
"Baiklah aku berangkat dulu" ucap Puput lagi memastikan kalau Lynda akan memberinya uang.
"Ini semua karena ulah Nita karena dia aku tak dapat uang jajan" batin Puput menyalahkan Nita dalam segala hal.
Puput berjalan keluar karena dia tak punya uang lebih jadi dia meminta pak supir untuk mengantarnya ke kampus.
"Gak mati aja sekalian kamu Nita, nyusahin aja" batin Puput.
Setelah sampai di kampus Puput langsung masuk kedalam kelasnya, Puput ingin mencari seseorang siapa lagi kalau bukan lelaki yang sedang dia taksir.
"Arka" gumam Puput.
Puput mencoba mendekati lelaki itu, dengan perawakan yang gagah dan wajah yang tampan membuat Arka menjadi sangat di kagumi oleh semua wanita yang ada di kampus itu.
"Selamat pagi Arka" sahut Puput yang terkagum kagum melihat ketampanan Arka.
"Pagi" ucap Arka.
Arka lelaki kaya yang cukup akrab dengan orang lain sehingga membuat orang lain merasa nyaman kalau berada dengannya, apa lagi Arka orang kaya dan terbilang baik pada orang lain.
Semua orang senang berteman dengannya.
Maka Puput pun merasa sangat Nyaman pada perlakuan Arka yang baik dan tidak itungan.
"Mau kah kau makan siang denganku nanti Arka" tanya Puput sopan.
"Maafkan aku Puput aku gak bisa, sudah ada janji dengan teman temanku" ucap Arka menolak.
"Oh baiklah" ucap Puput kecewa.
__ADS_1
***
Di rumah sakit.
Gilang dan Tomi masih menunggu di luar ruangan tempat di rawat Sarah Dan Nita, mereka tak berani masuk karena takut jika mereka berdua menyalahkan Tomi dan Gilang.
"Masuk tidak" tanya Gilang ragu.
"Masuk saja dulu lihat keadaan mereka" jawab Tomi.
Mereka berdua memutuskan untuk masuk kedalam ruangan Nita dan Sarah memastikan bahwa mereka baik baik saja setelah pingsan tadi.
Nita sedang berbaring di atas blangkar dia masih tidur karena malam hari dia tidur larut malam jadi pagi ini dia merasa sangat mengantuk.
Sedangkan Sarah yang sudah terbangun hanya berbaring di blangkar sebelah Nita, Sarah menatap langit langit rumah sakit itu.
Dia sangat merindukan Rama suaminya.
"Kapan kau akan melepaskan kami" tanya Sarah namun matanya masih menatap langit langit rumah sakit itu.
Gilang dan Tomi menelan saliva.
Mereka tak bisa menjawab apa apa karena rencana mereka belum ada yang berhasil.
"Maafkan kami Nona aku lupa memberi kalian selimut dan bantal" ucap Gilang menunduk menyadari kesalahannya.
"Kalian yang salah, lihat Nita dia mengalami dehidrasi berat karena kurang cairan dalam tubuhnya, itu semua salah kalian" ucap Sarah.
"Maaf Nona" ucap Tomi.
"Maaf saja tak cukup, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Nita dan bayinya hah, tak akan segan segan aku memenjarakanmu" bentak Sarah.
"Tenang Nona kau membangunkan Nita" ucap Gilang.
"Kau yang salah" teriak Sarah lagi.
Nita membuka matanya perlahan dia sangat merasa terganggu karena percakapan Sarah dan Kedua anak buah Anjasmara itu.
"Nita maaf membangunkanmu" ucap Sarah.
"Tidak" ucap Nita lemah.
Gilang mendekat kearah Nita yang sedang berbaring.
"Bagaimana keadaanmu Nita" tanya Gilang.
"Aku sangat lemas" jawab Nita dengan nada yang lemah.
"Maafkan aku karena sudah membuatmu seperti ini" ucap Gilang menyesal.
"Tidak kau tak salah" ucap Nita walau pun dalam hatinya Nita ingin sekali berteriak menyalahkan Gilang.
"Kau marah Nita aku bisa melihatnya dari raut wajahmu" ucap Gilang.
"Kau terlalu berlebihan Gilang" ucap Nita.
"Ayolah Nita" ucap Gilang semakin merasa bersalah.
"Sampai aku mati pun kau tak akan mengerti tentang diriku Gilang" ucap Nita ketus.
Gilang tak menjawab lagi dia sangat tak bisa kalau harus melihat Nita marah padanya.
bersambung...
__ADS_1
***ada yang bakalan sakit hati tuh, dasar Puput.
salam manis Author***..