
Sarah duduk termenung di cafe paporitnya, dia sedang berada di sana dengan seorang lelaki putra teman Ayahnya yang akan dijodohkan dengannya.
Sarah pergi tanpa pamitan pada suaminya karena Sarah tau pasti Rama akan marah jika dia bertemu dengan lakilaki walau pun hubungan tanpa Cinta tetapi Sarah dan Rama sangat menjaga hubungannya.
"Makan Sarah" sahut lelaki yang sedang bersama Sarah.
Sarah menatap lelaki itu, tampan gagah dan berwibawa itu kata yang pantas untuk lelaki yang bernama Rafli itu.
"Iya terima kasih" sahut Sarah sambil tersenyum.
"Sarah apa aku bisa bertanya padamu" tanya Rafli yang masih memegang sendok.
"Tanya apa Raf? Tanyakan saja" sahut Sarah berusaha ramah pada Rafli.
"Apa kamu sudah punya pacar" tanya Rafli yang membuat Sarah mematung sebentar.
"Belum" jawab Sarah berbohong karena tak mau Rafli tau kalau dia sudah menjadi istri orang lain.
"Baguslah" gumam Rafli sambil tersenyum.
Mereka berdua mengobrol ringan sampai akhirnya mereka sudah mau pulang dan saling pamitan.
"Apa aku bisa mengantarmu" tanya Rafli yang melihat Sarah mengutak atik ponselnya.
"Tidak Raf aku akan naik taksi saja, aku sudah pesan kok" sahut Sarah menolak ajakan Rafli karena dia sudah meminta pada Rama untuk menjemputnya.
"Baiklah aku pulang duluan ya, jaga diri kamu baik baik Sarah" sahutnya sambil melajukan mobilnya meninggalkan Sarah yang masih berdiri disana.
Sarah menunggu mobil suaminya menjemputnya.
Akhirnya mobil Rama berhenti tepat di depan Sarah yang masih berdiri.
"Masuklah tuan putri" sahut Rama dari dalam sambil membukakan pintu dari dalam mobil.
Sarah langsung masuk kedalam dan mobil melaju dengan kecepatan sedang,
Rama membawa Sarah pulang kerumahnya karena tak punya tempat untuk mereka singgahi, lagi pun Rama sangat merasa kelelahan karena kecapean seharian bekerja.
****
Puput menatap dirinya di cermin, dia merasa kalau dirinya tak seburuk yang mereka pikirkan.
"Jika saja kalian tak menghinaku aku tak akan menjadi seperti ini" gumam Puput sambil tersenyum menyeringai.
Puput berjalan ke arah luar kamar sambil menarik koper berisi pakaiannya yang sudah dia packing rapih.
Hari ini dia akan pulang ke rumahnya, karena sudah hampir satu pekan mereka tinggal di rumah mertuanya Nita.
Tadinya mamah Lynda tak mengijinkan besannya itu pulang namun karena mereka memaksa dan bilang kalau Bibi Nita akan pergi lagi ke luar negri untuk kerja disana.
__ADS_1
Jadi dengan berat hati Nita membiarkan keluarganya pulang karena tak enak jika mereka tak datang saat kepergian keluarga Bibinya ke luar negri.
"Kapan kapan datang lagi kesini ya bu" sahut Nita matanya berembun karena tak sanggup berpisah lagi dengan orang tuanya.
"Insya alloh nduk ibu sama bapak pasti akan berkunjung lagi kesini" sahut bapak Robi.
"Kamu berkunjunglah kesana Nit ajak juga mertuamu kesana ya" ucap ibu Rubiah sambil memegang pundak putri sulungnya itu.
"Iya bu" jawab Nita.
Nita memeluk ibunya yang sudah melahirkannya itu, karena ikatan pernikahan seorang wanita harus berpisah dengan keluarganya, bahkan jika mereka berkunjung ke rumah orang tuanya pun dia akan merasa seperti tamu.
Berbeda lagi dengan berada di rumah mertua seorang wanita pasti akan merasa was was walau pun mertuanya terbilang baik dan penyayang.
Seorang wanita harus kuat menahan ucapan pedas yang keluar dari mulut mertuanya.
Walau ada mertua yang baik pasti suatu saat akan berbeda pendapat dan selisih paham.
Dan seorang wanita pun harus menguatkan mentalnya saat berhadapan dengan adik atau kakak iparnya.
Sungguh mulianya seorang wanita yang bisa sabar walau pun ucapan keluarga suaminya selalu menyakiti hatinya.
"Aku antarkan ibu sama bapak dulu ya Nit" pamit Topan pada Nita yang akan mengantar mertuanya pulang kekampung.
"Hati hati dijalan mas" sahut Nita.
Nita memandangi terus kepergian keluarganya, Nita merasa sangat pilu jika harus berpisah lagi dengan orang tuanya.
Tes
Air mata Nita jatuh juga namun dengan sigap Nita langsung menghapusnya karena takut kelihatan mamah Lynda kalau dia menangis.
Nita masuk lagi kedalam rumahnya dia lupa kalau belum memandikan Rayhan yang sedari tadi anteng dengan Bi Iyem sedangkan mamah Lynda sedang sibuk bekerja karena ada kesalahan pada data keuangan restourannya.
"Rayhan kita mandi yu, airnya sudah ibu siapkan" sahut Nita pada Rayhan yang masih anteng bermain dengan bi Iyem.
"Biar bibi bantu Non" sahut bi Iyem yang langsung menggendong Rayhan dari pembaringan Rayhan.
****
Malam ini Sarah merasa bingung, dia terus saja memikirkan alasan untuk menolak Rafli pada Ayahnya.
Jika di lihat dari Fisiknya Rafli sangat menarik, jadi hal itu yang membuat Sarah tak merasakan kantuknya.
"Tidurlah sudah malam" sahut Rama yang berbaring di sebelahnya.
"Iya ini juga mau tidur" jawab Sarah ketus karena Rama selalu saja melihanya.
"Apa aku boleh bertanya" sahut Rama.
__ADS_1
"Apa" ketus Sarah.
"Apa yang Ayahmu bicarakan padamu Sarah" tanya Rama merasa kalau Sarah selalu saja terlihat berpikir setelah bertemu dengan Ayahnya tempo dulu.
"Tidak kita tak bicara apa apa" jawab Sarah masih ketus dan dingin.
"Terus kenapa kamu banyak pikiran begitu" tanya Rama lagi memastikan.
"Tidak Mas aku bilang tidak ya Tidak" bentak Sarah yang langsung memunggungi Rama.
"Yasudah" gumam Rama.
Pagi ini Sarah merasa kalau dia harus bertemu dengan Ayahnya, pagi sekali Sarah sudah siap untuk menemui Ayahnya itu.
"Mau kemana kau sudah rapih begitu" tanya Rama keheranan.
"Bertemu Ayah" sungutnya.
"Ck tiap hari kau bertemu dengan Ayahmu apa kau tak bosan melihat Ayahmu terus" decak Rama kesal.
"Jangan larang aku Mas aku tak mau kau ikut campur urusanku" sahut Sarah yang merasa Risih karena Rama selalu mengaturnya.
"Kamu istriku Sarah, selalu ingat itu" ketus Rama yang membuat Sarah terdiam.
Sarah memutuskan untuk segera pergi dan bertemu dengan Ayahnya, karena Sarah tak mau melanjutkan lagi perjodohan ini.
Sarah pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri dia merasa lebih bebas jika bawa mobil sediri ketibang dengan supir pribadinya.
Tiiiittttt..
Sarah membunyikan klakson mobilnya saat sedang macet, dia tak suka jika maksudnya di halangi oleh sesuatu.
"Kenapa orang orang selalu bepergian pagi hari jadikan jalanan macet karena mereka" gerutu Sarah dalam mobil.
Sarah memarkirkan mobilnya di suatu geduh seperti perkantoran dia sengaja memarkirkan mobilnya disana supaya dia bisa naik Gojek dan sampai dengan cepat ke rumah Ayahnya.
"Tak apalah aku parkir disini, mereka pasti tak akan curiga" gumam Sarah turun dari mobil.
Baru kali ini Sarah melewati jalan ini karena biasanya dia selalu jalan alternatif yang bebas macet, namun karena Sarah sedang terburu buru jadi dia ingin segera sampai jadi dia lewat jalan ini.
Sarah melihat perusahaan itu dengan teliti, dia baru sadar kalau ada perusahaan besar dan megah di kota ini,
"Apa perusahaan ini baru" tanya Sarah dalam hati.
Tetapi Sarah tak terlalu memperdulikannya dia langsung pergi dan memesan Gojek dari aplikasi di ponselnya.
bersambung...
**jangan lupa like comen dan Vote ya..
__ADS_1
terima kasih sudah mampir kecerita saya..
salam manis Author**..