
Namun Rama sudah bersikap ceroboh jika harus meninggalkan anak buah Anjamara dalam keadaan sadar dan masih bisa berdiri dengan tegap.
Seorang pembenci akan tetap benci walau pun kita sudah melakukan hal baik padanya.
Hanya kalimat itulah yang bisa menjelaskannya.
Lelaki dengan perawakan tinggi dan badan yang kekar itu mengambil lagi pistol yang tadi Rama lempar ke arah yang cukup jauh darinya.
Dorrrr..
Lelaki itu meloloskan pelurunya tepat ke mobil yang sedang di tumpangi Sarah dan Rama, sehingga membuat mobilnya tak melaju dengan sempurna.
Dorrrr....
Satu peluru mengenai kaca mobil itu sehingga kaca mobil Rama pecah berserakan! Karena mobilnya tak bisa di kendalikan Rama terpaksa menghentikan mobilnya karena takut mengalami kecelakaan karena satu ban nya tak seimbang.
"Bagaimana ini mas" tanya Sarah khawatir.
Anak buah Anjasmara mendekat kearah mobil Rama yang sudah berhenti di jalanan.
Karena jalanan itu bukan jalan raya melainkan jalan seperti kebun yang di pinggir pinggirnya terdapat pohon dan bahkan ada jurang juga di pinggirnya.
Anak buah itu menempelkan bom peledak yang sudah menyala pada belakang mobil Rama!
Rama mulai melajukan kembali mobilnya Rama tak sadar jika di belakang mobilnya itu sudah ada Anak buah Anjasmara yang mau membunuhnya.
Karena mobil dalam keadaan rusak, mobil itu hampir saja terjatuh ke jurang karena hilang kendali! Bahkan tempat kemudinya sudah hampir ke bawah jurang, namun karena tertahan oleh pepohonan yang menjulang tinggi di pinggiran jalan sehingga tak membuat mobil Rama sampai kebawah.
Namun tetap saja Rama dan Sarah tak mungkin bisa selamat karena bom peledak yang sudah menghitung mundur dari tadi.
"Satu.... Dua..... Tiggaa..." gumam anak buah Anjasmara.
BDughh..
Mobil yang di tumpangi Sarah dan Rama terbakar karena bom peledak itu, mobil itu langsung terbakar habis tanpa menyisakan barang barang Sarah dan Rama yang berada di dalamnya.
Prokk..
Prokk..
__ADS_1
Ternyata Anjasmara pun ada disana dia menyaksikan sendiri kalau putri kandung dan suaminya itu sudah tiada di tangannya.
"Kerjamu bagus, kau patut di hargai" ucap Anjasmara sambil bertepuk tangan.
"Terima kasih tuan" sahut Anak buahnya itu.
"Tetapi aku punya kejutan untukmu" sahut Anjasmara yang masih tersenyum karena merasa senang.
Anak buahnya itu menautkan kedua alisnya menandakan dia heran karena Anjasmara tak pernah memberikan hadiah kecuali uang dan itu pun akan langsung di transferkan pada rekeningnya.
Ehemmk..
Anjasmara berdehem.
Dan datanglah kedua polisi yang akan menangkap Anak buah Anjasmara itu.
"Tangkap dia pak, dia yang sudah membunuh putriku dan suaminya" ucap Anjasmara memelas dan bersedih seakan kecelakaan itu hanya anak buahnya yang salah.
Anak buahnya itu keheranan.
Kenapa Anjasmara bicara seperti itu, pikir anak buahnya.
Namun karena polisi itu sudah termakan omongan manis Anjasmara jadi mereka hanya menurut saja pada apa yang di katakan oleh Anjasmara.
"Saya tidak bersalah pak, dia yang bersalah dialah dalang di balik pembunuhan ini pak" bela anak buah Anjasmara sambil berontak tak terima.
"Pak polisi penjarakan dia pak, dia sudah membunuh putriku, malangnya nasibmu Sarah harus mati di usia muda karena pembunuh ini" sahut Anjasmara sambil menunjuk Anak buahnya itu.
"Tidak pak saya tak melakukannya, dia yang menyuruhku pak Anjasmara lah yang salah" teriak anak buah Anjasmara sambil berontak.
"Ikutlah dengan kami, jelaskan semuanya di kantor nanti" sahut pak polisi dengan nada ketus.
Anak buah Anjasmara itu hanya diam dan patuh saja percuma jika dia melawan pun pasti akan kalah dengan ucapan manis Anjasmara yang sangat kejam itu.
"Satu persatu masalah beres" gumam Anjasmara sambil tersenyum menyeringai.
"Maafkan Ayahmu ini Sarah karena tak dapat mengkremasi jenajahmu yang sudah terbakar gosong itu Whaaaahahaha" ucap Anjasmara sambil tertawa terbahak bahak.
Anjasmara pulang dengan menaiki mobilnya sendiri dia merasa menang karena telah menghabisi putri kandungnya sendiri.
__ADS_1
Sepanjang jalan dia tersenyum bahkan sesekali dia pun tertawa karena bahagia sudah seperti orang gila saja.
****
Di kediaman Lynda House.
Nita sedang mengutak atik laptopnya, Nita sudah mulai di ajarkan bekerja di rumah oleh mamah mertuanya itu.
Karena Mamah Lynda sudah mulai tua dan bahkan matanya pun sudah mulai sedikit tak normal karena terlalu banyak melihat layar laptop dan kemungkinan juga di sebabkan oleh faktor usia.
"Mah seperti ini" sahut Nita yang sudah menyelesaikan pekerjaanya.
"Sini biar mamah lihat" tanya mamah Lynda sambil melihat layar laptop.
"Bener loh Nit kamu hebat sekali sayang baru satu kali mamah ajarkan kamu sudah ngerti saja" sahut mamah Lynda bahagia.
"Ah mamah biasa aja kok" ucap Nita malu malu karena mertuanya itu terlalu banyak memujinya.
-
Namun di sisi lain ada hati seseorang yang merasa panas dan sangat gerah jika melihat kesenangan Nita yang di dapatkan dari keluarga suaminya.
Tangannya mengepal kuat seperti ingin langsung melayangkan bogem mentah pada orang yang sangat dia benci! Karena penyakit Hati yang sudah parah dia menjadi semakin iri dengki pada kakaknya sendiri.
Siapa lagi kalau bukan Puput adik kandung NITA yang sekarang sudah menjadi nyonya besar di rumah mertuanya.
"Awas saja kau Nita aku tak akan memaafkanmu" gumam Puput sambil melihat kedekatan Nita dengan mamah Lynda.
Puput menggenggam gelas dengan kuat sehingga membuat gelas itu pecah di tangannya dan membuat tangannya terluka dan berdarah.
"Non Put kenapa tangannya berdarah" tanya Bi Iyem khawatir karena melihat darah segar keluar dari tangan Puput.
"Tidak bi, hanya terkena pecahan gelas saja" ucap Puput berusaha tenang.
"Sini Non biar bibi bantu obatin" ucap Bi Iyem.
"Terima kasih bi" sahut Puput.
bersambung....
__ADS_1
***jangan lupa like comen dan vote ya...
salam manis Author***...