
Di pagi hari yang begitu cerah terdapat dua insan yang sedang bersiap untuk mandi, Rama dan Sarah pagi pagi sekali mereka sudah bersiap.
"Mas apa kita gak terlalu lama tinggal di sini" tanya Sarah pada Rama yang sedang memakai jas untuk kekantor.
"Mas juga berencana untuk pindah namun karena kamu sedang hamil, mas jadi Ragu" ucap Rama.
"Ragu kenapa mas".
" mas gak mau kalau kita pindah kamu pasti akan sendirian di rumah tak ada orang yang akan menemanimu saat mas sedang kerja" ucap Rama.
"Ya sih, tapi mas aku malu pada keluarga Nita".
"mas akan bicarakan ini lagi dengan Mbak Lynda".
"Iya mas".
"Baiklah mas berangkat dulu ya".
"Hati hati di jalan mas".
Sarah mencium punggung tangan Rama dengan takzim, mereka berdua sangat serasi walau pun terpaut umur yang sangat beda jauh.
-
Sedangkan Nita dia sedang menyiapkan baju untuk Topan pergi ke kantor, karena hal itu sudah menjadi rutinitas Nita setiap harinya.
Topan berjalan keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang di lilitkan di perutnya, sehingga menampakan dada bidang Topan yang sangat mulus.
Nita sedang duduk di pinggir ranjang membuka laptopnya dan mengerjakan pembukuan yang sudah beberapa hari ini di kerjakan oleh Lynda.
"Nita mas ingin bicara sesuatu".
"Bicara saja mas"ucap Nita dengan mata yang masih fokus menatap layar laptop
"Bagaimana kalau kita bawa Puput ke psikiater"
Nita langsung menatap suaminya,
"Terserah mas saja" ucap Nita.
"Jangan gitu Nita, mas butuh persetujuanmu untuk ini".
"Mas aku ikut mas saja".
"Nita".
"Mas terserah kau saja aku cape mas" ucap Nita dengan nada tinggi.
Topan tak menggubris lagi ucapan Nita, dia langsung bersiap dan pergi karena jika Topan bicara sedikit saja pasti Nita akan semakin marah padanya.
"Fyuhhh beginilah rumah tanggaku setiap paginya" batin Topan.
**
Puput sudah bersiap untuk pergi ke kampus dia sudah berdandan sangat cantik karena akan bertemu dengan Arka sang gebetannya di kampus.
Puput pergi tanpa berpamitan dulu pada Nita, entah kenapa rasanya Puput sangat tak tega melihat Nita namun tetap saja dia tak bisa melupakan kebenciannya.
Pernah sesekali Puput melihat Nita yang sedang bersedih karena ulahnya yang sering membentak Nita.
Puput masuk kedalam mobil Lynda dan tentu saja Puput di antar oleh pak supir ke kampusnya.
"Pak nanti malam jemput jam 7" ucap Puput saat mobil sudah berhenti tepat di gerbang kampus.
Puput masuk kedalam kampus itu, dan tentu saja hanya satu tujuannya yaitu ke perpustakaan yang selalu di datangi Arka setiap paginya.
"Hy Arka" sapa Puput.
Namun Puput sangat terkejut saat melihat Arka sedang bersama Wanita cantik yang dulu pernah sekolah disana.
"Hy Put, apa kau masih ingat dengan dia, dia Clara dulu dia kuliah di sini juga" ucap Arka.
Namun Puput tak menggubris ucapan Arka dia langsung keluar dari perpustakaan itu dan langsung menuju kelasnya mencoba menahan air matanya supaya tak jatuh.
Arka yang merasa sikap Puput yang aneh itu mencoba menyusul Puput, namun tangan Clara menghentikannya sehingga Arka tak jadi menyusulnya.
"Arka biar aku yang susul dia pasti dia salah sangka pada kita" ucap Clara.
"Baiklah ingat jangan sakiti dia" ucap Arka khawatir.
"Hahahah kau ini Arka, aku seorang wanita hanya seorang wanita yang mengerti perasaan wanita lain" ucap Clara berusaha baik di depan Arka.
__ADS_1
Clara berjalan menyusul Puput, dalam hatinya Clara selalu saja mengumpat tentang Puput, pasalnya Clara tau kalau Arka dan Puput itu saling mencintai.
"Hy Puput" sapa Clara.
Puput tak menjawab, dia hanya Fokus pada buku yang sedari tadi berada di tangannya.
"Maaf Put kau sudah salah paham" ucap Clara manis.
Lagi lagi tak ada jawaban dari Puput dan itu membuat Clara marah pada Puput karena merasa Puput sudah mengabaikannya.
"Puput kau sangat sombong pantas saja Arka tak menyukaimu" ucap Clara dengan kesal.
Puput langsung memadang Clara dengan tatapan tak suka.
"Kalau aku sombong kenapa? Kau tak suka? Kenapa kau tak mati saja? Supaya tak pernah melihat aku lagi, apa kau mau?" ucap Puput dengan nada mengancam.
"Hahh Puput kau gila ya" ucap Clara ketakutan.
"Iya Clara aku memang gila".
"Dasar psikopat kau"
"Iya Clara aku memang psikopat, apa kau tau sudah berapa orang yang sudah aku bunuh dengan tanganku sendiri hah, apa kau mau tau?" tanya Puput dengan nada menakutkan.
"Tidak, seharusnya kau tak sekolah disini kau harusnya masuk penjara" sahut Clara dengan ketakutan.
"Iya seharusnya aku memang masuk penjara tapi setelah aku membunuhmu" ucap Puput mendekati Clara dan mencoba mencekik leher Clara.
Clara mendorong Puput sehingga membuat Puput terdorong ke belakang.
Bughh
Paha Puput mengenai meja dan itu membuat Puput kesakitan, namun Puput tak menampakan kesakitannya lewat wajahnya dia hanya mengusap lembut pahanya yang barusan terbentur ke meja.
Puput semakin mendekati Clara dan..
Plakkk..
Satu tamparan mendarat di wajah Puput, Puput merasa sangat kesal pada Clara.
Plakk..
Tangan Puput menampar Clara dengan keras sehingga membuat Clara kelimpungan dan Clara langsung menyentuh bekas tamparan dari Puput barusan.
Sayangnya Arka sudah berada disana saat Puput menampar Clara, namun Arka tak melihat adegan pertamanya saat Clara yang mulai duluan menampar Puput.
Arka berjalan mendekat kearah Puput dan..
Plakk..
Arka melayangkan tamparannya pada Puput, seketika Puput sadar dan melihat siapa yang menamparnya.
"Arka kau menamparku" lirih Puput.
"Kau pantas mendapatkannya Put kau sangat jahat, dasar kau Psiko kau wanita tak normal Put" ucap Arka dengan nada membentak Puput.
"Arka, Dia yang mulai duluan" lirih Puput mencoba membela diri.
Air mata Puput langsung mengalir karena tak percaya kalau Arka barusan menamparnya, Puput menyentuh Pipinya yang terasa sakit akibat tangan Arka.
"Kau memang tak punya hati Put, Clara dia baik baik mau menjelaskan padamu tapi kamu malah menamparnya" ucap Arka.
Clara yang merasa di bela itu pun langsung memeluk Arka dan mencoba mencari simpati dari Arka.
"Arka dia menamparku padahal aku tak berbuat apa apa padanya" ucap Clara sambil meneteskan air matanya.
"Maaf Clara, Aku sangat menyesal karena membiarkan kamu menemui Psiko seperti Puput" ucap Arka.
Puput hanya menatap wajah Arka yang sangat marah padanya, dia tak menyangka kalau Arka akan berbuat seperti itu padanya.
Puput langsung meraih tasnya, dia pergi dari hadapan Arka dan Clara, Puput berlari keluar dari dalam kampus dia masih menangis memikirkan ucapan Arka barusan.
"Hiksss Hikss kau jahat Arka" ucap Puput sambil menangis.
Puput terduduk di taman yang tak jauh dari kampus itu, dia masih saja menangis karena hal itu, ucapan Arka seperti terekam jelas di otaknya dan terus berputar putar di benaknya.
"Apa aku bersalah hah? Bahkan aku belum pernah membunuh orang lain, aku juga bukan psiko, aku wanita normal" gumam Puput.
Puput mencoba melupakan ucapan Arka barusan namun tetap saja ucapan Arka tak bisa dia lupakan.
"Apa aku harus menemui psikiater" gumam Puput.
__ADS_1
"Iya benar aku akan mencoba menemui Psikiater aku gak mau di sebut wanita tak nomal, aku normal, aku ingin normal hikss hikss" ucap Puput sambil menangis histeris.
Puput berlari dan langsung naik taksi dia ingin sekali menemui Nita dan memintanya untuk mengirimkan Puput ke psikiater yang sangat ahli dalam menanggapi pasien seperti Puput.
"Pak ke jalan Xxxx" ucap Puput pada supir taksi itu.
Mobil taksi itu melaju menuju rumah kediaman Lynda, Puput sangat berharap untuk sembuh namun jika niat saja tak akan cukup karena Puput sering kali tak mampu untuk mengontrol emosinya.
Bahkan saat Puput marah dia seperti ada yang mengendalikan tubuhnya dari dalam.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah Lynda, Puput menyodorkan uang untuk membayar ongkos.
Puput langsung keluar dan berlari masuk kedalam rumah Lynda, Puput mencari cari Nita di dalam rumah itu dan ternyata Nita sedang berada di kamarnya.
"Kak hikss hiks" teriak Puput sambil memeluk Nita yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Kamu kenapa Put" tanya Nita cemas.
"Kak apa aku wanita gak normal? Aku Normal kan kak?" tanya Puput sambil menangis.
"Kamu normal Put, siapa yang bilang kamu tak Normal Put" tanya Nita.
"Kak Aku di sebut Psiko oleh Clara, aku bukan Psiko kan kak? Bukan kan?" tanya Puput menunggu jawaban dari Nita.
"Bukan Put kamu adik kakak kamu bukan Psiko" ucap Nita menenangkan Puput.
"Kak aku mau ke psikiater, aku mau sembuh kak, aku gak mau di panggil tak normal hikss hikss" ucap Puput masih terisak.
"Beneran kamu mau ke psikiater" tanya Nita ada rasa senang karena ternyata Puput sudah menyadari penyakit pada dirinya.
Puput menganggukkan kepalanya.
"Iya kak aku bukan Psiko aku bukan wanita tak normal" ulang Puput lagi.
"Baiklah besok kakak akan kirim kamu ke psikiater kamu siap siap ya" ucap Nita.
"Ya kak" ucap Puput antusias.
"Baiklah kakak akan bantu kamu berkemas" ucap Nita.
Mereka berdua langsung berjalan ke kamar Puput untuk mempacking baju baju Puput, karena Puput pasti akan lama disana jadi Puput harus bawa banyak pakaian.
Nita mengambio ponselnya dari dalam sakunya, nita mencari nama kontak Topan di ponselnya.
[Hallo mas] ucap Nita saat sambungan telpon sudah tersambung.
[Ada apa Nita] tanya Topan.
[Mas Puput mau ke psikiater, besok dia akan berangkat, bisa kau daftarkan dia mas] ucap Nita sambil tersenyum bahagia.
[Baiklah mas akan telpon teman mas sekarang untuk mendaftarkan Puput disana, besok mas akan ambil cuti kita akan antar Puput kesana] ucap Topan antusias.
[Iya mas terima kasih]
[Sama sama sayang]
Nita memasukan kembali ponselnya ke dalam sakunya, Nita langsung membantu Puput memasukan pakaiannya kedalam koper.
-
Sedangkan Topan merasa senang selain Puput sembuh rumah tangganya pun akan kembali normal seperti semula.
Topan mengirim pesan pada Luthfi teman masa SMA nya yang sekarang bekerja menjadi Dokter, Luthfi juga menangani masalah trauma seperti Puput.
[Luth masih menangani penyakit Trauma] tanya Topan di Via WA.
[Masih, ada Apa Bos Topan] balas Luthfi dengan cepat.
[Aku mau daftar dong adiknya istri aku sakit]
[Baiklah besok kesini saja Topan, aku akan buat adik istrimu itu sembuh]
[Baiklah].
Topan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Semoga saja keluarga aku baik baik lagi nantinya" gumam Topan.
bersambung
clara licik ya makk,
__ADS_1
***jangan lupa like comen dan votenya ya biar Author semangat nulisnya..
salam manis Author***