Aku Istri Kontrak Bosku

Aku Istri Kontrak Bosku
aku istri kontrak bosku eps 24


__ADS_3

Nita berbaring di kasur tipis dia merasa kalau hari ini bayi dalam kandungannya terasa sangat aktif, hingga tak henti hentinya menendang dan bergerak dalam perut Nita.


"Ada apa sayang udah gak sabar mau keluar ya," sahut Nita mengelus elut perutnya.


Bayinya merespon perkataan Nita dengan tendangan.


Nita tersenyum senyum melihat bayinya bergerak Aktif di dalam kandungan.


Malam ini Nita merasa sangat lapar, dia bangkit dari tidurnya, mencari cari makanan untuk mengganjal perutnya.


Nita hanya menemukan nasi yang di berikan oleh Ibu Asri tadi siang, tak ada lagi cemilan selain nasi itu.


Terpaksa untuk malam ini Nita hanya makan nasi yang hanya sekepal tangan itu dengan telur rebus yang menemaninya.


Nita makan itu seadanya walau pun nasinya sudah sedikit keras tapi Nita memaksakan untuk memakannya karena mau bagaimana lagi jika dia beli cemilan pasti uangnya sedikit berkurang.


Tok tok tok...


Suara ketuka pintu menggentikan suapan Nita,


"Siapa yang bertamu malam begini" gumam Nita.


Terpaksa Nita membuka pintunya.


"Nduk apa kamu sudah makan" tanya ibu Iin saat Nita sudah membukakan pintu.


"Kebetulan Saya sedang makan bu" jawabnya.


Bu Iin menyodorkan sepiring gorengan pada Nita, Nita meraih piring itu dengan tersenyum senang, seperti anak kecil yang senang karena mendapat hadiah.


"Ini buat kamu nduk makanlah tadi ibu bikin banyak sengaja buat cemilan malam kamu" ucap bu Iin yang sangat menyayangi Nita seperti anaknya sendiri.


Dengan kehadiran Nita bu Iin merasa kalau dia sedang bersama anaknya yang jauh di luar kota.


"Terima kasih bu, alhamdulilah akhirnya ada cemilan juga, silahkan masuk bu" ucap Nita berterima kasih dan mempersilahkan bu Iin masuk ke kamarnya yang cukup sempit itu.


Nita melanjutkan makannya dan bu Iin hanya melihat Nita yang sedang makan.


***


Seorang lelaki tengah duduk di sebuh meja restouran dia terlihat gelisah menunggu seseorang, matanya tak henti henti melihat ke luar restouran.


"Pak Topan " sapa seseorang dari arah belakangnya.


Topan berbalik "akhirnya yang di tunggu datang juga" gumam Topan.


"Duduklah Rio" ucap Topan pada tangan kanannya itu.


"Ada berita apa semoga saja berita baik" sahut Topan saat Rio sudah duduk di sebrangnya.


Rio mengeluarkan ponselnya dari saku jas berwarna hitam yang dia pakai.


"Jadi begini pak, menurut GPS pada ponsel non Nita sekarang dia berada di penginapan jalan pondok indah tetapi ponselnya masih susah untuk di hubungi, sepertinya non Nita sengaja mematikan ponselnya karena tak mau di ganggu" ucap Rio menjelaskan keberadaan Istri bosnya itu.


Topan hanya mengangguk anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Dan menurut warga sekitar sekarang dia bekerja di sebuah warung tegal yang berada tak jauh dari penginapan itu" ucap Rio lagi.


"Apa informasi ini benar Rio" ucap Topan meragukan bawahannya itu.


"Benar pak jika anda tidak percaya kita buktikan saja besok bagaimana?" tantang Rio yang merasa kalau Topan sedang menguji kesabarannya.


"Apa akan masuk akal jika seorang wanita hamil kabur dan menyewa penginapan bahkan Nita tak membawa uang banyak untuk menyewa penginapan selama hampir satu minggu lebih" sahut Topan masih memikirkannya.


"Bisa saja pak mungkin karena non Nita bekerja jadi dia bisa menyewa penginapan selama satu pekan" balas Rio dengan senyum tipis.


"Memangnya berapa gaji kerja di warung tegal itu hah, dasar Nita si wanita egois dia bahkan bekerja di saat hamil tua apa dia tidak berpikir bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kandungannya" gumam Topan.


"Baiklah Rio besok antar aku menemui Nita, terima kasih atas informasinya maaf aku sudah merepotkanmu" ucap Topan.


"Iya pak sama sama" ucap Rio untuk pertama kalinya dia merasa bahagia karena merasa di hargai oleh Topan.


Malam ini Topan tidur dengan keadaan tenang ada secerca harapan dalam hatinya untuk menemukan Nita.


"Tunggu aku Nita besok aku datang" gumam Topan.


Topan melihat poto Nita yang selalu tersimpan di atas nakas, Topan memandangi Foto Nita dengan teliti, senyuman Nita yang membuat Topan bisa melupakan Kenangan bersama Sarah.


**


Malam ini rasanya sunyi sekali udara dingin mendominasi ruangan yang sempit itu, tanpa selimut dan hanya di tutupi kain tipis Nita berbaring di bawah lampu 5 watt yang sudah mulai sedikit meremang.


Sejak tadi perutnya terus saja tak diam, bayi dalam perutnya terus saja menendang nendang isi perut Nita.


Tanpa henti hentinya tangan Nita mengelus lembut perutnya,


Sungguh malang nasib Nita dia seperti anak yang tak punya keluarga, hidup Nita semenyedihkan itu, tetapi bisa saja Nita pulang ke rumah orang tuanya dan mengadukan masalahnya tapi dia tak berani pulang bukan karena dia bersalah tapi karena dia takut keluarganya tau kalau Nita hanya istri kontrak bosnya itu.


Sudah sangat banyak uang yang Topan keluarkan untuk keluarganya termasuk biyaya menyekolahkan adiknya.


Belum lagi Topan selalu mengirimi uang gajinya pada orang tua Nita.


Jika harus di jabarkan jumlahnya, Nita tak akan sanggup untuk membayarnya.


Pagi ini Nita bangun dengan terpaksa semalam dia tak bisa tidur nyenyak hanya bisa tidur satu dua jam, walau pun begitu dia tak pernah mengeluh tentang kondisinya.


Nita sudah bersiap untuk bekerja di warung tegal milik bu Asri, menjadi buruh cuci piring membuat Nita melupakan sejenak tentang masalahnya dengan Topan walau pun hanya sekejap tapi Nita merasa lega jika bayang bayang Topan bisa pergi dari pikirannya.


"Nduk apa kau mau bekerja" tanya bu Iin yang membuyarkan lamunan Nita.


"Ehh iya bu mau berangkat" jawab Nita terkejut.


Nita berjalan kaki menuju warung bu Asri walau pun kakinya sudah tak kuat menopang tubuhnya tapi Nita memaksakan diri untuk tetap berjalan layaknya orang sehat.


Warung bu Asri terletak di dalam gang yang cukup sempit, banyaknya rumah penduduk membuat jalanan sedikit terhimpit.


Dengan langkah terpogoh pogoh Nita memaksakan kakinya yang sudah membengkak untuk berjalan.


"Sudah sampai kamu Nit " tanya bu Asri yang melihat Nita duduk di bangku warungnya.


"Iya bu saya istirahat dulu boleh" ucap Nita pada Bu Asri yang sudah sangat baik padanya.

__ADS_1


"Gak papa Nit, ibu tinggal dulu ya mau masak dulu" sahut bu Asri seraya berjalan ke arah dapur.


Nita berdiri dari duduknya, dia tak enak jika harus lama lama beristirahat, Nita berniat akan membantu ibu Asri yang tengah memasak di dapur.


Walau pun cuman memotong sayuran dan mengupas ngupas bawang, bu Asri merasa bahwa Nita sudah membantunya dan meringankan pekerjaannya.


"Boleh ibu bertanya Nit" sahut bu Asri pada Nita yang sedang mengupas bawang putih.


"Tanya apa bu" ucap Nita dengan tersenyum.


Sebenarnya bu Asri sedikit ragu untuk menanyakan ini tapi demi mengobati rasa penasarannya dia terpaksa mempertanyakan tentang kehidupan Nita.


"Memangnya suami kamu itu seperti apa?" tanya bu Asri.


Nita yang sedang mengupas bawah menghentikannya sejenak.


"Suami saya tinggal di bandung juga bu mungkin cuman terhalang dua kecamatan saja dari sini" jawab Nita sedikit risih dengan pertanyaan itu.


"Ohh lantas kenapa kamu pergi dari rumah" tanya bu Asri lagi.


"Saya melihat dia selingkuh dengan teman saya namanya Sarah".


" Oh" sahut bu Asri singkat tak memperdulikan hati Nita yang sedang terasa sesak jika mengingat malam itu.


**


Sekitaran pukul 8 pagi Topan sudah berada di mobilnya menunggu Rio yang tak kunjung turun dari apartemennya.


"Lambat sekali Rio" gumam Topan.


Rio berlari ke arah mobil milik bosnya itu.


"Maaf pak saya terlambat" ucap Rio.


"Masuklah kita cari Nita sekarang" perintah Topan.


Tanpa di suruh lagi Rio langsung duduk dan menutup pintu mobilnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang sudah tak terlalu ramai kendaraan.


"Sudah pukul 8 pak mungkin non Nita sekarang sudah bekerja di warung itu" sahut Rio memecahkan keheningan.


"Baiklah kita mencari ke warung itu dulu" ucap Topan.


Mobil berhenti di tepi jalan karena warungnya masuk gang kecil jadi mobil tak bisa masuk, terpaksa Topan dan Rio harus berjalan kaki.


Topan berjalan memasuki gang itu, rumah rumah yang sempit dan kumuh berjajar di sana.


"Apa ada orang yang mau tinggal di sini" ucap Topan.


"Kebanyakan orang terpaksa pak karena mau kemana lagi mereka" balas Rio.


"Apa warungnya masih jauh Ri" tanya Topan yang sedari tadi melihat aneh dengan tempat ini.


"Di depan pak" ucap Rio menunjukan warung berspanduk rokok itu.

__ADS_1


Topan mempercepat langkahnya, dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nita.


__ADS_2