
Rangga meminta Edwar untuk memfollow up kontrak kerja samanya dengan perusahaan Pak Setiadji, sementara dirinya mengantar bundanya pulang ke kediamannya.
"Dek, kamu mau makan siang di rumah Mas?" tanya Rangga kepada Rama.
"Tidak Mas, aku mau langsung balik ke Jogja. Aku tidak bisa meninggalkan Ayah lama-lama" ucap Rama.
"Bagaimana kondisi Ayah?"
"Ayah masih menjalani perawatan, aku akan berusaha semaksimal yang aku mampu" ucap Rama dengan nada sedih mengingat kini ayahnya terkena Meningitis (Radang Selaput Otak)
"Aku percaya kau akan menyembuhkan Ayah, nanti setelah Alea selesai OSN aku akan pulang ke Jogja membantumu merawat Ayah" Rangga menepuk bahu Rama dengan lembut.
"Saat melihat berita mengenai perusahaan Mas Rangga, Ayah terlihat sangat mengkhawatirkan Mas Rangga"
"Beliau memang selalu mengkhawatirkan kita bertiga, sapaikan salamku pada Ayah dan juga Laura dan sampaikan permintaan maafku karena telah membuatnya khawatir"
"Baik Mas, kalau begitu aku permisi langsung balik ke Jogja" Rama memeluk kakaknya dengan hangat.
__ADS_1
"Hati-hati ya, nanti supir kantorku yang akan mengantarmu ke bandara" Rangga membalas pelukanan adiknya.
Kemudian Rama berpamitan dengan Ana dan Edwar, barulah ia bergegas meninggalkan perusahaan kakaknya dan terbang kembali menuju Jogja.
"Yuk Bunda" ajak Rangga.
Ana menganggukan kepalanya dan beranjak dari tempat duduknya "Kami pulang dulu ya War" ucap Ana kepada Edwar.
"Gue balik ya" Rangga menepuk bahu Edwar kemudian ia keluar ruang kerjanya bersama dengan Bundanya.
Di perjalanan menuju kediamannya Ana kembali menasehati Rangga untuk tidak mengulangi perbuatannya.
"Perbuatanmu yang kemarin bisa menimbulkan fitnah, batasi pergaulanmu dengan lawan jenis jika memang kamu tidak atau belum ingin menikah lagi, tapi jika kamu ingin menikah lagi dekati wanita yang kamu suka dengan jalan yang baik, Bunda dan Ayah mendukung apa pun menjadi keputusanmu" ucap Ana.
"Iya Bunda, aku minta maaf. Terima kasih atas segala perhatian dan nasehatnya, jangan pernah bosan untuk menegurku"
__ADS_1
Sekilas Rangga menatap Bundanya yang duduk di sampingnya, kemudian ia kembali fokus pada kendaraannya.
"Kita ke makam Tyshia sebentar ya Bund" Rangga merubah arah kendaraannya menuju ke makam istrinya.
Tiba di depan pusara Alinea keduanya berdoa dengan khusyuk.
Masih jelas teringat dalam benak Rangga raut wajah ketakutan Tyshia akan kehilangan dirinya saat dokter mendiagnosa terdapat mioma uteri di rahimnya, Tyshia begitu ketakutan Rangga akan meninggalkan jika Rangga mengetahui dirinya akan sulit mendapatkan keturunan.
'Aku masih ingat dengan janjiku Byy, tiada yang pernah bisa menggantikan posisimu sayang. I still love you' Rangga mengelus nisan Almh.Istrinya dengan lembut kemudian menaruh bunga-bubga segar di makam istrinya.
"Ngga, kita pulang yuk, Bunda tidak bisa berlama-lama keninggalkan Ayah" ucap Ana.
"Iya Bunda" ucap Rangga "Aku pulang dulu ya Byy, besok setelah mengantar putri kita ke sekolah aku akan kemari lagi, bye sayang" Rangga kembali mengelus dan mencium nisan istrinya kemudian ia beranjak dari makam istrinya.
Ana melihat Rangga menjadi terenyuh 'Meski sudah 17 tahun berlalu, Rangga masih tetap mencintaimu' gumam Ana, terkadang rasa penyesalan itu kembali muncul 'Seandainya dulu Bunda dan Ayah langsung merestui hubunganmu dengan Rangga, pasti kamu lebih lama menikmati kebahagiaanmu dengan Rangga'
"Yuk Bunda" Rangga menggandeng tangan Bundanya.
__ADS_1