ALINEA

ALINEA
Chapter 29 : Patah Hati Terhebat Part 2


__ADS_3

Dengan panik Rio dan Ana membawa putrinya ke rumah sakit, setelah melewati serangkaian pemeriksaan Dokter mendiagnosa Tyshia terkena demam tifoid, asam lambung dan juga dehidrasi, sehingga Tushia harus menjalani rawat inap di rumah sakit untuk beberapa hari sampai keadaannya membaik.


Selama Tyshia di rawat di rumah sakit Tyshia meminta asisten rumah tangganya yang menunggunya, ia masih tidak ingin banyak berbicara dengan Ayah dan Bundanya.


"Non Tyshia makan dulu ya, agar Non bisa minum obat dan lekas sembuh" ucap Bik Lina, asisten rumah tangga Tyshia.


Ia menyodorkan sesendok bubur kepada Tyshia, namun Tyshia malah mengambil mengkuk bubur yang di pegang oleh asistennya "Biar aku makan sendiri saja Bik" pinta Tyshia.


Melihat Tyshia makan dengan tatapan kosong membuat hati Bik Lina ikut merasakan kesedihan yang Tyshia rasakan, bagaimana tidak? Ia sudah mengasuh Tyshia sejak Tyshia masih bayi, sehingga ia sudah menganggap Tyshia sebagai anaknya sendiri, ia pun ikut terkejut ketika mendengar pertengkaran hebat yang terjadi beberapa hari lalu, bahkan Rio membentak Tyshia.


"Yang sabar ya Non" ucap Bik Lina sambil mengelus kepala Tyshia.


Tyshia hanya menganggukan kepalanya, pikirannya masih di penuhi oleh Rangga 'Byy apakah kamu di sana sudah makan? Apakah kamu dalam keadaan sehat? Aku rindu makan bersama denganmu, aku rindu menyuapi dirimu, aku rindu denganmu sayang' gumam Tyshia dalam hati.


"Aku sudah kenyang Bik Lina" Tyshia menyerahkan kembali mangkuk buburnya kepada Bik Lina, ia hanya memakan dua sendok makan buburnya.


Kemudian asisten Tyshia memberikan obat kepada Tyshia dan ia pun meminumnya, setelah itu ia kembali beristirahat.



Mendengar bahwa keponakannya di rawat di rumah sakit, Lyra pun datang menjenguknya. Ada rasa bersalah yang berkecamuk di dalam dirinya ketika ia melihat keponakannya terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit.


'Seandainya saja kemarin aku tak mengatakan hal ini kepada Mas Rio tentu hal ini tak akan terjadi, tapi....'' Lyra kembali berfikir jika kemarin dirinya tidak memberi tahu kakaknya, cepat atau lambat kakaknya pun akan mengetahuinya, dan jika kakaknya mengetahuinya setelah pertunangan tyshia, maka masalahnya akan semakin besar, media akan mengorek-ngorek alasan kakaknya memutuskan pertunangan anaknya.


"Maafin Aunty ya sayang" Lyra mengelus lembut kepala Tyshia.


Menyadari jika ada seseorang yang mengelus kepalanya, Tyshia pun perlahan membuka matanya.


"Aunty..." sapa Tyshia lemah.


"Sayang kamu sudah bangun? bagaimana keadaanmu?" tanya Lyra.


"Aku baik-baik saja Aunty, aku hanya butuh istirahat" Tyshia kembali memejamkan matanya berharap Auntynya cepat pergi dari kamar rawat inapnya, ia masih tak ingin mengobrol dengan siapa pun.


"Ya sudah,Aunty pulang dulu ya sayang, semoga kamu cepat sembuh" Lyra menecup kening keponakannya, lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Malam harinya Rio dan Ana datang untuk merawat dan menemani putri semata wayangnya, meskipun mereka tahu jika Tyshia masih belum mau bicara banyak kepada mereka namun mereka tetap menemaninya.


"Kamu mau sampai kapan mendiami kami?" tanya Ana sambil mengelus rambut tyshia


"Aku mau istirahat Bunda." Tyshia memejamkan matanya untuk menghindari pertanyaan dari bundanya, rasanya ia masih ingin terus menangis saat Ayah dan Bundanya mengajaknya berbicara.


__ADS_1


Dihari ke lima Tyshia sudah di perbolehkan untuk pulang, sesampainya di rumah Tyshia mulai menggambar desain baju untuk Rangga, meskipun Tyshia tidak tahu apa masih ada kemungkinan untuk dirinya bertemu dengan Rangga.


Setelah desain bajunya jadi Tyshia memotretnya dengan kamera polaroid miliknya. hasil foto tadi ia tempelkan di sebuah buku diary, di bawah foto tersebut tyshia menulis:



Tyshia menulis seakan-akan dirinya sedang berbicara dengan Rangga secara langsung, membayangkan jika Rangga kini berada di hadapannya.


Tyhshia menghela nafasnya, ketika tersadar jika Rangga kini tak berada di sampingnya, ia menutup kembali buku diarynya kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, sambil memeluk buku diary tersebut ia mencoba memejamkan matanya dan membawa bayangan Rangga ke dalam mimpi indahnya.



Keesokan harinya Tyshia memutuskan untuk kembali ke butik miliknya, ia bersiap dan turun ke bawah bergabung dengan kedua orang tuanya yang sedang menikmati sarapan pagi.


"Mau kemana kamu pagi-pagi begini sudah rapih?" tanya Rio.


"Aku mau ke butik Yah" jawab Tyshia.


"Nanti lagi ya Nak, kamu masih harus banyak istirahat" ucap Ana, ia begitu sangat mengkhawatirkan putrinya.


"Tapi aku bosan terus menurus berada di rumah, aku ingin kembali beraktivitas seperti dulu untuk melupakan semua yang terjadi" ucap Tyshia.


"Baiklah, tapi di antar oleh supir ya" ucap Rio.


Hingga tak terasa jam sudah menunjukan pukul 17.30 sore, Tyshia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, namun di perjalanan ia meminta supirnya untuk mengantarnya ke rumah Rangga, beruntung supirnya mengerti dan mau mengantarkan Tyshia ke rumah Rangga.


Sasampainya di depan rumah Rangga, Tyshia nampak sangat terkejut dengan tulisan "RUMAH INI DIJUAL" yang terpajang di depan pagar rumah Rangga.


'Byy kamu benar-benar pergi meninggalkan aku, sekarang kamu tinggal di mana?' gumam Tyshia dalam hati, ia menyeka air matanya.


Tanpa berfikir panjang ia menghubungi contact person yang tertera di papan itu, ia tak rela jika rumah yang tadinya akan menjadi istananya bersama Rangga jatuh ketangan orang lain.


"Maaf Bu, rumah tersebut sudah ada yang akan membelinya. Besok lusa akan penandatanganan akad jual beli"


"Saya beli tiga kali lipat dari harga yang orang itu beli, tunai hari ini juga!!! Bisakah kita bertemu saat ini?" tanya Tyshia.


"Baiklah kalau begitu, besok kita ketemu di kantor notaris. Hari ini saya akan mengurus surat-suratnya."


"Terima kasih." Tyshia menutup sabungan telephonenya, kemudian ia meminta supirnya untuk mengantarnya kembali ke rumah, ia tak mau Ayahnya kembali memarahinya karena pulang telat.



Sesuai dengan kesepakatan Tyshia membeli rumah tersebut dengan harga yang jauh lebih tinggi, ia tidak peduli akan menguras banyak tabungannya, baginya rumah itu lebih berharga dari uang yang ia miliki.

__ADS_1


Hari-hari Tyshia di isi dengan bekerja lebih keras, ia mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya untuk merenovasi rumahnya. Di tengah kesibukannya bekerja ia juga tetap menyempatkan diri untuk membuat baju-baju untuk Rangga.


Tyshia membuat satu ruangan khusus penyimpanan wardrobe buatannya untuk Rangga, dan tidak ada satu hari pun yang ia lewatkan untuk menulis di buku diarynya berharap suatu hari nanti Rangga akan kembali kepadanya membaca semua kegiatan yang ia tulis, membaca ribuan kata rindu yang Tyshia tulis untuknya.


Tiga Bulan Kemudian


Ana mulai mengkhawatirkan kondisi putrinya karena Ana sudah tidak pernah lagi melihat putrinya tersenyum bahkan untuk berbicara saja hanya seperlunya, Tyshia selalu pergi pagi dan pulang hingga larut malam.


"Sayang aku makin khawatir dengan kondisi tyshia, apa kita perlu mencari keberadaan Rangga dan memintanya kembali pada Tyshia" ucap Ana.


"Kamu tenang saja, sebentar lagi Tyshia akan segera kembali seperti dulu, aku berencana untuk menjodohkan Tyshia dengan anaknya rekan bisnisku. Dan besok pagi aku akan menyuruh orang untuk mengikutinya, aku mulai tidak percaya dengan supirnya Tyshia, sepertinya ia bekerja sama dengan tyshia" ucap Rio.


"Apakah Tyshia akan setuju dengan perjodohan ini?" tanya Ana


"Tentu saja, rekan bisnisku jauh lebih baik dari anak si breng*ek itu." ucap Rio.


Sebenarnya ia tak yakin jika putrinya akan setuju dan menerima perjodohan ini, namun ia memilih menurut pada semua rencana suaminya.


"Percayalah padaku, putri kita akan baik-baik saja dan kembali seperti dulu lagi" Rio mengelus lengan istrinya dengan lembut dan mengajaknya beristirahat.



Keesokan harinya Rio mendapatkan dari informasi dari orang suruhannya, bahwa setiap sore hari Tyshia mengujungi sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan, Rio juga mendaptkan alamat lengkap berserta foto rumah yang selalu di kunjungi oleh putrinya.


"Apa rumah itu adalah rumah temannya anakku?" tanya Rio


"Bukan Tuan, saya melihat Non Tyshia membawa sendiri kunci rumah tersebut. Dari informasi yang saya dapat dari warga sekitar rumah tersebut memang milik non Tyshia"


"Buatkan kunci duplikat rumah tersebut, besok aku akan ke sana" ucap Rio, mengakhiri sambungan teleponnya.


Tak butuh waktu lama untuk Rio mendapatkan duplikat kunci rumah Tyshia, keesokan harinya Rio pergi mendatangi rumah putrinya.


Sesampainya di rumah Tyshia, Rio segera membuka pagar kemudian melangkah masuk ke dalam membuka pintu depan. Baru saja rio hendak masuk ke dalam, di ruang tamu terpajang foto putrinya bersama Rangga saat rangga wisuda.


'Apa Rangga tinggal di sini? setahuku Rangga sudah tidak tinggal di Jakarta lagi' gumam Rio.


Rio memasuki kamar utama di rumah Tyshia, kamar bernuansa kamar pengantin lengkap dengan taburan bunga yang sudah mengering membentuk lambang hati, ada pula dua ekor angsa dan kelambu di ranjang, sedangkan di dinding kamar tersebut terdapat foto saat Rangga melamar Tyshia di pinggir pantai.


Rio menghembuskan nafas beratnya, ia keluar dari kamar utama menuju ruang keluarga, di ruang keluarga Rio kembali melihat beberapa foto kebersamaan putrinya dengan Rangga saat berada di New York berbaris di buffet TV Minimalis.


Rio beralih ke kamar selanjutnya, ia melihat beberapa baju pria tertata rapih di rak gantung minimalis ruangan tersebut, Rio semakin berfikir jika Rangga tinggal di rumah tersebut namun setelah Rio perhatikan baju tersebut berlebel 'ALINEA'


"Untuk apa ayah datang kemari?"

__ADS_1


Suara Tyshia mengejutkan Rio, dengan refleks Rio membalikan tubuhnya menghadap ke arah putrinya yang telah berdiri di pintu kamar wardrobe


__ADS_2